Sejak negeri ini gonjang ganjing dengan berita Century, sedikitpun saya tidak menoleh terhadap apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Tepatnya tidak mau tau. Tanya kenapa? Ya karena tidak penting! Jika saya katakan tidak penting maka itu artinya saya sudah pesismis dengan penanganannya yang ujung-ujungnya akan dipeti-eskan juga. Jadi lebih baik energinya buat yang lain toh?
Sampai tadi saya membaca curahan hati Alanda tentang apa yang sedang dialami ibu dan keluarganya beberapa bulan sejak kasus Century bergulir. Suami saya bilang, saya orang yang teramat cengeng, sehingga membaca curhatan Alanda pun mampu membuat air mata ini mengalir. Tapi saya kok lebih meyakini karena Alanda menuliskannya dengan sepenuh hati, dan itulah yang menyentuh saya, dan pastinya banyak orang lain yang tersentuh setelah membaca tulisannya itu. Bukankah tulisan yang jujur dan dari hati biasanya mudah menyentuh pembacanya?
Kejadian yang menimpa Alanda dan keluarganya, melemparkan saya kepada peristiwa beberapa tahun silam yang menimpa Bapak saya, dan ketika itu saya baru saja bangga-bangganya mengenakan seragam putih biru. Pada masa itu saya dipaksa melihat betapa carut marutnya hukum di negeri ini, betapa yang berkuasa bukanlah kebenaran melainkan sosok yang mempunyai uang banyak, berbaju seragam dan tentu saja disertakan bintang-bintang di seragamnya. Bahkan bintang-bintang di seragam sosok itu semakin bersinar hingga di satu masa dia bahkan dipercayakan memegang tampuk pimpinan tertinggi di salah satu propinsi di Timur Indonesia sana.
Di usia sebelia itu saya ‘diajari’ untuk membenci seragam dan sampai kini tak mampu mengubah image yang sudah terlanjur terpatri mati sampai hari ini. Saya, kakak, adik-adik dan ibu yang buta hukum ini dipaksa harus berhadapan dengan pengadilan dengan segala tata bahasanya yang membingungkan. Butuh waktu yang sangat lama bagi saya untuk melepas dendam yang membara kepada setiap sosok berseragam dan sampai sekarang pun sulit untuk bersimpati walau cuma seujung kukupun
Apa yang dialami Alanda saat ini, kami pun dulu mengalaminya, bahkan lebih buruk karena sosok berseragam itu dengan tidak malunya mengintimidasi kami melalui anak-anaknya yang berlagak seperti penguasa kecil karena seragam bapaknya. Di sekolah pun tidak tenang, pulang sekolah langsung dikurung di dalam rumah, kecuali siap untuk diculik. Hidup dalam ketakutan itu sangat sangat meracuni jiwa kanak-kanak kami.
Kasus yang menimpa ibunya Alanda, saya percaya jauh berlipat-lipat beratnya untuk mereka hadapi, apalagi media terus memberitakan kasus ini. Apalagi adik-adiknya masih kecil-kecil, duh, semoga mereka diberi kekuatan yang luar biasa. Saya juga percaya, seperti halnya yang saya pernah hadapi dulu, orang-orang di sekitar kita yang mengenal kita dengan baik, pasti akan memberi dukungan sepenuh hati. Doa-doa untuk keselamatan pasti mengalir buat Alanda dan keluarganya agar himpitan ujian yang sekarang lekas berlalu.
Saat-saat seperti sekarang ini pasti berat buat Alanda dan adik-adiknya, tetapi semoga Alanda dan orang-orang di sekelilingnya mampu mengingatkan Alanda dan adik-adiknya untuk selalu mengingat dan menghitung berkat Tuhan yang menyenangkan luar biasa banyaknya sebelum masalah ini datang.
Peristiwa inilah yang saya maksud dalam postingan Susah = Senang beberapa hari yang lalu, seberapa kuatkah kita menerima kesusahan? Jika kita tertawa dalam menerima kesenangan, mampukah kita minimal tersenyum menerima kesusahan? Memang tidak mudah, tapi kita bisa belajar, terutama saya yang masih perlu belajar dan belajar untuk bisa menerima kesusahan sebagaimana halnya menerima kesenangan.
Andai punya satu kesempatan untuk berbagi dengan Alanda, maka saya mau beritahukan bahwa dia tidak sendirian menghadapi ketidak adilan di negeri ini. Banyaaaaaaaaaaak sekali yang mengalami nasib sepertinya, atau bahkan lebih tragis? Menurut saya, dia masih lebih beruntung ketimbang saya, karena dia tetap bisa kuliah dan dengan keenceran otaknya membuatnya mampu mencari uang sendiri.Ya, kamu masih beruntung, Alanda! Sementara kami, orang tua yang keahliannya cuma bertani dipaksa memberanikan diri merantau ke ibukota ini. Sungguh pertaruhan yang teramat mahal yang harus dibayar orang tua kami untuk keselamatan dan kelanjutan masa depan anak-anaknya.
Ketika saya katakan saya sudah mampu menghapus bara dendam itu, adalah saat saya menyadari bahwa peristiwa pahit yang menimpa keluarga kami JUSTRU merupakan jalan terang dan meyakini bahwa memang Tuhan menghendaki kami sekeluarga untuk hidup dan mencari rejeki di ibukota ini. Padahal ketika semua baik-baik saja, Jakarta dan pulau Jawa hanya tempat khayalan semata. Membayangkan bepergian antar kota saja pun rasanya tak mungkin, apalagi lintas pulau? Maka dari itu saya percaya kalau Tuhan selalu mempersiapkan yang terbaik buat kita, bahkan untuk sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya.
Dear Alanda .. yang sabar ya, tetaplah berkarya dan persembahkan yang terbaik untuk ibumu!
PS: terimakasih buat teman blogger teranyar yang mengantarkan saya ke blog-nya Alanda!
Membaca tulisannya di blognya memang membuat kita simpati, tapi saat membaca berita tentang bagaimana tanggapan jaksa akan tulisan itu di detikcom, jadi beritanya berimbang. Karena itu taktik jaksa agar bosnya itu bisa dijerat penjara yang lebih lama, karena kasusnya gak cuma satu dan hukuman maksimal 20 tahun, itu bagaimana agar bisa lebih dari 20 tahun
kurniasepta recently posted… » Tips Mencari Judul dan Cepat Menyusun Skripsi
maksudnya bagaimana ya?
saya kurang paham niy.
orang-orang seperti Mbak dan mungkin nantinya si Alanda ini adalah orang-orang yang disayangi Tuhan.
diberi kesempatan besar untuk belajar “survive”, jika bisa melewatinya maka Insya Allah akan jadi manusia yang bermental baja…
semoga tetap kuat…:)
insya Allah,amin
Pasti kuat lah, makan 3x sehari pun hehehe …
pertama kali baca curhatan nya dia aku juga ikutan sedih mbak, dan ikut merasa kecewa.
apalagi pas baca bagian akhirnya, ikut juga merasakan:
‘aku melakukan ini untuk Indonesia, tapi kok gini?’
yah, kalimat pas nya gak gitu juga yah mbak. kurang lebih.
dia cerdas, berbakat, dan dia sudah mendapatkan dukungan untuk kasus Ibu nya (walaupun itu belon cukup juga,kan?
semoga. Semoga… dia bisa mengobati kekecewaan dia sama negara ini, hasil nya belum keluar yah mbak?
ais ariani recently posted… » anak dan hukuman
ga tau juga siy soal hasil akhir, ga ngikutin beritanya. males ngikutin berita yang peradilan Indonesia
terharu tau sedikit kisah hidupmu, nique, tapi benar ya kata orang di setiap kejadian ada hikmahnya dan membuat kita lebih kuat
soal si gadis manis ini aku juga baca di tempatnya gie, semoga dia tabah ya…
monda recently posted… » Silaturahmi setelah berpisah
betul, hanya saja ketika ujian itu datang, sangat tidak mudah melewatinya.
insya Allah dia tabah, kita bantu doa ya bu
nique recently posted… » Blessing in Disguiss
nique aku jadi penasaran sama cerita si alanda ini tadi abis baca di tempat gie tapi ngebahas tentang alanda yang hebat dan keren itu
*nyari tempat om gugel*
julie recently posted… » Serpihan Gerhana
Emang dia hebat dan keren, tapi setiap orang kan punya banyak sisi untuk disoroti, klo aku lebih melihat dari curhatan dia di blog nya, blom merhatiin banyak soal prestasinya. Wlo di blog nya juga udah keliatan klo anaknya hebat karena sudah nyetak 2 buku, makanya ku bilang dia anak yang beruntung, Jul
Saya prihatin mendengar kedua kabar ini (Alanda dan Bu Nique), maaf tidak bisa membantu dan hanya bisa sekedar komen (juga do’a, insya’Allah). Saya jadi dapat sedikit clue kenapa Ibu cenderung ‘memilih’ teman, tapi mengenal lebih banyak ‘teman berseragam’ yang baik insya’Allah akan menghapus trauma Ibu. Saya kasih contohnya di sinisini
, semoga bermanfaat.
PS: Saya anak kolong, tidak semua ‘seragam’ jelek (dzalim)
abu faqih recently posted… » Teman Sejati- Bukan Sekedar Teman yang di-Add di FB atau Blog
Hai anak kolong – salam kenal ya
Saya juga tidak berani mengatakan kalau semua yang berseragam itu dzalim, hanya saya belum beruntung sampai se’tua’ ini belum pernah bertemu dengan sosok berseragam yang baik budi dan hatinya, lagi pemurah dan ga pelit hehehe
terima kasih untuk link-nya, saya pasti akan meluangkan waktu untuk beranjangsana
nique recently posted… » Blessing in Disguiss
tapi ternyata semua indah pada waktunya kan
btw dulu kamu tinggal di kota mana?
indobrad recently posted… » I Heart You 2
betul sekali om, semua (selalu) indah pada waktunya. Hanya saja butuh kekuatan luar biasa untuk menjalani proses itu sampai tiba waktu yang indah yang dijanjikan Tuhan.
btw dulu saya tinggal di kota mana ya? *amnesia*
tentang “skenario” yg sedang dimainkan di negeri ini, saya cuman “sekedar tahu”.
miris sekali ketika, tidak ada kepedulian ttg negeri ini, tapi tahu pun percuma bukan? jadi yaaa… cuman sebatas “sekedar tahu”
*matiintipi*
yuk matiin tipi