Postingan Mba Puspita hari ini mengingatkan saya pada seorang anak yang pernah dititipkan di sini. Anak perempuan itu dititipkan oleh seseorang yang saya kenal dengan baik, karena orangtuanya sedang bermasalah. Ibunya terpaksa berangkat ke Saudi, meninggalkan 4 anak dan seorang suami. Anak perempuan ini adalah yang paling besar, dan duduk di kelas 3SMP saat itu, dan adik-adiknya masih kecil-kecil, ada yang sudah usia sekolah, tapi belum bisa sekolah karena kondisi keluarga yang morat marit. Keluarga ini berantakan, karena utang yang tidak bisa mereka bayar ke beberapa pihak, sehingga tak memungkinkan mereka untuk tinggal bersama.
Dalam banyak kasus seperti ini, seringkali saya melihat jalan keluar yang diambil sangat ekstrim, seperti menjadi TKW. TKW jadi pilihan karena pekerjaan ini dianggap yang mampu memberikan gaji besar, sehingga masalah anak-anak tidak diperhitungkan lagi. Melulu masalah uang! Suami? Ada kok, tapi dari pekerjaannya menjual panganan, diperhitungkan tidak akan bisa melunasi hutang-hutang mereka. Apalagi mengutang di rentenir, sudah pasti menjerat leher ‘kan?
Lalu apa kaitannya dengan postingan Mba Puspita? Membaca kisah Rizki, ada kemiripan dengan kisah Iwed. Iwed anak yang cerdas, rajin, dan sudah dewasa di usianya yang beli. Dia cuma sebentar di sini, 5bulan saja. Dia membantu pekerjaan di warnet sebelum dia berangkat dan setelah pulang sekolah. Saya jatuh cinta padanya. Dan dalam banyak kesempatan, saya berusaha menyuntik semangatnya agar terus bersekolah minimal menyelesaikan SMU/SMK. Saya bahkan menawarkan diri untuk membantu membiayai pendidikannya di SMU/SMK jika memang orang tuanya tidak mampu. Melihat kecerdasannya, saya pikir tidak ada salahnya untuk dibantu.
Sehingga satu hari dia berpamitan, saya seperti disambar gledek rasanya. Kenapa? Mau tinggal di mana? Bagaimana dengan sekolahmu? Mari kita simak penjelasannya. “Ibu, saya mau pamit, saya sudah selesai ujian dan mau kembali tinggal bersama Bapak dan adik-adik di Cikarang. Kasihan adik-adik saya tidak ada yang mengurus. Kasihan Bapak saya karena harus sendirian mencari nafkah, menjaga adik-adik. Saya tidak bisa enak-enak di sini. Jika bukan saya,lalu siapa lagi?” Saya perhatikan wajahnya, tidak ada keraguan di sana, dia yakin sekali dengan keputusannya.
Rupanya, seenak-enaknya hidup di tempat orang lain, masih lebih enak berkumpul bersama keluarga sendiri, meski dalam kekurangan. Nasehat basi saya keluar, saya katakan basi karena kalimat ini sudah sering saya ulang-ulang dalam beberapa kesempatan untuk memotivasi dia, tapi tak dianggap olehnya
“Wajar, sebagai anak tertua wajar kamu merasa harus bertanggung jawab, saya memahami, tetapi kenapa kamu tidak bisa tunggu 3tahun saja? 3tahun itu bukan waktu yang lama. Selesaikan dulu SMK-mu, nanti baru cari pekerjaan, dengan begitu kamu sudah membantu Bapakmu. Jikapun kamu pulang sekarang, dan cuma tinggal di rumah, bagaimana masa depanmu? Sekarang mungkin tidak terpikirkan olehmu, tapi nanti, ketka kamu mau menyesalpun sudah tidak bisa kembali ke waktu yang sekarang. Kuatkan hatimu, tinggallah di sini, sampai sekolahmu selesai. Toh, jika kamu rindu mereka, kamu bisa pulang di waktu-waktu tertentu. Kamu harus menolong dirimu terlebih dulu, sebelum menolong orang lain. Jika kamu pikir tindakanmu ini karena mau menolong orang tua, tapi saya melihatnya sebagai satu kebodohan. Adik-adkmu itu merupakan tanggung jawab orang tuamu, tanggung jawabmu adalah masa depanmu. Kalau kakimu sudah menjejak bumi dengan kuat, kamu pasti bisa mengambil alih tanggung jawab orang tuamu. Sementara jika sekarang? Kamu bisa apa dengan ijasah SMP? Sarjana pun banyak yang menganggur, bahkan bunuh diri karena tak kunjung dapat pekerjaan. bla bla bla ………..”
Dia keukeuh semeukeuh mau pulang saja, urusan masa depan urusan nanti, terserah Gusti Allah, begitu katanya. Saya kesal, bercampur sedih, mentok tak ketemu cara mempertahankan dia. Dan pagi ini saya teringat dia lagi, kenapa dia tidak bisa setegar Rizki? Terus bersekolah walau diterpa badai kehidupan? Memang, saya pahami bahwa sekolah bukan satu-satunya anak tangga menuju kesuksesan, tetapi kenyataannya ijasah masih dibutuhkan dalam mendapatkan pekerjaan. Ah …
Sempat saya dengar Iwed berjualan mendoan, katanya sih lumayan. Yeah, semoga saja ada jalan buat dia untuk kembali ke bangku sekolah. Jikapun tidak, semoga Tuhan melapangkan rizkinya, toh belajar tidak selamanya harus di bangku sekolah juga ‘kan dan semoga ibunya lekas kembali dalam keadaan sehat dan selamat. Semoga!
jadi inget spupuku
karena orangtuanya bercerai, dan mungkin salah pengasuhan, dia jadi pemberontak..dan gak mau sekolah sampai sekarang..
sedeih deh
Elsa recently posted… » Tahu dan Jadah Bakar Pacitan
Kasus seperti Iwed banyak dijumpai nduk. Antara harapan dan kenyataan , antara cita-cita dan biaya tidak pas sehingga anak-anak terpaksa tidak bisa/tidak mau melanjutkan sekolahya.
Semoga Iwed tetap bisa belajar walau bukan di sekolah formal.
Saam hangat dari Surabaya
Pakde Cholik recently posted… » IPAD-Blackberry dan MP3 player Gratis
yah… pemerintah yang gak becus… mikirin kepentingannya terus..
sepakat dgn Mas Sugeng, banyak sekali iwed2 yang lain di negeri kita ini , Nik
di usia mereka hrsnya menuntut ilmu, tapi mereka hrs membantu mencari nafkah utk keluarga, lagi2 alasan klasik , krn faktor ekonomi.
kalau begini, lantas siap yg mau disalahkan?
orang tuanya kah? anaknya kah? atau pemerintah?
masih blm ada jawaban tepatnya
salam
bundadontworry recently posted… » Saat Si Kecil Takut Dokter
Banyak Iwed-iwed yang lain di Indonesia, semoga pemerintah kita bisa mengentaskan mereka semua
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
Sugeng recently posted… » Tatto Tubuh
Mba Nique… mudah2an bener Iwed akan semangat kembali ke sekolah…
Aku punya teman di SMA… kami semua rata2 usia 15 tahun kan di SMA itu… dia waktu itu udah berusia 18 atau 19 yah? iYa! Dia semangat kembali ke sekolah…
Lyliana Thia recently posted… » Sepotong Cerita 1998
sedihnya baca tulisan ini mbak…semoga Iwed dan keluarganya dapat hidup bahagia, dan si Iwed dapat meraih cita-cita dan impiannya kelak…Amien.
Hiks jadi sedih ,keingatan kisah si Lintang/Kriting di film Laskar Pelangi…saya sedikit mau curcol..waktu masih 1 SMA saya juga sdh niat gak mau sekolah lagi,bukan karena alasan ekonomi,tapi karna kekecewaan pada suatu hal..Waktu itu saya yg ababil menghilang dalam kesesatan arah sampai 3 mingguan..tapi untunglah ada oom saya,suami adik mama yg membuka pikiran saya..Beliau bukannya marah seperti yg lainnya,malah ajak saya jalan-jalan malam hari keliling melihat sudut Jakarta yg memilukan..diajaknya saya ke Harmoni(disitu banyak gelandangan&anak jalanan tidur dipinggir jalan),ke Mangga Besar(disitu banyak WTS yg berkeliaran),oom saya cuma bilang bahwa kebanyakan dari mereka putus sekolah atau juga tidak sanggup untuk bersekolah..Dua hari kemudian tanpa paksaan siapapun saya kembali bersekolah
wadoohhhh … gimana nih … kisah sedih lagi deh …
yang sekolah aja yang nganggur … gimana yang tak sekolah …
abrus recently posted… » -ketika wanita …
Sering sekali ketemu cerita seperti ini. Tapi, selalu juga tak mampu berkata-kata. Harapannya, ada orang kaya yang mau membantu keluarga Iwed, sehingga penddidikannya tak terputus.
Akhid recently posted… » Kecintaan Orang Tua- Dipaksa Menjadi PNS
Saya juga tidak ingin sekolah, tapi karena kerjanya di sekolah, terpaksalah saya menunda keinginan itu…
*Salam untuk Bu Guru Puspita
marsudiyanto recently posted… » Sisipan
Mari mewek bareng pagi-pagi… T_T
Prima recently posted… » Weekly Photo Challenge- Wildlife
Memang pilihan yg sulit. Saya bisa mengerti keputusan Iwed, untuk memilih keluarga daripada sekolah.
Tongkonanku recently posted… » Paket Internet Nokia Unlimited Paket Internet Khusus Handphone Nokia
*terharu*
kalau kata teman saya pandangan seseorang terhadap pendidikan itu tergantung pada orientasinya jadi agak susah juga menerapkan pandangan baru.
dilematis juga ya pendidikan versus ekonomi.
Ya ampun, sedih banget aku bacanya Mba NiQ..
mudah2an doa Mba dijabah, Iwed bisa sekolah lagi, dan dilapangkan rejeki keluarganya… amin ya rabb.
si bhi recently posted… » Selamat Tidur
hiks..hiks..terharuu Niq..
moga iwed dan ade2nya selalu dalam perlindunganNya,dan di berikan jalan yang tebaik ,kasihan..!!
Eh? ceritanya sedih kayak di novel *mewek*
Ruu D Wahyudi recently posted… » Tips PDKT ala Chef Rudi
amiin..semoga iwed mau kembali melanjutkan sekolahnya..
Saya hanya bisa mendoakan Mbak, semoga Iwed (dan ketiga adeknya), Rizki, dan bunga bunga bangsa yang lain, bisa mendapatkan pendidikan yang layak, AmiiiN..
(sedih baca kata kata Iwed pas mau pamitan, kembali ke Cikarang)
duh…
terenyuh membaca kisah diatas deh…hiks..
emang serba salah sih Nique…
kadang pemikiran orang kan beda beda…
Mudah mudahan aja Iwed dapat menemukan jalan yang terbaik deh ya
Kasihan yah si Iwed. Bener banget kata-kata Mbak niQue yang “seenak-enaknya hidup di tempat orang lain, masih lebih enak berkumpul bersama keluarga sendiri.”
