Huru-hara Kontes

Sejak rajin b/w sering tuh nemuin tulisan teman-teman yang ikutan kontes Bang Aswi, tapi keinginan untuk ikut baru muncul justru pada detik-detik terakhir. Ide tulisan muncul begitu saja, tapi saya memang kurang yakin dengan jumlah kata yang maksimal 150 itu, kebiasaan saya menulis panjang-panjang tentu menemukan kesulitan ketika harus menyingkatnya sedemikian rupa.

Tentang penjumlahan kata itu saja ada kehebohan tersendiri :D Silahkan teman-teman membayangkan kehebohan saya di sini ya :) Ketika ide muncul maka jari jemari ini langsung menari-nari di atas keyboard dengan lincah. Hitungan sekian menit ide sudah tertuang, tapi ketika saya lihat ke bawah ada tulisan word count : 200 ??? Waks … banyak amat? Saya coba copy dan paste di MSWords eh kok beda? Sampai saya coba sekali lagi masih juga berbeda, nah lo? Hampir satu jam saya bolak balik mengutak-atik kata per kata demi memenuhi maks.150 kata sebagai salah satu persyaratan yang dibuat Bang Aswi.

Dalam kegemasan dan keputus-asaan, saya tahu kepada siapa saya harus mengadu *halah lebay*, siapa lagi jika bukan suami tersayang *klo ada mau aja disayang-sayang hahaha*. Tapi masih bubu dianya? Hiks, padahal lagi hot-hotnya mau posting. Menjelang siang mulai melancarkan rayuan pulau kelapa :D biar suami mau bangun awal dan mberesin tulisan saya. Eh pas bangun malah keingetan sama pesanan satu customer yang belum dituntaskan :( Jadilah tulisan njogrok dulu di draft box.

Baru deh tadi malam, ketika pengunjung mulai sepi, todong suami lagi untuk mberesi tulisan. Eh alih-alih ngoprek malah nanya : “ini tentang siapa?” Huahahahaha …. suamiku yang pendiam ini bisa curiga juga rupanya xixixixi Hmm … ngaku ga ya?! Hahaha … ga usah ajalah, daripada nanti perang dunia ke-5 ‘kan? :P

Dan baru deh ketahuan dodolnya saya, pantessssss aja saya kesulitan mencapai 150kata, wong otak saya malah ngitung karakter/huruf hahahaha …. tadinya sih ga mau bikin pengakuan di sini, tapi lucu juga kali ya menertawakan diri sendiri :D Dasar memang istri bandel, udah minta tolong, tapi ga mau dengar-dengar. Sampai suami buka satu situs yang bisa menghitung jumlah karakter dan kata agar mata saya melek perbedaannya. Masalahnya saya bukan tidak tau tapi tidak ngeuh hihihihi *dah panik duluan maklum ini kan kontes pertama hahaha*

Lanjut urusan cari judul, sempat nyerahin ke suami untuk memilih judul, eh tapi kok tidak sreg?

“teteh nih, tadi bilang terserah aa, eh aa pilihin bilang ga mau, ya udah cari aja sendiri ya.”

Pasang muka cemberut dan mulai aksi ngambek.
“gimana sih aa, ‘kan teteh biasanya juga ribet klo nyari judul, tolongin atuuuhh…”

“hla mau ditolongin malah begitu. jadi aa nya ‘kan bingung.”
xixixixi …. pantesan suami saya bilang cukup istri satu, wong satu aja ngadepinnya naik darah turun berok wkwkwkwk

“ya udah deh … kita sama-sama cari yah a … hmm apa ‘ini’ aja judulnya … eh ga ding ga cocok .. ato ini … ato itu …” saya heboh sendiri kan.

Ya ya ya judulnya baru nemu dong pas mengambilkan makan suami. Rupanya emang kudu kasi ‘sesajen’ dulu hahaha

Dah beres? Blooom :P Kan kudu nyari gambarnya, naro bannernya. Sempat tuh klik publish, tapi …

“teh, kok ga dikasi gambar?”

“jiahhh lupa .. udah deh kasi gambar banner kuisnya aja ‘a biar cepet. ato terserah aa deh, teteh mo tidur dulu.”

Langsung balik badan, tapi masih sempat teriakin : “a, langsung posting aja yaa jangan lupa daftarin.”

Pagi-pagi bangun, pertanyaan pertamanya pastilah :“udah beres, a? Udah didaftarin?”

Suami mengangguk terus bilang, “udah neng, sekarang aa nya laper, mau sarapan dong.”

“Siaplah!” gampang kalau cuma nyediain sarapan hihihihi

Setiap perhelatan pasti ada kehebohan tersendiri dibalik layar, demikian juga pengalaman pertama mengikuti kontes. Isi tulisan sudah bukan lagi yang utama, tapi lebih rempong pada urusan lainnya :P Mungkin kehebohan saya ini tidak terjadi pada teman-teman yang sudah biasa menulis yaaa *malu saya*

HAVE A NICE WEEKEND!

Rindu Sahabat

Sosok itu melangkah pasti ke arahku, dia begitu yakin akulah yang telah menunggunya di sini. Pandangan kami bersirobok, kulihat pendar cinta di sana. Wajahku memanas, jantung berdetak kencang, dan tanganku sedingin es. Betapa ingin kumemeluknya meluaskan kerinduan yang membuncah,  kemudian dia meraihku dan berbisik, “kau persis seperti yang kubayangkan!”

Dia tempatku berkeluh-kesah sejak  dua tahun yang lalu, yang selalu ada setiap saat untuk membangkitkan semangatku. Aku melemah dan menangis karena terlalu merindukan sosok yang selama ini hanya kujumpai di dunia maya.  Kami menikmati setiap detik yang bergulir karena kami tahu esok sudah harus kembali ke kota masing-masing.

Dia sahabat yang begitu sempurna dimataku. Pada pertemuan terakhir kami dia berkata, “Waktuku tak banyak, Ni! Kau akan selamanya menjadi sahabat sejatiku, tapi kita tidak perlu bertemu lagi. Kita harus kembali menjalani hidup dan saya akan berdoa setiap hari untukmu. Yakinlah kau, pada waktunya semua akan berakhir dengan indah!”

Rest in Peace

Satu per satu para orang tua berangkat menuju kehidupan yang lebih abadi. Satu per satu berangkat ke tempat yang kekal dengan cara yang selalu tidak pernah sama. Satu per satu meninggalkan kenangan yang jika dikenang tak mudah menahan air mata bahkan isak tangis. Satu per satu berpulang tapi semua tetap tinggal dan mempunya tempat yang khusus dalam istana  hati.

Kemarin, 28 April 2011, adalah hari jadi si abang yang ke-7. Sedianya saya sudah menjanjikan akan mengajak si abang berziarah ke makam bapaknya, seperti permintaannya sendiri. Beberapa waktu menjelang ulang tahunnya, si abang sempat bilang kalau abang tuh udah lama ga ke tempat Bapak.

“Abang udah lamaaaaaaaaaaa ga ke tempat bapak.” begitu katanya.

Maka saya janjikan nanti ya bang pas ulang tahun saja kita ke sana, kalau abang pulang sekolah.

Rencana tinggal rencana, Tuhan selalu punya kejutan untuk mengingatkan umatNya pada ketidak-kekalan di dunia ini, mengingatkan manusia pada kehidupan yang lebih abadi di sana, dekat denganNya. Rencana yang telah disusun hari itu bubar jalan, ketika sebuah sms datang mengabarkan satu-satunya saudara perempuan Mamak-ku berpulang. Dia yang ku panggil Biuda itu akhirnya harus takluk pada Pemilik Kehidupan, dan memang kembali pada haribaanNya adalah yang terbaik setelah berjuang menaklukkan stroke selama 4tahun.

Padahal, 2bulan yang lalu, adik laki-lakinya, telah berpulang terlebih dulu. Beruntung sekali :( Membuat pikiran menjadi selidik, siapakah lagi setelah ini? Tapi seringkali pikiran ini hanya datang sejenak, kemudian terkubur oleh kesibukan keseharian yang mendera. Sampai nanti ada lagi yang berpulang, selalu begitu. Yeah, lahir, jodoh, rejeki, maut sudah ada suratan yang jelas di buku tebal Sang Khalik.

Oya, sebetulnya saya ingin sekali sekalian berbagi cerita tentang tata cara meninggalnya orang Karo, tetapi nantilah dibuatkan postingan tersendiri karena jika digabung di sini pasti akan jadi postingan yang panjang. Yang jelas, adat istiadat memang perlu dilestarikan, tetapi secara pribadi, saya kurang begitu setuju karena pelaksanaannya terlalu menyita waktu dan menguras tenaga. Bayangkan saja, orang-orang yang berduka dan sudah lelah lahir batin, masih harus mengikuti segala seremonial itu, masih harus menyediakan tenaga dan waktu yang ekstra. Mungkin memang harus begitu jika ingin adat istiadat tetap lestari?! Entahlah …

Selamat jalan, Biuda, kembalilah pada pelukan Sang Maha, tak ada lagi derita seperti ketika masih di dunia, insya Allah, amin!

Menari Yuk – Part2

Jika orang Karo memang hobi menari, lalu, apakah saya juga demikian?

Mungkin saya termasuk pengecualian, karena saya malah paling emoh jika diajak menari. Buat saya waktu itu, menari adalah sesuatu yang menakutkan. Saya terlalu pemalu untuk menari dan ditonton banyak orang *ge-er padahal ditengok orang pun blom tentu* Maklumlah, walau mamak saya hobi menari dan menyanyi, tapi apo indak dikato kalau kedua hobi itu sama sekali tidak menitis pada saya. Biasanya saya lebih suka bersembunyi jika memang terpaksa mengikuti mamak ke satu acara yang ada gendangnya. Bahkan di satu kesempatan, saking si mamak pengen melihat anak gadisnya menari bersama pemuda/i yang lainnya, saya sampai diupah uang ratusan ribu, tapi mata belok saya tak silau sedikitpun. Duduk dipojokan sambil ikut bergoyang sudah cukup memuaskan saya. Terus si mamak? Ya, ngomel-ngomellah :D

Sedikitnya saya dapat memaklumi omelan mamak, mungkin mamak sudah mengkuatirkan bagaimana nanti saya menari di acara pernikahan sendiri, jika tidak mau belajar dari sekarang? Bagaimana nanti kau menari saat menikah, kalau dari sekarang tak mau belajar? Tuh ‘kan bener! Begitulah selalu isi omelan si mamak. Dengan kurang ajar saya pasti menyahut : siapa juga yang mau menikah dengan adat Karo, ogah! ga mau! Bisa mati berdiri aku kalau ditonton orang menari *lebay* mamak ga usah kuatir, takkan nya aku menikah sama orang Karo, biar ga usah repot2 nanti bikin acara adat yang pake nari-nari itu, berusaha membujuk mamak dan biasanya kalau udah begini, mamak mengalah dan berdiam diri.

Saya pernah ‘durhaka’ terhadap suku sendiri, karena saya memilih mengasingkan diri dari orang-orang sedaerah. Tidak disengaja sebetulnya, lebih karena sok sibuk mengejar karir, sampai tak punya waktu untuk bersosialisasi. Sampai satu hari  di tahun 2004, entah kena angin puyuh dari mana, tiba-tiba dong saya mau diajak menghadiri satu pertemuan muda/i Karo, yang rupanya sedang merencanakan satu acara gendang yang nantinya akan mengundang salah satu petinggi  yang saat itu kebetulan orang Karo.

Entah apes entah untung, tapi kefasihan saya berbahasa Karo, membuat mereka mengutus saya menghadap orang penting (OP) itu. Baiklah, saya pikir ini pekerjaan gampang, cuma meminta kehadiran beliau untuk menjadi pembicara di acara itu. Ok! Time was set up and here we go. Pada intinya beliau bersedia untuk jadi pembicara tapi ketika saya pastikan bahwa beliau harus ikut menari di acara tersebut, maka beginilah kira-kira dialog kami, tentunya pakai bahasa Karo dong :)

Saya (S): Pak, jangan lupa ya, kasi tau Ibu juga, nanti jangan langsung pulang, paling tidak ikut menari 1x aja deh.

OP: Waduh, walau mamak saya jago nari, tapi saya ga bisa.

S: Harus itu pak, belajarlah sama mamak dulu, kan masih ada sebulan lagi. tolong ya pak …

OP: hmm … repot juga ya. tapi kamu nanti nari juga ga?

Nah lu! Pertanyaan menjebak. Saya mesem-mesem sambil memikirkan jawaban jitu, tapi kok tidak ketemu.

S: Gini pak, saya kan panitia, pasti tidak bisa ikutan menari, yang penting Bapak aja deh, nanti klo Ibu ga bisa ikut, tenang aja, kami carikan pasangannya nanti.

OP : mana bisa begitu. justru karena kamu  panitia, makanya kamu harus ikut rombongan saya menari.

Mati gw! Bagaimana ini? Seumur-umur awak tak pernah menari …. hadeehhh …Tiba-tiba teman yang mendampingi berbisik, udahlah, jawab aja Iya, nanti kami ajari kam (baca : kamu – bhs Karo) menari, gampangnya itu. Yah,  urusan saya bisa atau tidak, bagaimana nanti aja deh.

S: ya udah deh Pak, saya juga nanti nari.

OP : deal-lah klo begitu.

Pulang dari sana, 2 teman pria yang mendampingi saya langsung kasak kusuk, bagaimana agar saya bisa belajar menari dengan cepat. Sehingga dipaksalah saya ikut latihan menari massal bersama teman-teman yang memang rutin berlatih untuk keperluan acara itu nanti. Dooooohhhhhh………. napa jadi kecemplung gini sihhhh *gregetan*

Pas hari-H, lengkap dong dengan kebaya merah (khas orang Karo paling suka dengan segala sesuatu yang berwarna merah, bahkan kain khas orang Karo saja disebut Uis Gara = Kain Merah) saya berusaha menyibukkan diri, agar hilang dari pandangan si OP. Tapi ketika saatnya menari tiba, saya tidak bisa mengelak lagi, walau keringat dingin mengucur, senyum pun rasanya sudah susah.  Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih *lebay* akhirnya ya harus tetap menjalani ‘hukuman’, iyalah maksa orang harus bisa nari, sendirinya kok mau ngeles, ga sopan blas ‘kan LOL

Malu saya mengakui ini, karena setelah hari itu, saya malah jadi keranjingan menari dong hahahaha bahkan saya menyesal kenapa ga dulu aja   menerima uang sogokan dari mamak, ‘kan lumayan tuh uangnya. Sayangnya ketika saya tampil menari hari itu di panggung, mamak tak bisa melihat langsung karena  sedang sakit. Ah, ternyata selama ini, saya sudah kalah sebelum berperang, saya selalu merasa saya tidak bisa, padahal setelah dicoba, lho kok bisa?! *pelajaran berharaga!*

Tetapi walau sudah bisa menari, saya tetap pada pendirian untuk tidak akan menari di acara pernikahan saya satu hari kelak, sehingga ketika dapat calon suami yang asli orang Sunda,  kami lalu bersepakat untuk tidak menjalani acara adat. Selamatlah saya :D   Salut deh melihat pasangan-pasangan yang berani tampil menyanyi dan menari di acara pernikahan mereka, dan biasanya sih dapat saweran banyak tuh kalau yang menyanyi dan menarinya bagus.

Jadi, jika pertanyaan itu ditanyakan sekarang, apakah niQue bisa menari, maka jawaban saya pasti BISA DOOOONG!!!  Dan seperti saya menyesal kenapa baru menikah sekarang, kenapa tidak dari dulu-dulu *hahaha ini lebay*, saya mau bilang saya menyesal kenapa baru berani menari sekarang-sekarang, bukan saat saya masih remaja kinyis-kinyis nan menggemaskan dulu :P *blogger biasa narcis kan xixixi*

Sila dinikmati foto saya ketika menari, tapi jangan tanya saya yang mana yah, yang pasti bukan yang sedanng menyanyi itu hahaha

penampila perdana :D

ternyata saya bisa lhoooo :D

Jadi pengen nari sekarang hihihi

“?”

Setelah beberapa sahabat membuat laporan selayang pandang untuk film “?” besutan Hanung Bramantyo, dan saya tidak berani berkomentar karena belum menonton film itu. Kemarin, akhirnya saya berkesempatan untuk duduk manis di Studio 1  XX1 Artha Gading – biasa deh NOMAT :P Yang nonton siang itu lumayan, dan dari penampilannya juga beragam, tidak melulu perempuan berjilbab seperti ketika saya nonton film Ayat-ayat Cinta. Duduk di sebelah saya, anak muda bermata sipit berkulit kuning, kontraslah dengan saya yang berkulit sawo kematengan dan mata belok :P *ga penting* Sepertinya kontroversi yang di-blow up media merangsang saudara-saudara dari agama lain untuk ikut menikmati film ini.

Lalu, saya, apakah menikmati film ini? Jujur, baru ini saya menonton film dengan perasaan tidak relax, tepatnya tegang, siap dengan catatan, agar tidak sampai lupa jika ada yang nyeleneh. Tegang dan serius. Ini adalah akibat terlalu banyak membaca review sebelum menonton filmnya :D   Ga berasa nonton film deh.

Oiya, sebelum lupa, saya perhatikan pemeran Abi yang jadi anaknya Rika tuh, lebih pas deh memerankan tokoh Pi’i di film Si Anak Kampoeng, dilihat dari posturnya – 7thn cocoklah, bicaranya pun kenes khas anak-anak.

Ok, tentang film ini sendiri, buat saya biasa, ya biasa banget malah! Justru Hanung jujur membuat film ini, karena memang begitulah yang terjadi pada masyarakat sekarang ini. Buat yang beragama Islam memang menyakitkan, memalukan menonton sosok yang digambarkan seperti Ibu Kos itu yang sudah ibu-ibu, berjilbab pula, tapi kerjanya bergunzing saza. Dalam keseharian pun sering kok merasa miris karena banyaaaaak yang seperti ibu itu. Jilbab cuma sebatas penutup tubuh belaka, sementara hati masih telanjang. Tapi, saya kemudian menyadari, dalam kehidupan ini kita butuh orang-orang seperti ibu kos itu agar menjadi pembelajaran buat diri sendiri untuk tidak meniru seperti dia, apalagi jika kita memang menganggap perbuatannya itu tidak sesuai dengan yang diajarkan agama.

Tentang sosok Rika dan Hendra, yang ke-2-nya berpindah keyakinan. Saya sering perhatikan hal ini dalam keseharian, jika ada seseorang yang berpindah keyakinan dari yang sebelumnya sama dengan kita, pada umumnya orang tersebut dikucilkan, dihujat dan lain sebagainya. Sebaliknya ketika seseorang masuk ke dalam keyakinan yang sama dengan kita, pasti diterima dengan penuh suka cita dan rasa syukur. Buat saya aneh saja, sepertinya kok egois ya?!

Dalam keluarga inti saya, ada 2 ipar yang awalnya bukan Islam, yang satu bertahan menjadi muallaf, tapi yang satu lagi kembali pada keyakinannya. Terus bagaimana? Ya ga gimana-gimana, biasa saja, karena kami meyakini cara mempercayai dan beribadah pada Tuhan itu mutlak urusan pribadi masing-masing. Siapalah kita ini merasa boleh menghakimi orang lain begini dan begitu? Sementara bukankah setiap orang berhak untuk memilih apapun yang membuat dia tenang dan bahagia? Sempat sih saya kuatir dulu, ketika adik saya meninggal, dan bagaimana jika sang ipar  kembali ke agamanya, lalu bagaimana dengan para keponakan nanti??? Tapi saya ditenangkan dengan kalimat adem seorang ustadz: “mba, setiap orang itu sudah ada jalannya masing-masing. Tidak perlu menguatirkan yang belum tentu terjadi. Sing penting mba mendoakan agar sang istri tetap istiqomah, selanjutnya serahkan pada Tuhan, karena Dia paling tau yang terbaik untuk umatNya.” Hmm … make sense buat saya :)

Apalagi ya? Hmm … tentang Soleh yang akhirnya mendapat pekerjaan sebagai anggota Banser di ujung keputus-asaannya? Bertebaran orang yang seperti Soleh, desperate mencari pekerjaan bak mencari jarum dalam tumpukan jerami, jadi begitu ada tawaran pekerjaan apapun itu yah diterimalah. Cuma adegan dia memegangi bom dan meledak bersama, menurut saya terlalu berlebihan :D Sepanik-paniknya orang yang menemukan bom, paling banter ya dilempar jauh, itu kalau mau menyelamatkan orang lain. Tapi kalau memeganginya erat-erat? Hmm … it doesn’t make sense at all. Tapi film memang ga perlu pake sense kadang-kadang ‘kan hehehe

Soal restoran si Engkoh, yang menyediakan babi dan ayam :D yeah … tetap saja menjadi satu pilihan. Bagi yang bisa terima ya silahkan, tapi kalau saya, sudah pasti tidak bakal masuk ke restoran itu, walaupun si Engkoh bertoleransi tingkat tinggi. Kenapa? Karena agama saya mengajarkan, jika ragu, sebaiknya diurungkan. Nah, daripada nelen makanan dengan keraguan karena tidak diyakini kehalalannya, lebih baik cari restoran lain, beres kan? :D Agak sulit sih menerima seseorang yang tubuhnya dibalut jilbab tapi bekerja di restoran seperti itu. Di bagian ini, mungkin saya belum bisa menata hati ya :D

Saya jadi teringat ketika pernah mau mampir ke satu restoran, biasa mau manfaatin vocer makan gratisan, dan ketika saya mau masuk, seorang pelayannya mendekati saya dan berkata “mba, maaf, di sini makanannya campur lho, karena mba berjilbab saya kasih tau aja, daripada nanti sudah didalam jadi kecewa.” Tentu saja saya berterima kasih dan mencari restoran lain yang juga menerima vocer tersebut. Perut kenyang, makannya pun tidak diliputi perasaan ragu :D

Terus, ketika orang-orang meributkan tidak terima Banser dijelek-jelekin, di bagian mana ya? Atau jangan-jangan saya kelewat adegan itu? Atau adegan penyerangan ke restorannya si Engkoh dianggap mengada-ada? Bukankah kejadian seperti itu memang sering terjadi? Banyak ‘kan di berita-berita tuh, yang bawa-bawa seragamnya untuk menakut-nakuti atau bahkan mencelakai orang lain? Urusan pribadi dibawa-bawa jadi urusan organisasi/instansi, si Soleh yang dilanda cemburu kepada Hendra, mengajak teman-temannya sesama Banser untuk menyerang restoran dengan alasan kok buka di hari ke-2 lebaran? Memang kenapa kalau buka? Toh banyak mal yang tetap buka bahkan pada saat lebaran. Lalu, kenapa mal-mal itu malah tidak pernah jadi sasaran hayooo …

Jadi buat saya, tidak ada yang janggal dengan film ini, hanya saja apakah kita bisa menerima perbedaan ini dengan dada dan kepala terbuka? That’s it!

Talking Book

Setiap ke toko buku sering saya melihat produk ini, namanya TALKING BOOK. Selama ini saya cuek saja, sepertinya kok mahal :D Tetapi kemarin akhirnya saya memenuhi rasa penasaran untuk mencobai alat canggih itu. Kayaknya kok bagus ya?! Danmemang, setelah diperagakan oleh SPG-nya, seakan-akan alat itu bagus.

Dari yang saya baca-baca dan dengarkan, sepertinya saya tertarik. Satu-satunya yang menyurutkan semangat saya memiliki alat ini hanyalah harganya yang mahal. Pertama ditawarkan seharga Rp 2.8jt, dan kata SPG nya sedang ada promo sehingga turun menjadi Rp 2.1jt. Ckckck ….Belum lagi harga bukunya sendiri, sudah pasti tidak sembarang buku yang bisa dipakai di alat ini ‘kan?! *sigh*

Kenapa saya tertarik pada alat ini? Pastilah si abang yang berulah. Waktu UTS kemarin, nilai bahasa Inggris dan PLJB nya kebakaran – dapat 5! Padahal waktu dia bersama saya di warnet, malah dapat nilai yang bagus, paling rendah itu 7. Saya tau di rumah tidak ada yang mengajari dan menemaninya belajar, dan saya pun tidak mungkin juga sengaja datang ke rumah untuk menunggui dia belajar.

Mengharapkan mamanya untuk membantu si abang belajar memang agak susah, karena mamanya sering pulang malam, di saat mana anak-anaknya udah bersiap tidur. Paling sempat belajar jika mamanya pulang cepat, tapi frekuensinya jarang. Pagi hari mestinya bisa belajar karena si abang masuk siang, tetapi mamanya repot dengan urusan domestik, sebelum berangkat kerja jam 9pagi. Jadi, kapan dan sama siapa abang belajar?

Saya sempat mau mencarikan guru les, maksudnya sih agar si abang ada yang membimbing untuk paling tidak mengulang pelajaran di sekolah, tetapi mamanya belum kasih approval. Hmm ….

Tentang alat itu, menurut pemikiran saya, alat ini bisa dioperasikan sendiri oleh si abang, tinggal nanny-nya mengawasi jadual saja. Tetapi kepikiran juga soal dede Egi, pasti alat ini akan jadi rebutan abang adek ini. Sudah pasti deh! Sementara untuk membelikan masing-masing sudah pasti mustahil, wong beli 1 aja tantenya ini mikir bolak balik ga kelar-kelar :D :P

Ok, again, saya butuh opini teman-teman yang sudah jadi mommy yang mungkin sudah pakai alat ini? Bagi-bagi infonya dong, apakah alat ini se-efektif propaganda sang SPG? Menurut informasi, buku ini mengajarkan anak melafalkan kata, kalimat yang ada gambarnya di talking book. Dengan demikian diharapkan anak dapat mempelajari bahasa, agama, pengetahuan umum, cerita, musik dan masih banyak lagi.

Ada yang mau berbagi dengan saya? Please?

Say No to Coffee!

Jika Mabruri sampai bikin postingan terselubung tentang kopi, saya memilih berterus terang saja bahwa saya memang mau membagikan pengalaman saya sehubungan dengan kopi. Iya, kopi yang hitam manis kayak warna kulit saya itu, yang kalau dibubuhi gula rasanya jadi legit. Pasti sudah pernah mencobanya dong?!

Dulu, saya pun termasuk orang yang menggemari kopi. Sehari saja tidak minum kopi rasanya hidup itu hampa. Tak bergairahlah pokoknya! Bagusnya, bukan black-coffee. Masih harus pakai creamer dengan takaran yang seimbang. Sampai satu hari saya mengalami peristiwa yang takkan bisa dilupakan seumur hidup, dan sejak itu jadilah kopi musuh bebuyutan saya. Andaipun masih ada yang melihat saya nongkrong di ‘kedai kopi’, pilihan minuman saya pasti tidak jauh-jauh dari air mineral atau jus.

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2008, waktu itu saya memanfaatkan voucer makan siang gratis di salah satu restoran. Karena saya kuatir nanti porsinya besar, maka sengaja perutnya tidak diisi apa-apa, kecuali air mineral tentu. Saya sudah lupa jenis makanan yang saya pesan, tapi untuk minuman saya memesan 2 jenis, cappucino dan air mineral. Ini sudah kebiasaan kalau habis minum kopi atau makan es krim, pasti harus minum air mineral.

Begitu makan siang tuntas, semua pesanan sudah memenuhi ‘kampung tengah’, beranjaklah saya menuju Semanggi, ada ajakan rapat dari teman-teman komunitas. Di tengah jalan, saya mulai merasakan ada rasa-rasa tidak enak di perut, dan sempat bimbang tuh antara mau langsung pulang ke Bekasi atau ikutan rapat. Eh tau-tau mobil sudah ada di Jalan Casablanca dan hujan deras saat itu. Sakit di perut sudah tak tertahankan, dan ketika melihat satu pom bensin saya masuk dan parkir di sana. Mual-mual menyerang, bolak balik ke toilet, semua sudah keluar sampai badan lemas sangat.

Saya coba tidur sejenak, tapi kok perasaan ini badan tambah lemas ya?! Sempat kuatir jika terjadi apa-apa, dan tidak ada orang yang tahu, bagaimana ya? Apalagi saya tiduran di dalam mobil, dan apabila saya ketiduran, ‘kan bahaya?! Akhirnya saya putuskan menelpon seorang teman untuk memberitahukan posisi dan kondisi saya saat itu. Last minute, saya sampai tidak mampu menyahuti telpon itu lagi. Blank!

Sekitar 5jam lebih saya berada dalam kondisi itu, dan saya berjuang untuk pulang ke Bekasi. Selidik punya selidik rupanya reaksi kopi terhadap perut kosong memang seperti itu, menurut seorang teman yang juga pernah mengalami hal yang sama. Tadinya saya hampir periksa ke dokter, kuatirnya sih keracunan makanan, tetapi karena informasi dari teman itu, urung deh :D

Jadi, saya putuskan saja untuk tidak pernah berhubungan lagi dengan kopi,  semanis apapun dia, sepekat apapun dia, better say NO, daripada mengalami peristiwa itu lagi. Hiiiyyy……

“Si Anak Kampoeng”

Sabtu sore saya dan suami mengajak keponakan menonton film Si Anak Kampoeng, visualnya sih bagus, sayangnya filmnya berjalan sangat lambat *ato saya yg serba mo cepet? :P * Film ini berkisah tentang siapa Ahmad Syafii Maarif yang digambarkan sebagai seorang Guru Bangsa. Hampuran pisan, karena saya justru baru tau tentang beliau dari film ini. Film ini mengambil setting khas Minang, dan untungnya ada terjemahan dalam bahasa Indonesia dan Inggris, sehingga keponakan saya yang baru kelas 1SD itu bisa mengerti apa yang dibicarakan. Saya sempat kuatir karena film ini banyak menggunakan bahasa Minang, walaupun berbahasa Indonesia, maka dialek Minangnya kental sekali.

Film yang berdurasi 105menit ini lumayan membosankan bagi saya, dan sepertinya buat ketiga ponakan saya juga, karena pada 30menit terakhir mereka sudah mulai ribut sendiri, rebutan makanan dan bisik-bisik kapan selesainya film ini. Doh! Tapi si abang sih bilang suka ama filmnya, ga tau deh beneran apa engga :D Karena ketika ku suruh ceritakan ulang, dia senyum-senyum aja tuh.

Ada beberapa kata yang menempel di memori saya, tapi yang paling mengusik adalah kata “ANDE” yang sering disebut Pi’i – nama panggilan untuk Syafii. Panggilan ANDE yang sering terdengar di film ini mengingatkan saya pada sebutan Ibu dalam bahasa Karo yaitu NANDE. Cuma beda di huruf depan saja ‘kan? Mirip sekali ya? Lalu, siapa yang mempengaruhi siapa ya? :D Ga penting sih, cuma saya pengen tau aja, ngkali aja ada blogger yang mampir ke sini tau ceritanya, bagi-bagi yaaaa …

Kejanggalan yang teramat sangat mengganggu, postur pemeran Syafii yang sudah terlalu besar dan sangat tidak sesuai dengan usia yang digambarkan – 7tahun – karena badannya sudah setinggi orang dewasa? Dalam kegelapan bioskop saya jadi memperhatikan postur si Abang yang baru akan berulang tahun yang ke-7 minggu depan, 28 April. Kalau mereka berdua disejajarkan, palingan juga si abang cuma seperutnya pemeran itu. Apakah sutradaranya kesulitan mencari pemeran yang berusia 7-8thn? Atau setidaknya, carilah yang postur badannya tidak setinggi itu. Mungkin hal ini sepele bagi sebagian orang, tapi buat saya lumayan annoying :D

Dialog  dan gerak tubuh, ini juga rada menggelikan buat saya. Mereka berbicara seperti menunggu aba-aba, dan mungkin inilah penyebab film ini berjalan sangat lambat. Masa’ untuk sekedar bilang : “Iya, Tek” aja jedanya lama, pakai tatap-tatapan dulu? Ampun deh ah ….

Hm, apalagi ya?  Oya, baru ingat saya, kalau temen2 nanti pada nonton, coba deh perhatiin suara guru ngajinya Pi’i, masak berubah-ubah ya?  Atau masalah ada pada telinga saya? :D

Tapi apo indak dikato, film anak-anak sangat jarang, jadi begitu ada, yah disamber aja deh, paling tidak keponakan saya jadi tau ada Guru Bangsa bernama Ahmad Syafii Maarif :) *dalam perjalanan pulang si abang terus mengulang kata Guru Bangsa ini*. Semoga saja kata tersebut memberi makna tersendiri bagi si abang :)

High-level Security

Entah sudah berapa akun email / facebook yang tidak bisa diakses lagi oleh saya, karena mbikin password-nya terlalu njlimet. Sampai kemudian saya mengikuti cara suami untuk membuat password yang mudah diingat tapi tidak terlalu njlimet. Sudah anteng saya dengan kondisi seperti itu, sampai satu hari saya lihat kok di browser kompi ini ada tanda bintang berwarna merah ya di pojok kanan atas? Apalagi setiap saya mau buka satu akun email, forum ataupun facebook, eh kok sudah terisi dengan akun suami secara otomatis berikut passwordnya?

Demi memenuhi rasa ingin tahu saya, suami menjelaskan tentang lasspass serta kemudahan dan tingkat keamanan yang dijanjikan oleh lasspass. Seperti biasa, saya ini ‘kan pengekor sejati, jadi yah langsung deh semua akun plus passwordnya diinput oleh suami ke lasspass, kecuali satu akun facebook saya- bukan mau rahasia’an tapi masih kepengen aja punya sedikit privacy. Curang banget deh saya, padahal semua akun suami bisa diakses langsung baik email, facebook dan lain-lainnya deh. Yang jelas, sejak ada lasspass semua jadi serba mudah buat saya, tak perlu lagi mengingat-ingat banyak id akun dan password-nya. Saya cukup menghapalkan password lasspass, cukup satu itu saja. Amaaan … :D

Ada satu lagi yang membuat saya penasaran dua bulan terakhir ini, kenapa ya setiap suami mengakses akun yang di gmail pasti ada sms yang masuk ke hp? *curiga mode on* Ketika ada kesempatan, saya lihat kok ada sms dari Google ya? Maklumlah, saya ini ‘kan gapteknya tidak ketulungan, sama ketidaktulungannya dengan rasa ingin tahu yang terkadang malah annoyed *nyadar hehehe*

Seperti biasa, pasti langsung kasak-kusuk, merangsek suami itu ngasi tau  sms itu  isinya verifikasi apa’an??? Oalaaah … security tingkat tinggi rupanya! Ckckck…jadi walau sudah ada lasspass untuk mengingat semua id + password, suami masih menggunakan satu fasilitas lagi yang disediakan oleh Google yaitu  verifikasi lewat password dan lewat akses kode (PIN) yang secara otomatis akan dikirimkan melalui SMS kepada perangkat selular yang telah didaftarkan sebelumnya atau melalui aplikasi Google Authenticator yang tersedia untuk AndroidiPhone, dan BlackBerry. Selanjutnya boleh baca di sini.

Bagus pisan euy, lumayan deh, saya langsung menarik nafas lega, karena dengan demikian chip poker bisa aman kalau begini, soalnya ‘kan kalau akun facebook banyak chipnya sering banget jadi inceran para hacker. Hehehe … sekarang merasa lebih tenang tanpa kuatir lagi lupa password, juga tidak kuatir akunnya di hack atau kena pishing. Eh tentu saja harus jaga HP baik-baik yah?! Atau kalau sampai HP hilang, lebih baik blokir nomornya terlebih dulu sebelum kita mencoba mengakses email.

Begitulah sodara-sodara, senang bisa berbagi dengan anda, walau mungkin sudah basi, tapi inilah oleh-oleh weekend dari saya buat anda sekalian :D *lebay*

HAVE A NICE WEEKEND :)