Saya itu pengen banget bisa ikutan kontes, pengen njajal aja rasanya seperti apa. Belum memikirkan soal kalah atau menangnya. Masih jauh, dan belum berani memikirkan tentang rasa yang satu ini. Sudah dari kemarin tulisan dengan judul Safety Riding njogrok di draft box, tapi body text nya baru hari ini saya isi. Satu hal lagi yang membuat saya merasa boleh ikutan kontes ini, karena saya memang punya pengalaman pribadi tentang Safety Riding itu sendiri.
Kisah saya bisa menyetir baru dimulai tanggal 6 Desember 2005. Inget banget kan saya? Iyalah, karena hari itu adalah hari yang paling bersejarah di dalam hidup saya. Bisa menyetir itu adalah satu pencapaian luar biasa karena ngontel pun saya tak becus. Karena tak becus ngontel otomatis tak punya nyali motoran. Untuk bisa nyetir mobil aja, saya butuh waktu sekitar 4 bulan untuk belajar rutin, saya ingat persis juga karena bulan Agustus itu mobil pertama yang mampu saya beli keluar. Selama ini setiap ada yang mau mengajari menyetir pasti saya tolak mentah-mentah karena saya tidak mau mengambil resiko harus mengganti mobil orang kalau terjadi kecelakaan di saat saya belajar
Pertama kali belajar menyetir, gurunya adik saya almarhum. Sebetulnya dia tidak mau mengajari, katanya toh saya bisa mengandalkan adik-adik untuk menyetiri saya kemanapun pergi. Tapi saya tetap dengan pendirian saya bahwa saya harus bisa, apalagi mobil itu kan rodanya ada 4 jadi kalau pun terjadi kecelakaan, maka yang pertama ringsek itu kan mobilnya bukan badan saya. Ya, faktor over-protective keluarga juga mempengaruhi ketidakbisaan saya ngontel/motoran. Bapak saya sampai berkata : daripada kamu belajar motor lebih baik bapak mati duluan. Gawat ‘kan?
Ternyata Tuhan memang sudah mengatur semuanya dengan baik, baru 6 bulan saya berani menyetir sendiri, Juni 2006 adik tersebut berpulang karena sakit. Tidak terbayangkan kerepotan saya jika saya masih harus mengandalkan dia saat itu. Dan ada satu kalimat yang selamanya akan membekas di dalam ingatan saya tentang aman berkendaraan ini.
“Sepenting-pentingnya urusan di tempat lain sehingga membuatmu merasa perlu ngebut, maka ingatlah tak ada yang lebih penting daripada nyawamu sendiri.”
Dia juga selalu mengingatkan saya untuk membatasi kecepatan maksimum di angka 80km/jam. Beberapa kali saya bandel dan melaju dengan kecepatan maksimal. Hasilnya? Beberapa kali saya hampir menabrak pembatas jalan tol, karena selain kecepatan maksimal, saya juga menyetir dalam keadaan mengantuk berat. Hanya dalam hitungan detik, dan hanya pertolongan Tuhan semata jika kejadian itu tidak terjadi, karena secara ajaib saya tersadar dan dengan refleks menginjak pedal rem. Di lain waktu pernah juga hampir mencium bokong mobil box dan lagi-lagi tangan Tuhan menyelamatkan saya karena cuma selisih sekian detik, saya tersadar dari kantuk dan tabrakan tidak terjadi.
Saya juga sering bandel soal sabuk pengaman, padahal setiap sore mendengarkan ‘iklan’ dari TMC di sebuah radio tentang pentingnya menggunakan sabuk pengaman. Persis seperti di iklan itu, saya juga berpikir, ah dekat ini, ah sebentar ini, ah ga ngebut ini, dan parahnya sabuk pengaman cuma dipakai kalau sudah melihat sosok Pak Polisi atau di jalan protokol. Tapi belakangan, ketika saya mengikuti kelas yang diselenggarakan DSFL Indonesia waktu Pesta Blogger 2009, saya jadi sadar sesadar-sadarnya untuk selalu menggunakan sabuk pengaman, tanpa kecuali.
Hampir semua hal yang membahayakan dalam berkendara, sepertinya sudah saya jalani, termasuk ber-henpon/sms ria ketika menyetir. Tak jarang teman-teman yang menumpang mobil saya mengingatkan agar tidak menerima telpon atau ber-sms-an ketika menyetir, tapi tetap saja saya membandel. Maklum, belum kena batunya! Dan saya bersyukur, sayangnya Tuhan begitu besar maka saya tidak pernah mengalami kecelakaan dari kebandelan saya itu. Naudzubillah, jangan sampai deh.
Belakangan saya lebih sering motoran kemana-mana, dan saya harus mengakui kalau saya masih juga bandel. Masih sering tidak pakai helm, dengan alasan yang itu-itu juga (ah deket ini, ah sebentar ini, ah ga ada polisi ini), padahal saya sudah melihat sendiri kejadian yang menimpa tetangga saya gara-gara tidak pakai helm.
Kejadiannya sudah beberapa tahun silam, sepasang suami istri sedang bepergian, dan istrinya cuma pakai helm proyek. Persis di satu perempatan, lampu merah pertanda berhenti dan mereka berhenti dong, tapi ada satu truk dari belakang yang melaku kencang dan tidak sempat nge-rem …. BRAAAKKK ………pasutri itu ditabrak dari belakang. Suaminya tidak apa-apa dan bisa diselamatkan, berbeda dengan s istri yang meninggal di tempat karena kepalanya terbentuk aspal.
Jadi deh 2 anaknya jadi piatu hari itu. Kejadian yang tragis bukan? Saya sendiri heran, sudah ada kejadian seperti itu, tapi kok saya masih aja bandel ya? Parah deh! Apa memang ini bentuk tidak sayang sama diri sendiri???
Saya pikir kampanye seperti yang dilakukan oleh DSFL Indonesia itu perlu diperbanyak, soal siapa penyelenggaranya tentu tidak penting, tapi konsepnya ya seperti itulah. Agar penduduk Indonesia semakin menyadari pentingnya berkendaraan yang aman dalam keseharian mereka. Agar penduduk Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa kecelakaan lalu lintas juga berpotensi menjadi mesin pembunuh yang ganas. Sudah banyak statistik yang berbicara tentang jumlah korban kecelakaan yang meninggal ataupun cacat. Kampanye ini pun sudah harus digalakkan dengan serius, klub-klub motor mungkin bisa berpartisipasi untuk melakukan road-show ke sekolah-sekolah. Bukankah para remaja pun banyak yang menjadi korban keganasan jalan raya?
Bisa jadi virus HIV/AIDS dianggap paling membahayakan saat ini, bisa jadi narkoba dianggap paling berpotensi menghancurkan masa depan anak bangsa, sehingga banyak pihak yang lengah bahwa kecelakaan lalu lintas juga sudah merenggutkan banyak nyawa anak bangsa.
Jadi sudah saatnya dong kita memberi kepedulian yang lebih besar terhadap pentingnya berkendara yang aman, bukan?!
Catatan:
Tadinya mo ikutan kontes, tapi engga jadi karena hal-hal teknis; karena tulisannya sudah jadi, dan saya belum punya ide apapun untuk menulis sesuatu yang baru, jadi biar deh postingan ini dimunculkan untuk update blog ini di hari Minggu yang mendung ini
HAPPY SUNDAY!!!
*wah, pengin juga latihan nyetir nih jadinya…
sok atuh, nunggu apalagi? HEhehe
nique recently posted… » Writing in Confusion
Loh padahal lombanya udah selesai loh
Tapi gpp semangat ya…
udah tau kok telat, cuma ini kan tulisan dibuang sayang
tetap semangat kok
Aku gak pernah nyetir coz gak punya mobil hehe
archer recently posted… » Sahabat Kita Ternyata Sudah ‘Tercetak’ dalam Gen
pernah nyetir ga harus punya mobil deh
Yang namanya multitasking itu emang berbahaya.. apalagi kalo urusannya menyangkut nyawa. Mainan hape plus ngendarain kan bahaya tuh..merusak konsentrasi…
NIQUE:
iya siy, cuma waktu itu emang kesadaran terhadap bahayanya blom tinggi,
makanya sekarang bikin pengakuan biar kalau mau begitu lagi, jadi malu hati hehehe
terima kasih sudah ke sini yah …
Gaphe recently posted… » Kalau Saja Semua Award Kayak Gini
sekedar menyimak aja deh… sambil blogwalking… keep posting sob
tetep salut kok dgn semangatnya menulis, meski hari ini justru pengumuman pemenang kontesnya. hehehe.
hei, ditunggu sharing pengalamannya buka toko online. tuh kan ada ide posting baru lagi
indobrad recently posted… » Saya- Internet & Gaya Hidup- Nekat Membuka Toko Online
Om, itu nulisnya udah dari kapan tau, tapi baru diposting hari xixixi … gpp lah latihan dulu aja, biar cepet gape-nya ..
soal toko online hmm … nanti deh bikin klo mood nya ada hahaha
yup sepakat mbak, penting banget tuh menjaga keamanan diri sendiri dalam berkendaraan bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk keselamatan sesama pemakai jalan
‘Ne recently posted… » Menangislah
iya Ne, kita yang ngantuk, tapi klo celaka engga sendirian, pasti orang lain juga kena imbasnya.
maka dari itu ya klo ngantuk jangan nyetir deh.
Di Jakarta saya lebih suka naik motor dibanding mobil. Kalo naik mobil bisa stress di jalan…
betul sekali, enak naek motor, tp tetep engga boleh ngantuk hehehe
hmm… Di sini saya juga punya pengalaman tentang berkendara nih… Biasanya dimana-mana tu ortu yang menasehati anaknya supaya hati-hati dan nggak usah ngebut-ngebut kalo naek motor. Tapi aku sama mama malah kebalikan. Mamaku type orang yang kalo naek motor itu selalu rengas. Dan karena dia kemarennya ngebantah nasehatku, besoknya dia langsung mengalami kecelakaan kecil. Harus bisa diambil hikmahnya, kalo berkendara itu nggak harus ngebut. Yang penting selamat.
pink recently posted… » Resolusi Tahun 2011
ingat-ingat itu remember …
ngebut itu ga ada gunanya…
*ngarang ngasal hehehe *
ngebut ada gunanya kok, supaya cepat sampai… hehe
sakti recently posted… » Prameks Mania on Saturday
sampe di rumah? kuburan? rumah sakit?
ngebutnya yg ber-etika dunks ah…. seperti saia
*whoalaah narsis* :p
niQue:
emangnya etika orang ngebut seperti apa???