Oh iya, salam kenal dulu nih
Salam Takzim
Terkadang pendirian seperti itu memang sulit kita menahanya mbak, semoga si Iwed berada dalam posisi yang bahagia, makasih mbak niQue atas kehadirannya di blog saya, semoga mbak niQue diberikan balasan oleh Allah SWT Amin
Salam Takzim Batavusqu Insya Allah, dia akan selalu bahagia, amin
Batavusqu recently posted… » Copot Label Hiatus
Kasihan Iwed. Mudah2an cepat sekolah lagi yah..
mmm…memang dilematis. si iwed mungkin lbh tau keadaan org tuanya. tapi di sisi lain bu nik memandang dari pendidikannya. itu memang tak mudah…harus diputuskan oleh iwed dengan bijak dan mempertimbangkan apa kata ibu nik..
tunsa recently posted… » OpenID WordPress Tak Bisa
ya ampun, miris banget membaca kisahnya Iwed…
rasanya, kasihan sekali anak-anak seperti Iwed…
salam kenal kak…
tergantung mindset si anak juga sih teh gimana cara pandang dia mengenai pendidikan, dan juga dukungan ortu. walaupun ada yang berniat membantunya tapi kalau motivasinya sudah tidak ada ya susah.. mungkin orientasinya sudah pada dunia. maksud saya uang yang diharapkan bs membantu keluarganya..saya aja nyesel pengen mah sekolah setinggi-tingginya dan kalau bisa sampai keluar negeri hehe
jadi pengen nangis..
giewahyudi recently posted… » Cinta di Rumah Terakhir
Saya yang tinggal di daerah pedesaan kerap kali mendengar kepasrahan semacam itu, Mbak. Sesering saya memompakan motivasi semangat buat mereka. Sesering itu pula saya musti mengelus dada.
“terserah Gusti Allah” kalo ini setuju sih. tapi kalo ngak berusaha buat sekolah ya sama aja ngak bisa. hmmm apa ngka ada jalan keluar lagi ya. duhh gw aj jadi bingung. harus nya ya ada duit ya bisa sekolah juga
Bayu recently posted… » Harley Davidson California dan Joget Paling Jijikan para Gangster Moge
dejavu……karena bebrapa tahun silam, saat almarhumah Ibu masih ada. Ada anak saudara yang ‘dititipkan’ kepada ibuku. dari baru masuk SMP hingga lulus SMK. Bahkan ketika lulus SMK, ibuku masih mau membiayai hingga kuliah bahkan uang kuliah pun sudah dibayarkan saat itu. Namun tiba2, dia datang kepada ibuku untuk memberitahu dia ga jadi kuliah karena mau langsung kerja untuk bantu orang tuanya. Singkat kata, dia ga jadi kuliah. Beberapa tahun kemudian (saat ibuku telah meninggal dunia)dia datang kepada saya dan menyesal kenapa dulu tidak jadi kuliah. Nasi udh jadi bubur…penyesalan selalu datang terakhir…
Necky recently posted… » Sifat & Karakter 2
sekarang jual mendoan?
semoga dagangannya sukses
laris manis dan membawa pada keberhasilan
toh rejeki sudah ada yang mengatur
sedj
kalau saja dia mendengerkan wejangan dari mba, itu akan lebih bisa membantu adik-adiknya nanti. Pikirannya masih labil tp merasa punya tanggungjawab besar terhadap keluarga.
Inda Rozalia recently posted… » Taradaaaa diSulap Jadi Taman
ya, dilematis memang pilihan buat dia, sekolah dianggap tidak membantu adik adiknya yang sedang susah
jarwadi recently posted… » Menulis Obituari- Bagaimana ya
Iya Kak, pastinya Iwed memutuskan itu karena ada ‘intervensi’ dari luar dirinya, sayang sekali ya ‘intervensi’ dari Kakak kurang kuat mengena ke dia
Orin recently posted… » Hectic Monday
yups, dia tidak “memikirkan diri ke depannya” untuk saat itu, setiap sendok makanan yang masuk ke mulutunya, mungkin diikuti bayangan wajah memelas adek-adeknya, semoga iwed lebih tangguh menghadapi kehidupan yang sudah dipilihnya dan tidak berurusan dengan rentenir lagi.
ysalma recently posted… » Bertetangga
dia masih kecil dan tidak memiliki mental baja
mungkin karena suasana keluarga yang dia inginkan tidak sama dengan keluarga aslinya
itu yang membuat dia ingin pulang jika bicara tentang suasana keluarga di sini yang tidak sama dengan keluarga aslinya,
julie recently posted… » kopdar warna-warni
Saleum,
)
Si Iwed mempunya tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya. Satu sisi dia membuang kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formal, dan disisi lainnya dia akan melanjutkan pengabdiannya untuk keluarganya. toh, semua sama saja, jika hati sudah keukeuh utk tdk melanjutkan studi kemudian kita paksain juga gak ada manfaatnya.
saya salut sama si iwed mbak… (versi saya
saleum dmilano
dmilano recently posted… » Hujan Lagi- Lagi Hujan
Ada beberapa orang beruntung dan ada orang-orang yang kurang beruntung seperti iwed… Tapi dengan keteguhan hati seperti itu siapa yang bisa melawan?
sukses selalu untuk iwed.. cerita yang hebat
smoga Iwed bisa menggapai mimpinya Mbak!
bundamahes recently posted… » HALAL
hmmm… sungguh ironis.. tapi mungkin bukan hanya iwed saja yang seperti itu. mba.. itulah beban psikologis kita sebagai anak pertama… mantaaaaaaaaap.. postnya mba.. blognya kereeen euy .. semangaaaaaaaaaat:)
de iseng recently posted… » internet berbahayakah
Masalah pertama adalah: Kenapa orangtua Iwed anaknya 4? Kalo sudah tahu hidup susah mbok ya berkeluarga itu satu anak saja. Kalau seperti begini kan semua jadi susah.
Yeah, gudlak tuk Iwed. Selamat bergabung di generasi putus sekolah.
jensen99 recently posted… » Dirgahayu Israel
cerita seperti ini masih banyak di negeri ini, seharusnya anggota dpr malu
joe recently posted… » Perjalanan Panjang Evolusi Ponsel
Ih gmn sih si Iwed ini, bandel pisan gak mau denger nasihat hehe. Semoga saja meskipun tdk melajutkan sekolah, si Iwed bisa membantu keluarganya dan dilapangkan rizkinya.. Mudah-mudahan dia mau sekolah lagi dan kalo memungkinkan bisa sampe kuliah..
archer recently posted… » Korea Selatan Mengembangkan Apel Penyegar Nafas Untuk Dimakan Sebelum Berciuman
terharu bacanya…
Ada yg memiliki memiliki otak yg cerdas namun di sisi lain diberi kekurangan dengan masalah ekonomi, tpi justru ada yg ekonominya lebih tpi di sisin lain kecerdasannya pas2an… itulah keadilan Tuhan, tinggal bagaimana kita bisa mensyukurinya..
semoga dia selalu mendapat yg terbaik dari Allah bu…
Mabruri recently posted… » 40 hari…
Hemm miris juga yah, memang begitu kondisinya ketika banyak yang nggak bisa sekolah tetapi di sisi lain ada juga yang nggak mau sekolah.. katanya cari kerja lebih enak, dapet duit..daripada sekolah nggak dapet apa-apa dan nggak bisa makan.
sukses buat Iwed!
Gaphe recently posted… » And The Choclairs Goes To
waaaaaaahhhh nasihat lu bijak sekali… gua seneng ngebacanya….
sayang gak mengena ke si iwed ya. gua setuju banget lho ama lu… kalo sekolah itu harus diselesaikan dulu. karena itu jadi bekal nanti buat dia bisa membantu keluarganya…
yah moga2 dia dikasih jalan yang lain ya…
arman recently posted… » International Day & Unique LA