Sepenggal Harapan

Ketika ku mendusin, ku lirik hp, ada miskol, tapi n omornya tidak ku kenali. Ku abaikan dan meneruskan tidurku. Tidak lama, suara itu datang lagi. Kuabaikan sejenak, ku pentingkan mengintip pesan yang masuk. Oh! Jadi dia yang menelponku. Baiklah. Dengan nyawa yang belum sepenuhnya kumpul, kusahuti panggilan itu. “Halo …?”

Suara di seberang kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya. Bercerita panjang lebar tentang permasalahannya. Walau kecewa, ku biarkan dia nyerocos, dan aku sibuk dengan pikiranku bahwa sesungguhnya aku lebih suka jika dibangunkan sebuah kecupan di kening atau sentuhan lembut dari suamiku. Bukan curhatan laki-laki ini. Ah, tapi sudahlah!

Pelan-pelan aku mulai betul-betul tersadar, dan beranjak duduk sambil memaksa mata untuk terbuka lebar. Sayangnya gagal. Jadilah pendengar setia dalam keadaan terpejam. Dan ketika dia membutuhkan komentarku, pertama ucapan yang keluar belum terarah. Pelan tapi pasti semakin jelas dan volumenya pun bertambah. Dan tahu-tahu mata bulatku sudah nanar menatap sekeliling kamar. Ku lirik jam, ah, menjelang tengah malam rupanya.

Lebih dari setengah jam orang itu menyita waktuku. Suara di seberang menyudahi percakapan itu begitu saja. Entah apa maksudnya, tak jelas. Sejenak aku sempat memikirkan percakapan tadi, dan ku tanyakan pada diriku sendiri, sudahkah aku meresponnya dengan bijaksana? Insya Allah, iya!

Orang itu bercerita tentang ‘ketidakadilan’ yang menimpa dirinya, bahwa dia merasa didiskreditkan oleh istrinya, sehingga anak-anaknya tidak menyayanginya, dan tidak ada yang memilih dirinya ketika dia dan istrinya memutuskan untuk berpisah. Laki-laki berkata buat apa dia membiayai keluarga yang tidak menyayanginya? Dia mengeluhkan istrinya begini dan begitu. Dia juga mengatakan bahwa sudah menyuruh anak-anaknya untuk datang ke saudara perempuannya jika mereka membutuhkan apapun. Apapun!

Kata itulah yang telah membuat mata yang tadi terpejam menjadi terbelalak dan menahan napas menahan amarah. Dan aku berkata dengan volume suara yang di atas rata-rata.

“Maafkan saya, karena saya tidak ingin mencampuri urusan anda dengan istri anda. Tetapi ketika anda berbicara tentang anak-anak anda, rasa kemanusiaan saya menyuruh saya mengatakan ini kepada anda, agar setelah anda menutup telpon ini nanti, ada bahan perenungan untuk anda. Anda tidak perlu membantah atau beradu argumen dengan saya, karena saya bukan korban dari keegoisan anda dan istri anda. Yang harus anda ingat adalah 3 orang anak yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini. Dan jika anda mengeluh dan mencurigai istri anda yang meracuni anak-anak anda untuk tidak menyayangi anda, sebaiknya anda berempati kepada ketiga anak itu. Bagaimana dia bisa membayangkan seorang bapak yang katanya menyayangi anak-anaknya tetapi membiarkan mereka dalam kelaparan??? Dan dalam masa itu mereka hanya punya seorang ibu yang memeluk mereka agar diam dalam lapar? Di mana anda, ketika anak-anak anda membutuhkan pakaian yang layak dipakai? Di mana anda, ketika anak-anak anda membutuhkan figur seorang bapak??? Mampukah saudara perempuan anda yang kaya raya itu memberikan kebutuhan mereka yang terakhir saya ucapkan??? Bahkan seorang ibu pun takkan pernah mampu menggantikan posisi anda!”

Laki-laki itu mencoba menyalahkan istrinya yang begini dan begitu lagi, dan emosi saya semakin tersulut ketika dia berkata bahwa jika anak-anak itu ikut ibunya maka anak-anak itu harus siap dengan apa yang dipunyai ibunya, karena dia tidak ikhlas sepeserpun uangnya dipergunakan istrinya.

Helloooooooooooooooooooooo…………???

“Berapa sih uang yang anda kirim setiap bulannya? ”

“1-2jt. Tidak tentu juga.”

Duh, Gusti, dari apakah Kau buat hati laki-laki ini? Dia pikir dengan uang sebesar itu dia bisa membeli hati anak-anaknya? Dia pikir karena dia sudah mengirim uang itu, anak-anaknya harus memilih dia jika dia dan istrinya memutuskan untuk berpisah?? Atau dia bahkan samasekali tidak memikirkannya, dan hanya merasa rugi mengirimi sejumlah uang yang dari jumlah itu dia tidak ikut menikmati???? *istigfar*

Kemudian saya coba merendahkan volume suara, dan mencoba bicara pelan berharap dapat  mengetuk pintu hatinya, agar dia tidak menghitung untung rugi terhadap jumlah uang yang dikirimnya, agar dia ikhlas sekian persen dari jumlah itu ikut dinikmati istrinya, karena bagaimanapun istrinya yang menjaga anak-anaknya. Bukankah jika dia hendak membayar seorang pembantu pun, dia harus membayar gaji pembantu itu minimal enam ratus ribu per bulannya? Belum lagi harus menyediakan makan si pembantu? Jajannya? Liburnya?

Tiba-tiba saya teringat tentang seseorang yang lain, yang tiba-tiba berubah setelah menonton berita tentang tsunami, iya, dia berubah lebih baik dalam mengingat Tuhannya. Dan ku pikir pasti lebih banyak orang yang akan menjadi lebih baik setelah peristiwa besar itu, tetapi kenapa laki-laki ini cuma berkutat dengan angka 1-2jt, bukannya mencoba menggapai hati orang-orang yang dulu pernah dikasihinya? Atau jangan-jangan dulu pun mereka tak pernah mendapat tempat di hatinya?

Duhai Tuhan yang tidak pernah tidur, berkatilah orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri, berkatilah anak-anak yang dalam persimpangan, berkatilah  hati yang gelisah, semoga setiap orang menjadi lebih baik esok hari dalam penjagaanMu, amin!

8 thoughts on “Sepenggal Harapan

  1. Saleum,
    kalau dihadapkan pada masalah suami – istri sering bilin isi kepala serasa meledak, harus ada komunikasi yang baik agar tidak muncul masalah yang pelik…. seperti kisah diatas, jk ada komunikasi yg sehat pasti tidak akan terjadi
    saleum dmilano

    • yang saya dengar terakhir emang susah mereka bersatu lagi bu, sang istri menuntut cerai karena suami pindah keyakinan, dan keduanya tidak ada yang berinisiatif untuk konsultasi, dan sepertinya hanya keajaiban yang bisa menyatukan mereka lagi.

      soal jasa pembantu, percaya kok bu klo jasa pembantu udah mahal sekarang ini, tapi masih dapet kok yang gajinya di bawah itu, tergantung daerah tempat tinggal juga kali ya bu?

    • hehehe… iya, bisa dibilang masalah pasutri, tapi saya pribadi lebih melihatnya sebagai masalah anak bangsa :D Karena yang seperti ini banyaaak sekali, apalagi kaum bapak di Indonesia belum terbiasa seperti di luar negeri yang masih tetap menyantuni anak2nya walau pun sudah ketuk palu di pengadilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge