Rest in Peace

Satu per satu para orang tua berangkat menuju kehidupan yang lebih abadi. Satu per satu berangkat ke tempat yang kekal dengan cara yang selalu tidak pernah sama. Satu per satu meninggalkan kenangan yang jika dikenang tak mudah menahan air mata bahkan isak tangis. Satu per satu berpulang tapi semua tetap tinggal dan mempunya tempat yang khusus dalam istana  hati.

Kemarin, 28 April 2011, adalah hari jadi si abang yang ke-7. Sedianya saya sudah menjanjikan akan mengajak si abang berziarah ke makam bapaknya, seperti permintaannya sendiri. Beberapa waktu menjelang ulang tahunnya, si abang sempat bilang kalau abang tuh udah lama ga ke tempat Bapak.

“Abang udah lamaaaaaaaaaaa ga ke tempat bapak.” begitu katanya.

Maka saya janjikan nanti ya bang pas ulang tahun saja kita ke sana, kalau abang pulang sekolah.

Rencana tinggal rencana, Tuhan selalu punya kejutan untuk mengingatkan umatNya pada ketidak-kekalan di dunia ini, mengingatkan manusia pada kehidupan yang lebih abadi di sana, dekat denganNya. Rencana yang telah disusun hari itu bubar jalan, ketika sebuah sms datang mengabarkan satu-satunya saudara perempuan Mamak-ku berpulang. Dia yang ku panggil Biuda itu akhirnya harus takluk pada Pemilik Kehidupan, dan memang kembali pada haribaanNya adalah yang terbaik setelah berjuang menaklukkan stroke selama 4tahun.

Padahal, 2bulan yang lalu, adik laki-lakinya, telah berpulang terlebih dulu. Beruntung sekali :( Membuat pikiran menjadi selidik, siapakah lagi setelah ini? Tapi seringkali pikiran ini hanya datang sejenak, kemudian terkubur oleh kesibukan keseharian yang mendera. Sampai nanti ada lagi yang berpulang, selalu begitu. Yeah, lahir, jodoh, rejeki, maut sudah ada suratan yang jelas di buku tebal Sang Khalik.

Oya, sebetulnya saya ingin sekali sekalian berbagi cerita tentang tata cara meninggalnya orang Karo, tetapi nantilah dibuatkan postingan tersendiri karena jika digabung di sini pasti akan jadi postingan yang panjang. Yang jelas, adat istiadat memang perlu dilestarikan, tetapi secara pribadi, saya kurang begitu setuju karena pelaksanaannya terlalu menyita waktu dan menguras tenaga. Bayangkan saja, orang-orang yang berduka dan sudah lelah lahir batin, masih harus mengikuti segala seremonial itu, masih harus menyediakan tenaga dan waktu yang ekstra. Mungkin memang harus begitu jika ingin adat istiadat tetap lestari?! Entahlah …

Selamat jalan, Biuda, kembalilah pada pelukan Sang Maha, tak ada lagi derita seperti ketika masih di dunia, insya Allah, amin!

23 thoughts on “Rest in Peace

  1. turut berduka cita ya nique…

    keluarga ibuku selalu bercanda jika berkumpul di perkawinan keluarga besar, “pada giliran siapa lagi nih nanti kita berkumpul?” Dan memang biasanya kita hanya berkumpul kalau perkawinan dan pemakaman. :(

    EM
    Ikkyu_san recently posted… » GW-1- Tradisional

  2. nique…turut berduka cita yah. Satu persatu generasi orang tua kita dipanggil menghadap-NYA meskipun bukan urut kacang dalam menggilirnya. Yang penting, kita semua harus bersiap lahir batin untuk menghadap-NYA kapan saja…
    Necky recently posted… » Membekali Diri

  3. ALL :

    Terima kasih untuk doa penghiburan dan simpatinya.

    Insya Allah kami ikhlas ditinggal secara beruntun seperti ini, dan Tuhan yang Maha Tahu kapan saat yang tepat untuk melakukan ini semua, terlebih paman dan bibi yang berpulang pastinya sudah ‘sehat’ sekarang, tidak perlu lagi merasakan kesakitan penyakit yang selama ini di derita.

    Hanya Tuhan yang dapat membalas ketulusan teman blogger, salam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge