Cowo ato Cewe?

Percakapan ini terjadi di warnet dini hari tadi, ketika seorang klien mendengar saya menguap *ga tau malu*.

“Ngantuk, bu?”

“eh iya mas … maaf, ga nyadar nguapnya sampe kedengeran.” ga pake tersipu deh.

“Gpp. Emang ga ada gantiannya buat jaga, bu?”

“Iya nih mas, emang kurang orang sih. Yang biasa dikasi shift malam, lagi digilir ke siang.”

“cari dong 1 lagi, biar ibunya bisa istirahat.”

“mau nyari kok mas, tapi susah. Blom dapet yang sreg di hati. Lagian bingung juga antara mau nyari karyawan cowo ato cewe. Maunya sih yang cowo, tapi klo yang cowo biasanya tidak serajin karyawan cewe. Tapi klo cewe, ga tega ngasi shift malam. Dilema!”

“iya juga ya bu, karyawan ibu yang cewe itu emang rajin banget, dari pagi sampe sore warnetnya haruuum, tapi klo udah sore menjelang malam hehehe ….”

“nah itu mas, padahal yang cowo ‘kan udah ngeliat ya cara kerja temennya. Saya tuh maunya punya kesadaran aja, ga usah dikasi tau ndetil apalagi sampe nyuruh2 … duh klo bisa ga usah deh.”

Kemudian percakapan kami mengalir semakin jauh, membahas tentang pasokan tenaga kerja cowo dan cewe di dalam negeri. Bahwa belakangan di banyak POM Bensin pun kita akan menemukan cewe-cewe dari yang manis sampai tidak manis rupanya, maka semakin tersingkirkanlah tenaga kerja cowo.

Saya pun pernah memprotes *baca: ngedumel sendiri* kebijakan para pengelola Pom Bensin mempekerjakan karyawan perempuan, karena menurut saya ketika itu, kasihan sama kaum cowo yang semakin terpinggirkan dan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Tidak hanya di Pom Bensin, perhatikan saja di pabrik-pabrik, walau tidak melakukan survey, saya yakin kaum hawa lebih mendominasi, keyakinan ini timbul ketika saya melihat bubaran pabrik, juga minibus jemputan karyawan yang sliweran dan saya lihat di dalamnya 100% perempuan semua.

Dari para pemuda yang sering nongkrong ga jelas, yang dalam beberapa kesempatan saya ajak ngobrol, mereka pun mengeluhkan hal yang sama. Bahwa persaingan semakin ketat, dan saingannya ya kaum hawa tadi. Kata mereka, kalau cewe mau saja dikasih gaji kecil, jadi deh kami yang cowo-cowo ini susah.

“hla? Emang kenapa ga mau dikasi gaji kecil?”

“lho? ya ga maulah, kami ini kan nantinya jadi kepala rumah tangga, klo gajinya kecil, gimana mo ngasi makan anak  istri, bu?”

“emangnya kamu mo langsung nikah begitu dapat kerjaan? Kenapa ga dicoba aja dulu, nanti kalau kerjamu bagus ‘kan naik juga.”

“wah, yang saya liat sih bu, kalau gajinya udah kecil pas masuk, susah naik nya tuh.” dan masih ada serentetan alasan untuk membenarkan kondisi mereka yang jobless.

Jadilah saya yang tercenung merenung memikirkan kondisi ini, juga tentang dilema yang saya hadapi.  Sejujurnya, hati saya mendambakan satu lagi karyawan seperti karyawan perempuan yang sudah ada ini. Jujur, berdedikasi, loyal, rajin,  punya inisiatif, tidak neko-neko, tekun, dan harap dicatat : tidak punya ijasah! Namun begitu, jangan salah, tulisan tangannya bagus, bahkan lebih bagus daripada tulisan keponakan saya yang sedang duduk di kelas 2SMK.  Dia cuma butuh waktu yang sebentar untuk diajari komputer, dalam hal ini tentu kaitannya dengan aktivitas di warnet, nge-print, scanning,  bikin billing, bahkan terakhir ini saya ajari nge-patch game.  Sempurna? Tidak, cacatnya ada kok, namanya manusia pasti tidak ada sempurnanya. Tapi dibandingkan kelebihannya, maka otomatis kekurangannya mudah dimaafkan.

Hmm … di mana ya nyari orang seperti dia satu lagi? Lagipula, masak sih harus karyawan perempuan lagi? Kan dulu saya pernah protes agar kaum pria lebih diutamakan dalam mendapatkan pekerjaan, tapi kenapa saya sendiri malah tidak bisa konsisten??? Untungnya waktu itu protesnya engga sampai bawa spanduk ke kantor Menaker xixixi ….. bisa-bisa saya dibilang menjilat ludah sendiri hehehe

16 thoughts on “Cowo ato Cewe?

  1. wah, perenunangannya menarik euy..
    saya belum pernah sampe kepikiran ke situ, tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga.
    yang saya tahu, kaum wanita memang lebih telaten dan “tahan banting” dari segi mental bila dibandingkan dengan pria. ini juga sepertinya memberi pengaruh besar pada kinerja mereka di mata boss.

    jus my 2 cent sih, belum pernah mengamati lebih dalam..:)

    • terima kasih atas komen positif nya bro :)

      sebetulnya tulisan saya di atas cenderung miris terhadap kenyataan yang ada, karena personally saya lebih setuju kaum pria lebih diberi porsi loker ketimbang kaum hawa.

      btw, jgn dalem2 bro mengamatinya :P ntar bintitan hahaha

  2. Kalau rtajinnya rajin cewek, tapi tahan bantingnya tahan banting cowok…
    Apalagi kalau musti dines malem…
    Asal jangan ambil waria yang bisa kerja siang malem… :D
    Salam!

    • waria? hmm kayaknya engga bakal deh pak, soale kuatir sepi nih warnet, karena baru pengamen waria yang datang, anak2 yg tadinya nongkrong di depan aja langsung pada ngibrit ketakutan tuh :D

  3. Ya memang kasihan juga yah dengan fakta bahwa pria jd agak tersingkir.. tp kalau menurut saya gpp juga sih, biasanya dengan adanya kompetisi, orang2 jd berusaha lebih baik dan lebih keras, mudah2an para tenaga kerja pria juga begitu :)
    Si Bhi recently posted… » Anti-Lembur

    • semestinya memang begitu, tapi apakah kenyataannya juga demikian? saya belum searching siy prosentase besaran pengangguran perempuan vs laki-laki lebih besar mana.
      Tapi kalau dari kasat mata sih, lebih banyak laki2 yang nganggur daripada perempuan hehehe

  4. Kalau memang mau buat shift malam untuk perempuan, rasanya kejam sih :) – tapi masa sih sulit mendapatkan tenaga kerja laki-laki? He he…, sepertinya perlu tim kreativitas untuk penjaringan tenaga kerja.

    Kalau untuk etos kerja, yah kembali ke masing-masing individu. Saya sih tidak berani terlalu menjustifikasi antar gender.
    Cahya recently posted… » Tersandar di Sisi Keheningan

    • hahaha tuh kan … blom2 udah dibilang kejam :P

      kesulitan mendapatkan tenaga kerja laki-laki yang MAU kerja itu yang susah, karena kebanyakan sih mau ndapetin kerjaannya tapi engga mau ngerjain kerjaannya. Jadi asal udah kerja aja gitu :D

      Hmm …. maunya sih tidak menjustifikasi etos kerja antar gender, tapi kenyataan yang saya hadapi begitu, dan ini bukan cuma berdasarkan pengalaman di warnet yah, waktu saya jadi HRD di beberapa perusahaan pun, kebanyakan lebih bisa mengandalkan karyawan perempuan ketimbang pria.

      Bukan sentimen lho ini :P

  5. kadang memang aku berpikir sama bhw kaum hawa lebih enak, lebih gampang mencari kerja. Tapi seandainya yg cowok mau menunjukkan kerajinannya LEBIH daripada yang cewek pasti dia akan dihargai lebih banyak. Krn cewe ada handicap spt datang bulan atau hamil kan?
    Itu semua tergantung dari kemauan si cowo untuk lebih maju dan meningkatkan diri.

    EM
    Ikkyu_san recently posted… » Berpisau

    • ya mba, dan saya lihat ini sudah masalah kemauan sih. apalagi sekarang kebanyakan cowo2 senangnya ‘dibayari’ perempuan hehehe jadi ga masalah lagi tuh klo pun cewe yang dapat peluang kerja lebih besar hehehe

        • dihhh ga percaya ya?
          saya hampir setiap hari lho melihat buktinya :D bahkan yang ngomong begitu ya para cowok2 itu
          katanya sengaja punya pacar banyak2, jadi bisa lebih makmur, karena sumber duitnya engga cuma dari 1 perempuan.
          dan ajaibnya para perempuannya kok ok2 aja tuh ngempanin :P

          dunia udah terbalik ‘kali ya? :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge