“…..berbahagialah kita, aku dan kalian semua yang mampu mencemooh mereka yang tidak bekerja justru karena tidak memiliki sedikitpun semangat untuk bekerja.” Warna merah itu, bukan karena masih euforia kenangan pada mawar merah, tetapi memang hati saya sedang ‘marah’. ‘Marah’ bukan marah
Harap bedakan itu hehehe Tapi saya juga tidak mau mencemooh mereka, walaupun saya mampu, sebaliknya saya justru kasihan. Dan postingan kali ini masih tentang karyawan yang tidak memiliki sedikitpun semangat untuk bekerja. Eh setelah saya ubek-ubek ternyata saya sudah punya 5 postingan yang berkisah seputar karyawan. Ckckck … banyak juga yah
Dua bulan yang lalu, seorang ibu datang bilang mau print, tetapi ternyata data dari flashdisknya tidak bisa diambil. Alih-alih langsung pergi, eh si ibu malah curhat soal keluarganya, tentang anak-anak dan suaminya yang sedang depresi parah, yang dari dulu memang tak bisa diandalkannya untuk menafkahi keluarga mereka namun begitu dia selalu ikhlas menjadi ‘the only breadwinner’ untuk 6 anak yang mereka punya. Saya sendiri sedang berpikir, ada maksud apakah Tuhan ‘mengirim’ orang yang tadinya tidak saya kenal lalu masuk begitu saja ke dalam kehidupan saya? Hmm ….
Dari 6 anaknya, satu anak perempuannya yang harus cuci darah setiap jangka waktu tertentu, dan menurutnya anak inilah yang paling menyita pikiran dan isi dompetnya. Satu lagi anak sulungnya yang perempuan, sehat tapi malah tidak mau sekolah, entah minder, entah malas, tapi yang jelas anaknya tidak mau sekolah, untungnya dia tidak bodoh, karena dia masih mau belajar walau tidak sekolah. Untuk anak sulung inilah si ibu meminta saya beri kesempatan untuk ’bekerja’ di warnet ini, agar si anak tidak bengong saja di rumah, karena dia kuatir nanti anaknya juga ikut stres seperti abinya. Saya sempat menolak karena memang kondisi yang tidak begitu kondusif untuk menerima orang baru, apalagi harus diajari ini itu, iya kalau anaknya sergep, lha kalau engga? Yang ada nanti malah merusak suasana hati saya, bisa berabe kan
Tetapi semakin panjang saja curhatan si ibu, dan saya pikir ini takkan selesai sebelum saya menyetujui keinginannya. Ya sudahlah, mari kita berbuat baik mumpung masih pagi hehehe
Singkat cerita, kami memulai satu episode bersama menjalani hari-hari *haiyah*, jika dulu si Iwed di usia yang belum genap 15 rajin dan sudah bisa bertanggung jawab, nah ini kebalikannya. Parahnya mengepel lantai saja tidak lulus. Sulit saya membayangkan punya anak gadis seperti itu, kecuali anak gadisnya anak orang kaya yang setiap hari dikelilingi bedinde yaaa …. Tes pertama jadi kasir sukses tekor 132ribu, padahal itu cuma 2jam. Dan setelah ditelisik permasalahannya, saya mengambil kesimpulan matanya tidak awas dan juga tidak fokus karena sibuk ‘nyambi’ youtubu-an thus fesbuk-an. Bagos!
Keesokan harinya dia tidak muncul, ibunya bilang anaknya sakit, tetapi saya menanyakan kemungkinan anaknya trauma karena baru tekor. Si ibu malah tidak tahu menahu soal tekor, tapi dia sudah mencoba membujuk anaknya yang masih belum mau masuk kerja juga. Jadi saya putuskan agar anaknya tidak usah datang lagi saja. Eh seminggu kemudian dia muncul, tanpa ba bi bu langsung ke belakangan dan mulai bekerja. Bingung juga saya untuk menyuruhnya pulang, lalu saya diamkan dan bertahan sampai bulan ke-2.
Nah, saat di mana karyawan senior yang hamil itu terpaksa berhenti, saya sudah berpikir Tuhan yang maha baik sudah mengatur agar ada orang yang terus membantu saya menutup kekosongan pekerja. Sampai seminggu yang lalu, tiba-tiba dia tidak masuk lagi. Kali ini tanpa kabar, saya telpon ibunya, tapi tidak diangkat, sms pun tak berbalas. Kemudian saya diamkan, dan sampai hari ini tak ada kabar. Aneh juga!
Saya coba ‘flashback’, dan saya ingat ketika saya memarahinya karena 3 kesalahan yang dia buat; kulkas yang tidak dinyalakan dari pagi sampai sore, penjualan yang tidak dicatat (uangnya ada tapi apa saja yang laku tidak tahu), print-an yang keluar tanpa pesanan berlembar-lembar ‘full page colour’ di printer yang tintanya asli yang rupanya bekas dia ngeprint tapi tidak jadi, tidak dihapus secara permanen, hanya mematikan printer saja. Masak iya, seperti itu tidak mau ada teguran? Dan saya juga belum lupa, ketika itu saya ‘hukum’ dia dengan melarang on line (no youtube, no facebook! but you can read a book!) ketika bertugas sampai dia bisa melakukan tugasnya dengan baik dan benar. Menurut saya, hukuman itu wajar dan dalam rangka mendidik dia kedisplinan bekerja.
Saya ‘marah’, ke’marah’an yang sebetulnya lebih pada ketidakmengertian saya terhadap orang-orang seperti anak itu. Dalam banyak kesempatan saya selalu memotivasi dia, mengajari dia banyak hal terutama agar memanfaatkan kesempatan dia di sini untuk belajar semaksimal mungkin, agar tidak menghabiskan waktu sekedar youtube-an dan facebook-an. Apalagi dia masih usia belajar, carilah sesuatu yang paling diminati, dari internet banyak sekali yang bisa dipelajari secara positif. Beberapa kali saya pergoki dia mendonlot cara-cara membuat origami. Lain kesempatan saya melihatnya mengikuti grup belajar bahasa spanyol. Sempat juga saya mengajarinya menggunakan google-translate, setelah melihat hasil terjemahannya yang acakadul. Saya sudah berpikir sangat positif tentang anak ini, angan-angan saya sudah terlanjur jauh melangkah tentangnya, sampai kemudian terhempas *tsaaahhh*.
Yeah … jika dia cuma mau di sini untuk mengerjakan apa yang dia mau saja dan bukan mengutamakan kewajibannya terlebih dulu, maaf saja, saya tidak butuh orang seperti anda. Anda yang tadinya toh dititipkan tanpa digaji, pun tetap saya gaji normal karena saya tidak mau menikmati hasil keringat orang lain gratis. Walaupun ironisnya, setelah 2bulan masa kerjanya, dan menurut saya anaknya cukup jujur, dan saya buatkan surat pengangkatan kerja yang dilengkapi dengan keterangan uang lembur, gaya deh warnet aja ada paket remunerasi yang saya tawarkan buat dia. It’s just about 2days, then she left with no news
Tragis? Atau ironis? Hihihi ….
Jadi, memang banyak tipe orang yang seperti ini, kalau kemana-mana bilangnya susah cari kerjaan, tapi ketika pekerjaan di tangan malah ga di-eman-eman. Pas banget ‘kan dengan quote-an Mas Donny
Pingback: Obrolan Subuh | nicampereniqué.me
Salam Takzim
Memang banyak ya yang maunya kerj snti tapi uangnya banyak, ga berpikir apa kemampuannya, postingan ini menjadi khasanah agar tidak malas bekerja, makasih mbak niQue
Salam Takzim Batavusqu
Batavusqu recently posted… » Puisi diri
wah..wah… anak2 jaman sekarang memang susah diatur.
mbak… aku tak kerja di tempatmu aja gmn ?
Kalo aku punya pekerja yang seperti itu, ya jelas marah marah… langsung aja dimarahin gitu. hehhehee
tapi memang ya… banyak mereka yang gak punya etos kerja yang baik. kerjanya cuma asal asalan tapi menuntut gaji dan fasilitas yang bagus… nah lho, jadi bingung deh
Elsa recently posted… » Tahu dan Jadah Bakar Pacitan
Bayangkan ada empat kuadran. Kuadran I adalah orang yang mampu dan mau. Kuadran II adalah orang yang mampu tapi tak mau. Kuadran III adalah orang yang tak mampu tapi mau. Kuadran IV adalah orang yang tak mampu juga tak mau.
Ada dimanakah Anda?
Asop recently posted… » Sedikit Pertanyaan Humor
mestinya misi awal dia bekerja harus belajar dan belajar,apalagi masih mendapat gaji yang pantas..
wakaka emang g tau diuntung.. padahal enak loh jadi ope itu mau onlen sepuasnya juga gratis asal tau diri aja
Kenyataannya memang ada orang-orang dengan karakter seperti itu. Memang tidak menyukai kerja. Apalagi bekerja di bidang yang ia sukai.
Jadi ingat rawian Pramoedya Ananta Toer di roman Rumah Kaca:
“Gairah kerja adalah pertanda daya hidup; dan selama orang tidak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut.”
Hmmm karena dia melihat bapaknya begitu kali ya? Semua kan berawal dari rumah
Tapiiiiii memang seperti ini banyak loh di INdonesia. Maunya dapat uang tanpa kerja! Nyebelin benar.
Pernah suatu ketika ada saudara jauh, laki-laki muda, minta kerja ke mama. Oleh mama disuruh bantu bersihin kebun, nyiram tanaman satu hari dikasih 50rb (sekitar 15-20 th lalu loh). TAPI cuma rajin 1 hari, setelah itu… lama lama tidak datang. GENGSI!
Kata gengsi adalah yang paling tepat untuk orang seperti itu, dan dengan gengsi TIDAK AKAN MAJU.
Di Jepang manager bank aja ambil sapu untuk nyapu jalanan loh!
EM
Ikkyu_san recently posted… » Masa sih
wow.. enam anak dan harus jadi the only breadwinner, cocok banget buat jadi responden penelitian ku Mbak!
masih kontak sama Ibu nya mbak?
hehehehhehee,
kalau boleeh nanya soal itu loh. hehehehehe
ais ariani recently posted… » mahasiswa rantau!
nique…tidak semua orang dapat berpikir yang normal seperti kebanyakan orang. Mungkin elo sama seperti gw dan kebanykan orang. Lingkungan membentuk karakter dan perkembangannya. Dia ga punya contoh ketauladanan yang dia lihat dari kecil, mudah2an dia bisa mencari ketauladanan dan menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi orang lain
Necky recently posted… » Hasil Jepretan Foto Nedia
weehh..ngak banget deh sama orang yang kyk gitu, suka gregetan gimana gitu hehehe
dijewer aja itu anakkkk, baca aja gemes bangeeet… apalagi yang jadi tuannya…
remunerasinya itu loh. Bagus Mbak. Untuk pelajaran.
Marchei Riendra recently posted… » Tidak Diet- Di Denda 50 Dolar
wah keren tampilanya hee
tapi pertama bingung nyari tulisanya heee
salam kenal yah om..
genksukasuka recently posted… » Koin kehidupan …
wuih..menohok..!!
kadang memang ada orang yg terlalu manja, pengen dapat kerjaan persis seperti yang dia bayangkan tanpa pernah melihat kemampuan dia seperti apa..
Heran jg ya Kak knp dia begitu.. tapi aku pikir keluarganya itu lah yg udah berpengaruh (cukup buruk) sama dia.
BTW, keren system remunerasinya itu Kak hihihihi
Orin recently posted… » Chocolate
Cari orang yang mau kerja keras, jujur, ulet dan nggak ngambekan itu memang banget, apalagi kalo ditambah pinter…hehehe, nyaris mustahil ada yang ‘sesempurna’ itu.
Iya niQue, biarpun saya nggak punya usaha kayak niQue tapi saya juga seringkali dikelilingi orang-orang yang tidak produktif. Dikasih pekerjaan, nggak beres. Diberi teguran mukanya jadi asem…
Bingung kan?
ada yg lagi marah nih… ngumpet aah…
hehe,, sabar bu… banyak hikmah dari setiap kejadian
Mabruri recently posted… » Asal-usul Sirampog
hehe.. sabar mbak… maklum.. anak muda… ^^
Terimakasih untuk sudah memakai quote saya dan kamu menghidupkan quote itu secara sangat baik di tulisan ini.
Memang betul kata Gibran. kerja memang butuh cinta, karena kerja adalah pengejawantahan cinta.. di sana ada semangat, motivasi…
DV recently posted… » Mei 1998- tiga belas tahun kemudian
Memang ada sih yang seperti itu. Temen saya dekat juga seperti itu, dari kecil hingga rekan2nya beranak 2 toh masih belum punya pendapatan. Padahal, saya & teman2 berusaha terus walaupun akhirnya keluar masuk kantor. Gengsi dan malas, itu yang paling sulit
Kaget recently posted… » Wanita Dan Zaman Batu
Wah susah deh kalau ada orang spt ini… serba salah…
Lyliana Thia recently posted… » Sahabat Yang Bercerita
halah..
“marah” apa “Marah” bedanya dmn? huruf pertama? hehe..
tunsa recently posted… » Bloggerwati Hebat
Ibarat pepatah di tulung mentung…….hehehehe iya mbak nyari pekerjaansusah nya nggak karuan sekarang eh malah yang dapet pekerjaan di sia-siain
wah untung ngepel doang mah bisa hhohho, yaelah itu mah gg tau diri, udah enak dapet kerja, eh malah seenaknya ya.
Setuju dgn Kak Niq, setidaknya sudah berniat membantu.
Ann recently posted… » Pancake Durian Medan
wahhh serba repot kalau sudah begitu,,padahal mncari pekerjaan itu sulit eman sekali kan Kak..tapi tindakan Kakak sudah bner tuh..
waaa, repot banget kalau ketemu anak yg males kaya gitu. apalagi trus dia bantuin kerjaan kita. aku kok jadi berpikir, jangan2 keluarganya juga punya andil membuatnya jadi spt itu (baca: malas dan nggak tanggung jawab). aku paling sebel tuh kalau ketemu orang kaya gitu..
krismariana recently posted… » Karena Tak Ada Kenek
waduh iya.. kok males banget sih.. padahal udah dibantuin juga ya…
arman recently posted… » 30 And Counting…
walah, ya memang bakalan pening kalau menghadapi karyawan
mental juraganyg macam itu. dari pada kacau sendiri, ya memang lebih baik “putus kontrak”. niatnya bantu, malah yg dibantu macam tak mau dibantu