Lihatlah foto di bawah ini. Ada empat bocil yang sedang menikmati semangkuk mie ayam di sebuah kedai. Mereka pun makan dengan santun, nyaris tak bersuara. Mereka mengobrol tapi dengan suara pelan, dan kelihatan sangat menikmati sekali sendok demi sendok mie ayam yang mereka masukkan ke mulut masing-masing.
Monthly Archives: May 2011
Simpati pada si “Lemah”?
Sepertinya satu postingan sambung menyambung dari Om NH ke Mba Imelda, dan sekarang giliran saya yang mengutip postingan Mba Imelda, tetapi berbeda topik. Inilah cuplikannya
“Dan … saat itu papa melihat! Seorang pemuda meraba-raba p*nt*t pemudi, padahal si pemudi tidak suka. Papa tegur pemuda itu, dan untung pemuda itu tidak belagu, meskipun juga tidak meminta maaf. Untung pemuda itu tidak memukul papa, dan tidak menjadi keributan di sana.”
Kenapa Nasi (bisa) Basi?
Bingung! Asli, saya bingung banget!! Bercampur kesal tentu saja. Marah! Sudah sampai ke ubun-ubun rasa marah ini!!! Tapi, siapa pula yang mau dijadikan lampiasan kemarahan tak jelas ini??? Emosi!!! Bayangkan saja, sudah 2hari ini nasi yang baru dimasak, tiba-tiba BASI. Iya, be a es i = BASI! Tidak bisa dimakan. Cuma bisa dibuang! Padahal, ‘kan saya yang menulis tentang makanan sisa dibuang sayang, masa’ saya sendiri harus membuang nasi???
Roaming!
Ini drama satu babak di Sabtu pagi yang mendung, tapi ingat ini bukan drama di dramaland, karena jika di sana ratunya sudah ada, dan jelas bukan saya
Sejak kedatangan 2 orang dari Medan, klien di sini seringkali mengalami roaming
karena saya dan mereka seringnya menggunakan bahasa Karo. Ada bagusnya sih, suami saya jadi punya kesempatan lebih banyak untuk belajar bahasa ibu saya, dan sedikit-sedikit suami sudah mulai belajar mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Karo. Berikut ini adalah drama teranyar dari negeri KBS
Pelit atau Hemat?
Sudah hari Jumat aja yah
Dan sejak beberapa hari ini, kehidupan saya sepertinya kembali normal, maksud saya normal dalam artian saya kembali pada fitrah keperempuanan saya yang merasa wajib untuk memasak bagi segenap penghuni rumah ini *lebay*. Yap, sejak beberapa hari ini, sejak sumber daya manusia yang saya impor dari Medan sejumlah 2 orang, masih kinyis-kinyis, bahkan ijasah pun belum ditanda-tangani.
Obrolan Subuh
Selagi saya menuntaskan tulisan yang ini, ada selingan dari seorang klien yang baru selesai mengambil paket malam. Sebetulnya sih biasanya selesai jam 6pagi, tetapi karena ada maintenance dari provider, jam malam dimajukan sehingga selesainya lebih awal dari biasa.
Butuh tapi Malas!
“…..berbahagialah kita, aku dan kalian semua yang mampu mencemooh mereka yang tidak bekerja justru karena tidak memiliki sedikitpun semangat untuk bekerja.” Warna merah itu, bukan karena masih euforia kenangan pada mawar merah, tetapi memang hati saya sedang ‘marah’. ‘Marah’ bukan marah
Harap bedakan itu hehehe Tapi saya juga tidak mau mencemooh mereka, walaupun saya mampu, sebaliknya saya justru kasihan. Dan postingan kali ini masih tentang karyawan yang tidak memiliki sedikitpun semangat untuk bekerja. Eh setelah saya ubek-ubek ternyata saya sudah punya 5 postingan yang berkisah seputar karyawan. Ckckck … banyak juga yah
“Kuantar ke Gerbang”
“Kuantar ke Gerbang” adalah judul buku karangan Ramadhan KH. Jika saya membaca buku ini yang tebalnya 431 halaman ini, bukan karena saya nge-fans sama Bung Karno
Dan andaikan saya tidak pernah membaca buku ini, saya pasti tidak pernah tahu siapa sesungguhnya perempuan yang menanam saham paling banyak atas keberhasilan Presiden ke-1 republik ini, selain ibu kandung tentu saja. Setelah membaca buku ini, menurut hemat saya, tanpa mengurangi rasa hormat kepada istri-istri Bung Karno yang lainnya, maka sosok Ibu Inggitlah yang berperan paling besar mengawal perjalanan seorang Sukarno.
Dilema!
Bukan, bukan saya yang sedang menghadapi dilema, tetapi ini tentang satu klien yang entah kenapa begitu mencuri perhatian saya sejak pertama kali dia datang ke warnet ini. Setiap nge-net terlihat kebingungan, pokoknya melihat wajahnya itu suntuk sangat. Saya merasakan kalau klien ini sedang kebingungan dan membutuhkan pertolongan, tapi saya tidak tepatnya belum tahu apa yang dapat saya perbuat.