Tulisan ini ada karena saya membaca ini. Sangat menginspirasi karena saya merasa tersindir secara positif, dan mungkin sudah saatnya saya harus menelanjangi diri dan tidak terus bersembunyi dibalik topeng yang sudah melekat selama ini. Topeng yang sudah mendarah daging, dan mungkin sudah menyatu begitu lekatnya, sehingga dalam proses penelanjangan ini saya membutuhkan kekuatan luar biasa dalam melakukannya.
Mampukah saya?
Hmm …
Mungkin yang menjadi pertanyaan adalah KENAPA memangnya kalau blak-blakan saja tentang identitas diri? Kenapa pula kalau masih terus mau bersembunyi?
Yeah … sah-sah saja kok, mau terus bersembunyi ya monggo, mau bikin pengakuan juga ya ga ngaruh kaleeeeeeee…….:P
Jadi? Kita buka-bukaan nih? Hahaha … sudah siapkah (saya)?
Saya coba yaa
Ah, tunggu dulu! *lebaaaayyyyyy*
Saya mau menyampaikan pembelaan terlebih dulu kenapa selama ini sepertinya saya memakai topeng, bisa jadi ini memang penyebabnya, atau malah mungkin yang dijadikan kambing hitam? Hahaha … terserah penilaian yang mau menilai aja deh.
Adalah orang tua saya yang punya alasan sendiri, kenapa tidak pernah mencantumkan MARGA di belakang nama saya yang terdiri dari dua suku kata. Anehnya, orang tua memperlakukan anak laki-laki dengan berbeda, dengan mencantumkan nama marga setelah nama pemberian untuk ketiga adik laki-laki saya. Setiap saya ingin menanyakan alasan orang tua waktu itu membuat keputusan yang berbeda untuk anak perempuan dan laki-laki mereka, kok ndilalahe lupaaaaa terus.
Jadi, sebelum saya mendapatkan jawaban dari bapak (sebagai satu-satunya orang tua yang masih ada), saya punya pendapat sendiri tentang ini, entah sama dengan alasan bapak atau tidak, nanti juga akan ketahuan
Saya kira orang tua menganggap tidak perlu mencantumkan marga setelah nama anak perempuannya karena toh ketika menikah nanti akan mengikut suami, atau kasarnya pemberian nama marga untuk anak perempuan dianggap tidak penting, berbeda dengan anak laki-laki yang kelak akan memberikan cucu dengan marga yang sama untuk meneruskan garis keturunan orang tua saya.
Terbukti dari kepedulian Bapak akan nama cucu-cucunya dari anak laki-lakinya di akta lahir masing-masing. Bahkan dua keponakan yang nama marga belum dicantumkan di akta lahirnya, disuruh urus ulang oleh Bapak, karena menurutnya marga itu penting untuk dicantumkan. Berapapun biayanya kutanggung! begitu katanya
Saya menghabiskan masa remaja di kota di mana saya dilahirkan, dan dalam keseharian saya hidup bersama orang-orang satu suku dan sangat sedikit dari suku lain. Saya juga masih ingat name tag yang tertera di seragam putih biru saya tidak pernah diikuti oleh marga, tapi karena kotanya kecil yah walau tanpa pencantuman marga di name tag toh orang di sekitar hampir semua tahu kalau saya punya marga.
Namun sejak pindah ke Jakarta, dan berbaur dengan anak-anak Jakarte
, rupanya lidah saya cepat beradaptasi sehingga teman-teman saya tidak menyadari kalau saya berasal dari kota kecil di Sumatera sana. Lulus SMK dan meneruskan kuliah di Jogja membuat saya fasih berbahasa Jawa, bahkan sampai ngarep abis dipek mantu karo wong Jowo *grin*, apa daya harapan tinggal harapan
kemudian malah berjodoh dengan laki-laki dari tanah Pasundan yang dari duluuuuuuuuuuuuu banget saya paling males belajar bahasanya karena menurut saya bisa bikin lidih kebelit-belit saking ribetnya hahaha ….*siap2 dipentung orang Sunda*. Ga tau juga kenapa saya merasa kesulitan belajar bahasa Sunda, padahal balogat bahasa Manado hayu ajah
Kembali tentang marga, saya sering menggunakannya pernah di satu periode, sekitar tahun 2004-2006 untuk kegiatan di perkumpulan orang satu suku. Kefasihan saya berbahasa daerah ibu saat itu sering diandalkan untuk matur menghadap orang penting yang saat itu diangkat sebagai penasihat paguyuban suku saya. Begitupun, masih sering orang-orang satu daerah masih mempertanyakan apakah betul saya orang Karo?????? LOL
Saking menipunya raut wajah saya, sampai hari ini tidak pernah ditaksir orang satu marga, bahkan yang satu suku pun pernah balik badan karena dia kira saya beda suku dengannya, sampai dia mendengar saya menyahutinya dengan fasih baru deh berubah 180derajat
Sayang tak berjodoh karena beda hari ibadahnya hehehe
Salut atas usaha maksimal Eda Damanik yang begitu ingin dikenal sebagai boru Damanik. Saya malah tidak terlalu antusias tentang ini, jangan tanya kenapa karena saya tak punya jawabannya. Saya juga baru ngeuh kalau saya BELUM PERNAH mau memakai pakaian adat sendiri, padahal sejak SD selalu kebagian tugas berpakaian adat daerah, eh malah pakaian adat suku lain yang dipakai seperti BALI *alesan guru waktu itu karena mata saya belok jadi cocok pakai pakaian adat Bali*, pakaian adat Palembang, bahkan pakaian adat Batak juga pernah
*berdoa moga2 ga dikutuk para leluhur xixixi*
Jadi marga saya apa?
Maafkan saya, ternyata saya belum siap untuk menelanjangi diri sendiri hahaha …. *ndelik bin ngumpet*
Lho…lho…
Justru basa sunda ituh gampang lho Nique…hihihi…
Jadi kesimpulannya marga nya apa nih????
mosok siy? tapi aku kok nda lulus2
*nyari kambing hitam*
apa karena suami juga males ngajarin?
*puyeng stiap mudik pasti jadi patung karena pada pake bahasa sunda dan aku tak mengerti hiks*
marga-ku? margarine
nique recently posted… » Quick Weight Loss Tips
Mohon ijin ambil suku-nya buat komen, semoga tidak marah
Btw, jadi tergelitik untuk nitip pertanyaan, kali-kali … ada yang tau. Kalo “Ogi” itu nama marga bukan ya?
ambil suku nya buat komen di mana mas?
Sepanjang pengetahuan saya “ogi” itu bukan nama marga, entah klo penggalan yah
tapi klo di suku karo engga ada marga yang disingkat jadi Ogi.
wah bisa berapa bahasa sekarang mbak??
NIQUE:
Hihihi … cuma itu aja kok, bahasa daerah 2, bahasa Indonesia, Inggris, dulu mah Mandarin juga gape, sekarang udah lupa semua, abis ga pernah dipake hiks …
archer recently posted… » Remaja Ini Membuat ‘Sinar Kematian’ Yang Bisa Membakar Hampir Semua Benda
Marga saya lebih gak jelas lagi. Gak tahu kenapa ^_^
Bang Aswi recently posted… » Monster Mood yang Salah Kaprah
Klo gitu mending jangan tanya kenapa
duh knapa komenku gak muncul ya?? ngeblank mbak..
NIQUE:
Bukan nge-blank, tadi masuk ke spam
klo baru pertama emang gitu hehehe maaf yaaa
archer recently posted… » Remaja Ini Membuat ‘Sinar Kematian’ Yang Bisa Membakar Hampir Semua Benda
kutunggu aja deh kapan siap buka-bukaan nya

jadi namanya sapa Bu??
ysalma recently posted… » Karet Gelang
Hahaha … siapa yaaaaa………….
nique recently posted… » Quick Weight Loss Tips
Blognya unik sekali tante…
hehe unik ya? Om yang pilihin theme ini
makasi udah mampir ya neng
nique recently posted… » Quick Weight Loss Tips
Ya kalau belum siap buka-bukaan aku gak maksa kok.
catatan kecilku recently posted… » Ganti Template
Damanik bukan?! *asal tembak*
indobrad recently posted… » Ketika Pencitraan Memasuki Sekolah
Hahaha … weks … Damanik itu termasuk salah satu marga di orang Karo, tet tot jawaban anda salah
@monda: hehehe … enak klo gitu kan? tapi fasih ga berbahasa toba?
@masbro: lha ya mbuh mas … ketoke si dudu
@devy: mosoook??? emang mash ada space di otak lu buat nginget marga gw? Xixixi …
rasa2nya gw tau nama marga lo,bu :d
*mikir2*
Nama Bapak saya Abd. Rohim, trus nama depan saya Rohim. Apa ini juga bisa disebut marga ya? hihi..
marga itu kayaknya udah seperti satu paket dgn namaku deh, malah nama tengah yg jarang dipake
Hahaha…
Walaupun punya marga dan menikah lengkap dengan pakaian dan adat tapi pasif berbahasa Karo (ngerti tapi gak bisa ngomong)
Ann recently posted… » Kerang Rebus Medan
maksudnya???
orang Karo juga kah?????
wakssssss………………….