Menulis itu mudah?

Menjadi PENULIS adalah satu dari sekian yang ingin saya bisa lakukan. Dengan kesadaran penuh saya pun tahu bahwa keinginan ini bukan sesuatu yang mudah untuk diwujudkan, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil apabila mau berusaha keras.

Ketika masih di bangku SD dulu,  saya sangat suka menulis puisi berbait-bait, bahkan sampai punya sahabat pena untuk saling bertukar puisi. Tetapi sekarang sebait sajapun rasanya tak mampu. Dulu saya suka menulis cerita pendek untuk dikonsumsi sendiri, tetapi sekarang sama sekali tak pernah mencoba lagi.

Pernah mencoba untuk mengikuti pelatihan untuk menjadi penulis yang handal, tetapi ada saja kendala untuk tidak mewujudkannya. Padahal kemudian saya menyesalinya karena masih tak mampu menulis dengan baik dan benar. Ada yang menyarankan untuk belajar on line, tetapi kok tidak juga bersemangat untuk melakukannya? Sementara untuk belajar otodidak, saya yakin tidak akan mampu.

Tak usahlah berpanjang-panjang bicara tentang menulis cerpen atau fiksi, mendisiplinkan diri untuk menulis blog saja saya masih tertatih-tatih. Bahkan dalam menulis di blog pun saya sering masih menghadapi banyak kendala, misalnya saja, dalam menulis saya sering bingung antara menggunakan kata saya, aku, atau gw? Sering dari awal udah pakai saya, tiba-tiba di tengah moodnya berubah pengen nulis dengan kata aku, atau gw? Itu baru satu.

Dua, saya menulis tanpa pernah membuat poin-poin penting. Jadi, ketika mau menulis, ya langsung buka dashboard, terus klik add new, terus mengalir deh. Seringkali di awal menulis sudah terpikirkan arah tulisannya ke mana, eh tapi di tengah kaget sendiri kok tulisannya jadi mbelok? Hahaaha

Tiga, ini tentang judul. Sering saya mengalami kesulitan memberi judul pada tulisan yang sudah selesai, bahkan yang terparah pernah terjadi, saya terpaksa mengendapkan tulisan dalam jangka waktu yang lumayan lama karena masih belum menemukan judul yang pas di hati. Sampai suami ngasi ide asbun : tulisan tanpa judul! Edan ‘kan? Alhasil dia bukannya membuat saya tersenyum tapi yang ada jadi manyun :( Merasa tidak dibantu hiks…

Empat, karena tampilan blog saya dipilihkan suami seperti tampilan yang sekarang, maka saya harus extra kerja keras mencarikan gambar yang pas. Kalau sudah mentoooook banget, minta tolong sama suami lagi. Tapi kan dia tidak setiap kali sedang berbaik hati, apalagi kalau dia pun sedang sibuk dengan blog-nya sendiri. Pernah dikasih link-nya untuk mencari gambar-gambar yang bagus, eh malah saya semakin bingung sendiri. Makin bingung lagi melihat suami kok bisa aja menemukan gambar-gambar yang menurut saya memang OK. Sama-sama punya mata dua, jari lima, tapi kok urusan menemukan gambar saja menguras emosi saya???

Cukup empat deh, kalau diteruskan bisa tambah panjang aja :D

Apakah teman-teman mengalami kendala dalam menulis? Atau cuma saya yang mengidap penyakit aneh seperti ini? Hehehe …

Benci tapi Butuh!

Setahun yang lalu dia datang ke warnet ini dan sejak itu dia menjadi pelanggan kami. Kedatangannya yang pertama itu dia sempatkan menawari kami untuk menjadi agen laundry yang dia kelola. Oh, ternyata dia pengusaha laundry yang katanya nomor 1 terbaik. Saat itu sebenarnya saya sudah berulang kali minta persetujuan suami untuk membuka usaha laundry kiloan hanya saja gagal terus. Alasan suami sih agar saya tidak terlalu sibuk *sigh* Jadi sempat ada pikiran kok seperti dejavu begini ya?!

Hari itu kami mengobrol panjang lebar, dia bahkan bercerita kalau dia pernah buka usaha warnet tapi pengguna internet belum semarak sekarang, sehingga dia memutuskan beralih ke urusan cuci mencuci tadi. Saya sendiri memang melihat prospek usaha ini sangat bagus, terlebih daerah ini dipenuhi karyawan pabrik yang hampir semuanya perantau, dan tentunya sudah kehabisan tenaga untuk urusan cuci-cuci dihantam sistem kerja yang shift-shit-an itu. Saya sudah menghitung dari jumlah karyawan yang ribuan itu, jika 10% nya saja menjadi pelanggan tetap laundry yang dikelola pastinya dapat hidup. Ah, khayalan saya semakin melambung jauh :D

Berhubung membuka usaha laundry gagal di urusan perizinan domestik, maka saya mencoba melobi suami untuk memberi ruang sekedar menjadi agen laundry yang ditawarkan oleh klien tadi. Lagi-lagi, saya harus menelan pil pahit dong alias proposal saya ditolak mentah-mentah dan masih dengan alasan yang sama. Sepertinya untuk sementara waktu saya harus mengasah amunisi untuk satu hari nanti siap ditembakkan lagi :D

Si klien rajin berkunjung bahkan dia pun menjadi pelanggan tetap warnet ini, dan kemudian menjadi member agar mendapatkan tarif yang ramah kantong. Sebenarnya saya sudah menggunakan jasa laundry sejak mengurusi warnet ini, hanya saja saya belum menggunakan jasa laundry si klien. Untuk pindah ke lain hati, kok masih ragu, apalagi belum mengetahui kualitas laundry dia. Pepatah yang berkata tak kenal maka tak sayang, betul adanya.

Sampai waktu Lebaran tiba, laundry yang saya pakai libur hampir 2minggu, saya kelabakan dong?! Sangat tidak mungkin menumpuk cucian kotor selama itu, bisa-bisa terpaksa sediain budget lebih untuk beli baju baru :D Bisa jadi saat yang tepat sudah tiba, ketika saya mengetahui kalau laundry si klien ini ternyata hanya libur pas hari Lebaran saja! Weitsss… mantab dong? Boleh dicoba niy. Apalagi katanya ada fasilitas jemput-antar. Makin suka deh. Cuma 2hari pula prosesnya. Padahal laundry yang biasa saya pakai membutuhkan waktu 4hari, dan harus antar-ambil sendiri. Repot!  Urusan antar-ambil saja bisa terjadi perang di rumah karena penyakit malas dan ogah sering menyerang suami, sementara untuk mengambil sendiri saya tidak sanggup karena berat dan harus ngangkot. Yang ada malah saya jadi ngotot pengen belajar motor :D

Eh, masih juga belum rela rupanya untuk mencobai laundry dia, karena tertarik sama laundry yang baru buka persis di depan warnet. Tapi pada kencan pertama itu saja sudah membuat saya memutuskan tidak ada kali kedua, karena baju yang tertukar dan kondisi yang bau apek. Sepertinya belum kering betul sudah dikemas ke dalam plastik.

Akhirnya, cucian kotor kami berlabuhlah ke laundry si klien. Rasanya tidak fair karena mencobai orang lain mau, tapi kok mencoba jasa mereka ogah?! Sementara si klien masih rajin menggunakan jasa warnet ini, bahkan betah menghabiskan separuh waktunya untuk bermain game favoritnya.

Ok, kencan pertama sukses. Cucian diambil, dan 2hari kemudian cucian bersih sudah disetor balik. Padahal katanya karena libur lebaran mungkin cucian akan telat disetor balik eh ternyata tidak tuh. Senangnya pula ketika mengetahui proses cuci di laundry itu dikerjakan per customer sehingga sangat kecil kemungkinan tertukar cucian dengan orang lain. Bagusnya lagi, kami tidak menemukan tag-tag yang membuat kain rusak yang selama ini disematkan oleh laundry yang lain sebagai penanda cucian itu adalah milik pelanggan A misalnya.

Selanjutnya kami pun memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap si klien. Pertengkaran soal ambil antar cucian kotor pun menghilang dari peredaran. Hasil cucian yang maksimal pun berbanding lurus dengan harga yang 20% lebih mahal dari laundry yang lain. Ada harga ada kualitas dong?!

Tapiiiiiiiii……………..bulan madu di antara kami tidak berlangsung lama. Janji setor cucian bersih 2hari, jadi mundur sampai seminggu. Mulai jengkel. Pertama masih enak ‘komplain’ langsung ke si klien, dan cucian langsung diantar setelah si klien menelpon anak buahnya. Dua kali tiga kali seperti itu, kok saya jadi pekewuh juga ya untuk menyampaikan hal yang sama terus kepada si klien. Lagipula dia datang ke warnet ini kan sebagai pelanggan, saya kok merasa tidak fair buat dia ketika dia mau having fun dengan game kesayangannya, kok saya malah komplain?!

Sejak itu saya komplain langsung ke orang yang mengambil-antar cucian. Bahkan sempat saya beri ultimatum, jika memang tidak sanggup memberi pelayanan seperti dulu lagi, ya sudah kami berhenti saja. Eh tidak mempan lho?! Masih juga begitu terus. Andai saja saya menemukan laundry lain dengan kualitas yang kurang lebih sama, sangat pasti saya akan pindah ke lain hati. Sampai bingung sendiri mau bagaimana ya?

Pernah satu kali saya tidak tahu kalau si klien sedang berkunjung dan ternyata dia mendengar ocehan saya terhadap karyawannya. Saya sempat merasa tidak enak *aneh ya saya yang dirugikan tapi kok saya yang merasa tidak enak coba?* tapi melihat dia yang menanggapi ocehan saya dengan santai *kalau tidak mau bilang cuek*, perasaan sungkan tadi ikut raib seketika.

“Emang udah berapa hari cuciannya, mba?”

“sudah seminggu, mas.” gelagapan karena kaget.

“masak sih? coba saya tanya ke orang saya.” langsung terjadi komunikasi antara dia dan karyawannya. Lalu begini katanya.

“tunggu aja mba, ntar lagi juga datang.”

Helloowww…..? Tadi saya udah ngoceh dan dia tenang sekali menghadapinya, seolah-olah keterlambatan yang sudah sering saya keluhkan ini bukan hal penting untuk ditanggapi. Tidak berselang lama cucian bersih datang, cucian kotor di ambil, dan kepergian sang kurir diiringi pesan saya untuk mengantarkan kembali sesuai janji, paling telat ya 3hari deh. Itu batas toleransi saya.

Si klien yang mendengar pesan saya cuma mesem-mesem yang bikin darah mendidih. Tapi namanya butuh, mau bagaimana lagi???

Sampai satu ketika, saya lagi jengkel karena cucian bersih belum diantar padahal udah seminggu, eh pas si klien datang. Tanpa ba bi bu nyerocos deh.

“Mas, laundry-nya lagi ramai banget ya?”

“Biasa aja mba, emang kenapa?”

“Itu … biasa deh, soal anterin cucian bersih, udah seminggu lebih. saya juga udah tanya2 terus, tapi boro2 ditanggapi mas. Padahal dulu kan janjinya cuma 2hari, sekarang udah seminggu aja masih aja ga dianterin. Maksud saya, kalau emang rame, ya udah saya ambil deh, ga pa pa namanya saya yang butuh ini.” saya munafik, sebetulnya saya mau marah-marah, tapi berhubung dia sedang berkunjung sebagai klien jadi deh ngomongnya menye-menye begitu.

“Masak sih? Coba saya telpon ya.”

Saya menyimak percakapannya dengan anak buahnya.

“ini cucian warnet belom dianter?”

“……………”

“hla? katanya blum ini.”

“mba, udah dianter kok, cek lagi deh, siapa tau mba nya ngga ngeliat pas datengnya.”

“jiaahhh mas, mosok kalau udah dianter cucian kotor masih di sini, kan biasanya juga barter. Liat aja sendiri tuh, di kotak tempat naro cucian ga ada cucian bersih kan?” mulai jengkel.

“ini katanya belum diantar. di situ ada ga cuciannya?”

“……………”

“ya udah antar sekarang, saya sedang di warnet sini.”

Tidak sampai 10menit si kurir datang cengar cengir.

“maaf bu, saya kira sudah diantar sama rekan yang lain.”

“ya udah, ini cucian terakhir deh, saya mau lihat bisa antar dalam waktu 2 hari apa tidak. klo tidak, ya ga pa pa, saya ngerti kok laundry kalian laris sehingga pelanggan yang punya cucian sedikit seperti saya jadi nomor sekian.”

“maaf bu, 2hari lagi saya antar.”

“janji?”

“iya bu.”

Itu kejadian 1minggu yang lalu, janji ditepati setelah saya ingatkan via sms. Dan sudah seminggu ini cucian bersih belum diantar juga, saya sudah hubungi juga, tapi tidak direspon. Sangat dilematis! Kalau pemilik laundry itu bukan klien warnet ini, maka sudah pasti saya akan bebas bicara dan langsung pindah ke lain hati.

Saya jadi berpikir sendiri, semoga saja apa yang menjadi pemikiran saya ini bukanlah bentuk judgement sentimen terhadap dia, tetapi memang saya betul-betul heran, bagaimana si klien ini begitu pede untuk go franchise sementara kualitas pelayanannya seperti sekarang ini??? Bahkan anehnya ketika saya menanyakan kenapa harga member yang diberikan kepada saya  jauh lebih mahal daripada harga di paket-paket yang sudah di upload di situs resminya, dengan enteng dia menjawab : oh itu baru di upload aja, belum dirilis. Wew!

Yang paling bikin saya munek-munek (ini bahasa mana ya?) adalah ketika dia dengan teganya menghempaskan mouse ketika koneksi dudul yang mengakibatkan dia keluar dari game yang sedang dia mainkan. Sakiiiiiiiiiit rasanya di hati ini, jadi teringat cucian yang ngadat2 pelayanannya. Belum lagi   ketika koneksi tidak juga membaik, dia bisa lho ngeloyor pergi dengan membanting pintu. Jedeeerrrr!!! Duh! *ngelus dada* Tidak jarang ketika koneksi dudul, saya berdoa agar dia tidak usah datang hari itu. Atau ketika koneksi dudul  dan saya melihat motornya dari jauh, langsung saya minta suami untuk cegat dia agar mengurungkan niatnya nge-net karena koneksi dudul. Bete-nya dia sering tidak percaya, sehingga tetap saja on line dan ujung-ujungnya saya sudah bisa tebak.

Ok, fine! Take it or leave it! :D Saya berharap bisa semudah itu. Tapi kenyataannya tidak. Sampai hari ini saya masih berusaha menahan diri menghadapi satu klien ini, saya masih memikirkan cara yang elegan untuk menyampaikan betapa saya tidak bisa menerima hempasan mouse dan pintu jika dia sedang kesal.

Semoga setelah tulisan ini di-publish, tiba-tiba saya dapat wangsit LOL

Bayarlah sesuai tarif!

Saya yakin setiap orang pasti pernah merasakan naik angkutan umum, terkecuali mungkin yang sedari lahir sudah jadi anak berpunya. Kita juga pasti sudah sama-sama tahu setiap angkutan umum punya tarif masing-masing, yang AC dan non AC jelas beda. Ukuran besar, sedang dan kecil beda pula. Yang kecil pun ada juga yang berbeda ditentukan oleh trayek. Kalau trayek gemuk masih lebih murah ketimbang trayek kurus :D

Bicara tentang tarif, pernah tidak membayar ongkos berdasarkan asumsi sendiri? Saya pernah! Dan mengingat itu, saya malu SEKARANG. Iya, malunya sekarang, karena kejadiannya sudah lama banget, bertahun-tahun silam.  Dulu itu, saya (dan sering dengar/lihat orang lain pun melakukan hal yang sama) sering bayar ongkos sesuai asumsi saya, dan ketika diprotes kondekturnya dengan santai menjawab : “deket  ini bang, itu tuh di depan juga udah turun.” Kalau sudah begitu, dan kalau kondekturnya model yang malas ribut, biasanya memilih diam walau mukanya jadi asem  :D

Kejadian seperti itu pasti masih terus berlangsung sampai hari ini dan mungkin akan terus terjadi. Saya yakin karena masih sering perdebatan tidak penting ini tetap saja terjadi dalam beberapa kesempatan. Bahkan saya pernah tertawa geli ketika sang kondektur menimpali dengan kalimat yang nyelekit.

“neng, ongkosnya kurang.”

“idih si abang, ntar depan juga udah turun.”

“iya tapi kan tarifnya 3,000 neng.”

“ih si abang pelit niy, cuma deket gini aja, masak sama bayarnya sama yang turun di terminal sih?

“lha? Kalau neng ngerasa rugi ya udah ikut aja sampe terminal.”

Saya udah mulai mesem-mesem mendengar dialog ini.

“ngapain juga ke terminal … ada2 aja si abang.”

“ya biar si neng ga ngerasa rugi. Lagian kenapa juga ga jalan aja klo emang deket?”

Saya mulai tidak bisa menahan ketawa, jadilah nyengir kuda :D Soalnya kalau ngakak kuatir si neng nanti tersinggung hahaha Apalagi melihat wajah keki si neng yang semakin tidak sedap dipandang.

Kesadaran saya terhadap hal ini dikarenakan kejadian yang hampir sama juga terjadi di warnet. Sering klien datang mau nge-net tapi tidak mau mengambil paket yang disediakan, padahal paket termurah itu CUMA 2,000 perak lho!

“mba, ada yang kosong?”

“ada mas, silahkan pilih mau ambil paket yang mana?”

“ah saya cuma sebentar kok, cuma mau cek email aja.”

“boleh sebentar juga kok, jadi mau ambil paket yang mana?” sambil saya tunjukkan daftar paket yang disediakan. Saya juga menjelaskan bahwa paket-paket yang disediakan ada masa tenggangnya, sehingga tidak akan rugi karena bisa dipergunakan lagi selama seminggu ini.

“personal aja boleh ga?” si klien mencoba menawar.

“tidak boleh mas, kami hanya menyediakan paket.” masih tersenyum manis padahal hati sudah mulai gondok.

“berapa lama siy nge-cek email, masak ga bisa sebentar aja?” mulai ngeyel.

“memang begitu kalau di sini mas, ini ada paket termurah DUA RIBU PERAK per 30menit, dan kalau hari ini cuma pakai pakai 10 menit, sisanya bisa dipakai lagi besok kok.”

“ya udah deh, ga jadi aja.” dia ngeloyor pergi dong

Gondok! Bete! Make me crazy banget deh pokoknya! Orang itu maunya apa ya?????? Arrggghhh ……

Eh eh ga boleh gondok ya … nget inget deh jadinya sama kondektur yang berhadapan dengan banyak penumpang yang memilih berdebat ketimbang mbayar ongkos sesuai tarif yang berlaku. Dan kayaknya yang sering disepelekan itu cuma kondektur kali ya? Coba deh, mana ada yang berani begitu waktu menggunakan fasilitas umum lainnya seperti toilet dan telpon umum misalnya.

Jadiiii…mulai sekarang, bagi pengguna angkot, bayar ongkos sesuai tarif yaaaa :D

1 Hari 3 Kejutan

Ada yang masih jadi kontraktor ga?

Kontraktor yang saya maksud di sini adalah kaum pengontrak entah untuk tempat tinggal atau pun tempat usaha. Dalam halnya saya menulis tentang ini berkaitan dengan tempat usaha yang kami kontrak sejak 2tahun yang lalu. Sebuah ruko dua lantai yang letaknya persis di pinggir jalan raya, sangat strategis dan memasuki tahun ke3 ini sudah menyumbang devisa lumayan banyak ke pundi-pundi kami.

Alhamdulillah, tabungan untuk bayar sewa ruko bisa disisihkan setiap bulannya, agar tidak kelabakan ketika jatuh tempo tiba. Alhamdulillah, usaha yang dirintispun grafiknya naik dan semoga demikian terus adanya.

Bulan Pebruari besok adalah saat membayar sewa ruko untuk tahun ke tiga. Kemarin baru dapat kabar dari pemilik ruko kalau biaya sewanya dinaikkan. Alasannya karena semua udah serba mahal, sehingga sewa ruko pun harus ikut naik.

Sekilas saya mau cerita tentang pemilik ruko bahwa ibu ini mempunya rumah di mana-mana, yang  semuanya dikontrakkan. Dalam setahun bisa terbang plesir ke luar negeri 2-3 kali atau bahkan lebih untuk plesir atau ibadah atau sekedar mengunjungi anak cucunya yang tinggal di negeri Kanguru sana. Dia hidup berkecukupan, tak usah bekerja, tapi setiap tahun tinggal mengutip uang sewa, cukuplah, jika tidak mau dibilang berlebih. Saking berlebihnya, dia juga sering meminjamkan uangnya dengan bunga tertentu kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Kembali soal kenaikan sewa ruko, saya bisa mengerti kalau akan ada kenaikan, tapi mbokyao jangan tinggi-tinggi ya? Hiks … kasihan atuh bu sama saya :D Mana tarif listrik juga melonjak, hiks …

Bulan-bulan ke depan ini sepertinya harus semakin mengencangkan ikat pinggang. Sejak ada rumor ruko sebelah akan dikosongkan, dan daripada nanti orang lain yang menempati dan membuka usaha yang sama, maka dikuatirkan akan timbul persaingan yang bisa tidak sehat, sehingga kami berpikir mungkin ada baiknya kami saja yang mengontrak ruko sebelah, dengan begitu pengelolaannya pun lebih mudah karena tak perlu mempermasalahkan jarak.

Jika mau jujur, sebetulnya harga sewa ruko yang kami tempati ini masih relatif murah kalau dibandingkan dengan harga sewa ruko-ruko yang baru dibangun. Saya pernah mengobrol sepintas lalu dengan toko-toko kecil yang letaknya sederetan dengan ruko ini, ukurannya pun sangat minimalis, dan sewanya ajaib dong Rp 8.000.000,-/tahun. Harga sewa tersebut membuat saya bersyukur dengan harga ruko 2lantai yang sudah 2tahun ini ditempati. Terakhir malah sempat tanya-tanya harga ruko yang ukurannya lebih besar sedikit tapi cuma 1 lantai, tapi harga sewanya 3x lipat daripada harga ruko yang kami sewa ini. Ckckckck ….

Jadi kepengen juga punya ruko untuk disewa-sewakan kalau harga sewanya ajaib begitu. Harap dicatat, ini letak rukonya bukan di Sunter ataupun Gading lho, kalau di dua area itu pasti sudah beberapa kali lipat lagi harga sewanya. Soale kami paling iseng kalau lihat ada lokasi yang baru dibangun, selalu aja pengen tau harganya hehehe …

Ah, beginilah nasib wirausahawan tanggung :D mau apa-apa ya nanggung … jadi? Ya sudahlah … :D

Tulisan di atas sudah dibuat sekitar 2 minggu yang lalu, belum diposting karena merasa ada postingan yang lebih pantas di-published terlebih dulu :P Hari ini, saya harus kembali kaget, ketika anak yang punya Ruko datang dan bilang kalau sewanya bukan seperti yang dikatakan ibunya, jadi Rp 25jt bukan Rp 22.5jt/ tahun. Can you imagine that they increase the cost Rp 5M????

Tanpa dibuat-buat ekspresi memelas spontan muncul dan sebenarnya airmata juga udah deketttttt banget, cuma inget h arus tegar gar gar, ga boleh cengeng! Berusaha bernegosiasi sambil hati terus melafazkan doa. Hiks! Alhamdulillah, dia setuju di angka Rp 23jt/tahun, dengan catatan tahun depan naik lagi jadi Rp 25jt/tahun. Ya sudahlah, jalani dulu.

Kejutan ke-2 ini yang lumayan mencemaskan. Seorang laki-laki dewasa, bertubuh gempal, berkulit  hitam, rambut cepak, pakai jaket warna navy masuk dan langsung menawarkan pinjaman dari Koperasi. Saya bilang tidak mampu membayar bunganya, lagipula tak ada yang bisa diagunkan untuk mengambil pinjaman. Yang membuat saya cemas bukan soal tawarannya, tapi perangainya yang tidak biasa, matanya jelalatan memperhatikan sekeliling, sampai ke pintu dia masuk tadipun diperhatikan dengan seksama.

Dia mengomentari jumlah printer yang lebih dari 1, dia juga mengomentari banyaknya pelanggan yang datang. Tidak tahu kenapa perasaan kok tidak nyaman, tiba-tiba tangan pun ikut dingin. Yang terbayang dia adalah seorang komplotan perampok. Hmm … kok tiba-tiba mbayangin seperti itu coba???? Apalagi dia mengeluarkan HP dan mengirim sebuah sms, dan sebuah sms lagi ketika sms pertama mendapat balasan.

Ditambah lagi dia bilang, banyak duit ya bisa buka usaha seperti ini? He?? Yang punya duit yang punya usaha, saya mah kebagian kerja njagain aja. Kemudian saya berusaha menyudahi percakapan dengan mengatakan bahwa tidak berminat untuk mengambil pinjaman dan meminta maaf karena harus melayani pelanggan yang sedang mengantri.

Tapi laki-laki itu tidak bergeming, dia masih sibuk dengan mata yang penuh selidik. Kecemasan semakin menghantui. Saya berusaha mengatakan pada diri bahwa saya harus berpikir yang positif agar yang terjadi pun positif, tapi kecemasan sudah terlanjur merajai hati dan pikiran. Duh!

Sedikit lega, ketika akhirnya dia berpamitan. Saya perhatikan punggungnya yang pelan meninggalkan tempat ini, dan dia sempat menoleh dan memperhatikan tempat ini sekali lagi.

Kejutan ke-3, saya tidak tahu yang mana yang terburuk dari 3 kejutan ini. Kali ini dari PLN. Memang dari awal bulan, saya sudah lumayan cemas ketika melihat tagihan sebesar Rp 6.5jt. Padahal sebelumnya cuma Rp 2.1jt. Sempat saya berpikir apakah kenaikan yang cukup signifikan ini dikarenakan ada tukang yang mengerjakan perbaikan??? Dan baru sempat hari ini untuk melakukan investigasi ke PLN. Hasilnya? Memang segitu yang harus dibayar, bahkan untuk penggunaan bulan Pebruari sudah melampaui penggunaan bulan Januari.

Di sinilah saya menemukan kejanggalan, karena selama bulan Pebruari semestinya penggunaan listrik berkurang karena tidak ada tukang yang bekerja. Jadi operasional normal, dan ini baru tanggal 17, tapi kok pemakaian listrik sudah melebihi pemakaian bulan Januari ????? Tidak masuk di akal kan? Rencananya saya mau ke kantor PLN lagi besok, semoga saja ada pencerahan. Semoga!

Tiba-tiba terpikirkan oleh saya, bagaimana warnet-warnet lain bisa bertahan dengan tarif yang dibawah kami jika biaya operasionalnya semahal ini????

Bad Mood

Suasana hati sedang tidak bagus, duduk di pojokan sambil blogwalking dan tentu saja satu window untuk poker. Ujug-ujug ada klien yang duduk di bilik sebelah dan rupanya dia mengintip aktivitas apa yang sedang saya lakukan. Dengan sopannya dia langsung berkomentar begini. 

“Maen poker itu haram ga sih bu?”

Tuiiiiiiiing………….. jelas banget rasa darah memacu lebih kencang ke jantung *beneran tidak mendramatisir ini*

“Menurut lo?”  sewot niy nyautnya.

“Menurut saya haram.” dia nyaut sambil nyengir kuda. 

“Haram-nya di mana?” makin sewot

“Ya haram aja, di mana coba maen poker yang ga haram.” pede dia menyahut. 

“Klo lu bilang haram, gw bingung. tapi klo lu bilang buang waktu, sama kayak lu juga maen game seharian apakah itu bukan buang waktu juga namanya?”

“Beda dong … ”

“Bedanya di mana?” saya mengejar dan menanti jawaban cerdasnya.

“Ya, beda aja. Jenis permainannya aja udah beda.”

“Parah. Lu maen game kan biar naik level juga toh? Ya sama, gw klo kaga maen ya level gw segitu2 aja, tapi klo gw maen ya level gw naek. Terus haramnya di mana?”  suara sudah bergetar menahan emosi. 

Dia terdiam dan meringis. 

Duh, klo ga inget itu klien udah dijamin mulut ini bakal nyerocos terus deh. Heran abis, kok bisa-bisanya ya nge-judge apa yang dikerjakan sebagai sesuatu yang haram atau tidak. Tadinya kepikiran tuh ngasi link tentang poker haram atau halalnya blogger lain, tapi pikir-pikir lagi percuma deh. 

Klien satu ini emang usil, karena ini bukan kali pertama dia ambil perduli terhadap apa yang sedang saya lakukan. Saya masih ingat ketika awal-awal dia mencobai warnet ini, dan dia melihat saya duduk manis sambil maen poker. Begini komentarnya. 

“Maen poker, orang tuh baca situs ini *situs agama* biar nambah ilmu dan wawasan. Daripada maen poker cuma buang-buang waktu.* 

Waktu itu cuma dibalas dengan senyum saja, maklum baru awal-awal. Padahal dalam hati ngedumel begin.

“Hla?? Elu bisa-bisanya nyuruh gw baca-baca situs itu. Elu sendiri kerjanya maen game molo. Masih mending gw yang emang kerjanya di depan PC, kaga dicariin suami. JIahhh ente bro, saban hari dicariin anak istri, apa kaga parah tuh? Kaga ngaca yeee …*&^%$&*()(%$$^$&…..” 

Perasaan kaga ngimpi yang jelek-jelek tadi malam, tapi  napa juga ketemu orang usil gini hiks …. 

——————————————————————————————————————————————————————–

Bener deh, menulis itu memang terapi yang bagus menyalurkan rasa marah, kelar nulis ini, detak jantung mulai normal, adrenalin pun dirasakan tidak kencang lagi larinya. 

*tarik napas panjang*

Selesai sesi curhat ga penting ini.

Sympathy for Alanda

Sejak negeri ini gonjang ganjing dengan berita Century, sedikitpun saya tidak menoleh terhadap apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Tepatnya tidak mau tau. Tanya kenapa? Ya karena tidak penting!  Jika saya katakan tidak penting maka itu artinya saya sudah pesismis dengan penanganannya yang ujung-ujungnya akan dipeti-eskan juga. Jadi lebih baik energinya buat yang lain toh?

Sampai tadi saya membaca curahan hati Alanda tentang apa yang sedang dialami ibu dan keluarganya beberapa bulan sejak kasus Century bergulir. Suami saya bilang, saya orang yang teramat cengeng, sehingga membaca curhatan Alanda pun mampu membuat air mata ini mengalir. Tapi saya kok lebih meyakini karena Alanda menuliskannya dengan sepenuh hati, dan itulah yang menyentuh saya, dan pastinya banyak orang lain yang tersentuh setelah membaca tulisannya itu. Bukankah tulisan yang jujur dan dari hati biasanya mudah menyentuh pembacanya?

Kejadian yang menimpa Alanda dan keluarganya, melemparkan saya kepada peristiwa beberapa tahun silam yang menimpa Bapak saya, dan ketika itu saya baru saja bangga-bangganya mengenakan seragam putih biru. Pada masa itu saya dipaksa melihat betapa carut marutnya hukum di negeri ini, betapa yang berkuasa bukanlah kebenaran melainkan sosok yang mempunyai uang banyak, berbaju seragam dan tentu saja disertakan bintang-bintang di seragamnya. Bahkan bintang-bintang di seragam sosok itu semakin bersinar hingga di satu masa dia bahkan dipercayakan memegang tampuk pimpinan tertinggi di salah satu propinsi di Timur Indonesia sana.

Di usia sebelia itu saya ‘diajari’ untuk membenci seragam dan sampai kini tak mampu mengubah image yang sudah terlanjur terpatri mati sampai hari ini. Saya, kakak, adik-adik dan ibu yang buta hukum ini dipaksa harus berhadapan dengan pengadilan dengan segala tata bahasanya yang membingungkan. Butuh waktu yang sangat lama bagi saya untuk melepas dendam yang membara kepada setiap sosok berseragam dan sampai sekarang pun sulit untuk bersimpati walau cuma seujung kukupun :(

Apa yang dialami Alanda saat ini, kami pun dulu mengalaminya, bahkan lebih buruk karena sosok berseragam itu dengan tidak malunya mengintimidasi kami melalui anak-anaknya yang berlagak seperti penguasa kecil karena seragam bapaknya. Di sekolah pun tidak tenang, pulang sekolah langsung dikurung di dalam rumah, kecuali siap untuk diculik. Hidup dalam ketakutan itu sangat sangat meracuni jiwa kanak-kanak kami.

Kasus yang menimpa ibunya Alanda, saya percaya jauh berlipat-lipat beratnya untuk mereka hadapi, apalagi media terus memberitakan kasus ini. Apalagi adik-adiknya masih kecil-kecil, duh, semoga mereka diberi kekuatan yang luar biasa. Saya juga percaya, seperti halnya yang saya pernah hadapi dulu, orang-orang di sekitar kita yang mengenal kita dengan baik, pasti akan memberi dukungan sepenuh hati. Doa-doa untuk keselamatan pasti mengalir buat Alanda dan keluarganya agar himpitan ujian yang sekarang lekas berlalu.

Saat-saat seperti sekarang ini pasti berat buat Alanda dan adik-adiknya, tetapi semoga Alanda dan orang-orang di sekelilingnya mampu mengingatkan Alanda dan adik-adiknya untuk selalu mengingat dan menghitung berkat Tuhan yang menyenangkan luar biasa banyaknya sebelum masalah ini datang.

Peristiwa inilah yang saya maksud dalam postingan Susah = Senang beberapa hari yang lalu, seberapa kuatkah kita menerima kesusahan? Jika kita tertawa dalam menerima kesenangan, mampukah kita minimal tersenyum menerima kesusahan? Memang tidak mudah, tapi kita bisa belajar, terutama saya yang masih perlu belajar dan belajar untuk bisa menerima kesusahan sebagaimana halnya menerima kesenangan.

Andai punya satu kesempatan untuk berbagi dengan Alanda, maka saya mau beritahukan bahwa dia tidak sendirian menghadapi ketidak adilan di negeri ini. Banyaaaaaaaaaaak sekali yang mengalami nasib sepertinya, atau bahkan lebih tragis? Menurut saya, dia masih lebih beruntung ketimbang saya, karena dia tetap bisa kuliah dan dengan keenceran otaknya membuatnya mampu mencari uang sendiri.Ya, kamu masih beruntung, Alanda! Sementara kami, orang tua yang keahliannya cuma bertani dipaksa memberanikan diri merantau ke ibukota ini. Sungguh pertaruhan yang teramat mahal yang harus dibayar orang tua kami untuk keselamatan dan kelanjutan masa depan anak-anaknya.

Ketika saya katakan saya sudah mampu menghapus bara dendam itu, adalah saat saya menyadari bahwa peristiwa pahit yang menimpa keluarga kami JUSTRU merupakan jalan terang dan meyakini bahwa memang Tuhan menghendaki kami sekeluarga untuk hidup dan mencari rejeki di ibukota ini. Padahal ketika semua baik-baik saja, Jakarta dan pulau Jawa hanya tempat khayalan semata. Membayangkan bepergian antar kota saja pun rasanya tak mungkin, apalagi lintas pulau? Maka dari itu saya percaya kalau Tuhan selalu mempersiapkan yang terbaik buat kita, bahkan untuk sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya.

Dear Alanda .. yang sabar ya, tetaplah berkarya dan persembahkan yang terbaik untuk ibumu!

PS: terimakasih buat teman blogger teranyar yang mengantarkan saya ke blog-nya Alanda!

The ‘February’

Beberapa hari  ini lumayan rajin blogwalking ke benua lain :D Sebenarnya kegiatan blogwalking itu terkait dengan dropping EC yang biasa dikerjakan oleh suami. Sangat menyenangkan ketika menjelajahi blog-blog yang bermacam ragam, dan dalam perjalanan kali ini saya menemukan ternyata sudah banyak blogger yang mencuri start untuk membuat postingan tentang hari Valentine.

Yep! Pebruari seakan identik dengan hari kasih sayang. Bahkan saya menemukan beberapa blogger memberi nama khusus untuk bulan Pebruari ini. Heart month, love month, romantic month, chocolate month, pinky month, what else? Mungkin saya akan menemukan julukan yang lebih banyak lagi, atau bisa juga tidak, belum pasti  karena urusan dropping EC belum selesai hehehe

Pebruari menjadi begitu istimewa bagi sebagian orang di dunia. Pebruari mendapat tempat tersendiri dan menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh kawula muda khususnya, terlepas dari perdebatan pro dan kontra dalam merayakan hari kasih sayang. Dalam tulisan ini pun saya tidak tertarik untuk membahas soal pro kontra ini, karena memang tidak untuk dibahas menurut saya.

Yang jelas, datangnya bulan Pebruari pasti dinantikan oleh banyak orang, tidak ketinggalan para pedagang dadakan yang menjual  segala sesuatu yang berkaitan dengan hari kasih sayang itu. Coklat, bunga, boneka, kartu ucapan, juga balon merupakan pernik-pernik yang paling banyak dicari untuk dijadikan hadiah bagi orang-orang yang dianggap paling spesial. Rejeki yang berlimpah pun akan mengalir ke arah restoran-restoran yang menyediakan paket-paket khusus bagi banyak pasangan yang merayakannya.

Saya jadi teringat ketika Januari akan berakhir seminggu yang lalu, ketika seorang klien yang masih duduk di bangku SMA menanyakan tanggal 14 itu akan jatuh di hari apa. Dan bersama kami memeriksa kalender meja, dan ternyata tanggal 14 itu justru jatuh di hari Senin. Dengan spontan dia merespon seandainya hari kasih sayang jatuh pada saat weekend pasti jauh lebih menyenangkan. Hmm …

Ketika masih berseragam putih abu-abu dulu, saya masih ingat satu kelas mbolos untuk merayakan hari kasih sayang ini di Ancol :D Duh! Jadi nostalgia begini *LOL*  Karena saya dulu bersekolah di SMK, isinya mayoritas perempuan, masih beruntung ada 2 siswa laki-laki yang kemudian menjadi primadona. Untung saja mereka tetap menjadi laki-laki dan tidak terlihat indikasi untuk berubah menjadi perempuan jadi-jadian. Dua laki-laki inilah yang menjadi pemimpin mbolosnya siswa sekelas. Tidak persis sekelas sih, karena ada juga anak yang tidak mau ikut dengan bermacam alasan. Tudingan buat mereka jelas pengecut dan tidak kompak hahaha … jadi geli ingat jadul, seenak itu memvonis teman yang mau jadi anak baik-baik. Dan saya pun jadi ngeuh sekarang, ternyata saya tidak benar-benar jadi murid yang patuh karena saya mengikuti mereka yang mbolos.

Bagaimana persisnya kami merayakannya di Ancol itu sama sekali tidak meninggalkan bekas buat saya, jadi karena memang acaranya biasa-biasa saja sehingga tidak meninggalkan kenangan yang mendalam. Satu-satunya yang tertinggal dalam ingatan saya tentang rok biru 3/4 yang belahannya sobek gara-gara melompati pagar *nekat juga ya* untungnya kejadian sobeknya itu dalam perjalanan pulang, tidak terbayangkan jika itu terjadi pas mau berangkat. Saya juga masih ingat kostum yang saya pakai sama sekali tidak ada nuansa pinknya, tapi saya tidak merasa saltum karena teman-teman saya juga tidak semua memakai pakaian berwarna merah jambon itu. Jadi yah cuek aja :D

Setelah itu, sama sekali tidak pernah merayakan hari kasih sayang, walaupun entah tahun kapan itu pernah juga menerima hadiah dalam rangka hari kasih sayang. Tapi apa hadiahnya saya juga udah lupa blass…. :D *segitu engga berkesannya ya hahaha*

So, bagaimana dengan teman2? Ada yang mau  menambah panjang nama lain untuk bulan Pebruari? Atau mungkin mau berbagi cerita tentang kejadian-kejadian lucu ketika merayakan hari kasih sayang itu? Sok mangga atuh … :)

Sang Waktu

Di pagi yang dingin, di saat nyawa belum sepenuhnya terkumpul, dan saya membaca berita mengejutkan itu di sebuah media online, berpulangnya Adjie Massaid dengan sangat mendadak mampu melemparkan ingatan saya ke peristiwa hampir lima tahun silam. Entah kenapa saya tiba-tiba merasa diingatkan dengan berpulangnya adik – almarhum bapak reza & egi – tidak persis sama cara berpulangnya, tapi mirip. Karena mereka berpulang di usia yang masih muda menurut hitungan manusia, dalam keadaan yang sehat pula, dan secara mendadak divonis menderita satu penyakit serius.

Ya, almarhum divonis gagal ginjal, padahal kenyataannya dia paling doyan minum air mineral, tidak suka kopi, tidak juga merokok. Justru semasa sehatnya yang diketahui punya ketidakberesan di lambung juga ada asam urat. Belakangan saya ketahui memang dua jenis penyakit itu akan hadir bersamaan, karena saling berkaitan, paling tidak begitulah kata dokter yang merawatnya. Kalau Adjie langsung meninggal, almarhum sempat 26hari sakit, 1 minggu di Cikini, 1 minggu di rumah, kemudia dibawa ke Mitra dan di sana dinyatakan sudah koma dengan ginjal yang sudah hancur. Dokter sempat heboh karena mencurigai ada virus aneh yang menyerang sehingga hampir saja dimasukkan ruang isolasi jika saya tidak adu bentak-bentakan sama dokter untuk meyakinkannya bahwa sang adik selama sekian bulan tidak pernah keluar kota, jadi mustahil terinfeksi satu virus dari satu kota yang disebutkan oleh si dokter. Dua minggu koma di rumah sakit, dan di hari terakhir kemampuan keuangan sudah mencapai garis finish, almarhum dibawa pulang, dan meninggal keesokan harinya. Meninggal dalam keadaan tubuh yang kekar, tidak menyusut, jadi persis seperti orang tidur. Dia pergi meninggalkan sepasang putra dan putri yang saat itu masih berusia 2thn dan 6bulan.

Lalu kemarin, saya mendapat kabar yang sama tidak mengenakkannya, bahwa seorang yang saya kenal baik kena stroke sudah dua bulan ini. Lagi-lagi berita ini mampu membuat saya terdiam. Usianya belum juga setengah abad, posturnya pun tidak gemuk, pola makannya biasa saja, tapi stroke? yeah … soal kacaunya pikiran bisa jadi  memang punya sumbangan besar terhadap penyakit yang satu ini, tapi masak sih??? Sulit saya mempercayainya, sudah dua bulan pula.

Dan tadi malam, satu lagi berita duka masuk via YM, orang yang biasa mengurusi kabel listrik di warnet ini telah berpulang secara mendadak di usianya yang baru tiga puluhan. Meninggalkan seorang istri dan anak yang masih bayi belum genap setahun usianya. Saya tidak bisa membayangkan betapa pedihnya ditinggalkan pasangan, yang selama ini diharapkan akan bersama-sama mengantarkan buah hati mereka untuk tumbuh dan dewasa.

Mengaca pada tiga kejadian ini, saya kok merasa perlu bersyukur, walau sang adik sempat sakit, dan tentu saja soal meninggal sama sekali tidak terlintas dalam bayangan kami sekeluarga, juga orang-orang yang biasa bekerja sama dengannya. Apalagi melihat tubuh gempalnya tidak menyiratkan betapa parah penyakitnya. Dalam kepedihan sepantasnya kami masih bersyukur karena setidaknya lebih ‘dipersiapkan’ tentang kepergian orang yang dikasihi. Sementara kepergian orang-orang yang dikasihi dengan cara begitu mendadak, saya percaya keluarganya membutuhkan ketabahan ekstra.

Kematian adalah sesuatu yang pasti dan tiada siapapun yang mampu menolak, tidak juga menghindarinya. Tidak juga saya, anda dan orang-orang yang kita sayangi. Ini semua cuma masalah waktu!

Ya, waktu!

Masih berapa lama lagikah waktu yang kita punya?

Poker, halal or haram?!

Beberapa tahun terakhir ini game on line marak dengan teramat pesat, apalagi sejak kelahiran fesbuk, hampir semua pasti pernah mencobai game yang disediakan oleh fesbuk. Sangat mudah, yang penting koneksi lancar jaya, pasti maen gamenya pun semakin lupa waktu. Pada awal kelahiran fesbuk, bisa jadi saya termasuk orang yang terlambat mengenal fesbuk, dan paling terlambat mencobai game yang tersedia di fesbuk.

Baiklah, daripada saya ngelantur ke sana ke mari soal game on line, saya mau jujur saja bahwa sebenarnya saya ingin membahas tentang halal atau haramnya salah satu permainan yang lumayan digemari banyak orang bernama POKER. Saat ini POKER sudah merasuki sangat dalam, sehingga jika ada yang mencoba memperdebatkan soal halal / haramnya permainan ini, maka jangan heran jika tanduk saya pun langsung berdiri :D

Tidak tanggung-tanggung, saya pun googling mencari tahu apakah sudah pernah ada blogger yang membahas tentang ini, dan saya menemukan ini, dan saya kok sepenuhnya setuju ya dengan apa yang dijabarkan Basri Tamang di sana.

Permainan poker menurut saya tidak ada bedanya dengan game on line lainnya seperti POINT BLANK, AYODANCE dll. Dalam keseharian saya, sering sekali melayani anak-anak maupun orang dewasa yang membeli voucer game online agar mereka bisa membeli bermacam2 senjata dan atribut di permainan yang mereka geluti. Begitu juga pemain poker, jika mereka kehabisan chips, bagi sebagian orang membeli chips ya sama saja seperti membeli voucer game on line tadi. Membeli chips biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang yang memang merasa membutuhkannya. Banyak juga kok yang tetap bertahan untuk tidak membeli chips, dan terus bermain dengan semangat 45 walau harus puas duduk di meja kecil. Padahal jika sudah mencicipi duduk dan bermain di meja besar, rasanya kok gimana gitu ya kalau harus main di meja kecil :D

Asal muasal munculnya perdebatan halal vs haram ini darimana pun saya tidak tahu, mungkinkah isu ini dilempar oleh orang-orang yang tidak mempunya chip? Selain itu juga tidak menyukai poker? Atau karena orang tersebut membayangkan permainan ini seperti bermain di kasino2 di Las Vegas sana? Ebuseeeeeet……………. bukannya beda buangetttttttttt yak?!!!

Ok, terlepas dari soal halal vs haram, yang saya pahami adalah tentang satu hal yaitu bahwa orang-orang yang bermain game on line apapun itu, maka mereka sudah membuang waktu untuk kesenangan belaka. Mungkin ada baiknya waktu yang dipakai bermain game lebih diarahkan untuk hal-hal positif lainnya. Mungkin lho ya?!

Saya sendiri baru meminati permainan ini sejak punya warnet, dan punya waktu yang sangat banyak dihabiskan di depan komputer dan awal-awal dulu saya bahkan sempat bingung mau ngapain lagi ketika jenuh menyerang. Sampai akhirnya kenalan deh sama yang namanya POKER. Jadi kalau sekarang tiba-tiba saya disuruh menerima begitu saja agar berhenti main poker karena dianggap haram, hmm …. maaf saja ya :D

Paling sebel juga jika permainan poker ini diidentikkan dengan rawan kejahatan, seperti penipuan misalnya. Saya beranggapan bahwa yang namanya tertipu/menipu/ketipu itu ya tergantung individunya. Jika pernah santer berita di media massa tentang jual beli chip poker yang sampai perlu dicampur tangani oleh polisi, ga tau juga deh karena engga ngikutin beritanya sampai detil. Tapi yang jelas dalam jual beli chip itu sendiri, ya harus didasari rasa percaya yang tinggi di antara kedua belah pihak.

Saya, hanya mau melayani pembeli yang memang pelanggan warnet sendiri, tentunya ini lebih pada strategi bisnis semata. Biasanya pemain poker tidak bersemangat kalau chip minim, jadi kalau mereka mau beli sementara kita tidak menyediakan, maka hampir mungkin mereka akan main di tempat lain. Memang siy tidak semua, tapi pasti adalah yang pergi. So tidak ada salahnya dong kalau sendirinya menyediakan stok.

O iya, ada rumor yang beredar, bahwa sekarang ini ada (oknum) polisi yang rajin menjebak gamers yang memperjual belikan chips. Jika rumor ini benar adanya, sangat aneh menurut saya. Apa urusannya coba? Kurang kerjaan aja :(

Baidewe, ada yang mau nemenin saya main Poker? LOL