Sudah berapa hari ini, situasi di sini hectic sekali, gegara harus mengosongkan rumah yang baru terjual. Apalagi waktu yang diberikan si pembeli sangat singkat untuk mengangkut barang yang sangat banyak itu. Sempat bingung juga, apalagi suami sudah terlanjur mendaftar untuk mengikuti seminar berbayar 2hari pula, kalau saja seminarnya gratisan, pasti dengan rela bin ikhlas mbatalin acara itu hehehe Berbekal keyakinan teguh dan langsung dikerjakan, beres juga urusan angkut-angkut, walau untuk itu suami harus kurang istirahat jadinya.
Lalu barang yang diangkut pakai mobil engkel itu mau ditaro dimana ya? Sehari sebelumnya sempat sih nyari kos-kosan untuk nitipin barang-barang itu buat sementara, sempat dibayar pula panjarnya, karena takut diambil orang kamarnya. eh tapi kok ribet ya, apalagi niatnya setelah menyortir barang-barang itu, pasti yang terpakai tinggal sedikit. Soalnya yang diangkut cuma berkas-berkas, perabot kecil-kecil dan baju-baju. Sedangkan perabotan besarnya, langsung dibeli pembeli karena mau langsung ditempati katanya. Bagus sih, coba kalau dia tidak mau beli, bisa-bisa harus cari rumah kontrakan untuk menitipkan barang-barang itu semua.
Ok, alhasil kami memutuskan halaman ruko menjadi tempat menginap semua barang itu, dengan catatan harus segera disortir, dan tentu saja mengerahkan semua tenaga yang ada (baca : karyawan) tanpa kecuali. Rupanya para pemulung yang lewat pada ngiler ngeliatin tumpukan barang yang centang perenang itu, dan semuanya datang menanyakan berapa mau dibayar untuk semuanya??? Busyeeet dikira kali rongsokan semua hahaha … Tapi dengan senyum manis, saya berhasil menghalau semuanya, karena sudah diniatin emang kalau ada rongsokannya mending dikasih ke bapak tukang sampah.
Sempat ada insiden kecil, karena ada preman yang siang-siang udah mabok datang mau mengacak-acak tumpukan barang, tahulah paling juga mau minta uang. Sayangnya, saya memang tidak pernah bisa bermurah hati pada mereka, dan saya tawari buku anak-anak yang memang banyak dan ada di tumpukan paling atas, dia ambil 3keping eh tapi kok belum beranjak pergi? Tangannya malah makin panjang membongkar barang-barang yang ada, ampun ga sihhh … saking gemasnya saya tarik tangannya dan menyuruh pergi saja. Hedeh … malah ngamuk dia, teriak-teriak bilang ga terima saya tuduh maling? Yeee siapa juga yang nuduh maling, males amat ga sih?! Bagusnya bapak tukang sampah datang, dan menghadang pemabok itu, walau sempat lepas juga maju dan merangsek ke arah saya dengan bogem mentah diacungkan. Ckckck … hari gini dikira takut sama preman? Kagak usah yeee … Kata-kata ancaman tentu keluar dari mulutnya, antepin aja deh, yang waras ngalah.
Tapi sebetulnya yang paling mengganggu selain pemabok itu adalah hadirnya seseorang yang sudah lamaaaaaaaaaaaa banget tidak bersua, tau-tau udah berdiri di depan saya sambil mengulurkan tangan dan bertanya : “apa kabar? Masih ingat saya?” Heh???? Ada angin apa gerangan sampai menyambangi diri ini? *lebay* eh rupanya si mas ini mau menawarkan produk M*M kesehatan yang katanya super bagus. Saya sempat bingung bagaimana ya cara menolaknya tanpa dia merasa saya menolak dia. Ya, saya berharap sih dia mengerti ketika saya menunjuk tumpukan barang-barang yang harus saya benahi, dan berkata : “maaf ya, saya sambi.” Sambil benah-benah, sambil juga melayani pelanggan yang kalau Sabtu pasti ramai. Dan dia masih setia mencuri waktu saya yang hampir tidak ada luangnya ini.
Bahkan dia juga menyempatkan diri membuka-buka brosur di depan saya, padahal jelas napas saya ngap-ngapan karena bolak balik ke dalam dan keluar ruangan. Haduh? Gimana ini, masak engga ngerti juga ya?! Masak sih saya harus berkata : “maaf ya saya tidak tertarik, lagipula saya sedang sangat sibuk???” Saya tidak tega juga berkata seperti itu. Dia datang dalam keadaan yang sangat tidak tepat, dia melihat tumpukan barang, dia melihat pelanggan yang keluar masuk, dia juga ada ketika saya menghadapi preman mabuk itu, tetapi kenapa ya tidak ada rasa empati dari dia untuk berkata : “Keliatannya sedang sibuk banget ya mba, ya udah deh, lain kali saja ya saya mampir lagi, biar lebih santai ngobrolnya.”
Kalimat itu yang saya harap akan dia ucapkan, tetapi harapan tinggal harapan, mungkin dia terlalu bersemangat sehingga yang menjadi fokusnya adalah bagaimana dia bisa menyampaikan betapa bagusnya bisnis yang sedang dia jalankan. Saya tidak bermaksud memandang sebelah mata untuk bisnis M*M tetapi setelah melalui banyak prahara dengan bisnis ini di masa lalu, saya memang sudah yakin pasti tidak akan pernah berminat untuk menggelutinya. Trauma-kah? Bisa jadi! Apalagi dengan cara-cara seperti tadi siang, kadar traumanya semakin tinggi hehehe … Jadi, bisnis apapun yang kita jalankan, sejatinya harus tetap mengindahkan etika berbisnis, setuju dong?
Waah…mbak Nique pindahan rumah yaaaa…. Kebayang deh repotnyaaaa…semangaattt
caranya yang mudah. bilang aja. kalo mau tawarin barang . kasi yang geratisan dulu dong. baru nawarin. nah jadi beruntung kan. hihihi
Bayu Hidayat recently posted… » Doa Abi ke Bunda dan Rayhan
wadduh…
trus, si pemabuk itu gimana ? dateng lagi gak..? kalo datang lagi, kontek saya ya..?
eh..tapi klo mas yg jualan M*M itu please, jangan kontek saya..saya juga takut..hehehe
terus, klo udah kontek daeng, seterusnya gimana? ato saya perlu nyebut nama daeng aja klo dia datang lagi? Hehehe
soal yang jualan M*M itu, sama yang kerja di sini sudah saya wanti2, biar klo datang lagi, langsung bilang saya udah lama ga datang ke warnet gitu xixixi jadi daeng tenang aja yah, karena saya ga bakal ngasi no tel daeng ke dia *jelaslah wong saya g tau no tel daeng juga kan weks*
weleh2…kalau saya dalam keadaaan bgitu mah langsung ngomong aja “maaf ya mas’ saya lagi bener2 sibuk lagi pula saya belum tertarik dengan MLM, karena saya punya trauma. Kalau mau bahas itu mending lain kali mas datang lagi yah”
Necky recently posted… » Tanggung Jawab
kayaknya saya kebanyakan bergaul sama orang Jawa
jadinya ya gini, serba pekewuh, pengennya dimengerti .. eh bukannya perempuan emang selalu pengennya di mengerti ya hehehe
Qoute…
hadirnya seseorang yang sudah lamaaaaaaaaaaaa banget tidak bersua, tau-tau udah berdiri di depan saya sambil mengulurkan tangan dan bertanya : “apa kabar? Masih ingat saya?”
——————–
Berarti ini teman lama yang sudah dikenal? Kok nggak ada empati…? Apalagi teman, mestinya ikut memahami situasi, dan dia juga lihat pas berhubungan dengan pemabuk, dan tak ngapa-ngapain?
Wahh berarti Nique benar-benar sabar…kalau saya pasti udah senewen….
Btw, saya tak pernah mau ditawari produk **M itu….dan rasanya sebel kalau ada teman lama, berkunjung, ujung2nya nawarin produk itu, pasti langsung manyun deh….hihihi
edratna recently posted… » Kenangan
Begitulah bu, mencoba bersabar tepatnya, karena aslinya saya malah bukan orang yang sabar, ga tau deh hari itu kok bisa menahan diri
Setujuuuu…
hehehehe
setuju setuju aje
Sumpah, yg mabuk itu bukan saya…
Yang nawarin produk juga bukan saya…
marsudiyanto recently posted… » Emoterapi
hahahaha jelaslah bukan Pak Mars
wong Pak Mars aja ga tau jalan ke sini hihihi