Aku (tidak) Ingin Sekolah!

Postingan Mba Puspita hari ini mengingatkan saya pada seorang anak yang pernah dititipkan di sini. Anak perempuan itu dititipkan oleh seseorang yang saya kenal dengan baik,  karena orangtuanya sedang bermasalah. Ibunya terpaksa berangkat ke Saudi, meninggalkan 4 anak dan seorang suami. Anak perempuan ini adalah yang paling besar, dan duduk di kelas 3SMP saat itu, dan adik-adiknya masih kecil-kecil, ada yang sudah usia sekolah, tapi belum bisa sekolah karena kondisi keluarga yang morat marit. Keluarga ini berantakan, karena utang yang tidak bisa mereka bayar ke beberapa pihak, sehingga tak memungkinkan mereka untuk tinggal bersama.

Dalam banyak kasus seperti ini, seringkali saya melihat jalan keluar yang diambil sangat ekstrim, seperti menjadi TKW. TKW jadi pilihan karena pekerjaan ini dianggap yang mampu memberikan gaji besar, sehingga masalah anak-anak tidak diperhitungkan lagi. Melulu masalah uang! Suami? Ada kok, tapi dari pekerjaannya menjual panganan, diperhitungkan tidak akan bisa melunasi hutang-hutang mereka. Apalagi mengutang di rentenir, sudah pasti menjerat leher ‘kan? :(

Lalu apa kaitannya dengan postingan Mba Puspita? Membaca kisah Rizki, ada kemiripan dengan kisah Iwed. Iwed anak yang cerdas, rajin, dan sudah dewasa di usianya yang beli. Dia cuma sebentar di sini, 5bulan saja. Dia membantu pekerjaan di warnet sebelum dia berangkat dan setelah pulang sekolah. Saya jatuh cinta padanya. Dan dalam banyak kesempatan, saya berusaha menyuntik semangatnya agar terus bersekolah minimal menyelesaikan SMU/SMK. Saya bahkan menawarkan diri untuk membantu membiayai pendidikannya di SMU/SMK jika memang orang tuanya tidak mampu. Melihat kecerdasannya, saya pikir tidak ada salahnya untuk dibantu.

Sehingga satu hari dia berpamitan, saya seperti disambar gledek rasanya. Kenapa? Mau tinggal di mana? Bagaimana dengan sekolahmu? Mari kita simak penjelasannya. “Ibu, saya mau pamit, saya sudah selesai ujian dan mau kembali tinggal bersama Bapak dan adik-adik di Cikarang. Kasihan adik-adik saya tidak ada yang mengurus. Kasihan Bapak saya karena harus sendirian mencari nafkah, menjaga adik-adik. Saya tidak bisa enak-enak di sini. Jika bukan saya,lalu siapa lagi?” Saya perhatikan wajahnya, tidak ada keraguan di sana, dia yakin sekali dengan keputusannya.

Rupanya, seenak-enaknya hidup di tempat orang lain, masih lebih enak berkumpul bersama keluarga sendiri, meski dalam kekurangan. Nasehat basi saya keluar, saya katakan basi karena kalimat ini sudah sering saya ulang-ulang dalam beberapa kesempatan untuk memotivasi dia, tapi tak dianggap olehnya :) “Wajar, sebagai anak tertua wajar kamu merasa harus bertanggung jawab, saya memahami, tetapi kenapa kamu tidak bisa tunggu 3tahun saja? 3tahun itu bukan waktu yang lama. Selesaikan dulu SMK-mu, nanti baru cari pekerjaan, dengan begitu kamu sudah membantu Bapakmu. Jikapun kamu pulang sekarang, dan cuma tinggal di rumah, bagaimana masa depanmu? Sekarang mungkin tidak terpikirkan olehmu, tapi nanti, ketka kamu mau menyesalpun sudah tidak bisa kembali ke waktu yang sekarang. Kuatkan hatimu, tinggallah di sini, sampai sekolahmu selesai. Toh, jika kamu rindu mereka, kamu bisa pulang di waktu-waktu tertentu. Kamu harus menolong dirimu terlebih dulu, sebelum menolong orang lain. Jika kamu pikir tindakanmu ini karena mau menolong orang tua, tapi saya melihatnya sebagai satu kebodohan. Adik-adkmu itu merupakan tanggung jawab orang tuamu, tanggung jawabmu adalah masa depanmu. Kalau kakimu sudah menjejak bumi dengan kuat, kamu pasti bisa mengambil alih tanggung jawab orang tuamu. Sementara jika sekarang? Kamu bisa apa dengan ijasah SMP? Sarjana pun banyak yang menganggur, bahkan bunuh diri karena tak kunjung dapat pekerjaan. bla bla bla ………..”

Dia keukeuh semeukeuh mau pulang saja, urusan masa depan urusan nanti, terserah Gusti Allah, begitu katanya. Saya kesal, bercampur sedih, mentok tak ketemu cara mempertahankan dia. Dan pagi ini saya teringat dia lagi, kenapa dia tidak bisa setegar Rizki? Terus bersekolah walau diterpa badai kehidupan? Memang, saya pahami bahwa sekolah bukan satu-satunya anak tangga menuju kesuksesan, tetapi kenyataannya ijasah masih dibutuhkan dalam mendapatkan pekerjaan. Ah …

Sempat saya dengar Iwed berjualan mendoan, katanya sih lumayan. Yeah, semoga saja ada jalan buat dia untuk kembali ke bangku sekolah. Jikapun tidak, semoga Tuhan melapangkan rizkinya, toh belajar tidak selamanya harus di bangku sekolah juga ‘kan dan semoga ibunya lekas kembali dalam keadaan sehat dan selamat. Semoga!

46 thoughts on “Aku (tidak) Ingin Sekolah!

  1. Kasus seperti Iwed banyak dijumpai nduk. Antara harapan dan kenyataan , antara cita-cita dan biaya tidak pas sehingga anak-anak terpaksa tidak bisa/tidak mau melanjutkan sekolahya.

    Semoga Iwed tetap bisa belajar walau bukan di sekolah formal.

    Saam hangat dari Surabaya

    saya percaya bahwa Iwed akan mendapat pelajaran berharga di sekolah kehidupan :) Insya Allah

    Pakde Cholik recently posted… » IPAD-Blackberry dan MP3 player Gratis

  2. yah… pemerintah yang gak becus… mikirin kepentingannya terus..

    sambil menunggu mereka sadar, yah kita lakukanlah apa yang kita bisa :)

  3. sepakat dgn Mas Sugeng, banyak sekali iwed2 yang lain di negeri kita ini , Nik
    di usia mereka hrsnya menuntut ilmu, tapi mereka hrs membantu mencari nafkah utk keluarga, lagi2 alasan klasik , krn faktor ekonomi.
    kalau begini, lantas siap yg mau disalahkan?
    orang tuanya kah? anaknya kah? atau pemerintah?
    masih blm ada jawaban tepatnya :(
    salam

    tak ada yang perlu dipersalahkan Bun :) Bukankah setiap kita punya jalan sendiri2 untuk ditempuh? Demikian pula dengan Iwed, sudah ada yang mau membiayaipun, dia menampik dengan alasan yang lain, jadi saya melihatnya memang jalan seperti ini yang harus dia tempuh.

    bundadontworry recently posted… » Saat Si Kecil Takut Dokter

  4. Banyak Iwed-iwed yang lain di Indonesia, semoga pemerintah kita bisa mengentaskan mereka semua ;)

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Sepertinya sih sulit ya mengharapkan peran pemerintah sepenuhnya dalam menangani masalah seperti ini, insya Allah semakin banyak orang yang peduli dan tergerak hatinya untuk mengulurkan tangan buat Iwed dan teman2nya.

    Sugeng recently posted… » Tatto Tubuh

  5. Mba Nique… mudah2an bener Iwed akan semangat kembali ke sekolah…

    Aku punya teman di SMA… kami semua rata2 usia 15 tahun kan di SMA itu… dia waktu itu udah berusia 18 atau 19 yah? iYa! Dia semangat kembali ke sekolah…

    masalah usia mestinya tidak menjadi kendala untuk bersekolah, yang penting niat dan semangatnya tetap besar :D

    Lyliana Thia recently posted… » Sepotong Cerita 1998

  6. sedihnya baca tulisan ini mbak…semoga Iwed dan keluarganya dapat hidup bahagia, dan si Iwed dapat meraih cita-cita dan impiannya kelak…Amien.

    Jangan sedih dong :) amin, doa kita pasti akan menguatkan Iwed :)

  7. Hiks jadi sedih ,keingatan kisah si Lintang/Kriting di film Laskar Pelangi…saya sedikit mau curcol..waktu masih 1 SMA saya juga sdh niat gak mau sekolah lagi,bukan karena alasan ekonomi,tapi karna kekecewaan pada suatu hal..Waktu itu saya yg ababil menghilang dalam kesesatan arah sampai 3 mingguan..tapi untunglah ada oom saya,suami adik mama yg membuka pikiran saya..Beliau bukannya marah seperti yg lainnya,malah ajak saya jalan-jalan malam hari keliling melihat sudut Jakarta yg memilukan..diajaknya saya ke Harmoni(disitu banyak gelandangan&anak jalanan tidur dipinggir jalan),ke Mangga Besar(disitu banyak WTS yg berkeliaran),oom saya cuma bilang bahwa kebanyakan dari mereka putus sekolah atau juga tidak sanggup untuk bersekolah..Dua hari kemudian tanpa paksaan siapapun saya kembali bersekolah

    alhamdulillah, selalu saja Tuhan mengirim seseorang untuk menyelamatkan masa depan seseorang :)

  8. wadoohhhh … gimana nih … kisah sedih lagi deh … :(
    yang sekolah aja yang nganggur … gimana yang tak sekolah … :(

    nah, beda itu, jangan dibawa ke sananya, karena belum tentu orang yang tidak sekolah itu bakal nganggur hehehe

    abrus recently posted… » -ketika wanita …

  9. Sering sekali ketemu cerita seperti ini. Tapi, selalu juga tak mampu berkata-kata. Harapannya, ada orang kaya yang mau membantu keluarga Iwed, sehingga penddidikannya tak terputus.

    hehehe masalah Iwed bukan lagi biaya sekolah, tapi biaya menghidupi keluarganya mas :D

    Akhid recently posted… » Kecintaan Orang Tua- Dipaksa Menjadi PNS

  10. Saya juga tidak ingin sekolah, tapi karena kerjanya di sekolah, terpaksalah saya menunda keinginan itu…
    *Salam untuk Bu Guru Puspita

    hahahaha ini lagi … adaaaaaaa aja .. hla kerjanya ngajar gimana ga ingin sekolah xixixixi … udeh terima nasib aja ya Pak … nanti klo sampe ga bisa ke sekolah lagi (pensiun), malah kangen lhoooooo :P Mba Pusss niy ad ayang titip salam, pek en yooo

    marsudiyanto recently posted… » Sisipan

  11. *terharu*
    kalau kata teman saya pandangan seseorang terhadap pendidikan itu tergantung pada orientasinya jadi agak susah juga menerapkan pandangan baru.
    dilematis juga ya pendidikan versus ekonomi.

    yeah begitulah :) dan apalagi yang bisa kita lakukan, selain mendoakan mereka agar diberkahi jalan yang lebih terang dalam pilihan mereka.

  12. Ya ampun, sedih banget aku bacanya Mba NiQ..
    mudah2an doa Mba dijabah, Iwed bisa sekolah lagi, dan dilapangkan rejeki keluarganya… amin ya rabb.

    amin amin … dalam perasaan yang sedih, kita mendoakan dia, insya Allah segera diijabah :) terima kasih sudah bersimpati ya mba

    si bhi recently posted… » Selamat Tidur

  13. hiks..hiks..terharuu Niq..
    moga iwed dan ade2nya selalu dalam perlindunganNya,dan di berikan jalan yang tebaik ,kasihan..!!

    aminnn aminn … semoga Allah mengijabah setiap doa untuk Iwed, insya Allah :)

  14. Saya hanya bisa mendoakan Mbak, semoga Iwed (dan ketiga adeknya), Rizki, dan bunga bunga bangsa yang lain, bisa mendapatkan pendidikan yang layak, AmiiiN..

    (sedih baca kata kata Iwed pas mau pamitan, kembali ke Cikarang)

    Saya kira, doa temans blogger hari ini untuk Iwed, insya Allah diijabah, dan berbuah kemudahan bagi Iwed :)

  15. duh…
    terenyuh membaca kisah diatas deh…hiks..

    emang serba salah sih Nique…
    kadang pemikiran orang kan beda beda…
    Mudah mudahan aja Iwed dapat menemukan jalan yang terbaik deh ya :)

    betul sekali, dan yang paling betul adalah tidak memaksakan kehendak walau pun menurut kita itu sangatlah baik :) Amin, pasti dia akan menemukan jalan yang terbaik dalam bimbinganNya :)

  16. Kasihan yah si Iwed. Bener banget kata-kata Mbak niQue yang “seenak-enaknya hidup di tempat orang lain, masih lebih enak berkumpul bersama keluarga sendiri.”

    Oh iya, salam kenal dulu nih :)

    pepatahnya : hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri :) wlo begitu tetep enakan di Indonesia ‘kan? :D

  17. Salam Takzim
    Terkadang pendirian seperti itu memang sulit kita menahanya mbak, semoga si Iwed berada dalam posisi yang bahagia, makasih mbak niQue atas kehadirannya di blog saya, semoga mbak niQue diberikan balasan oleh Allah SWT Amin
    Salam Takzim Batavusqu Insya Allah, dia akan selalu bahagia, amin :)

    Sama2, mas Isro juga sudah memberi warna tersendiri di rumah ini :) Please feel free, tapi jangan dijual rumahnya ya mas :P

    Batavusqu recently posted… » Copot Label Hiatus

  18. mmm…memang dilematis. si iwed mungkin lbh tau keadaan org tuanya. tapi di sisi lain bu nik memandang dari pendidikannya. itu memang tak mudah…harus diputuskan oleh iwed dengan bijak dan mempertimbangkan apa kata ibu nik..
    tunsa recently posted… » OpenID WordPress Tak Bisa

  19. tergantung mindset si anak juga sih teh gimana cara pandang dia mengenai pendidikan, dan juga dukungan ortu. walaupun ada yang berniat membantunya tapi kalau motivasinya sudah tidak ada ya susah.. mungkin orientasinya sudah pada dunia. maksud saya uang yang diharapkan bs membantu keluarganya..saya aja nyesel pengen mah sekolah setinggi-tingginya dan kalau bisa sampai keluar negeri hehe

  20. Saya yang tinggal di daerah pedesaan kerap kali mendengar kepasrahan semacam itu, Mbak. Sesering saya memompakan motivasi semangat buat mereka. Sesering itu pula saya musti mengelus dada.

