Pemandangan handphone yang tergenggam erat di tangan setiap orang merupakan hal yang biasa setiap hari. Entah di kantor, di rumah bahkan di pasar tradisional sekalipun. Lihat juga tukang parkir yang tak mau kalah di sebelah tangannya mencekal kuat hp, sambil tangan yang satu bergerak sesuai arah yang ditujukan kepada mobil yang diparkiri. Bukan tak pernah pula saya melihat nenek pengemis yang buru-buru menyimpan hp ke dalam kutangnya, ketika lampur merah menyala.
Saya tidak membenci handphone, tidak juga berusaha membatasi penggunaannya, lagipula siapalah saya ini??? Tetapi, kepedulian saya terhadap hal yang satu ini karena kegemasan saya terhadap orang-orang yang seharusnya memberikan perhatian sepenuhnya pada pekerjaannya, tapi justru membagi perhatian dan waktunya pada benda mungil bernama handphone itu.
Adalah nanny si abang Reza dan Egi yang membuat hati saya tersulut panas api yang membara, dan kalau saja tidak ingat susahnya mencari nanny lebih baik rasanya memPHK dia ketimbang meracuni hati setiap melihat keberadaannya. Belum genap satu bulan dia bekerja, tetapi rasanya sudah lebih dari setahun mengingatkan dia untuk mengutamakan pekerjaan terlebih dulu, barulah sibuk dengan hp. Bayangkan saja kasus seperti ini yang terjadi hampir setiap hari.
Suatu sore saya datang berkunjung, tanpa pemberitahuan tentunya. Saya melihat Egi sudah rapi kelihatan baru habis mandi dari rambutnya yang basah, tapi belum disisir, dan wajahnya pun belum berbedak. Saya berusaha menahan diri untuk tidak menegurnya, dan membiarkan saja kejadian itu, mencoba mentolerir, padahaaaaaaaallllllll saat itu saya lihat dia sibuk dengan hp di tangan, sibuk SMS an tentunya.
Lain waktu, si abang sedang bersiap untuk berangkat sekolah, baru kancing satu terpasang, hp nya berbunyi, otomatis jemarinya pindah ke hp dan membalas sms yang masuk. Tarik retsleting, si hp bunyi lagi, jemarinya kembali pindah lokasi. Pasang tali pinggang, sms teriak lagi, begitu terus sampai-sampai ibunya si abang tak mampu menahan diri sehingga terpaksa menegurnya untuk menyelesaikan satu pekerjaan dulu, baru deh mbalesin semua sms masuk itu. Hasilnya? Dia cemberut, tidak terima tentu saja, karena merasa kesengannya terganggu.
Apakah ini hanya terjadi pada nanny kami saja? Ternyata tidak! Hampir setiap pagi, ada seorang nanny yang entah sengaja atau tidak, tapi dia selalu duduk di bangku di depan warnet sambil momong bocah batita, tentu saja ada hp di tangannya, dan sibuk berSMS ria pastinya.
Dulu juga pernah ada yang kerja di warnet ini, dan selama jam kerja, mereka tak mampu lepas dari hp. Bahkan di saat harus melayani pelanggan yang beli billing pun, hape masih menempel lekat di telinga. Hanya kehadiran saya di sisi meja kasir yang mampu membuat mereka melepaskan hp itu barang sebentar. Dan pemandangan itu tidak hanya pada jam-jam tertentu, tapi dari sejak datang sampai mau pulang, bahkan terkadang sudah mau naik motor pulang pun itu hp tidak bisa lepas, sepertinya ada lem yang merekatkan keduanya. Zzzzzz…………….
Saya mencoba merefleksi diri, waktu dulu saya bekerja pada orang lain, apakah saya juga berlaku sama? Dengan lantang dan tegas saya jawab : TIDAK! Kenapa? Karena saya MALU jika harus sepanjang hari memegang hp. Kalaupun harus menerima telpon, saya akan minta ijin untuk mengangkatnya, padahal sekedar mengatakan : “nanti gw telp ya, soalnya lagi sibuk.” Atau, saya lebih sering melacikan hp, tentu saja dengan silent mode, dan dilihat di saat benar-benar senggang. Sedikit berubah ketika customer pun lebih banyak menghubungi ke hp, hp dibiarkan pamer badan di meja, tapi hanya diangkat ketika customer yang menelpon. Ga ada tuh yang merasa pantas menerima telpon pribadi, terutama di depan bos.
Memikirkan hal ini, membuat kepala kleyengan, padahal kelihatannya sepele ya? Tapi walau sepele, kelihatan sekali tidak punya rasa tanggung jawab, menurut saya! Ada yang tidak sependapat dengan saya ‘kah?

Dikantorku lebih ekstrim Ni, tidak diperkenankan membawa HP ke kantor. Telepon, Faxcimile, Email (net) semuanya sudah disedikan oleh kantor, silahkan menggunakan fasilitas kantor untuk membantu menyelesaikan pekerjaan kantor. Jika situasi darurat, boleh menggunakan fasilitas kantor untuk menghubungi kelurga dengan catatan melalui operator.
he he he kalau bisa malah menghasilkan uang ya kan…
Untung kalau di kantor saya jarang mengaktifkan HP
biasanya kalau di kantor, cara tercepat untuk menghubungi saya adalah lewat telepon kantor atau malah via email
jadi berapa no.tel kantornya? *Lho?*
klo kasusnya kek yg lo tulis, emang dilema yaa….pelajaran jg neh buat gw hehehe, ya klo2 gitchu
tapi gw setuju banget sama usulan om Arman, kira2 bisa ngga ya diterapin di kehidupan nyata?
hihihi merasa suka gitu juga yaa
bisa ngga nya kan baru ketauan klo udah dicobain bu, cobain yuk
iya neh,, orang2 di dunia sepertinya udah terhipnotis sama hp, seperti membalas sms cepat lebih penting daripada menyelesaikan pekerjaan yang udah didepan mata..
lagian fokus ke hp sekarang udah jadi hal biasa waktu kumpul2,, padahal wkatu kumpul2 itu enaknya ngobrol yak daripada main hp
hehehe …
soale isi hp lebih menarik ketimbang pekerjaan kali yaaa
zaman boleh aja kita bergaya pake HP dan dibilang keren dan penting, tapi sekarang sudah jadi barang biasa.
Btw HP di Jepang gak ada silent mode loh, adanya Manner mode. Coba cek sama Imelda. hihihihi
justru karena udah jadi barang biasa itu Om, jadi sampe pemulung sekalipun sudah biasa aja punya hp.
males ah nge-cek ke mba Em, mendingan ntar aku ke Jepang langsung buat nge-cek hahahaha *ngayal*
maklumlah orang Indonesia tidak tahu etika bekerja, dan etika ber-HP. Untung saja selama saya di jkt, saya tidak melihat prt di rumah memakai HP waktu kerja. Bahkan wkt jemput anak-anak yang seharusnya mrk cepat tanggap, malah tidak diangkat, sampai harus berkali-kali telepon. Di satu pihak bagus tidak kecanduan, tapi di lain pihak susah kalau dalam keadaan emergency.
Untuk pemakaian HP (dan gadget lain) sebetulnya diperlukan suatu “pengetahuan” dan “moral”. Kalau keduanya tidak terpenuhi ya akhirnya jadi spt itu.
Dan jangan jauh-jauh, tidak etis loh jika kita sedang janji bertemu orang lain di coffee shop, tapi kita menghabiskan 80% waktu itu utk menjawab telepon dan sms. Terkecuali emergency, seharusnya pada saat rapat dan meeting HP itu dimatikan.
Saya bahkan pernah cuekin telepon dari POLISI karena sedang di dalam kereta (dan di Jepang dalam kereta dilarang bicara dengan telepon)
EM
Ikkyu_san recently posted… » Musim Baru Awal Baru
hahaha itu nanny yang dulu seperti itu mba, sampai2 dia kesel juga, katanya masak dimarahi karena hp ga dilihat (kasusnya kyk mba Em gitu), padahal megang hp juga dimarahi hihihihi
Yep! Setuju tuh, kayaknya mesti bikin penyuluhan besar2an, atau kayak FOrd Foundation yang bikin kampanye safety driving, mestinya produsen hp tuh nyontek cara itu agar penggunanya tau etika dan bermoral ketika menggunakan hp ya
*lebay ga sehhh*
what? di dalam kereta pun tidak boleh ber-hp ria? *pasti orang Indonesia banyak yang bakal kena tilang klo gitu mba EM xixixix*
yup ngga boleh ber HP utk bicara, tapi kalau kirim email atau brwosing tentu saja boleh.
Silent mode diganti namanya jadi Manner mode (vibrate) spy deringnya tidak mengganggu orang lain (menjaga manner).
Dan di tempat duduk khusus utk handicap HP harus dimatikan. Karena takut ada yg pakai alat pacu jantung, dna frekuensinya bisa terganggu
EM
Ikkyu_san recently posted… » Sesuatu yang Rusak
sangat terkendali semuanya di sana ya Mba Em
kalo untuk si nanny sebaiknya dibikin peraturan, kalo gak boleh pake hp selama jam 8-18 misalnya. atau baru boleh pake hp kalo anak2 udah tidur…
arman recently posted… » Pinkalicious
mungkin saran ini bisa dicoba,
wlo pake acara ketar ketir takut dia ga betah sementara blom dapet penggantinya.
soale iparku sangat tergantung sama PRT, secara she’s the only breadwinner, dan anak2 juga masih terlalu kecil untuk ditinggal di rumah tanpa orang dewasa. Hiks…