Sabtu sore saya dan suami mengajak keponakan menonton film Si Anak Kampoeng, visualnya sih bagus, sayangnya filmnya berjalan sangat lambat *ato saya yg serba mo cepet?
* Film ini berkisah tentang siapa Ahmad Syafii Maarif yang digambarkan sebagai seorang Guru Bangsa. Hampuran pisan, karena saya justru baru tau tentang beliau dari film ini. Film ini mengambil setting khas Minang, dan untungnya ada terjemahan dalam bahasa Indonesia dan Inggris, sehingga keponakan saya yang baru kelas 1SD itu bisa mengerti apa yang dibicarakan. Saya sempat kuatir karena film ini banyak menggunakan bahasa Minang, walaupun berbahasa Indonesia, maka dialek Minangnya kental sekali.
Film yang berdurasi 105menit ini lumayan membosankan bagi saya, dan sepertinya buat ketiga ponakan saya juga, karena pada 30menit terakhir mereka sudah mulai ribut sendiri, rebutan makanan dan bisik-bisik kapan selesainya film ini. Doh! Tapi si abang sih bilang suka ama filmnya, ga tau deh beneran apa engga
Karena ketika ku suruh ceritakan ulang, dia senyum-senyum aja tuh.
Ada beberapa kata yang menempel di memori saya, tapi yang paling mengusik adalah kata “ANDE” yang sering disebut Pi’i – nama panggilan untuk Syafii. Panggilan ANDE yang sering terdengar di film ini mengingatkan saya pada sebutan Ibu dalam bahasa Karo yaitu NANDE. Cuma beda di huruf depan saja ‘kan? Mirip sekali ya? Lalu, siapa yang mempengaruhi siapa ya?
Ga penting sih, cuma saya pengen tau aja, ngkali aja ada blogger yang mampir ke sini tau ceritanya, bagi-bagi yaaaa …
Kejanggalan yang teramat sangat mengganggu, postur pemeran Syafii yang sudah terlalu besar dan sangat tidak sesuai dengan usia yang digambarkan – 7tahun – karena badannya sudah setinggi orang dewasa? Dalam kegelapan bioskop saya jadi memperhatikan postur si Abang yang baru akan berulang tahun yang ke-7 minggu depan, 28 April. Kalau mereka berdua disejajarkan, palingan juga si abang cuma seperutnya pemeran itu. Apakah sutradaranya kesulitan mencari pemeran yang berusia 7-8thn? Atau setidaknya, carilah yang postur badannya tidak setinggi itu. Mungkin hal ini sepele bagi sebagian orang, tapi buat saya lumayan annoying
Dialog dan gerak tubuh, ini juga rada menggelikan buat saya. Mereka berbicara seperti menunggu aba-aba, dan mungkin inilah penyebab film ini berjalan sangat lambat. Masa’ untuk sekedar bilang : “Iya, Tek” aja jedanya lama, pakai tatap-tatapan dulu? Ampun deh ah ….
Hm, apalagi ya? Oya, baru ingat saya, kalau temen2 nanti pada nonton, coba deh perhatiin suara guru ngajinya Pi’i, masak berubah-ubah ya? Atau masalah ada pada telinga saya?
Tapi apo indak dikato, film anak-anak sangat jarang, jadi begitu ada, yah disamber aja deh, paling tidak keponakan saya jadi tau ada Guru Bangsa bernama Ahmad Syafii Maarif
*dalam perjalanan pulang si abang terus mengulang kata Guru Bangsa ini*. Semoga saja kata tersebut memberi makna tersendiri bagi si abang
hmmm.. pas ngeliat resensinya sih sepertinya (lumayan)menarik.. tar nonton sendiri aja deh!
niQue:
monggo mba, nanti klo udah, bikin review nya yah
siapa tau selera saya yang parah
bundamahes recently posted… » Maknyosss!!!
selaen baru tahu ada Guru bangsa bernama Ahmad Syafii Maarif , baru tahu juga kalau ada film ini di bioskop.
dan akhirnya gak jadi kuper karena tahu film itu alurnya lambat,
jadi besok kalau ditanya temen bisa paham deh
(hahahahhahaa…
niQue:
cukup tau aja Is, jangan dikasi tau ke semua orang, kasian juga yang udah bikin film itu mahal2, biarlah yang terjebak bukan saya seorang xixixi
ais ariani recently posted… » huru hara di ruang karoke
Penasaran neh.. cari link downloadnya aja ah..
niQue:
sok lah
terus bikin review nya ya
Amri Karisma recently posted… » Perbaiki Duplicate Content- Hapus Url replytocom WordPress dari Google
alurnya lambat gt ya mbak, berbelit-belit… mungkin inginya memenuhi quota waktu standar sebuah film, cuma idenya mnetok… wkakakaa… *sotoy*
niQue:
Klo diibaratkan warnet dengan speed koneksi selambat itu, dijamin ga ada yang datang aja ke warnetnya LOL
bisa jadi seperti itu, makanya dipaksain, sampai buat nyautpun diitung detik per detiknya
Prima recently posted… » Dialog dengan Atheist
ini film bioskop baru ya? *kuper*
niQue:
iye

kuper kok bikin pengumuman
biar dapet tiket gratis ya? Hahah
indobrad recently posted… » Selamat Paskah
waduh…baru tau juga ada pelem ini.
sampai saat ini pelem anak yang aku suka itu petualangan sherina dan laskar pelangi. kalo yang terakhir ini sih pasti gara-gara settingnya. serasa ada nonton diri sendiri…hahaha…
niQue:
udeehhh pokoke ga usah nonton ok …
rugi duitnya
ga worthed dah
Desri Susilawani recently posted… » Surat Untuk Adinda Uzlifahtul Fitriah
wah belum sempet nonton malah……
cari info dulu ah sebelum nonton….
niQue:
ga usah ditonton
rugi, mending duitnya buat beli buku aja hahaha
antokoe recently posted… » Sosok Idola
wah saya juga kadag kalo nonton di bioskop dan film Indonesia pasti tekesan lambat…. setuju dengan itu
niQue:
mending klo lambat gitu ekspresinya bagus ya
ini malah tanpa ekspresi gitu lho???
ampun deeeeh
choirul recently posted… » UMY Menuju 1000 Besar Peringkat Dunia
mande dan nande mungkin… sok tau ya, yang nonton siapa …?
artinya soalnya sama2 ibu
niQue:
pertama ku pikir juga aku salah dengar Kak
jadi ku cermati lagi dan lagi,
dan si Pi’i memang manggilnya ANDE bukan Mande
kayaknya mesti nanya sama orang Minang nih
monda recently posted… » Lagi-lagi Angkutan Umum
Nande Nande Lumut…
niQue:
Pak Mars, ga onde-onde aja sekalian?
marsudiyanto recently posted… » Jarak Dekat
Nonton di bioskop? Hmmm aku juga baru tahu Guru Bangsa itu…. cari info ah
soal ande dan nande… sama spt Tuan dan Tuhan
atau sama seperti dara dan darah (Kalau ini aku ngajarin orang Jepang dgn kalau “dara” itu belum “berdarah” hihihi… ngerti kan?)
EM
niQue:
ngerti banget mba
seorang dara pasti berdarah
Ikkyu_san recently posted… » Untung Bertemu Kamu!