“?”

Setelah beberapa sahabat membuat laporan selayang pandang untuk film “?” besutan Hanung Bramantyo, dan saya tidak berani berkomentar karena belum menonton film itu. Kemarin, akhirnya saya berkesempatan untuk duduk manis di Studio 1  XX1 Artha Gading – biasa deh NOMAT :P Yang nonton siang itu lumayan, dan dari penampilannya juga beragam, tidak melulu perempuan berjilbab seperti ketika saya nonton film Ayat-ayat Cinta. Duduk di sebelah saya, anak muda bermata sipit berkulit kuning, kontraslah dengan saya yang berkulit sawo kematengan dan mata belok :P *ga penting* Sepertinya kontroversi yang di-blow up media merangsang saudara-saudara dari agama lain untuk ikut menikmati film ini.

Lalu, saya, apakah menikmati film ini? Jujur, baru ini saya menonton film dengan perasaan tidak relax, tepatnya tegang, siap dengan catatan, agar tidak sampai lupa jika ada yang nyeleneh. Tegang dan serius. Ini adalah akibat terlalu banyak membaca review sebelum menonton filmnya :D   Ga berasa nonton film deh.

Oiya, sebelum lupa, saya perhatikan pemeran Abi yang jadi anaknya Rika tuh, lebih pas deh memerankan tokoh Pi’i di film Si Anak Kampoeng, dilihat dari posturnya – 7thn cocoklah, bicaranya pun kenes khas anak-anak.

Ok, tentang film ini sendiri, buat saya biasa, ya biasa banget malah! Justru Hanung jujur membuat film ini, karena memang begitulah yang terjadi pada masyarakat sekarang ini. Buat yang beragama Islam memang menyakitkan, memalukan menonton sosok yang digambarkan seperti Ibu Kos itu yang sudah ibu-ibu, berjilbab pula, tapi kerjanya bergunzing saza. Dalam keseharian pun sering kok merasa miris karena banyaaaaak yang seperti ibu itu. Jilbab cuma sebatas penutup tubuh belaka, sementara hati masih telanjang. Tapi, saya kemudian menyadari, dalam kehidupan ini kita butuh orang-orang seperti ibu kos itu agar menjadi pembelajaran buat diri sendiri untuk tidak meniru seperti dia, apalagi jika kita memang menganggap perbuatannya itu tidak sesuai dengan yang diajarkan agama.

Tentang sosok Rika dan Hendra, yang ke-2-nya berpindah keyakinan. Saya sering perhatikan hal ini dalam keseharian, jika ada seseorang yang berpindah keyakinan dari yang sebelumnya sama dengan kita, pada umumnya orang tersebut dikucilkan, dihujat dan lain sebagainya. Sebaliknya ketika seseorang masuk ke dalam keyakinan yang sama dengan kita, pasti diterima dengan penuh suka cita dan rasa syukur. Buat saya aneh saja, sepertinya kok egois ya?!

Dalam keluarga inti saya, ada 2 ipar yang awalnya bukan Islam, yang satu bertahan menjadi muallaf, tapi yang satu lagi kembali pada keyakinannya. Terus bagaimana? Ya ga gimana-gimana, biasa saja, karena kami meyakini cara mempercayai dan beribadah pada Tuhan itu mutlak urusan pribadi masing-masing. Siapalah kita ini merasa boleh menghakimi orang lain begini dan begitu? Sementara bukankah setiap orang berhak untuk memilih apapun yang membuat dia tenang dan bahagia? Sempat sih saya kuatir dulu, ketika adik saya meninggal, dan bagaimana jika sang ipar  kembali ke agamanya, lalu bagaimana dengan para keponakan nanti??? Tapi saya ditenangkan dengan kalimat adem seorang ustadz: “mba, setiap orang itu sudah ada jalannya masing-masing. Tidak perlu menguatirkan yang belum tentu terjadi. Sing penting mba mendoakan agar sang istri tetap istiqomah, selanjutnya serahkan pada Tuhan, karena Dia paling tau yang terbaik untuk umatNya.” Hmm … make sense buat saya :)

Apalagi ya? Hmm … tentang Soleh yang akhirnya mendapat pekerjaan sebagai anggota Banser di ujung keputus-asaannya? Bertebaran orang yang seperti Soleh, desperate mencari pekerjaan bak mencari jarum dalam tumpukan jerami, jadi begitu ada tawaran pekerjaan apapun itu yah diterimalah. Cuma adegan dia memegangi bom dan meledak bersama, menurut saya terlalu berlebihan :D Sepanik-paniknya orang yang menemukan bom, paling banter ya dilempar jauh, itu kalau mau menyelamatkan orang lain. Tapi kalau memeganginya erat-erat? Hmm … it doesn’t make sense at all. Tapi film memang ga perlu pake sense kadang-kadang ‘kan hehehe

Soal restoran si Engkoh, yang menyediakan babi dan ayam :D yeah … tetap saja menjadi satu pilihan. Bagi yang bisa terima ya silahkan, tapi kalau saya, sudah pasti tidak bakal masuk ke restoran itu, walaupun si Engkoh bertoleransi tingkat tinggi. Kenapa? Karena agama saya mengajarkan, jika ragu, sebaiknya diurungkan. Nah, daripada nelen makanan dengan keraguan karena tidak diyakini kehalalannya, lebih baik cari restoran lain, beres kan? :D Agak sulit sih menerima seseorang yang tubuhnya dibalut jilbab tapi bekerja di restoran seperti itu. Di bagian ini, mungkin saya belum bisa menata hati ya :D

Saya jadi teringat ketika pernah mau mampir ke satu restoran, biasa mau manfaatin vocer makan gratisan, dan ketika saya mau masuk, seorang pelayannya mendekati saya dan berkata “mba, maaf, di sini makanannya campur lho, karena mba berjilbab saya kasih tau aja, daripada nanti sudah didalam jadi kecewa.” Tentu saja saya berterima kasih dan mencari restoran lain yang juga menerima vocer tersebut. Perut kenyang, makannya pun tidak diliputi perasaan ragu :D

Terus, ketika orang-orang meributkan tidak terima Banser dijelek-jelekin, di bagian mana ya? Atau jangan-jangan saya kelewat adegan itu? Atau adegan penyerangan ke restorannya si Engkoh dianggap mengada-ada? Bukankah kejadian seperti itu memang sering terjadi? Banyak ‘kan di berita-berita tuh, yang bawa-bawa seragamnya untuk menakut-nakuti atau bahkan mencelakai orang lain? Urusan pribadi dibawa-bawa jadi urusan organisasi/instansi, si Soleh yang dilanda cemburu kepada Hendra, mengajak teman-temannya sesama Banser untuk menyerang restoran dengan alasan kok buka di hari ke-2 lebaran? Memang kenapa kalau buka? Toh banyak mal yang tetap buka bahkan pada saat lebaran. Lalu, kenapa mal-mal itu malah tidak pernah jadi sasaran hayooo …

Jadi buat saya, tidak ada yang janggal dengan film ini, hanya saja apakah kita bisa menerima perbedaan ini dengan dada dan kepala terbuka? That’s it!

31 thoughts on ““?”

  1. aku sudah nonton film ini. rasanya kok biasa saja ya kesanku? aku nonmuslim, dan rasanya kalau dipikir logis, boleh dong aku ikut sebel karena Yesus kok dimainkan oleh seorang Islam? hehehe. tapi aku rasa, ah, nggak perlu lah aku sebel. dan memang nggak sebel kok. aku justru merasa Hanung ini bikin film sempet riset kenyataan yg sebenarnya nggak ya? soalnya ada bbrp hal yg mnrtku nggak masuk akal. misalnya, orang memerankan Yesus di hari Jumat Agung supaya jadi pemeran utama (dan mungkin biar dpt honor?). rasanya kalau dia cari honor, salah tempat deh. soalnya nggak gitu tuh rasanya. dan rasanya gereja tak akan kekurangan pemuda yg bisa memerankan Yesus hihihi.

    aku malah mikir, kenapa sih banyak orang meributkan film ini. banyak kok film yg lebih bagus dan lbh kental muatan nilai pluralismenya. tp kenapa film ini jadi heboh sih? biasa aja lagi… :D

    tapi kuharap banyak orang jd menghargai perbedaan dg menonton film ini.

    niQue:

    saya malah melihatnya begini,
    jika peran itu diberikan pada seseorang yang tidak punya keimanan yang teguh,
    malah bisa dia berpikir begini :

    kenapa ya Tuhan memberikan saya pekerjaan ini? dan kenapa ya Tuhan malah mendekatkan saya dengan Rika yang jelas2 sudah berpindah agama? Apakah ini panggilan dari Tuhan????

    Kegalauan seperti itu dapat saja menghantuinya,
    tetapi dengan iman yang teguh,
    maka kemudian dia bisa menganggap kejadian demi kejadian dari kaca mata lain lagi.

    Tapi saya setuju, dalam hal ini pengen tau juga Hanung survey di mana?
    Karena pemuda Kristen pun ga kurang2nya kok untuk bisa memerankan tokoh penting itu.

  2. Saya belum menonton film ini….
    tapi membaca blog teman-teman tentang review film ini sungguh menarik, dan saya justru bisa menilai teman dari cara menulis review nya. Ada yang keras sekali, ada yang netral, dan ada yang menghujat..ini justru menarik, dan menurut saya berarti Hanung berhasil..bukankah judul filmnya tanda tanya? Jadi memang menimbulkan berbagai pemikiran dan tanya tanya dari berbagai pihak.

    Terlepas dari itu, yang namanya film, bisa merupakan protret dari masyarakat kita, juga merupakan persepsi penulis skenario dan sutradara…..
    edratna recently posted… » Maksi dimana

  3. Nah, saya belom nonton, tapi saya udah sering baca ulasan temen2 narablog. :)
    Yap, dan saya heran kenapa dulu waktu pilem ini pertama kali muncul Banser marah-marah. :lol: Padahal setelah saya baca ulasan2 narablog, nggak ada dalam pilem itu yang menghina banser. :mrgreen:
    Aneh… :D
    *ah saya harus nonton sendiri, mungkin nunggu DVD-nya*

    niQue:

    begitulah, pokoknya Indonesia banget :D dulu juga kan klo di film2 bikin polisinya jahat, engga boleh.
    ulama juga kudu bagus2
    jadi ya serba di dunia mimpi gitu kaaan
    masalahe di dunia nyata ya seperti di film ? …. itu sudah lumayan jujur, baru lumayan, blom jujur banget hehehe

    sok lah tungguan … klo dah ntn, bikin review juga yaaa

    Asop recently posted… » Foto Tulisan Bersambung

  4. Semoga dengan adanya film ini, lebih membuat kita bijak dalam berbuat. dalam menyikapi perbedaan. Karena kita semua ditakdirkan dengan berbagai macam perbedaan.

    niQue: betul sekali!
    apa jadinya klo warna baju itu satu warna semua?
    pasti susah mengenali orang :D

    Ibnu Syarif Hidayat recently posted… » Kisah Tukang Becak Naik Haji

  5. Udah sempet diceritain sih sama temen kantor ttg film ini, sepertinya menarik..
    saya nonton dulu deh Mba, dari pada komen2 panjang lebar tp blom nonton, malu saya, hehehe!

    Makasih mba reviewnya, jadi tambah pengen nonton nih :)

    niQue:

    hayulah …
    klo udah ntn, kasi tau ya klo udah bikin review nya :D

    si bhi recently posted… » Cheer Up!

  6. kudenger ini bagus film nya Mba… masih main nggak yah?

    kalo mnrt aku, walau kontroversial, bisa diambil hikmahnya, mgkn bisa dijadiin bahan introspeksi diri agar lebih ngejaga sikap… wallahu’alam…

    niQue:
    eh ada yang bilang bagus?
    soalnya temen2ku rada apriori sama film ini :D
    yeah, pasti bisa diambil hikmahnya, klo pun tidak ya udah buat hiburan aja
    klo ga terhibur juga yaaaaa anggap aja lagi bagi2 duit ke hanung hhehehe

    Lyliana Tia recently posted… » Bersyukur Setiap Hari

  7. ngeliat resensi katanya kontroversial dan banyak muatan SARAnya, jadinya ga tertarik deh nontonnya :(

    niQue:

    :) gimana klo nonton dulu terus bikin resensi sendiri?
    bundamahes recently posted… » Maknyosss!!!

  8. keknya kerenan ulasannya ini daripada filemnya
    kalo ceritanya kek gitu aku tak perlulah nonton nique itu kan udah biasa tul gak? :D

    niQue:

    waduh, jangan kek gitu lah Jul,
    klo emang ada waktu ya nontonlah,
    disomasi orang pulak nanti aku krn gara2 postinganku ada orang ngerasa g perlu ntn film itu :P *lebay ya hahaha*

    julie recently posted… » masih Tentang birthday

  9. Saya baru pertama ke blog ini tampilannya nice bgt… reviewnya ok punya.. salam kenal ya :)

    niQue:

    terima kasih atas kunjungannya
    terima kasih juga atas sanjungannya *sambil pegangan kuat di meja biar ga melayang*

  10. Huhuhu…belom sempet nonton film ini mbaaa :(
    Sepertinya setelah nonton film ini, penonton bs mereview kembali apa yg diyakininya ya mba..

    niQue:
    mungkin ya
    karena klo aku sih, abis nonton film ini cuma bikin review di sini hehehe
    ga sampai mereview apa yang aku yakini,
    soale ngerasa udah yakin udah gitu aja LOL

    Orin recently posted… » Kartini dan Hari Bumi

  11. saya belum lihat malahan belum denger nih ada film seperti itu.. tapi membaca reviewnya, saya rasa film itu emang jujur kok.. cuma masalah kedewasaan seperti yang Mbak bilang.. kita siap nerima apa enggak??

    niQue:

    ha?emang sampeyan tinggal di mana? kok belum tau ada film ini?

    yes, that’s it, are we ready to accept it or not :)
    dan soal penerimaan itu, murni urusan pribadi toh?

    lozz akbar recently posted… » Keluarga Itu Bernama Tamasya

  12. Saya suka review ini. Alih-alih menjelaskan pendapat dgn kalimat berbunga-bunga, pesan yang diteriakkan oleh postingan ini keras-keras adalah: “So what? So what? SO WHAT?!!”

    niQue:

    ahhhh … seemed that you know me so well!!!!
    hahahaha …..
    u r extremely right, Uncle Hahahaha

    kenapa ga kepikiran untuk membubuhkan 2 kata itu di postingan yak? Padahal pas banget!!! xixixi

    indobrad recently posted… » Selamat Paskah

  13. salam blogger…mohon arahannya…. saya seroang newbie… follow balik yagh saya sudah follow blognya…. kunjungi juga yagh bl;og saya riz-ved.blogspot.com

    niQue:

    emang tujuannya kemana?
    kok nanya arah? LOL

  14. Jalan ceritanya begitu, ya?
    Hmm…. jadi penasaran. Aku memang suka jenis film yang menceritakan kenyataan meski pahit, karena kita bisa belajar di sana.
    Musti cari DVD-nya saja karena nonton ke kota sebelah juga ngabisin waktu & dwit lebih banyak. (Solusi hemat orang desa. :D )

    niQue:

    menurut saya begitu :) Ywd beli aja DVD nya

    eh tinggal di desa? desa mana? mau dong tinggal di desa :D
    Susi recently posted… » Dan Petualangan Cinderella Pun Berakhir

  15. belum sampai nonton filmnya nih…
    biasa lah niQue…ga bisa ke bioskop dengan dua balita lincah ini. ga bisa konsen juga…nantilah, bentar lagi juga tayang di tipi…hehehe

    niQue: iya mba tungguin di tivi aja :D
    dibandingin nonton sih pasti saya milih kelonan sama 2 balita :D

    Desri recently posted… » Mak- Ceritakan Padaku! Tentang Ikan Kepitek

  16. Yang jelas …
    Saya menikmati sekali pemainan tokoh yang diperankan Agus Kuncoro …

    dan juga yang pasti …
    Menuk dooonnnggg … Revalina S Temat hehehe … cantik sekali dia …

    Mengenai Isi Film …
    Saya serahkan pada ahlinya saja …
    Saya hanya mengamati pemainnya saja …
    hehehe

    salam saya Nike

    niQue:

    hahaha …. setojooooo
    kayaknya saya juga mau nonton 1x lg sama suami
    klo kemarin kan sendirian, emang niat ovservasi :P *gayamu niQue udah kayak yang iya aja hahaha*
    terus ntar mo nikmatin ajah
    semua persepsi itu ditinggalin di toilet xx1 hahaha

    nh18 recently posted… » HANG

  17. belum nonton,,
    tetap menghormati perbedaan masing-masing,, tetapi kalo memanfaatkan kemiskinan untuk merobah keyakinan, miris juga, (komen ga nyambung dengan filmnya)..
    niQue:

    dan faktanya banyak saudara2 kita yang seperti itu.
    dan tidak perlu mencari siapa yang salah
    atau kenapa orang itu begitu
    setiap orang ada jalannya masing2
    dan kita, berbuatlah semampu yang kita bisa.
    sepertinya sih cukup ya :)

    ysalma recently posted… » Sayangi Bumi

  18. belum sempat nonton Nik,
    biasanya malah kalau sudah baca review sana-sini jadinya nggak nonton, udah nggak ada surprisenya lagi, seperti katamu jadi kayak bawa catatan, nyari2 adegan ini itu yang dibilangin orang2

    tadi mau dilewatin baca tulisanmu ini, sayang…, karena bahasamu enak lho

    niQue:

    ahhh kakak ini bikin aku melayang2 aja :D
    jadi keranjingan nulislah aku klo dipuji2 kek gini
    makasi ya kak, ternyata pujian itu, sekecil apapun itu bisa nge-charge energi ya *ge er mode on*
    ya udah kak, ga usah ke bioskop, tunggu aja, paling ntar lagi juga tayang di tivi2

    monda recently posted… » Lagi-lagi Angkutan Umum

  19. realistis sekali, bila ada orang mengajak ribut dengan dalih demo padahal terbakar api cemburu; tapi cemburu di sini…antara si miskin dan si kaya, sepakat ngga bu?

    niQue:

    terpaksa engga sepakat, hehehe karena ketika saya menonton film itu cemburunya Soleh kepada Hendra (ping Hen) karena antara Ping Hen dan Menuk (istrinya Soleh) pernah ada kisah asmara, bahkan Ping Hen pernah menghadiahi Menuk buku asma’ul husna ketika mereka masih pacaran. Ini kalau mau jujur :)
    tapi dalam kehidupan nyata, biasanya isunya dibelokkan menjadi kecemburuan sosial. Bisa jadi memang ada juga kasus nyata karena kecemburuan sosial, tapi di film ini menurut saya sih cemburu murni, dalam keputus asa-an sang suami, dan ketidak berdayaannya dari sisi materi.
    tapi seandainya Soleh menjadi orang yang bersyukur, kekurangan materi yang dia alami mestinya tidak jadi masalah besar, karena toh istrinya bisa menerima dan memaklumi kok. Solehnya saja yang blingsatan sendiri karena ego lelaki mungkin …. :D

    hahah panjang aja reply saya *malu*
    bdangkal recently posted… » Mainan Baru

  20. sebuah review yg lugas. saya memandangnya pun demikian.
    **bagi hanung paling bijak mmg menjuduli filmnya dng “?”

    niQue:

    sungguh kyai?
    tuh kan saya senang klo ada yang sejalan sepemikiran
    tapi insya Allah bisa senang juga klo ada yang berseberangan :D

    kyaine recently posted… » Bapak sudah membayar

  21. Aseekkk..
    ini review fim “?” yang paling adem..gak bikin kening berkerut karena harus menelaah banyak hal..

    saya belum nonton sih..
    belum “berani”..takut nantinya jadi misuh2 atau sebaliknya jadi mendukung 100%

    niQue:

    hahaha bikin adem kek mana daeng???
    kurang provokatif kah? Hahaha

    padahal saya maksudnya mau memprovokasi lho itu hihihi

    tunggu aja filmnya di tivi daeng, biar duitnya bisa beli buku cerita buat Nadaa aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge