Butuh tapi Malas!

“…..berbahagialah kita, aku dan kalian semua yang mampu mencemooh mereka yang tidak bekerja justru karena tidak memiliki sedikitpun semangat untuk bekerja.” Warna merah itu, bukan karena masih euforia kenangan pada mawar merah, tetapi memang hati saya sedang ‘marah’. ‘Marah’ bukan marah :D Harap bedakan itu hehehe Tapi saya juga tidak mau mencemooh mereka, walaupun saya mampu, sebaliknya saya justru kasihan. Dan postingan kali ini masih tentang karyawan yang tidak memiliki sedikitpun semangat untuk bekerja. Eh  setelah saya ubek-ubek ternyata saya sudah punya 5 postingan yang berkisah seputar karyawan. Ckckck … banyak juga yah :D

Dua bulan yang lalu, seorang ibu datang bilang mau print, tetapi ternyata data dari flashdisknya tidak bisa diambil. Alih-alih langsung pergi, eh si ibu malah curhat soal keluarganya, tentang anak-anak dan suaminya yang sedang depresi parah, yang dari dulu memang tak bisa diandalkannya untuk menafkahi keluarga mereka namun begitu dia selalu ikhlas menjadi ‘the only breadwinner’ untuk 6 anak yang mereka punya. Saya sendiri sedang berpikir, ada maksud apakah Tuhan ‘mengirim’ orang  yang tadinya tidak saya kenal lalu masuk begitu saja ke dalam kehidupan saya? Hmm ….

Dari 6 anaknya, satu anak perempuannya yang harus cuci darah setiap jangka waktu tertentu, dan menurutnya anak inilah yang paling menyita pikiran dan isi dompetnya. Satu lagi anak sulungnya yang perempuan, sehat tapi malah tidak mau sekolah, entah minder, entah malas, tapi yang jelas anaknya tidak mau sekolah, untungnya dia tidak bodoh, karena dia masih mau belajar walau tidak sekolah. Untuk anak sulung inilah si ibu meminta saya beri kesempatan untuk ’bekerja’ di warnet ini, agar si anak tidak bengong saja di rumah, karena dia kuatir nanti anaknya juga ikut stres seperti abinya. Saya sempat menolak karena memang kondisi yang tidak begitu kondusif untuk menerima orang baru, apalagi harus diajari ini itu, iya kalau anaknya sergep, lha kalau engga? Yang ada nanti malah merusak suasana hati saya, bisa berabe kan :D Tetapi semakin panjang saja curhatan si ibu, dan saya pikir ini takkan selesai sebelum saya menyetujui keinginannya. Ya sudahlah, mari kita berbuat baik mumpung masih pagi hehehe

Singkat cerita, kami memulai satu episode bersama menjalani hari-hari *haiyah*, jika dulu si Iwed di usia yang belum genap 15 rajin dan sudah bisa bertanggung jawab, nah ini kebalikannya. Parahnya mengepel lantai saja tidak lulus. Sulit saya membayangkan punya anak gadis seperti itu, kecuali  anak gadisnya anak orang kaya yang setiap hari dikelilingi bedinde yaaa …. Tes pertama jadi kasir sukses tekor 132ribu, padahal itu cuma 2jam. Dan setelah ditelisik permasalahannya, saya mengambil kesimpulan matanya tidak awas dan juga tidak fokus karena sibuk ‘nyambi’ youtubu-an thus fesbuk-an. Bagos!

Keesokan harinya dia tidak muncul, ibunya bilang anaknya sakit, tetapi saya menanyakan kemungkinan anaknya trauma karena baru tekor. Si ibu malah tidak tahu menahu soal tekor, tapi dia sudah mencoba membujuk anaknya yang masih belum mau masuk kerja juga. Jadi saya putuskan agar anaknya tidak usah datang lagi saja. Eh seminggu kemudian dia muncul, tanpa ba bi bu langsung ke belakangan dan mulai bekerja. Bingung juga saya untuk menyuruhnya pulang, lalu saya diamkan dan bertahan sampai bulan ke-2.

Nah, saat di mana karyawan senior yang hamil itu terpaksa berhenti, saya sudah berpikir Tuhan yang maha baik sudah mengatur agar ada orang yang terus membantu saya menutup kekosongan pekerja. Sampai seminggu yang lalu, tiba-tiba dia tidak masuk lagi. Kali ini tanpa kabar, saya telpon ibunya, tapi tidak diangkat, sms pun tak berbalas. Kemudian saya diamkan, dan sampai hari ini tak ada kabar. Aneh juga!

Saya coba ‘flashback’, dan saya ingat ketika saya memarahinya karena 3 kesalahan yang dia buat; kulkas yang tidak dinyalakan dari pagi sampai sore, penjualan  yang tidak dicatat (uangnya ada tapi apa saja yang laku tidak tahu), print-an yang keluar tanpa pesanan berlembar-lembar ‘full page colour’ di printer yang tintanya asli  yang rupanya bekas dia ngeprint tapi tidak jadi, tidak dihapus secara permanen, hanya mematikan printer saja. Masak iya, seperti itu tidak mau ada teguran? Dan saya juga belum lupa, ketika itu saya ‘hukum’ dia dengan melarang on line (no youtube, no facebook! but you can read a book!) ketika bertugas sampai dia bisa melakukan tugasnya dengan baik dan benar. Menurut saya, hukuman itu wajar dan dalam rangka mendidik dia kedisplinan bekerja.

Saya ‘marah’, ke’marah’an yang sebetulnya lebih pada ketidakmengertian saya terhadap orang-orang seperti anak itu. Dalam banyak kesempatan saya selalu memotivasi dia, mengajari dia banyak hal terutama agar memanfaatkan kesempatan dia di sini untuk belajar semaksimal mungkin, agar tidak menghabiskan waktu sekedar youtube-an dan facebook-an. Apalagi dia masih usia belajar, carilah sesuatu yang paling diminati, dari internet banyak sekali yang bisa dipelajari secara positif. Beberapa kali saya pergoki dia mendonlot cara-cara membuat origami. Lain kesempatan saya melihatnya mengikuti grup belajar bahasa spanyol. Sempat juga saya mengajarinya menggunakan google-translate, setelah melihat hasil terjemahannya yang acakadul. Saya sudah berpikir sangat positif tentang anak ini, angan-angan saya sudah terlanjur jauh melangkah tentangnya, sampai kemudian terhempas *tsaaahhh*.

Yeah … jika dia cuma mau di sini untuk mengerjakan apa yang dia mau saja dan bukan mengutamakan kewajibannya terlebih dulu, maaf saja, saya tidak butuh orang seperti anda. Anda yang tadinya toh dititipkan tanpa digaji, pun tetap saya gaji normal karena saya tidak mau menikmati hasil keringat orang lain gratis. Walaupun ironisnya, setelah 2bulan masa kerjanya, dan menurut saya anaknya cukup jujur, dan saya buatkan surat pengangkatan kerja yang dilengkapi dengan keterangan uang lembur, gaya deh warnet aja ada paket remunerasi yang saya tawarkan buat dia. It’s just about 2days, then she left with no news :D Tragis? Atau ironis? Hihihi ….

Jadi, memang banyak tipe orang yang seperti ini, kalau kemana-mana bilangnya susah cari kerjaan, tapi ketika pekerjaan di tangan malah ga di-eman-eman. Pas banget ‘kan dengan quote-an Mas Donny :D

Gambar diambil dari Google

31 thoughts on “Butuh tapi Malas!

  1. Pingback: Obrolan Subuh | nicampereniqué.me

  2. Salam Takzim
    Memang banyak ya yang maunya kerj snti tapi uangnya banyak, ga berpikir apa kemampuannya, postingan ini menjadi khasanah agar tidak malas bekerja, makasih mbak niQue
    Salam Takzim Batavusqu

    sama2 mas :) kembali kasih hehehe

    Batavusqu recently posted… » Puisi diri

  3. Kalo aku punya pekerja yang seperti itu, ya jelas marah marah… langsung aja dimarahin gitu. hehhehee

    tapi memang ya… banyak mereka yang gak punya etos kerja yang baik. kerjanya cuma asal asalan tapi menuntut gaji dan fasilitas yang bagus… nah lho, jadi bingung deh
    Elsa recently posted… » Tahu dan Jadah Bakar Pacitan

  4. Bayangkan ada empat kuadran. Kuadran I adalah orang yang mampu dan mau. Kuadran II adalah orang yang mampu tapi tak mau. Kuadran III adalah orang yang tak mampu tapi mau. Kuadran IV adalah orang yang tak mampu juga tak mau.

    Ada dimanakah Anda? :D
    Asop recently posted… » Sedikit Pertanyaan Humor

  5. Kenyataannya memang ada orang-orang dengan karakter seperti itu. Memang tidak menyukai kerja. Apalagi bekerja di bidang yang ia sukai.

    Jadi ingat rawian Pramoedya Ananta Toer di roman Rumah Kaca:

    “Gairah kerja adalah pertanda daya hidup; dan selama orang tidak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut.”

  6. Hmmm karena dia melihat bapaknya begitu kali ya? Semua kan berawal dari rumah :)
    Tapiiiiii memang seperti ini banyak loh di INdonesia. Maunya dapat uang tanpa kerja! Nyebelin benar.

    Pernah suatu ketika ada saudara jauh, laki-laki muda, minta kerja ke mama. Oleh mama disuruh bantu bersihin kebun, nyiram tanaman satu hari dikasih 50rb (sekitar 15-20 th lalu loh). TAPI cuma rajin 1 hari, setelah itu… lama lama tidak datang. GENGSI!

    Kata gengsi adalah yang paling tepat untuk orang seperti itu, dan dengan gengsi TIDAK AKAN MAJU.

    Di Jepang manager bank aja ambil sapu untuk nyapu jalanan loh!

    EM

    setuju, semua berawal dari rumah, tetapi ketika seseorang sudah bisa membaca, saya kira akan ada self-motivation. mungkin tidak tepat menjadikan diri sendiri menjadi tolok ukur, tapi karena sya juga bukan berangkat dari the have family, bukan juga dari keluarga yang orangtuanya berpendidikan tinggi, hanya saya punya self-motivation. semua dari buku, semua yang saya baca – walau sekarang saya tidak ingat lagi isi buku2 yang saya baca – tapi saya yakin self-motivation ini datangnya dari isi buku2 yang saya baca.

    klo yang ini sih bukan gengsi mba, tapi males hehehe

    Ikkyu_san recently posted… » Masa sih

  7. wow.. enam anak dan harus jadi the only breadwinner, cocok banget buat jadi responden penelitian ku Mbak!
    masih kontak sama Ibu nya mbak?
    hehehehhehee,
    kalau boleeh nanya soal itu loh. hehehehehe
    :D

    saya punya no.tel ibunya, tapi g tau deh berani ngangkat apa engga :D ibunya aktif di lsm apa itu ya … yang ada munir dkk itu lho? lupa saya :(

    ais ariani recently posted… » mahasiswa rantau!

  8. nique…tidak semua orang dapat berpikir yang normal seperti kebanyakan orang. Mungkin elo sama seperti gw dan kebanykan orang. Lingkungan membentuk karakter dan perkembangannya. Dia ga punya contoh ketauladanan yang dia lihat dari kecil, mudah2an dia bisa mencari ketauladanan dan menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi orang lain

    yeah, that’s why i felt sorry for her :)

    Necky recently posted… » Hasil Jepretan Foto Nedia

  9. wuih..menohok..!!
    kadang memang ada orang yg terlalu manja, pengen dapat kerjaan persis seperti yang dia bayangkan tanpa pernah melihat kemampuan dia seperti apa..

  10. Heran jg ya Kak knp dia begitu.. tapi aku pikir keluarganya itu lah yg udah berpengaruh (cukup buruk) sama dia.

    BTW, keren system remunerasinya itu Kak hihihihi
    Orin recently posted… » Chocolate

  11. Cari orang yang mau kerja keras, jujur, ulet dan nggak ngambekan itu memang banget, apalagi kalo ditambah pinter…hehehe, nyaris mustahil ada yang ‘sesempurna’ itu.

    Iya niQue, biarpun saya nggak punya usaha kayak niQue tapi saya juga seringkali dikelilingi orang-orang yang tidak produktif. Dikasih pekerjaan, nggak beres. Diberi teguran mukanya jadi asem… :(

    Bingung kan?

    dah gitu, mo dipecat ato aduin ke atasan, malah kita ga tega, iya toh mba? ya gitulah, tar ujung2nya cuma bisa kasak kusuk ngiri sama karir orang lain yang karirnya melesat …parah dah :D

  12. Terimakasih untuk sudah memakai quote saya dan kamu menghidupkan quote itu secara sangat baik di tulisan ini.

    Memang betul kata Gibran. kerja memang butuh cinta, karena kerja adalah pengejawantahan cinta.. di sana ada semangat, motivasi…
    DV recently posted… » Mei 1998- tiga belas tahun kemudian

  13. Memang ada sih yang seperti itu. Temen saya dekat juga seperti itu, dari kecil hingga rekan2nya beranak 2 toh masih belum punya pendapatan. Padahal, saya & teman2 berusaha terus walaupun akhirnya keluar masuk kantor. Gengsi dan malas, itu yang paling sulit :D
    Kaget recently posted… » Wanita Dan Zaman Batu

  14. wahhh serba repot kalau sudah begitu,,padahal mncari pekerjaan itu sulit eman sekali kan Kak..tapi tindakan Kakak sudah bner tuh..

  15. waaa, repot banget kalau ketemu anak yg males kaya gitu. apalagi trus dia bantuin kerjaan kita. aku kok jadi berpikir, jangan2 keluarganya juga punya andil membuatnya jadi spt itu (baca: malas dan nggak tanggung jawab). aku paling sebel tuh kalau ketemu orang kaya gitu..
    krismariana recently posted… » Karena Tak Ada Kenek

  16. walah, ya memang bakalan pening kalau menghadapi karyawan mental juragan yg macam itu. dari pada kacau sendiri, ya memang lebih baik “putus kontrak”. niatnya bantu, malah yg dibantu macam tak mau dibantu :|

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge