Sejak menikah, ke pasar menjadi satu rutinitas penting, walau saya melakukannya tidak setiap hari. Bisa seminggu sekali bisa sebulan sekali, bisa juga dua hari sekali. Sangat tergantung mood atau kebutuhan. Kalau kebutuhan dasar betul-betul tandas melompong di kulkas, kemungkinan besar saya berinisiatif berangkat ke pasar.
Sebetulnya saya suka ke pasar, bisa memilih sendiri bahan makanan yang mau dibeli, tapi sayangnya partner saya kurang suka menemani saya ke pasar. Itulah sebetulnya indikasi penentu tinggi rendahnya grafik saya ke pasar. Kok ketergantungan? Bukan, saya bukan ketergantungan, dan malas berangkat sendiri. Tetapi, coba deh tanya para ibu-ibu seIndonesia raya ini bahwa yang namanya ke pasar itu melelahkan, menenteng-nenteng belanjaan ke sana ke mari sangat menguras tenaga.
Jika dibandingkan dengan berbelanja di Supermarket jelas beda dong, karena ada troli yang siap didorong-dorong ke sana ke mari, itu pun kalau belanjaan sudah penuh di troli tetap saja butuh tenaga ekstra untuk mendorongnya juga, bukan?
Tadi malam saya ke pasar setelah lamaaa tidak ke pasar malam-malam, satu hal yang paling saya suka jika ke pasar di malam hari adalah semua bahan makanannya dijamin masih segar karena baru turun dari truk. Tapi apakah harganya dijamin lebih murah daripada supermarket? Saya tidak tahu persis, karena belum pernah membandingkannya secara baik dan benar
Tadi malam saya dibuat kaget oleh penawaran pedagang sayuran, ketika saya meminta CABE 1/2 kg. Saya ditawari untuk membeli cabe impor yang rupanya sedang ramai jadi sorotan sampai-sampai Ibu Megawati merasa perlu untuk berkomentar seperti ini. Harganya memang fantastis, perbedaannya sangat njomplang sangat tidak sopan, mengalah jauh dari harga cabe rawit merah yang masih bertahan di angka Rp 100.000,-/kg. Yap, harganya cuma Rp 60.000,-/kg.
Si akang penjual masih berusaha merayu saya dan mencoba menggoyahkan iman saya antara cabe lokal dan impor, apalagi dari sisi harga perbedaannya sampai setengah begitu, tentunya membuat para ibu ngeces dong. Si akang penjual menggaransi cabe impor itu sama pedasnya dengan si cabe rawit yang seharga emas.
Terus terang saya meragukan ocehan si akang, karena melihat penampilan cabe impor, ragu kalau pedasnya persis seperti yang dipropagandakannya.
Entah setan dari mana yang merasuki saya tadi malam, sehingga saya bertahan membeli CABE LOKAL dengan harga naudzubillah mahalnya, sungguh! Saya merasa tersinggung walau keberatan juga dengan mahalnya harga cabe. Tersinggung karena kok bisa-bisanya produk lokal mau dikalahkan sama produk impor. Doh!
Apapun namanya, entah nasionalisme yang kebablasan, whatever! tapi saya pulang dengan bangga, karena saya tidak tergoda membeli cabe impor, padahal jika saya membeli cabe impor berarti saya bisa membeli bahan yang lain lebih banyak, atau beli cabe itu sendiri lebih banyak.
Sempat juga terpikir, cabe mahal ini yang untung petani ‘kah? pedagang ‘kah? atau malah tengkulak? Eh masih ada tengkulak ‘kah hari gini? Ya sudahlah …. yang penting cinta Indonesia, bongkok-bongkok juga dijabanin, semoga saja harga cabe mahal memang mensejahterakan petani. Bagi-bagi rejeki hehehe
Baidewe, tiba-tiba di saat menulis ini saya teringat sama promo pedasnya Mie Janda nya Kang Achoey, jangan-jangan pedasnya cabe di sana karena pake cabe impor??? Kan lebih murah tuh? Hahahaha … *sengaja fitnah biar ditraktir mie Janda hahaha ngareeeppp…*
hebatnya Jepang itu biarpun mahal mereka akan tetap membeli produk lokal. Terutama untuk sayur, karena kami juga takut memakai produk dari cina yang ngga ketahuan pestisidanya
EM
Ikkyu_san recently posted… » Tamiflu dan Kebijakan Sekolah
semangat itulah yang harus ditularkan di negeri tercinta ini.
saya tahu ini butuh perjuangan yang panjang, tapi saya akan memulai dari diri sendiri, dan menularkannya pada orang2 terdekat
terus berbagi ya EM, karena tulisanmu juga mencerahkan lho
Sebenarnya sama nih kasusnya dengan mereka yang memilih belanja ke Mangga Dua karena mau cari tas-tas KW buatan china yang murah meriah dibanding memakai produk dalam negeri yang harganya lebih mahal krn bukan product mass. Itu sama juga dgn menjadikan produk asing jadi raja di atas produk dalam negeri.
soal tas2 KW, saya kok malah tidak percaya itu semua betul2 di impor.
ini menurut pengakuan seorang teman yang warga negara Korea, ketika menemaninya hunting barang bagus di MangDu. Dia bilang, ga mungkin barang ini dari KOrea, karena klo betul2 dari sana, sudah pasti harganya selangit. Paling juga ini buatan lokal, tapi bilangnya impor agar harga jualnya tinggi. Hm … masuk di akal juga?!
nique recently posted… » Quick Weight Loss Tips
nyaris memposting hal yg sama…
gregetan juga sih ngeliat banyaknya cabe impor yg masuk ke sini, cabe impor, buah impor…mana nih yg asli hasil dari indonesia? payaaaah!!!! *sigh*
yang asli yang disuka
awas ketipu karena rupa tampak sama
soal rasa jangan ditanya hehehe
nique recently posted… » Quick Weight Loss Tips
kemarin liat john pantau gara2 harga cabai melonjak, warung makan pakai cabai busuk,,hihi hati loh klo makan di warung
harus tanya dulu pake cabe “busuk” or cabe lokal??hehhe
anugrha13 recently posted : http://anugrha13.wordpress.com/2011/01/30/andaikan-aku-jadi-finalis-l-mn-of-the-year-2011
wah mas, klo udah ragu2 ga usah pake nanya deh, kan klo udah ragu itu makruh hukumnya
Setuju …
Walaupun bagaimana …
Kita harus tetap dukung produk lokal
Salam saya Nike
nh18 recently posted… » ISTILAH AJAIB
@Julie:baru kek ginilah bukti cinta republik ku huhuhu
@edratna: wah, ibu sudah menambah perspektif saya tentang mahalnya harga cabe
@bibi: heh? Kok sama? Hahahaha …. jadi malu xixixi
@om brad: Iyalah om, mosok serba impor siy, dah cukup deh klo durian impor ga bisa dielakkan
nique recently posted… » Writing in Confusion
wih, beli cabe lokal ya? yah semoga harga cabe lokal segera turun ya. kalo gak kantong bisa bolong hanya gara2 cabe
Naiknya harga cabe ini memang awal dari penderitaanku..
*emak emak pelit yang biasa nyimpen cabe dari tukang gorengan di kulkas…hihihi*
Akhirnya beli cabe lokal? Nggak ingin coba cabe impor? Hanya untuk membandingkan rasanya.
Masalah per cabe an…sebetulnya banyak sekali alasan dibaliknya, Dari sisi cuaca, yang sekarang memang ekstrem, ini akan mempengaruhi produksi. Temanku yang bergerak di bidang agribisnis, punya tanaman cabe, dia rugi ratusan juta karena diserang virus..tanaman rusak semua.
edratna recently posted… » TANYA JAWAB SEPUTAR KREDIT KONSTRUKSI DAN BANK GARANSI
setuju nique kita kudu beli yang lokal aja cabenya biar yang impor gak lakuuuu huhuhu
julie recently posted… » Tak terhingga
Salam persohiblogan
Maaf sahabat, saya baru sempat berkunjung lagi
Ini pun memanfaatkan waktu yang sangat singkat
Oh ya, Mie Janda tetap pake cabe lokal. Kan cinta produk dalam negeri. Saling mendukung guna kekuatan perekonomia bangsa sendiri
Salam persahabatan dari Bogor
Achoey el Haris
ah ga asyik niy, saya kan ngarep dituntut biar boleh nyobain MJ gratis kang xixixi …
alhamdulillah, klo masih pakai produk dalam negeri *semakin menggebu berangkat ngicipin MJ*
nique recently posted… » Writing in Confusion
Apapun makanannya gak seru klo ga ada sambal/cabe!
* Hati2 lho, bsa dituntuk om achoey…
Yeee…
Wong ini ngarep biar dituntut kok, kan biasanya bakal ada proses mencicipi sebelum tuntutan diteruskan hahaha *ngarep kang achoey mampir sini*
wuihh…luar biasa..!! lebih milih cabe lokal daripada impor meski lebih mahal.
tapi sedihnya karena harga cabe yang melambung tinggi itu sama sekali tidak dinikmati mayoritas petani kita, yang untuk malah para tengkulak. petani hanya kebagian capeknya saja..:(
sedih ya, negeri kita kaya sama hasil alam tapi yang menikmati malah hanya orang-orang tertentu saja
masak iya???
Para petani di sana sampe jualnya cuma kurang dari seribu per kilo tapi klo beli di Jakarta, selalu aja di atas sepuluh ribuan.
Berarti ga jauh beda dong dengan kasus anjloknya harga Jeruk Medan setiap habis panen raya
Lagi2 yang diuntungkan hanya kaum kapitalis itu kah???? *sad*