Ada yang masih jadi kontraktor ga?
Kontraktor yang saya maksud di sini adalah kaum pengontrak entah untuk tempat tinggal atau pun tempat usaha. Dalam halnya saya menulis tentang ini berkaitan dengan tempat usaha yang kami kontrak sejak 2tahun yang lalu. Sebuah ruko dua lantai yang letaknya persis di pinggir jalan raya, sangat strategis dan memasuki tahun ke3 ini sudah menyumbang devisa lumayan banyak ke pundi-pundi kami.
Alhamdulillah, tabungan untuk bayar sewa ruko bisa disisihkan setiap bulannya, agar tidak kelabakan ketika jatuh tempo tiba. Alhamdulillah, usaha yang dirintispun grafiknya naik dan semoga demikian terus adanya.
Bulan Pebruari besok adalah saat membayar sewa ruko untuk tahun ke tiga. Kemarin baru dapat kabar dari pemilik ruko kalau biaya sewanya dinaikkan. Alasannya karena semua udah serba mahal, sehingga sewa ruko pun harus ikut naik.
Sekilas saya mau cerita tentang pemilik ruko bahwa ibu ini mempunya rumah di mana-mana, yang semuanya dikontrakkan. Dalam setahun bisa terbang plesir ke luar negeri 2-3 kali atau bahkan lebih untuk plesir atau ibadah atau sekedar mengunjungi anak cucunya yang tinggal di negeri Kanguru sana. Dia hidup berkecukupan, tak usah bekerja, tapi setiap tahun tinggal mengutip uang sewa, cukuplah, jika tidak mau dibilang berlebih. Saking berlebihnya, dia juga sering meminjamkan uangnya dengan bunga tertentu kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Kembali soal kenaikan sewa ruko, saya bisa mengerti kalau akan ada kenaikan, tapi mbokyao jangan tinggi-tinggi ya? Hiks … kasihan atuh bu sama saya
Mana tarif listrik juga melonjak, hiks …
Bulan-bulan ke depan ini sepertinya harus semakin mengencangkan ikat pinggang. Sejak ada rumor ruko sebelah akan dikosongkan, dan daripada nanti orang lain yang menempati dan membuka usaha yang sama, maka dikuatirkan akan timbul persaingan yang bisa tidak sehat, sehingga kami berpikir mungkin ada baiknya kami saja yang mengontrak ruko sebelah, dengan begitu pengelolaannya pun lebih mudah karena tak perlu mempermasalahkan jarak.
Jika mau jujur, sebetulnya harga sewa ruko yang kami tempati ini masih relatif murah kalau dibandingkan dengan harga sewa ruko-ruko yang baru dibangun. Saya pernah mengobrol sepintas lalu dengan toko-toko kecil yang letaknya sederetan dengan ruko ini, ukurannya pun sangat minimalis, dan sewanya ajaib dong Rp 8.000.000,-/tahun. Harga sewa tersebut membuat saya bersyukur dengan harga ruko 2lantai yang sudah 2tahun ini ditempati. Terakhir malah sempat tanya-tanya harga ruko yang ukurannya lebih besar sedikit tapi cuma 1 lantai, tapi harga sewanya 3x lipat daripada harga ruko yang kami sewa ini. Ckckckck ….
Jadi kepengen juga punya ruko untuk disewa-sewakan kalau harga sewanya ajaib begitu. Harap dicatat, ini letak rukonya bukan di Sunter ataupun Gading lho, kalau di dua area itu pasti sudah beberapa kali lipat lagi harga sewanya. Soale kami paling iseng kalau lihat ada lokasi yang baru dibangun, selalu aja pengen tau harganya hehehe …
Ah, beginilah nasib wirausahawan tanggung
mau apa-apa ya nanggung … jadi? Ya sudahlah …
Tulisan di atas sudah dibuat sekitar 2 minggu yang lalu, belum diposting karena merasa ada postingan yang lebih pantas di-published terlebih dulu
Hari ini, saya harus kembali kaget, ketika anak yang punya Ruko datang dan bilang kalau sewanya bukan seperti yang dikatakan ibunya, jadi Rp 25jt bukan Rp 22.5jt/ tahun. Can you imagine that they increase the cost Rp 5M????
Tanpa dibuat-buat ekspresi memelas spontan muncul dan sebenarnya airmata juga udah deketttttt banget, cuma inget h arus tegar gar gar, ga boleh cengeng! Berusaha bernegosiasi sambil hati terus melafazkan doa. Hiks! Alhamdulillah, dia setuju di angka Rp 23jt/tahun, dengan catatan tahun depan naik lagi jadi Rp 25jt/tahun. Ya sudahlah, jalani dulu.
Kejutan ke-2 ini yang lumayan mencemaskan. Seorang laki-laki dewasa, bertubuh gempal, berkulit hitam, rambut cepak, pakai jaket warna navy masuk dan langsung menawarkan pinjaman dari Koperasi. Saya bilang tidak mampu membayar bunganya, lagipula tak ada yang bisa diagunkan untuk mengambil pinjaman. Yang membuat saya cemas bukan soal tawarannya, tapi perangainya yang tidak biasa, matanya jelalatan memperhatikan sekeliling, sampai ke pintu dia masuk tadipun diperhatikan dengan seksama.
Dia mengomentari jumlah printer yang lebih dari 1, dia juga mengomentari banyaknya pelanggan yang datang. Tidak tahu kenapa perasaan kok tidak nyaman, tiba-tiba tangan pun ikut dingin. Yang terbayang dia adalah seorang komplotan perampok. Hmm … kok tiba-tiba mbayangin seperti itu coba???? Apalagi dia mengeluarkan HP dan mengirim sebuah sms, dan sebuah sms lagi ketika sms pertama mendapat balasan.
Ditambah lagi dia bilang, banyak duit ya bisa buka usaha seperti ini? He?? Yang punya duit yang punya usaha, saya mah kebagian kerja njagain aja. Kemudian saya berusaha menyudahi percakapan dengan mengatakan bahwa tidak berminat untuk mengambil pinjaman dan meminta maaf karena harus melayani pelanggan yang sedang mengantri.
Tapi laki-laki itu tidak bergeming, dia masih sibuk dengan mata yang penuh selidik. Kecemasan semakin menghantui. Saya berusaha mengatakan pada diri bahwa saya harus berpikir yang positif agar yang terjadi pun positif, tapi kecemasan sudah terlanjur merajai hati dan pikiran. Duh!
Sedikit lega, ketika akhirnya dia berpamitan. Saya perhatikan punggungnya yang pelan meninggalkan tempat ini, dan dia sempat menoleh dan memperhatikan tempat ini sekali lagi.
Kejutan ke-3, saya tidak tahu yang mana yang terburuk dari 3 kejutan ini. Kali ini dari PLN. Memang dari awal bulan, saya sudah lumayan cemas ketika melihat tagihan sebesar Rp 6.5jt. Padahal sebelumnya cuma Rp 2.1jt. Sempat saya berpikir apakah kenaikan yang cukup signifikan ini dikarenakan ada tukang yang mengerjakan perbaikan??? Dan baru sempat hari ini untuk melakukan investigasi ke PLN. Hasilnya? Memang segitu yang harus dibayar, bahkan untuk penggunaan bulan Pebruari sudah melampaui penggunaan bulan Januari.
Di sinilah saya menemukan kejanggalan, karena selama bulan Pebruari semestinya penggunaan listrik berkurang karena tidak ada tukang yang bekerja. Jadi operasional normal, dan ini baru tanggal 17, tapi kok pemakaian listrik sudah melebihi pemakaian bulan Januari ????? Tidak masuk di akal kan? Rencananya saya mau ke kantor PLN lagi besok, semoga saja ada pencerahan. Semoga!
Tiba-tiba terpikirkan oleh saya, bagaimana warnet-warnet lain bisa bertahan dengan tarif yang dibawah kami jika biaya operasionalnya semahal ini????
Aduh kok serem banget itu orang yang datang celingak-celinguk ya. Sudah ada sekuriti kan mbak, biar orang2 begitu diterima di depan saja, jadi gak perlu masuk.
Ah semoga usahanya lancar ya. Saya ingin bisa punya toko sendiri tapi belum punya cukup modal.
emang serem, tapi ada hikmahnya
jadi sekarang lebih waspada,
nambahin kamera pengintai juga,
wlo lebih repot gpp lah
warnetnya cuma 2lantai,
jadi engga pake sekuriti,
ga sanggup ngegaji,
lagian kaga tega klo liat sekuriti cuma tengak tenguk aja hhehehe
terima kasih doanya, saya doakan agar lekas cukup modalnya untuk buka toko ya
Memang sulit ya mengelola usaha sendiri. Dan yang nyebelin di Indonesia unsur2 sekundernya banyak. Belum lagi palak-palakan.
Semoga masalah-masalahnya terselesaikan ya
EM
Ikkyu_san recently posted… » Hubungan Riku dan Pa’ Mali
betul!!! palak2an pasti terjadi menjelang lebaran, siap2 aja
Lebaran kemarin aja ormas yang ngaku punya Jakarta ini juga naro proposal, hehehe
soal Listrik yang membengkak ini, moga2 sudah ketemu jalan keluarnya, sudah diganti dengan meteran yang baru, dan setiap hari di jam yg sama kami pantau berapa KWH yang terpakai, dan dalam 3hari ini masih normal bin wajar.
baru kelar ngurusin bu, moga2 lekas ada titik terang, klo ga hmm … mesti mikirin usaha yg baru deh
(
weewww… hati2 sama orang itu bu, bukannya su’udzon tapi waspada itu perlu.. moga Allah melindungimu selalu
trus soal tagihan PLN, jangan ditunda2 lagi..takutnya benar ada kesalahan catat dan krn kelamaan ngga diurus malah ngga bisa dikomplain