  21. dejavu……karena bebrapa tahun silam, saat almarhumah Ibu masih ada. Ada anak saudara yang ‘dititipkan’ kepada ibuku. dari baru masuk SMP hingga lulus SMK. Bahkan ketika lulus SMK, ibuku masih mau membiayai hingga kuliah bahkan uang kuliah pun sudah dibayarkan saat itu. Namun tiba2, dia datang kepada ibuku untuk memberitahu dia ga jadi kuliah karena mau langsung kerja untuk bantu orang tuanya. Singkat kata, dia ga jadi kuliah. Beberapa tahun kemudian (saat ibuku telah meninggal dunia)dia datang kepada saya dan menyesal kenapa dulu tidak jadi kuliah. Nasi udh jadi bubur…penyesalan selalu datang terakhir…
    Necky recently posted… » Sifat &amp Karakter 2

  22. sekarang jual mendoan?
    semoga dagangannya sukses
    laris manis dan membawa pada keberhasilan
    toh rejeki sudah ada yang mengatur

    sedj

  23. Iya Kak, pastinya Iwed memutuskan itu karena ada ‘intervensi’ dari luar dirinya, sayang sekali ya ‘intervensi’ dari Kakak kurang kuat mengena ke dia :(

    Betul, karena dalam dialog kami tak jarang dia menyebut sosok bibinya yang sudah dia anggap sebagai pengganti ibunya. Sebelum dia pndah ke Cikarang, saya sering melihat dia menemani bibinya itu berjualan gorengan di sebuah perempatan, tapi tak lama dia sudah pindah ke Cikarang. Jadi perkiraan saya sih bisa jadi bibinya itu yang ‘bisik2′ biar dia mau tinggal bersamanya dan membantunya.

    Waktu itu dia masih udpate facebook, sekarang udah agak lama engga. Saya yang kurang kerjaan ini masih sering ngintipin facebook nya hehehe … Abis saya suka sih anaknya, susah nyari anak jaman sekarang seusia dia tapi ngerti tanggung jawab kerja. Sehingga ketika dari awal feeling saya anak ini bisa dididik, eh salah tebak saya hehehe

    Orin recently posted… » Hectic Monday

  24. yups, dia tidak “memikirkan diri ke depannya” untuk saat itu, setiap sendok makanan yang masuk ke mulutunya, mungkin diikuti bayangan wajah memelas adek-adeknya, semoga iwed lebih tangguh menghadapi kehidupan yang sudah dipilihnya dan tidak berurusan dengan rentenir lagi.

    betul Jeng, kesalahan orang tua yang harus ditanggung anak2. Miris memang :( Tapi yakin kok dia pasti tangguh, dan semoga dia masih ingat semua wejangan2 saya selama dia di sini, jika pun tidak saya percaya Tuhan pasti akan selalu melindungi dan membimbing dia.

    ysalma recently posted… » Bertetangga

  25. dia masih kecil dan tidak memiliki mental baja
    mungkin karena suasana keluarga yang dia inginkan tidak sama dengan keluarga aslinya
    itu yang membuat dia ingin pulang jika bicara tentang suasana keluarga di sini yang tidak sama dengan keluarga aslinya,

    jelas BEDA lah Jul, kan dia dititipin di sini – di warnet – bukan di rumah. Klo di rumah saya pribadi,sudah pasti tidak mau saya :D Masak terima anak gadis di rumah kami, bisa gawat dong xixixi …No no just kidding, tapi memang yang paling memungkinkan ya nerima dia di sini, menyediakan kamar sendiri buat dia, makan terjamin, sekolah terjamin. TAPI, ada orang yang justru tidak bisa menikmati karena setiap detik terbayang adek2nya yang ga keurus, makan pun belum tentu 3x sehari, tidurpun mungkin tidak pakai kipas/selimut. Dan yang lebih beda lagi, tak ada ibunya di sini :) Kegelisahan jiwa anak2 seusianya wajar terjadi, nanti akan ada masanya dia merasa yang mana sebetulnya yang terbaik buat dia, dan jika saat itu dia merasa menyesal, yeahhh …. itu akan jadi pelajaran berharga buat dia toh :)

    julie recently posted… » kopdar warna-warni

  26. Saleum,
    Si Iwed mempunya tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya. Satu sisi dia membuang kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formal, dan disisi lainnya dia akan melanjutkan pengabdiannya untuk keluarganya. toh, semua sama saja, jika hati sudah keukeuh utk tdk melanjutkan studi kemudian kita paksain juga gak ada manfaatnya.
    saya salut sama si iwed mbak… (versi saya :) )
    saleum dmilano

    saya pun jika itu keputusannya murni, bisa menerima kok, hanya saja jika ada pihak lain yang mencoba meracuni pikirannya itu yg saya sayangkan. toh sebagai yang bukan siapa2nya saya cuma bisa sekedar bicara, tak mungkin memaksanya melakukan apa yang menurut saya baik untuknya. Dansaya percaya, semua ini sudah diatur dengan baik oleh Si Empunya Kehidupan :)

    dmilano recently posted… » Hujan Lagi- Lagi Hujan

  27. Ada beberapa orang beruntung dan ada orang-orang yang kurang beruntung seperti iwed… Tapi dengan keteguhan hati seperti itu siapa yang bisa melawan? :D sukses selalu untuk iwed.. cerita yang hebat :)

  28. hmmm… sungguh ironis.. tapi mungkin bukan hanya iwed saja yang seperti itu. mba.. itulah beban psikologis kita sebagai anak pertama… mantaaaaaaaaap.. postnya mba.. blognya kereeen euy .. semangaaaaaaaaaat:)
    de iseng recently posted… » internet berbahayakah

  29. Masalah pertama adalah: Kenapa orangtua Iwed anaknya 4? Kalo sudah tahu hidup susah mbok ya berkeluarga itu satu anak saja. Kalau seperti begini kan semua jadi susah. :evil:

    Yeah, gudlak tuk Iwed. Selamat bergabung di generasi putus sekolah. ;)
    jensen99 recently posted… » Dirgahayu Israel

  30. terharu bacanya…
    Ada yg memiliki memiliki otak yg cerdas namun di sisi lain diberi kekurangan dengan masalah ekonomi, tpi justru ada yg ekonominya lebih tpi di sisin lain kecerdasannya pas2an… itulah keadilan Tuhan, tinggal bagaimana kita bisa mensyukurinya..
    semoga dia selalu mendapat yg terbaik dari Allah bu…
    Mabruri recently posted… » 40 hari…

  31. Hemm miris juga yah, memang begitu kondisinya ketika banyak yang nggak bisa sekolah tetapi di sisi lain ada juga yang nggak mau sekolah.. katanya cari kerja lebih enak, dapet duit..daripada sekolah nggak dapet apa-apa dan nggak bisa makan.

    sukses buat Iwed!

    Hehehe klo saya lihat sih, anak ini sedang labil, perkiraan saya ada orang yang lebih ‘kuat’ dari saya yang mencekoki pikirannya untuk lebih memperhatikan keluarganya, sehingga dia termotivasi menjadi pahlawan bagi keluarganya. Anak 15thn ‘kan klo sudah yakin dengan satu keputusan, memang begitu, dia tidak lagi mau mencerna omongan orang lain, apalagi yang baru dia kenal seperti saya ini.

    Gaphe recently posted… » And The Choclairs Goes To

  32. waaaaaaahhhh nasihat lu bijak sekali… gua seneng ngebacanya….

    sayang gak mengena ke si iwed ya. gua setuju banget lho ama lu… kalo sekolah itu harus diselesaikan dulu. karena itu jadi bekal nanti buat dia bisa membantu keluarganya…

    yah moga2 dia dikasih jalan yang lain ya…

    Iya Man, semoga! Nasehat gw itu terkesan egois, sepertinya kok mementingkan diri sendiri, tapi gw selalu mencoba realistis. Ga tega, tapi harus ditega2in :)

    arman recently posted… » International Day &amp Unique LA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge