Di pagi yang dingin, di saat nyawa belum sepenuhnya terkumpul, dan saya membaca berita mengejutkan itu di sebuah media online, berpulangnya Adjie Massaid dengan sangat mendadak mampu melemparkan ingatan saya ke peristiwa hampir lima tahun silam. Entah kenapa saya tiba-tiba merasa diingatkan dengan berpulangnya adik – almarhum bapak reza & egi – tidak persis sama cara berpulangnya, tapi mirip. Karena mereka berpulang di usia yang masih muda menurut hitungan manusia, dalam keadaan yang sehat pula, dan secara mendadak divonis menderita satu penyakit serius.
Ya, almarhum divonis gagal ginjal, padahal kenyataannya dia paling doyan minum air mineral, tidak suka kopi, tidak juga merokok. Justru semasa sehatnya yang diketahui punya ketidakberesan di lambung juga ada asam urat. Belakangan saya ketahui memang dua jenis penyakit itu akan hadir bersamaan, karena saling berkaitan, paling tidak begitulah kata dokter yang merawatnya. Kalau Adjie langsung meninggal, almarhum sempat 26hari sakit, 1 minggu di Cikini, 1 minggu di rumah, kemudia dibawa ke Mitra dan di sana dinyatakan sudah koma dengan ginjal yang sudah hancur. Dokter sempat heboh karena mencurigai ada virus aneh yang menyerang sehingga hampir saja dimasukkan ruang isolasi jika saya tidak adu bentak-bentakan sama dokter untuk meyakinkannya bahwa sang adik selama sekian bulan tidak pernah keluar kota, jadi mustahil terinfeksi satu virus dari satu kota yang disebutkan oleh si dokter. Dua minggu koma di rumah sakit, dan di hari terakhir kemampuan keuangan sudah mencapai garis finish, almarhum dibawa pulang, dan meninggal keesokan harinya. Meninggal dalam keadaan tubuh yang kekar, tidak menyusut, jadi persis seperti orang tidur. Dia pergi meninggalkan sepasang putra dan putri yang saat itu masih berusia 2thn dan 6bulan.
Lalu kemarin, saya mendapat kabar yang sama tidak mengenakkannya, bahwa seorang yang saya kenal baik kena stroke sudah dua bulan ini. Lagi-lagi berita ini mampu membuat saya terdiam. Usianya belum juga setengah abad, posturnya pun tidak gemuk, pola makannya biasa saja, tapi stroke? yeah … soal kacaunya pikiran bisa jadi memang punya sumbangan besar terhadap penyakit yang satu ini, tapi masak sih??? Sulit saya mempercayainya, sudah dua bulan pula.
Dan tadi malam, satu lagi berita duka masuk via YM, orang yang biasa mengurusi kabel listrik di warnet ini telah berpulang secara mendadak di usianya yang baru tiga puluhan. Meninggalkan seorang istri dan anak yang masih bayi belum genap setahun usianya. Saya tidak bisa membayangkan betapa pedihnya ditinggalkan pasangan, yang selama ini diharapkan akan bersama-sama mengantarkan buah hati mereka untuk tumbuh dan dewasa.
Mengaca pada tiga kejadian ini, saya kok merasa perlu bersyukur, walau sang adik sempat sakit, dan tentu saja soal meninggal sama sekali tidak terlintas dalam bayangan kami sekeluarga, juga orang-orang yang biasa bekerja sama dengannya. Apalagi melihat tubuh gempalnya tidak menyiratkan betapa parah penyakitnya. Dalam kepedihan sepantasnya kami masih bersyukur karena setidaknya lebih ‘dipersiapkan’ tentang kepergian orang yang dikasihi. Sementara kepergian orang-orang yang dikasihi dengan cara begitu mendadak, saya percaya keluarganya membutuhkan ketabahan ekstra.
Kematian adalah sesuatu yang pasti dan tiada siapapun yang mampu menolak, tidak juga menghindarinya. Tidak juga saya, anda dan orang-orang yang kita sayangi. Ini semua cuma masalah waktu!
Ya, waktu!
Masih berapa lama lagikah waktu yang kita punya?
Ya, kita punya keterbatasan waktu, tak tahu kapan dipanggil oleh Nya.
Alasan bisa bermacam-macam, dari mulai sakit mendadak, sakit yang berbulan-bulan, kecelakaan dsb nya
Belakangan ini saya makin merasa bahwa hidup dan mati itu batasnya makin tipis, apalagi setelah menunggu adik yang sejak 10 Feb di rawat di RS dan berjaga terus di depan ICU.
edratna recently posted… » Kesetiaan- Persahabatan- dan Kebersamaan
betul bu, hanya saja kita (khususnya saya) seringkali terlena pada kehidupan sehingga tidak (merasa) siap ketika kematian itu datang.
Wah, baru sekali mampir langsung kagum dengan tulisan ini..
Kadang saya sering memikirkan akhir waktu yang saya miliki, agar saya tahu kemana tujuan kita hidup..
Kadang juga lupa dan semoga saya dipanggil tidak dalam keadaan lupa..
giewahyudi recently posted… » Rizki Korban Busway
@ipulDggassing: semoga masih berkesempatan bersua sebelum maut menjemput ya
@archer: yep, itu sebabnya cuma Dia yang pantas disebut MAHA KUASA
@cepot: dan jalan Tuhan selalu yang terbaik, wlo pahit dirasakan.
@giewahyudi: amin, insya Allah!
nique recently posted… » Blessing in Disguiss
lagi dan lagi, sebuah posting luar biasa dari blog ini,, membaca semua kejadian di atas beneran hati tertegun dan memikirkan apa yg keluarganya rasakan?? tapi semua adalah jalan tuhan yang memang waktu tak dapat menepisnya
USIA memang tiada yang tahu, tidak kita sangka-sangka disitulah mungkin Tuhan ingin menunjukkan kuasanya
archer recently posted… » Winner Or Loser- Sang Pemenang Tidak Pernah Menyerah
tulisan ini mengingatkan saya betapa dekatnya sang maut itu sebenarnya..
kita tidak pernah tahu di detik yang mana kita akan berpulang…
terima kasih sudah mengingatkan..