Pemulung vs Nurani

Ada seorang pemulung perempuan yang  dalam sehari  bisa  datang 2-3 kali sehari. Jika dia mengambil barang-barang yang ada di halaman sih masalahnya tidak besar, apalagi jika halaman kita memang tidak berpagar. Lalu bagaimana reaksi anda jika si pemulung sudah berani masuk ke dalam rumah/tempat usaha anda???  Pernah berhadapan dengan pemulung?

Menerimanya dengan baik?
Membiarkannya mengambil barang-barang yang sudah anda buang?
atau bahkan mengusirnya?

Secara umum profesi pemulung memang sudah terlanjur identik dengan konotasi negatif, dan dipandang sebelah mata. Tentu saja hal ini bukan tanpa dasar karena profesi pemulung seringkali merangkap menjadi mata-mata maling. Saya tidak mengatakan semua pemulung demikian, tapi dalam banyak kejadian ya seperti itu. Sehingga, jika hari ini banyak orang yang parno yah tidak bisa disalahkan juga dong?!

Bagaimana jika kita sudah mengenal si pemulung? Dan tau tinggalnya di mana? Apakah kemudian dibiarkan bebas masuk untuk memulung barang rongsokan di dalam rumah anda? Iya, maksud saya di DALAM rumah anda, bukan di halaman atau di tong sampah yang diletakkan di luar.

Akankah anda mengatakan saya TIDAK PUNYA HATI jika saya mengusirnya? Apalagi kedatangannya bukan untuk yang pertama kalinya? Bagaimana jika, anda membiarkan satu pemulung bebas masuk dan kemudian jejaknya itu diikuti oleh pemulung lainnya? Bukannya nanti masalah menjadi kompleks ketika larangan baru anda keluarkan ketika pemulung lainnya yang datang dan dilarang?  Pasti pemulung lainnya akan protes kok si anu boleh masuk, dan kami tidak? Apakah anda akan menjawab, dia boleh masuk karena saya mengenalnya?

*sigh*

Saya mencoba mengantisipasi hal ini, karena kehadiran pemulung dalam keseharian kita itu tidak pernah jelas jadualnya. Mereka bisa muncul kapan saja, di pagi buta sekalipun, atau bahkan saat tengah malam pun mereka masih berjuang mengais rejeki. Saya bukan tidak bersimpati dengan semangat juang mereka, bukan itu sama sekali masalahnya, saya justru sangat tidak tega melihat mereka mengacak-acak tong sampah demi mendapatkan botol plastik atau kardus bekas.

Dulu  ketika saya masih tinggal di perumahan yang masih membolehkan pemulung masuk ke dalam kompleks perumahan itu, saya bahkan sengaja memberi pekerjaan tambahan buat asisten di rumah untuk memilah-milah sampah antara yang basah dan kering, antara botol vs kardus. Sampah kering itu nantinya diberikan kepada seorang pemulung yang sudah sangat tua, yang langkahnya pun sudah tidak tegap lagi. Itu saya lakukan agar para pemulung tidak perlu ngeberantakin tong sampah saya, walaupun pada kenyataannya saya masih sering jengkel karena mendapati tong sampah dalam keadaan mengenaskan, padahal sampah-sampah itu sudah dibungkus rapi dengan tujuan agar memudahkan pekerjaan dinas PU yang rutin mengambil sampah dari rumah ke rumah.

Sejak saya pindah ke tempat yang sekarang, yang modelnya perumahan kampung, saya masih melakukan hal yang sama. Ada seorang bapak tua yang sudah renta, dan beliau bertugas mengumpulkan sampah di setiap hari. Sehari bisa dua kali malah, sangat berbeda dengan di kompleks dulu yang truk sampah cuma datang 2x seminggu atau sering juga cuma satu kali. Dan karena saya tahu jika bapak tersebut juga mengumpulkan barang-barang bekas seperti botol dan kardus, maka tentu saja secara otomatis saya memilih memberikan semua sampah kering di sini untuk bapak tersebut dong. Cara seperti itu tentu sangat fair buat dia, itu menurut saya.

Oleh karena seperti itu cara saya membuang sampah, maka saya sangat kesal jika ada pemulung yang ‘memaksa’ masuk ke dalam rumah/tempat usaha untuk mengambil sampah-sampah tadi. Apalagi kepada pemulung lain dengan jelas saya sampaikan kalau sampah di tempat ini sudah ada yang menampung, agar mereka tak perlu repot-repot datang lagi.  Dan paling menggemaskan lagi, pemulung ini seperti main kucing-kucingan dengan saya, dia selalu mengintip dari luar tentang keberadaan saya, dan jika dia tidak melihat maka dia segera beraksi. Maka kemudian yang paling menjengkelkan adalah orang rumah yang tidak punya kepekaan yang sama, dan membiarkan pemulung itu masuk dengan alasan ‘kenal ini’?? Bahkan menganggap saya sebagai orang yang TIDAK PUNYA HATI karena  membuat aturan  keras melarang setiap pemulung yang berani masuk.  *sigh*

Tinggal saya yang bingung sendiri memikirkan bagaimana ya cara menyamakan persepsi dengan orang rumah agar mereka dapat memahami bahwa jika saya MELARANG PEMULUNG MASUK itu karena tidak ingin pemulung lain ikut-ikutan masuk melakukan hal yang sama. Apakah saya yang parno sendirian?

13 thoughts on “Pemulung vs Nurani

    • saya melarang mereka masuk ke dalam rumah bukan karena saya membenci mereka, bukan juga karena saya tidak mau berbagi dengan mereka.
      saya pun dengan senang hati membantu pemulung, tetapi dengan cara yang mungkin berbeda dengan mas/mba :)
      nique recently posted… » Quick Weight Loss Tips

  1. Saya yg tinggal di perumahan jg sering menggalami hal yg sama.
    Serba salah juga, mau membantu tapi ada saja oknum yg memeanfaatkannya.
    Sebaiknya gerbang tetap tertutup dan sampah diletakkan diluar rumah.
    Ann recently posted… » Rindu Malaysia

  2. Baik-baik diberitahukan ke org rumah mungkin?
    Soalnya dibiarin satu, nanti ngelunjak semua tuh.

    *merasa beruntung pemulung gak brani masuk ke dlm rumah, bahkan halaman aja enggak..*
    Btw selamat pagiii :) selamat hari Jumat yah ;)
    Smoga mslh pemulungnya selesai dgn baik..

  3. Walah, kalau sudah kucing2an gitu, nunggu lengahnya Mbak, ya udah wes ditegesi aja. Kan kasian juga sama Pak tua yang sudah sampean kasih jatah barang bekas.

  4. @devy : yah begitulah

    @achoey: kita juga melakukan hal yg sama kang, nah yg jadi masalah itu pemulung yang ga kebagian jatah ini :(

    @ded : iya uda, cuma masalahnya orang rumah tidak sepemahaman, nah itu yang repot, kesannya saya emang jadi parno sendirian gini. Padahal kan dimana-mana tuh lebih baik ‘mencegah’ daripada menyesal kemudian toh?!

  5. Sebaiknya, memang harus waspada. Karena seperti yang sudah mba sampaikan dalam tulisan ini umumnya pemulung tidak bisa dipercaya.
    Saya lebih menyarankan supaya mba tegas kepada pemulung, bahwa tidak diizinkan untuk memasuki rumah/tempat usaha mba.
    Terima kasih……….
    ded recently posted… » TANDAS DAN KASUT

  6. Kalo saya di kedai biasanya memang ada orang yang mengambil sesuatu yang sudah tak terpakai, boleh juga dianggap sampah.

    Kadang kita pisahkan dan kumpulkan, dan ntar orang tersebut tinggal ngambil tau gak terlalu suah buat dia :D

  7. woot??? masuk kedalam rumah….serem amat.
    sorry niy…wlo udah kenal, ada baiknya kita waspada. setuju dg opinimu :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge