Gagal Ujian (sabar!)

Kami memasuki pelataran sebuah rumah sakit, dari luar saya sudah melihat banyak orang berdiri memanjang sepanjang front-desk rumah sakit itu merubungi petugas pendaftaran. Saya menyelip, dan bertanya :

“antrinya menyamping, atau ke belakang ya mba?”

Pertanyaan saya raib bersama angin busuk rumah sakit, dan saya diam di tempat. Ketika mba petugas mempersilahkan seorang perempuan yang saya juga tau dia sudah lebih dulu ada daripada saya, eh si mba pakai bilang :

“ibu ini sudah lebih datang.” matanya mengarah ke muka saya, berarti dia bicara kepada saya ‘kan? Dan saya cuma tersenyum mempersilahkan. Dan saya merasa dapat angin untuk mengulang pertanyaan yang sama :

“antrinya menyamping, atau ke belakang ya mba?”

Lagi-lagi dapat gratisan. Baiklah, kami diam saja di sini, menunggu disapa oleh salah satu mba petugas berseragam hejo itu.

“mau daftar, bu?” akhirnya disapa juga, mata bulat saya sempat melirik jam besar yang ada di dinding front-desk, ok butuh 30menit menunggu disapa :)

“iya mba, ini ‘adik’ saya mau ke dokter kandungan dan tes darah. ada rujukannya dari rumah sakit anu. dan menggunakan asuransi. ini ktp-nya, ini surat rujukannya, ini kartu asuransinya.”

Dengan cepat dia menyambar surat rujukan, memperhatikan ktp dan kartu asuransi. Lalu,

“ada fotokopi ktp? dan kartu asuransi?”

“fotokopi ktp ada niy, tapi kartu asuransinya ga ada.” itu si adik beda mamak dan bapak yang menyahut.

“oh, harus difotokopi dulu ya, tapi di sini mesin fotokopinya lagi rusak.”

“mba, boleh ga, pegang aja dulu kartu yang asli ini, silahkan diperiksa dulu. nanti klo emang sudah ok, baru kami fotokopi.” saya mencoba menawar.

“ga bisa bu, ini sudah prosedur.”

“tapi mba, nanti kalau kami sudah cari fotokopi-an jauh-jauh, eh ternyata tidak bisa diperiksa, gimana dong? ‘Kan kasian, kami tidak bawa kendaraan pula, mana udah malam?!”

“tapi itu sudah prosedur, bu!”

Sedikit geram (baru sedikit bener deh), kami melangkah keluar, tolah toleh dan dapat info dari abang petugas parkir kalau fotokopi-an ada nun jauh di sana. Nah lo? Kami putuskan naik ojek saja, eh tapi abang ojek bilang ada satu fotokopi-an di balik rumah sakit, melangkahlah kami ke sana, dan alhamdulillah, tempat itu TUTUP dong. Balik lagi ke abang ojek dan akhirnya diantarlah ke tempat fotokopi-an yang jauh itu. Aaarggghhh…. *emosi mulai naik 1 oktaf*

Berbekal 2 lembar fotokopi-an kartu asuransi, kami menghadap perempuan hitam manis tinggi semampai proporsional bak foto model bernama A*nes V*briani. Eh kemana si hitam manis itu? Tak ada :( Adanya petugas lain, dan disuruh menunggu si hitam manis saja. Untung tidak terlalu lama, si hitam manis datang, dan …

“eh ini mesti ditelpon dulu sebelum diproses.” saya dengar dia mengucapkan kalimat itu ke temannya. saya masih pasang senyum termanis dan mempersilahkan mereka untuk menelpon siapapun itulah saya tidak tau. Eh, adik saya dipanggil untuk bicara langsung dengan penerima telpon di sana, dan keputusannya tidak bisa diperiksa malam itu, karena petugas asuransi cuma ada dari pagi sampai jam 2siang saja. Teweewewe………..

“maaf mba, ini tidak bisa pakai asuransi, jadi bagaimana?”

Ingiiiiiiiiiiiiiiiin sekali bicara dengan suara yang lemah lembut, ingiiiiiiiiiiin sekali tidak usah pakai emosi, tapi kok setan pada senang ya mengelilingi saya :(

“jadi, sia-sia nih usaha keliling pake ojek nyari fotokopi-an?” mata bulat saya melotot menatap A*nes, yang namanya pun baru saya ketahui setelah saya suruh dia membalikkan name tag yang ada di dadanya, karena memang sengaja dia balikkan. (Terus apa fungsi name tag itu kalau dibalik seperti itu ya? :D )

“Ya, kecuali ibu mau membayar atas permintaan sendiri.”

“Kamu ini petugas rumah sakit lho, liat ga ini pasien sudah pucat begini mukanya?! Tadi juga sudah saya bilang ‘kan, tolong periksa dulu, tolong periksa dulu!!! Apa susahnya sih sedikit melanggar prosedur, jika memang itu prosedur rumah sakit. Jika sudah seperti ini, anda cuma bisa minta maaf ujung-ujungnya, iya ‘kan?”

Petugas itu terdiam, menatap wajah marah saya yang udah pasti jelek :( Arrrghhh…. padahal sebelum ke sini, kakak si adik yang sakit ini, sudah saya ingatkan untuk menanyakan prosedur dan persyaratan yang lengkap ke pihak asuransi, agar hal seperti ini tidak terjadi. Eh kok terjadi juga? Mangkel kuadrat saya! Akhirnya rembuk sana sini, diputuskan si adik periksa aja dulu deh dengan tanggungan sendiri, jujur saya mulai kuatir dengan wajahnya yang pucat seperti kertas itu.

“saya kira tadi bisa langsung diproses bu.” dia mencoba berkilah.

“jangan kira-kira dong mba, kan situ yang mau njalani prosedur toh. berarti prosedur kalian itu perlu dibenahi, cek dulu baru minta fotokopi-an. tadi juga sudah saya ingetin, periksa dulu, iya kan???  masak ga bisa begitu? jadi orang ga ngerasa dipingpong begini. ujung-ujungnya yang jelek kan nama asuransinya tapi paling apes lagi ya pasien jadi begini.”

“iya bu, saya yang salah.” tapi dia tersenyum, dan karena saya sedang marah, saya melihat itu sebagai senyum sinis *doh*

“Ya udah, tolong diproses atas permintaan sendiri biayanya. sekarang kami bagaimana?”

“ibu langsung saja ke loket di sebelah kasir untuk daftar cek darah.”

Cuma sepuluh langkah dari situ, eh kasus saya tempo hari berulang *sigh* again???

“Harus daftar di front-desk dulu ya bu, kami tidak bisa proses langsung.”

“Lho? Tadi udah kok, dan katanya bisa langsung ke sini. Gimana dong?”

“Ga bisa bu, harus daftar di front-desk.”

Emosi naik lagi 1oktaf lagi, dan saya lihat mba petugas itu sedang berbincang dengan dokter kandungan yang mau kami temui. Saya  mengenali dokter ini, karena saya sudah pernah konsul dan obat yang dia berikan mujarab banget, oleh karenanya adik ini pun saya rekomendasikan untuk diperiksa olehnya berharap dikasih obat yang mumpuni juga. Adik saya ini udah berobat ke satu dokter, tapi obat yang diminum belum memberikan pertanda membaik, makanya siapa tau kan dengan dokter ini semujur saya.

“mba, masih blom puas ya  ngerjain kami malam ini? itu katanya ke sini dulu. tadi di sini bilang udah bisa langsung ke sana. gimana sih? kapan mau diperiksanya kalau begini. adik saya itu udah pucat gitu … ampun deh!” saya langsung su’udzon kalau dia mengharap saya mengirim si adik ke ruang UGD.

“Lho? Engga kok bu, bisa langsung.” dia angkat telpon dan bicara dengan koleganya.

“Coba lagi bu, silahkan.”

Tak tahan untuk tidak mengumpat: “gila ye, gini kok coba-coba!”

“gimana mba? udah bisa diperiksa sekarang?” langsung aja nyosor ke petugas di balik loket itu.

“iya bu, bayar dulu di sebelah ya. maaf tadi komputernya error.”

Eh napa lu pake bilang, kan gw jadi nyolot. “tapi lain kali mbok ya mba cek langsung ke front-desk, jangan pasien dipingpong, lah ini tau-taunya komputer situ yang error, ampun deh.” sambil ngeloyor pergi ga mau dengar sahutannya.

Untung ke-1 petugas yang ambil darah, ramah pisan. Sambil menunggu hasil, kami ke dokter kandungan itu, yang melihat saya udah mesem-mesem aja.

“malam dok, alhamdulillah, obat yang dari dokter tempo hari manteb, saya sudah sembuh niy. sekarang adik saya ini yang mau berobat. tolong ya dok, dikasih obat yang manjurnya seperti buat saya tempo hari.”

Dokter perempuan yang masih muda itu tersenyum. “iya, kita periksa dulu, apa gejalanya, baru nanti dikasi obat ya.”

Biasalah, kalau ke dokter kandungan ‘kan tidak afdol ya kalau tidak di-usg :D Eh?

“wah, ini kandung kemihnya kering gini, engga bisa liat apa-apa. suruh minum dulu yang banyak deh, biar bisa jelas liatnya.”

Sebenarnya otak saya langsung nyamber, lha? Napa lu kaga nanya aja tadi sebelum diperiksa? Apakah sudah minum? apakah sudah kebelet pipis? Kenapa disuruh langsung telentang dan telanjang setengah?!

“jadi bagaimana dok? pulang dulu? atau gimana?”

“Engga usah, beliin minum aja, kita tunggu 15menit ok?!”

Untung ke-2, saya angsurkan botol minuman yang selalu tersedia di tas kemanapun saya pergi. Glek glek glek … dan duduk manis nunggu perasaan mau pipis itu datang. Sambil kami berbincang-bincang tentang segala kemungkinan. Adik saya ini guru, dan asuransi yang dia mau pakai itu memang diterbitkan pihak sekolah yang berafiliasi dengan sebuah rumah sakit terkenal, tapi mereka juga bekerja sama dengan beberapa rumah sakit dengan maksud memudahkan para guru itu jika hendak berobat.

Saya tercenung, membaca tulisan yang tertera di buku panduan yang diterbitkan pihak asuransi. Ada angka Rp 2jt di sana, angka itulah maksimal yang bisa digunakan jika guru ini sakit atau dirawat. Apakah cukup? Rasanya tidak :( Adik saya ini masih single, tingal seorang diri alias nge-kos, dan jika sakit seperti ini pasti sedih sekali melewatinya sendiri saja. Sudah setahun terakhir ini dia mengalami pendarahan hebat setiap haid, apalagi jika dia makan ayam cepat saji ketika haid, pendarahannya bisa lebih hebat, bergumpal-gumpal darah yang keluar. Tak jarang dia pingsan karenanya. Parahnya, dia tidak mau berobat karena alasannya tidak punya uang lebih untuk itu *miris* Sehari-hari kegiatannya mengajar di sekolah dan sore hari memberi pelajaran tambahan sampai malam.

“Bu, sudah mau pipis belum? Kalau udah, biar saya kasi tau dokternya.” pertanyaan suster jaga menghentikan lamunan saya.

“udah, sus.”

“Eh, tadi ada cek darah? hasilnya mana? coba ibu ambil dulu.”

Saya bergegas ke depan, dan kata petugas sudah diambil oleh dokter. Tadi memang saya dengar dokternya menyuruh perawat yang mendampinginya mengambilkan hasil itu. Jadi saya percaya saja.

“Sudah diambil dokter kata petugasnya, sus”

“Lho? Gimana sih? Blom ada.” sambil angkat telpon dan bicara sama petugas lab.

Tidak lama, saya lihat petugas lab muncul dengan selembar kertas. Saya? NGedumel dalam hati, dari tadi aja lu telpon tuh petugas suruh anterin hasilnya, ngapain nyuruh gw jalan ke sono coba? Dasar mau ngerjain orang aja!!!

Melihat hasil lab, dokternya kaget dan suruh rawat inap. Hla? Saya jadi bingung, karena saya tidak bisa memutuskan apapun, apalagi tadi sudah mendengar keluh kesahnya, kenapa tidak mau berobat, apalagi sampai dirawat? Tapi ini, HB-nya cuma 5, padahal normalnya itu 12-16. Dokter bilang kalau tidak mau dirawat, harus tanda tangan surat penolakan, agar pihak rumkit tidak dituntut jika terjadi apa-apa. Ah, semakin kesal saya sama asuransi itu, semakin jengkel saya sama kakaknya yang kemarin menelpon mereka, kok bisa tidak tuntas informasinya, seandainya ini masuk dengan biaya asuransi, walaupun nominal maksimal 2jt dowang wang, paling tidak malam ini ‘kan bisa dirawat. Pantes saja mukanya pucat sangat, HB5 gitu lho???

“Sini mba, biar bisa lihat juga nih ya. Walaupun belum terlalu jelas, tapi memang kelihatan rahimnya membesar. Berarti memang ada pembekakan. Tetapi perlu pemeriksaan yang lebih lanjut, usg yang lebih lengkap, kuatirnya ada kista/miom di dalam.”

“jadi sementara ini diagnose nya apa dok?

“Sementara ini saya lihat ini sebagai gangguan pada hadi. Jadi ini saya kasih obat dulu, kalau pendarahannya masih parah, mau tidak mau ya harus usg yang tadi saya bilang.”

“kira-kira berapa usg itu ya dok?”

“tiga ratusan deh.”

“ya udah, tolong kasi obat yang tokcer ya dok, kasian adik saya niy, duitnya terbatas, kalau obatnya manjur ‘kan ga usah periksa lagi.”

“udah kok ini, diminum dulu aja ya. tapi bener ga mau dirawat? jangan lupa m inum susu yang banyak, makan yang banyak, lupakan diet. terus siapa yang urusin makannya kalau dia kos? aduh, saya kok ga bisa mbayangin kalau dia pingsan atau gimana?” dokternya emang cerewet sih.

“gpp dok, we can handle it :) nasib orang tak berpunya, salah penyakitnya kenapa datang sama orang susah.” saya mencoba becanda.

Dokternya ketawa, dan kami berpampitan. Saya tanya si adik, apa obatnya mau ditebus, tapi mau tunggu jawaban dari asuransi dulu. Ya terserahlah, saya antar dia beli susu sebelum pulang. Waktu sudah lewat hampir jam 10malam, di dalam taxi saya ajari adik itu agar standby hp, dan menempatkan no tel kakaknya paling atas, yang siap pencet kapan saja. Kami berpisah di warnet, dan suami saya yang baik hati itu mengantarkannya pulang, memastikan dia benar-benar sampai di rumah.

Walau mata sudah lima watt, tapi pikiran saya mengembara kemana-mana, membayangkan berapa banyak guru dan orang tidak mampu yang seperti adik tadi. Kemana mereka harus mengadu? Kemana mereka harus minta bantuan? Betapa carut marutnya negeriku ini, pendidikan, kesehatan, keamanan, ahhh hampir semua lini tidak ada yang beres. Terus apa dong kerja pemerintah ini? Aaarggghhh…..saya cuma bisa merutuki ini semua, tanpa mampu berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan ini. *tears*

Anyway, satu langkah mundur buat saya yang sedang berusaha menjadi lebih baik  untuk tidak mengedepankan emosi dalam menangani masalah, semoga besok bisa lebih eling lan waspodo!

22 thoughts on “Gagal Ujian (sabar!)

  1. argggh … saya marah, kesel sekaligus pengen nangis. sumpah rese banget, kasusnya biasanya sama kayak yang pegang Jamkesmas. lagi-lagi kesehatan yang bermusuhan dengan ekonomi.

    ya begitulah, negeri kita trcinta hehehe

  2. wahhhh. kacau tuh. kalo emergency banget masak sampai di suruh cari foto kopi lah. ahh rumah sakit bukannya menyediakan aja. ahhh rumah sakit yang pintar.

    ada, tapi lagi rusak katanya. aneh juga sih, ini jaman udah canggih, mbok sedia scanner aja, kan cepet ya, dasar emang kaga mo rugi :D secara sekali scan 2000 klo di warnet kan hahaha

    Bayu recently posted… » OIOISQUAD Accidently Sendawa

  3. Huh aku sedapat mungkin ngga mau deh ke RS. Di Jepang juga nunggunya lama kalau RS besar, tapi kita diberitahu urutan dan apa yang musti dikerjakan. Dan setiap warga memang punya asuransi nasional sih.

    EM
    Ikkyu_san recently posted… » GW -7- Mentega Terbang

  4. dapat pelayanan RS yg gituan, kasian yg sakit ya … :(
    katanya kini profesi guru bukan lagi ‘omar bakri …
    kata temanku, gaji dan kesejahteraannya sdh bagus … :P

    mungkin memang sudah bagus, tergantung sekolahnya juga kali ya.

    abrus recently posted… » teh telor …

  5. waduh, RS-nya serem amat sih. ini RS besar? moga2 cepat sembuh ya adiknya…

    rs besar dong, klo rs kecil mana terima pasien yg dibyr asuransi :D ada tuh di sunter situ rumkitnya. terima kasihdoanya ya :)

  6. well, begitulah birokrasi…menjengkelkan…

    sabar saja tidak cukup :D

    link anda sdh sy psang dari dulu :D

    dan sampai kapan begitu ya :) mestinya sabar sih cukup, tapi tingkatannya yang beda2, karena saya sudah pernah melihat ada orang yang sudah tidak (bisa) marah dalam menghadapi carut marutnya birokrasi negeri ini.

  7. ya ampun.. siapapun juga pasti emosi ya.. itu rumah sakit kok pelayanannya kaco balau begitu sih.. gile ngeselin abis!

    moga2 si adik guru cepet sembuh yaaa

    makasi Man, sepertinya cuma di dunia khayal deh klo ngarep pelayangan rumah sakit bagus

    arman recently posted… » Bring Your Child To Work Day Part 4

  8. mbaaak… ihiks, kok jadi ikutan sedih. ngebayangin si adik.
    karena ngalamin jadi anak kost, sakit itu gak enak. ampe ngesot-ngesot kalau lagi gak ada yang dimintai tolong.

    kirain tadi mbak niQ yang sakit *pas baca komen nya mbak niQ, aku udah mau nyamperin ajah *berlebihan*
    :D

    hmm… salah satu alasan si mamah mengambil pensiun dini dari rumah sakit adalah: mamah tidak tahan dengan segala macam prosedur itu mbak,makanya mamah memilikih mengundurkan diri

    tuh kan, kalau orang punya hati mah ga akan tahan deh. jadi saya ga salah dong kalau menghujat mereka sebagai orang yang tidak punya hati nurani!? heheh tenang is, aku udah tau kok klo ais itu ms. lebay hahahaha jadi andaipun aku sampai dirumahsakitkan *karena melahirkan satu hari nanti* aku pasti bikin pengumuman gede2 is, dan khusus untukmu pasti harus bebawaan yang dimasak sendiri olehmu *rasakno*. soal si adik itu, mama papanya udah ga ada sejak dia masih kecil sekali, jadi kami-teman2 kakaknya sudah biasa bertindak sebagai kakak beneran :)

    ais ariani recently posted… » rupa-rupa hari ini

  9. Ina, masih banyaaaak sekali perlakuan yg sangat membuat kita pingin marah dan geram dan akhirnya naik tensi, krn perilaku arogan para ‘yg katanya’ pengabdi kemanusiaan itu :(
    dan, kitapun kebanyakan memang tdk bisa berbuat banyak utk hanya sekedar menyentuh nurani mereka….
    so, inilah negeri tercinta kita
    semoga adiknya Ina segera sehat kembali ,amin
    salam

    Iya bun, yang ada jadi mikir kudu punya segudang duit biar klo ada yang sakit g usah pake asuransi2an deh. langsung lemparin uang segepok ke mukanya, pasti ga berani marah deh. klo dia marah, sumpel lagi pake duit segepok, pasti marah lagi biar dikasi duit lagi gitu bun. terus aja begitu, tapi karena punya duit segudang, hayu lah … hehehe ngayal tingkat tinggi saya bun, kena demam nih hihihii eniwe, terima kasih ya bun, untuk doa buat adik saya itu.

    bundadontworry recently posted… » Aku Mencintaimu……

  10. penguji kesabaran tingkat tinggi :-)

    begitulah prosedur rumah sakit.. dan prosedur asuransi… *pernah kerja dirumah sakit, dan pernah kerja di asuransi*
    but i am a nobody…
    jadi sedih bgt baca posting ini…
    ohya, Mba.. maaf yah kalo tempo hari terlewat baca paragraf terbawah… kadang2 terlalu excited memberi komentar ..
    btw, semoga adiknya cepet sembuh :-)

    saya juga sering begitu kok, pengen cepet2 ngasi komentar, g mau keduluan orang lain xixixi pengennya pertamaxxx terus hahaha …
    sebetulnya saya juga mengerti kok yang namanya prosedur seperti apa, tetapi di atas semua itu setiap orang ‘kan dikasi akal untuk menimbang2 ketika dihadapkan pada kasus2 tertentu. Apalagi dalam hal ini, cuma sepele sebenarnya, sedikit saja arogansinya diturunkan, tentu masalah itu tidak timbul. Jadi saya kira masalahnya ada pada arogansi petugas, bukan prosedurnya.

    Lyliana Tia recently posted… » Belajar Berkebun Part III- Hidroponik atau Organik

  11. *ngelus dada yg rata*

    ampun dah ya itu rumah sakit, ga dimana sama aja, eh kecuali pas masuk kita udah kibas2 duit dari depan pintu.

    jasa pelayanan di negara ini emang ladang buat nambahin emosi para penggunanya yak.

    trus nasib si ‘adik’ skrg gmn? udah mendingan mbak?

    betul sekali, lain x mah dari pintu masuk taro duit di tas transparan, jadi matanya langsung ijo2 gitu …. terus pasti dikasi senyum terus tuh selama melayani. tadi sore nelpon si adik, katanya baru mau kontak asuransinya, dan dia blum tebus obat yang disuruh dokter. yeah … i cant do more, ‘kan cuma mendampingi tadi malam tadi.

    pethakilan recently posted… » bd160k 0405

  12. Tega banget ya itu petugasnya…. cuma gitu aja masak g mau meriksa dulu biar yang laen mengurusi…. hmmm

    yeah …. udah ditraining gitu kayaknya, hati nurani disuruh digantungin di kamar ganti, biar bisa tega pas ngadepin pasien.

  13. Waduw..parah banget yah.
    Rumah Sakit di Indonesia emang suka gitu deh, selalu berpatokan kepada prosedur tanpa melihat kondisi pasien.

    A: “Dok..ini anak kejang2, mulutnya berbusa, tadi minum racun”

    B: “Bapak daftar dulu yah”

    A: “#$%#*@” :evil:

    bagus klo ga disautin gini, kenapa anaknya ga dijaga, sampe minum racun? :D

    Zippy recently posted… » Jenis-Jenis Mahasiswa Jaman Modern

  14. aku termenung sejenak… kebayang kalo sudah berkeluarga, hiks2.. dihadapka pada situasi rumit seperti itu.. aakkhhhhh… negeri ini, kapan beresnya sih! :(

    ga akan beres2 klo yang di atas itu yang itu2 aja Prim.

    Prima recently posted… » Ada Apa dengan April

  15. Iya mba Niq, pernah pengalaman jg dulu waktu Bapak saya masuk rumah sakit dan kami memakai kartu askes, diputer2 kyk apa, pas akhirnya pake biaya sendiri aja, lancar2 aja, hiks… >.<

    terus apa gunanya kita beli asuransi ya klo gitu? d an rumah sakit kemarin tuh memajang logo banyak perusahaan asuransi di satu meja khusus lho. cuma jadi pajangan kah semua itu?

    Orin recently posted… » Kenapa Urang Sunda Begitu

  16. Saya kadang sangat heran, banyak DOkter, pendidik, pemerintah lupa akan kode etik dan tujuan pengabdian mereka.

    Terkadang PRosedur justru lebih di nomer satukan dibanding nyawa manusia..

    SO….

    Mari kita yang merasa duduk dibarisan pengabdi itu, jangan melakukan hal yang sama.

    Udah kubayangkan wajah emosi itu nak e

    xixixi … jangan kin dibayangken :D bayanginya klo pas nari aja, pasti sumringah hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge