Punya MARGA toh?

Tulisan ini ada karena saya membaca ini. Sangat menginspirasi karena saya merasa tersindir secara positif, dan mungkin sudah saatnya saya harus menelanjangi diri dan tidak terus bersembunyi dibalik topeng yang sudah melekat selama ini. Topeng yang sudah mendarah daging, dan mungkin sudah menyatu begitu lekatnya, sehingga dalam proses penelanjangan ini saya membutuhkan kekuatan luar biasa dalam melakukannya.

Mampukah saya?

Hmm …

Mungkin yang menjadi pertanyaan adalah KENAPA memangnya kalau blak-blakan saja tentang identitas diri? Kenapa pula kalau masih terus mau bersembunyi? :)

Yeah … sah-sah saja kok, mau terus bersembunyi ya monggo, mau bikin pengakuan juga ya ga ngaruh kaleeeeeeee…….:P

Jadi? Kita buka-bukaan nih? Hahaha … sudah siapkah (saya)?

Saya coba yaa :D Ah, tunggu dulu! *lebaaaayyyyyy*

Saya mau menyampaikan pembelaan terlebih dulu kenapa selama ini sepertinya saya memakai topeng, bisa jadi ini memang penyebabnya, atau malah mungkin yang dijadikan kambing hitam? Hahaha … terserah penilaian yang mau menilai aja deh.

Adalah orang tua saya yang punya alasan sendiri, kenapa tidak pernah mencantumkan MARGA di belakang nama saya yang terdiri dari dua suku kata. Anehnya, orang tua memperlakukan anak laki-laki dengan berbeda, dengan mencantumkan nama marga setelah nama pemberian untuk ketiga adik laki-laki saya. Setiap saya ingin menanyakan alasan orang tua waktu itu membuat keputusan yang berbeda untuk anak perempuan dan laki-laki mereka, kok ndilalahe lupaaaaa terus.

Jadi, sebelum saya mendapatkan jawaban dari bapak (sebagai satu-satunya orang tua yang masih ada), saya punya pendapat sendiri tentang ini, entah sama dengan alasan bapak atau tidak, nanti juga akan ketahuan :) Saya kira orang tua menganggap tidak perlu mencantumkan marga setelah nama anak perempuannya karena toh ketika menikah nanti akan mengikut suami, atau kasarnya pemberian nama marga untuk anak perempuan dianggap tidak penting, berbeda dengan anak laki-laki yang kelak akan memberikan cucu dengan marga yang sama untuk meneruskan garis keturunan orang tua saya.

Terbukti dari kepedulian Bapak akan nama cucu-cucunya dari anak laki-lakinya di akta lahir masing-masing. Bahkan dua keponakan yang nama marga belum dicantumkan di akta lahirnya, disuruh urus ulang oleh Bapak, karena menurutnya marga itu penting untuk dicantumkan. Berapapun biayanya kutanggung! begitu katanya :D

Saya menghabiskan masa remaja di kota di mana saya dilahirkan, dan dalam keseharian saya hidup bersama orang-orang satu suku dan sangat sedikit dari suku lain. Saya juga masih ingat name tag yang tertera di seragam putih biru saya tidak pernah diikuti oleh marga, tapi karena kotanya kecil yah walau tanpa pencantuman marga di name tag toh orang di sekitar hampir semua tahu kalau saya punya marga.

Namun sejak pindah ke Jakarta, dan berbaur dengan anak-anak Jakarte :P , rupanya lidah saya cepat beradaptasi sehingga teman-teman saya tidak menyadari kalau saya berasal dari kota kecil di Sumatera sana. Lulus SMK dan meneruskan kuliah di Jogja membuat saya fasih berbahasa Jawa, bahkan sampai ngarep abis dipek mantu karo wong Jowo *grin*, apa daya harapan tinggal harapan :D kemudian malah berjodoh dengan laki-laki dari tanah Pasundan yang dari duluuuuuuuuuuuuu banget saya paling males belajar bahasanya karena menurut saya bisa bikin lidih kebelit-belit saking ribetnya hahaha ….*siap2 dipentung orang Sunda*. Ga tau juga kenapa saya merasa kesulitan belajar bahasa Sunda, padahal balogat bahasa Manado hayu ajah :D

Kembali tentang marga, saya sering menggunakannya pernah di satu periode, sekitar tahun 2004-2006 untuk kegiatan di perkumpulan orang satu suku. Kefasihan saya berbahasa daerah ibu saat itu sering diandalkan untuk matur menghadap orang penting yang saat itu diangkat sebagai penasihat paguyuban suku saya. Begitupun, masih sering orang-orang satu daerah masih mempertanyakan apakah betul saya orang Karo?????? LOL

Saking menipunya raut wajah saya, sampai hari ini tidak pernah ditaksir orang satu marga, bahkan yang satu suku pun pernah balik badan karena dia kira saya beda suku dengannya, sampai dia mendengar saya menyahutinya dengan fasih baru deh berubah 180derajat :P Sayang tak berjodoh karena beda hari ibadahnya hehehe

Salut atas usaha maksimal Eda Damanik yang begitu ingin dikenal sebagai boru Damanik. Saya malah tidak terlalu antusias tentang ini, jangan tanya kenapa karena saya tak punya jawabannya. Saya juga baru ngeuh kalau saya BELUM PERNAH mau memakai pakaian adat sendiri, padahal sejak SD selalu kebagian tugas berpakaian adat daerah, eh malah pakaian adat suku lain yang dipakai seperti BALI *alesan guru waktu itu karena mata saya belok jadi cocok pakai pakaian adat Bali*, pakaian adat Palembang, bahkan pakaian adat Batak juga pernah :D *berdoa moga2 ga dikutuk para leluhur xixixi*

Jadi marga saya apa?

Maafkan saya, ternyata saya belum siap untuk menelanjangi diri sendiri hahaha …. *ndelik bin ngumpet*

Human Error

Bagaimana anda menyikapi akibat dari HUMAN ERROR?

Pernahkah mengalaminya?

Jika pelakunya adalah orang yang anda kenal dengan baik, sikap anda?

Baru-baru ini salah satu produsen minuman  menawarkan kerjasama untuk memberikan minuman gratis untuk pelanggan yang datang ke warnet dengan persyaratan tertentu selama bulan Januari – Pebruari 2011.   Tentu saja dengan senang hati kami menerima tawaran tersebut, karena diyakini pasti akan menambah ramai pelanggan yang datang.

Periode pertama di-drop 5krat, dan menyusul 5krat lagi dan semua sudah habis dalam waktu satu minggu saja. Sepuluh krat dikalikan dua puluh empat botol berarti keseluruhan ada 240botol, dan kami menemukan ada botol yang isinya mencurigakan karena berbeda dengan isi minuman yang sedang dipromokan. Kami (saya dan suami) segera memisahkan botol yang mencurigakan tersebut dan menunggu kedatangan salesnya untuk memastikan apakah botol tersebut boleh dikonsumsi atau tidak.

Ketika salesnya datang, beliau menerangkan tentang kemungkinan terjadinya HUMAN ERROR, dan bisa saja botol tersebut terbawa ke tempat minuman yang lain sehingga terisi dengan cairan minuman tersebut maka warnanya berbeda dengan minuman yang sedang dipromokan. Penjelasan tersebut masuk di akal kami, dan atas rekomendasi sales tersebut botol yang mencurigakan itu dimasukkan ke lemari pendingin.

Hari itu, ada seorang pelanggan datang, dan saya menawarinya untuk mengambil jatah minuman promo, ketika dia setuju, saya sendiri yang mengambil minuman untuknya dari lemari pendingin. Ndilalahe, kok ya yang diambil itu adalah minuman yang mencurigakan itu. Baru beberapa menit, si pelanggan heboh lari keluar ruangan dan muntah, tentu saja hal ini membuat kami kaget dong???? Ada apa???

Tanpa banyak kata, si pelanggan langsung menyerahkan botol yang masih berisi minuman mencurigakan itu, dan langsung tancap gas pulang. Saya? Tinggal dalam kecemasan dan terus berdoa semoga orang itu baik-baik saja. Saya sungguh kuatir jika sampai terjadi sesuatu yang fatal dengannya. Semua hal-hal yang buruk bermunculan satu per satu. Bergidik jadinya! Apalagi sempat terbayangkan jika yang meminum itu anak-anak, apa jadinya???

Saya langsung menghubungi pihak produsen dan meminta mereka melakukan sesuatu agar pelanggan merasa diperhatikan sepenuhnya.

Lega! Begitulah yang saya rasakan ketika menjelang sore, laki-laki itu, pelanggan yang tadi jadi korban datang berjalan kaki. Saya kemudian menanyakan keadaannya, dan apa yang sedang dia rasakan? Ternyata dia sudah bertindak tepat, dia buru-buru pulang karena dia sudah merasakan akan muntah hebat, segera dia mengantisipasi dengan meminum susu dan berobat ke poliklinik terdekat. Tinggal terasa sakit di tenggorokan, begitu katanya. Dia tahu bahwa kejadian ini bukan salah kami, tapi saya tetap meminta maaf karena tujuan promo ini pastinya bukan untuk mencelakanan pelanggan. Alhamdulillah, pelanggan yang satu ini sangat kalem dan tidakmarah-marah. *jika hal tersebut terjadi pada saya, ga yakin bisa sekalem itu!*

Keesokan harinya, utusan pihak produsen datang ke warnet, dan mulai menanyakan kronologis kejadiannya. Setelah selesai, eh kok ya si pelanggan pas mau pulang, saya malah ga ngeuh kalau dia sedang nge-net, langsung saja diajak rembuk sekalian. Ada beberapa poin yang membuat saya terpaksa lebih ‘galak’ ketimbang korban yang kelihatannya lugu dan tidak merasa apa-apa dengan kejadian ini.

Utusan Produsen (UP) :  kami memahami bahwa isu ini …

Saya : Maaf pak, saya potong ya, bahwa kejadian ini bukan isu, ini fakta karena ada barang bukti dan ada korban. Bagaimana bapak masih bisa mengategorikan ini sebagai isu???

UP: oh iya bu, maaf, maksud saya tidak seperti itu … bla bla bla …

Berbicara ke sana ke mari eh … ada lagi yang nyangkut …

UP : begini bu, kita sama-sama tau bahwa lemari pendingin itu tidak dikunci dan siapapun bebas ….

Saya : Maaf lagi pak, saya potong ya … memang lemari pendingin itu tidak dikunci dan siapapun bebas mengambil minuman yang didalamnya. TETAPI … ini saya tegaskan ya pak, prosedur botol promo yang keluar, semuanya melalui tangan operator, kami menyerahkan botol yang belum dingin untuk dimasukkan klien ke dalam lemari pendingin, dan sebagai penggantinya si klien mengambil yang sudah dingin. Dengan demikian tidak nambahin kerjaan sayauntuk mengisi lemari pendingin dengan minuman promo.

UP : Oh … begitu ya bu!

Hening! Dan saya sudah mulai emosi, tapi saya tahu bahwa saya harus menahan diri.Apakah sudah selesai? BELUM!

Terjadi negosiasi antara korban dan produsen minuman, si UP *dan saya juga* meminta si korban untuk medical chek up untuk memastikan kesehatannya baik-baik saja, jangan sampai baru komplen nanti setelah masalah ini dilupakan. Si korban keberatan jika dia harus membayar biaya  medical chek up terlebih dulu, dan saya pahami bahwa dia menginginkan pihak produsen yang langsung mengeluarkan dana . Eh si UP malah menawarkan opsi, yang menurut saya lumayan gila, karena si korban disuruh berobat ke dokter di poliklinik mereka di Cibitung sana. Busyet dah, jauh aja :D Priok – Cibitung gitu loh???? C’mon … ckckckck

Saya  mencoba menengahi begini.

“Bagaimana kalau dari pihak produsen dan korban sama-sama saja ke rumah sakit mana yang disepakati dan melakukan medical chek up di sana, karena bagaimana pun kenyamanan korban harus diutamakan. Bukankah hal itu jauh lebih baik, daripada nanti terjadi sesuatu pada korban, dan dia mengeluhkannya di fesbuk/twitter atau socmed lainnya? Bukannya itu jauh lebih merugikan pihak produsen?”

UP : Wah! Ibu jangan mendramatisir keadaan.

Saya : Pak, saya tidak mendramatisir keadaan ini. Bahkan jika saya katakan, bahwa saya bersyukur korbannya orang dewasa dan bukan anak-anak, juga bukan maksud mendramatisir. Terbayangkan kah oleh bapak jika yang menjadi korban adalah anak-anak, dan dia mati karena minuman itu, maka yang jadi sasaran pertama adalah warnet ini, pasti akan diamuk massa, masih mau bilang mendramatisir?????

UP : yaa ya … kami memahami kekuatiran ibu, tapi ini kan kenyataannya korbannya orang dewasa, bukan anak-anak.

Saya : Maka dari itu saya minta tolong korbannya dibuat nyaman, masak untuk medical chek up aja dia harus merogoh uang dari kantongnya sendiri? Atau disuruh jauh-jauh ke Cibitung sana????

Buntu! Mentok! Si korban disuruh menandatangani surat pernyataan. Tadinya saya yang disuruh menandatangani, tapi saya tidak mau karena saya bukan korban. Duh! Mereka itu pastinya sudah ditraining untuk menghadapi hal seperti ini, kok ya bisa-bisanya menjalankan prosedurnya pun masih kagok ya???

Begitu surat ditanda tangani, mereka buru-buru pulang, meninggalkan saya dalam kemangkelan. Sudah selesai? Belum, karena keesokan harinya datang lagi utusan yang lain bersama sales yang kami sudah kenal dengan baik. Rupanya mereka adalah atasan si sales. Sedikit yang mengesalkan saya bahwa si sales berusaha melempar kesalahan pada kami, karena dia mengaku sudah menginstruksikan kepada kami untuk memisahkan botol yang mencurigakan tersebut. Untungnya kami berdua meyakini dia tidak berkata seperti itu, entah kalau tidak ada saksi, pasti dia akan keukeuh sumeukeuh.

Dalam permasalahan ini, sejujurnya saya sangat tidak tega jika sales tersebut dikenakan sanksi, walau saya juga dibuat kesal karena dia tidak jujur. Tapi, ternyata hubungan baik selama ini membuat saya tidak tegas! Saya yakin situasinya pasti beda jika saya tidak mengenalnya dengan baik, saya pasti akan mendampratnya habis-habisan di saat dia berusaha sembunyi tangan dari kesalahan yang dia buat sendiri. Kepada utusan yang pertama pun saya sudah menekan agar tidak memberikan sanksi kepada si sales. Tidak tega sungguh!

Ketidak tegaan saya ini membuat saya berpikir jauh, bagaimana conflict of interest melanda orang-orang yang harus mengurusi perkara-perkara besar yang menimpa orang-orang yang mereka kenal dengan baik. Sekarang saya dapat memahami dengan baik, jika di film-film sering saya lihat adegan seorang polisi/detektif di non aktifkan dari perkara yang melibatkan dirinya/keluarganya/kenalannya. Yah, untuk menghindari conflict of interest itu tadi.

Kaitannya dengan permasalahan kami ini, saya menjadi sedikit permisif kepada si sales, padahal jika korbannya meninggal, saya dan tempat usaha saya lah yang paling merasakan akibat langsung dari kecerobohannya. Human error – bisa menimpa siapa saja, sebagus apapun sistim yang dibuat, maklumlah, sistim itu pun ‘kan buatan manusia, jadi yah kalau error ya … wajar toh? Yang menjadi tidak wajar hanya jika akibat dari human error itu mengakibatkan ada nyawa yang melayang. Naudzubillah!

Semoga ini adalah yang pertama dan terakhir, amin!

Impor or Lokal?

Sejak menikah, ke pasar menjadi satu rutinitas penting, walau saya melakukannya tidak setiap hari. Bisa seminggu sekali bisa sebulan sekali, bisa juga dua hari sekali. Sangat tergantung mood atau kebutuhan. Kalau kebutuhan dasar betul-betul tandas melompong di kulkas, kemungkinan besar saya berinisiatif berangkat ke pasar.

Sebetulnya saya suka ke pasar, bisa memilih sendiri bahan makanan yang mau dibeli, tapi sayangnya partner saya kurang suka menemani saya ke pasar. Itulah sebetulnya indikasi penentu tinggi rendahnya grafik saya ke pasar. Kok ketergantungan? Bukan, saya bukan ketergantungan, dan malas berangkat sendiri. Tetapi, coba deh tanya para ibu-ibu seIndonesia raya ini bahwa yang namanya ke pasar itu melelahkan, menenteng-nenteng belanjaan ke sana ke mari sangat menguras tenaga.

Jika dibandingkan dengan berbelanja di Supermarket jelas beda dong, karena ada troli yang siap didorong-dorong ke sana ke mari, itu pun kalau belanjaan sudah penuh di troli tetap saja butuh tenaga ekstra untuk mendorongnya juga, bukan?

Tadi malam saya ke pasar setelah lamaaa tidak ke pasar malam-malam, satu hal yang paling saya suka jika ke pasar di malam hari adalah semua bahan makanannya dijamin masih segar karena baru turun dari truk. Tapi apakah harganya dijamin lebih murah daripada supermarket? Saya tidak tahu persis, karena belum pernah membandingkannya secara baik dan benar :D

Tadi malam saya dibuat kaget oleh penawaran pedagang sayuran, ketika saya meminta CABE 1/2 kg. Saya ditawari untuk membeli cabe impor yang rupanya sedang ramai jadi sorotan sampai-sampai Ibu Megawati merasa perlu untuk berkomentar seperti ini. Harganya memang fantastis, perbedaannya sangat njomplang sangat tidak sopan, mengalah jauh dari harga cabe rawit merah yang masih bertahan di angka Rp 100.000,-/kg. Yap,  harganya cuma Rp 60.000,-/kg.

Si akang penjual masih berusaha merayu saya dan mencoba menggoyahkan iman saya antara cabe lokal dan impor, apalagi dari sisi harga perbedaannya sampai setengah begitu, tentunya membuat para ibu ngeces dong. Si akang penjual menggaransi cabe impor itu sama pedasnya dengan si cabe rawit yang seharga emas. :P Terus terang saya meragukan ocehan si akang, karena melihat penampilan cabe impor, ragu kalau pedasnya persis seperti yang dipropagandakannya.

Entah setan dari mana yang merasuki saya tadi malam, sehingga saya bertahan membeli CABE LOKAL dengan harga naudzubillah mahalnya, sungguh! Saya merasa tersinggung walau keberatan juga dengan  mahalnya harga cabe. Tersinggung karena kok bisa-bisanya produk lokal mau dikalahkan sama produk impor. Doh!

Apapun namanya, entah nasionalisme yang kebablasan, whatever! tapi saya pulang dengan bangga, karena saya tidak tergoda membeli cabe impor, padahal jika saya membeli cabe impor berarti saya bisa membeli bahan yang lain lebih banyak, atau beli cabe itu sendiri lebih banyak.

Sempat juga terpikir, cabe mahal ini yang untung petani ‘kah? pedagang ‘kah? atau malah tengkulak? Eh masih ada tengkulak ‘kah hari gini? Ya sudahlah …. yang penting cinta Indonesia, bongkok-bongkok juga dijabanin, semoga saja harga cabe mahal memang mensejahterakan petani. Bagi-bagi rejeki hehehe

Baidewe, tiba-tiba di saat menulis ini saya teringat sama promo pedasnya Mie Janda nya Kang Achoey, jangan-jangan pedasnya cabe di sana karena pake cabe impor??? Kan lebih murah tuh? Hahahaha … *sengaja fitnah biar ditraktir mie Janda hahaha ngareeeppp…*

Tidur yuuukkk

Membaca detik.com menjadi satu rutinitas di pagi hari, dan pastinya akan nyangsang juga di detikhealth. Hari ini baru tau kalau perempuan divonis lebih mudah tertidur di saat menonton film. Lebih lengkapnya bisa baca di sini. Tapi bener ga yah?

Fakta : saya mengaku deh kalo  seringkali tertidur ketika nonton film di cinema, apalagi jika filmnya kurang menarik *menurut saya*. Tapi anehnya saya malah tidak bisa tertidur cepat jika tivi dalam keadaan berkoar-koar, masih mending siy kalau suaranya di-silent.

Langsung dong sibuk googling, dan fakta baru yang ditemukan adalah bahwa perempuan membutuhkan tidur lebih lama. Sama-sama mengenai tidur tapi tidak sama pembahasannya.

Sebelum saya lupa, saya rasa perlu menuliskan keheranan saya ini bahwa saya menemukan artikel ini, yang menurut saya isinya kurleb sama dengan tulisan yang ada di detik.com. Cukup kreatif :D

Back to topic, memangnya kenapa siy ‘meributkan’ masalah durasi tidur ini? Itu karena di saat manusia tidurlah maka sang otak diperbaiki dan memulihkan diri setelah seharian dipaksa berpikir. Mengenai hasil googling saya yang lebih banyak menemukan informasi tentang perempuan membutuhkan tidur lebih lama ketimbang laki-laki, saya kok sepenuhnya setuju ya?! Sepertinya ini ada kaitannya dengan kebisaan perempuan dalam mengerjakan banyak pekerjaan di saat yang bersamaan atau bahasa kerennya ‘multitasking’.

Profesor Jim Horne, direktur Sleep Research Centre di Loughborough University dan penulis buku Sleepfaring: A Journey Through The Science Of Sleep – mengatakan bahwa perempuan memang membutuhkan tidur lebih lama karena rangkaian otak perempuan lebih kompleks ketimbang otak laki-laki.  Hmm …

Masalahnya, perempuan perlu tidur lebih lama tapi tidak bisa memenuhinya, dan saya lagi-lagi sangat setuju dengan pernyataan profesor ini :D Ini adalah pengalaman pribadi, di mana seringkali saya merasa masih ingin bergelung di tempat tidur, masih ingin berlama-lama merasakan hangatnya selimut, tapiiiiii…..otaknya udah terlanjur bangun, langsung mikirin ini itu, jika sudah begitu, boro-boro bisa diajak tidur lagi, yang ada langsung lompat bangun. Belum lagi jika punya kebiasaan ‘setoran’ pagi-pagi yang berfungsi sebagai alarm alami akan berteriak sempurna sehingga tak dapat menunda keberangkatan ke pesawat bernama toilet barang semenit pun. *lebay*

Sejujurnya saya merasa sangat dibela dengan apa yang dijabarkan oleh Profesor Horne, tapi sayangnya para laki-laki *baca : suami* seringkali mengabaikan hal ini dan beranggapan bahwa pihak laki-lakilah yang paling membutuhkan tidur lebih lama. Hohoho … *buka rahasia dapur – moga2 ga kualat*

Bagaimana dengan  perempuan-perempuan lain ya? Apakah mengalami hal yang sama?

********************************************************************************

Entah dejavu entah apalah namanya, tapi yang jelas, ketika saya meracik tulisan ini di tahap finishing, ada email masuk dan saya membaca komen dari Kyaine yang mengingatkan  agar blog ini tidak sampai diistirahatkan di The Sirnaraga Memorial Park. Hahaha … komen yang tepat di waktu yang tepat!

Amnesia? :P

Oiiii……..

Lagi  ngapain?

Kemana aja?

Kok blog-nya ga di-apdet2?

Sibuk?

I’m just here, going nowhere! Stuck in the same chair from 7am to 10pm.

Gila ya?

Emang!

Terus mo sampe kapan gilanya?

Ga tau. liat aja nanti deh.

Maksudnya? Liat aja nanti tau2 udah gila gitu?

Kok  ngarep gw jadi gila?

Hla? Terus apa? Disurut liat nanti? Apanya?

Apa aja boleeeeeeeeeehhhhhhhhh………………….. :P

Amnesia lu ya?

Bisa jadi!

Ya rekans blogger, konversasi di atas sangat jelas menunjukkan ketidakfokusan saya dalam banyak hal termasuk nge-blog.

Ada apa denganmu, NiQue?

Entah!

Gw mo tidur aja dulu deh, semoga tar bangun jadi lebih waras. Semoga bisa nulis yang udah dirancang2 dari kapan hari tau, tentang klub sepak bola kebanggaanku … Chelsea oh Chelsea .. padahal baru juga menang 4-0 lawan Bolton, mana apresiasiku yang mengaku nge-fans berat sama Chelsea? Hiks …

Juga soal ponakanku tersayang yang kakinya ketiban gayung berisi air, duh kasiannyaaaa …. jalannya jadi terpincang2, dan ga bisa pakai sepatu klo sekolah. Dan pastinya jadi tambah kolokan dooong….

Beuuuh … ini aja udah 2, blom lagi yang lain2nya yang selalu dikirimi sama wordpress ke inbox.

Uh! Bagus-bagus idenya, cuma keberadaan diri yang sedang di negeri antah berantah ini membuat itikad baik menelurkan tulisan masih gatot. Hohoho …

Note: Image diambil dari google.com

RAHASIA HATI

!@#$%^&*())__+$%^#@&*!@#$%^&*())__+$%^#@&*!@#$%^&*())__+$%^#@&*

Aaaaaaaaaaaarrrrrggggghhhhhhhhhh…………….?

Pernahkah anda merasa harus menyimpan sebuah RAHASIA?

Bagaimana anda mampu menjaga RAHASIA?

Atau anda bukan orang yang mampu menjaga RAHASIA?

Mengapa anda mau menjaga RAHASIA itu menjadi RAHASIA untuk selamanya?

Masihkah ada RAHASIA yang harus anda jaga agar RAHASIA itu tetap menjadi sebuah RAHASIA?

RAHASIA yang bagaimana harus dijaga kerahasiaannya??

!@#$%^&*())__+$%^#@&*!@#$%^&*())__+$%^#@&*!@#$%^&*())__+$%^#@&*

Seringkali kita dengan mudah mengucap JANJI untuk memegang RAHASIA.

“lu bisa pegang rahasia gw?”

“bisalah” jawaban spontan.

“Janji?”

“Iya beres, gampang, masak lu ga percaya ma gw?”

atau kadang-kadang malah dibumbui kalimat berikut.

“emang lu ga percaya sama gw? klo ga percaya, ya udah, lu ga usah cerita sama gw!” jawab si sahabat ketus.

Padahal dia tau bahwa sahabatnya itu sedang butuh teman bicara, butuh seseorang yang mendengarkan keluh kesahnya. Ketika si sahabat menanyakan apakah dia bisa memegang rahasia, bukan karena dia tidak percaya, tapi si sahabat butuh diyakinkan juga meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia benar-benar bisa mempercayai sahabatnya. Apalagi, rahasia itu – mungkin saja – aib terbesar yang pernah dia alami.

Tapi, apakah ketika seorang sahabat menjawab seperti di atas, sudah menjadi satu jaminan dia akan menyimpan rahasia itu dengan taruhan nyawanya? BELUM TENTU! Bahkan kecenderungannya tidak. Kenapa? Karena jawaban yang seperti itu, menurut pengalaman saya *entah kalau anda* merupakan yang tanpa dipikir *malah cenderung pengen cepet tau apa siy rahasianya?*.

Saya pernah menitipkan sebuah rahasia kepada seorang sahabat, dan ketika saya tanyakan kesediaannya, dia menjawab seperti ini.

“Jika itu sebuah rahasia yang teramat besar, dan jika ada keraguan di hatimu untuk menyampaikan kepada saya, sebaiknya jangan. Sebab saya masih manusia biasa, saya sangat mungkin khilaf.”

Saya malah semakin mendesaknya untuk mendengarkan rahasia saya. Lalu, apa katanya?

“Kenapa kau memilih menceritakannya pada saya? Kenapa tidak kau ceritakan saja rahasiamu pada Tuhan, di mana rahasia apapun pasti terjamin kerahasiaannya sampai akhir hayatmu?”

Saya kesal campur sebal. Dia sahabat saya, seharusnya dia mau mendengarkan saya, menampung keluh kesah saya, tetapi kenapa dia malah berkata seperti itu. Memang dia bukan satu-satunya sahabat yang saya punya, tapi saya ingin dia yang menyimpan rahasia ini, bukan yang lain. Rasanya saya hampir menangis, tidak sanggup menyimpan rahasia ini sendiri.

“Ni, saya berkata seperti itu, jangan kau anggap karena saya tidak mau kau berbagi dengan saya. Tapi saya ingin kau tidak bergantung pada manusia. Sebaik-baiknya seorang sahabat, maka tetaplah Tuhan tempat terbaik untuk menyimpan rahasiamu.”

Saya tak ingin berdebat lagi dengannya, yang jelas hasrat untuk berkeluh kesah sudah menguap begitu saja. Saya pikir ada baiknya saya mencoba untuk menceritakan saja rahasia ini kepada Tuhan tidak kepada manusia.

Berselang bulan, saya sampai lupa kalau saya pernah punya rahasia yang saya titipkan pada Tuhan, dan saya tidak merasa terbebani lagi sejak itu, yang paling penting pula saya tidak ketakutan jika satu hari rahasia itu dibocorkan.

Tulisan ini saya buat bukan karena saya kecewa karena ada sahabat yang membocorkan rahasia saya, bukan juga karena saya tidak bisa dipercaya untuk memegang sebuah rahasia, tapi saya menuliskannya karena saat ini saya diminta untuk menyimpan sebuah rahasia besar, yang kadang-kadang saya lupa kalau rahasia itu ada, tapi di waktu-waktu tertentu rahasia itu muncul dan tentu saja hal itu mengganggu saya.

Saya kuatir, jika satu saat saya tidak mampu memegang teguh janji saya. Mungkin, saya harus mengikuti saran sahabat saya, untuk menitipkan saja rahasia ini pada Tuhan, agar saya tidak terus terbebani, setelah itu sebaiknya melupakan kalau rahasia itu ada. Ya, sebaiknya begitu!

Safety Riding: Ngantuk? Jangan nyetir!

Saya itu pengen banget bisa ikutan kontes, pengen njajal aja rasanya seperti apa. Belum memikirkan soal kalah atau menangnya. Masih jauh, dan belum berani memikirkan tentang rasa yang satu ini. Sudah dari kemarin tulisan dengan judul Safety Riding njogrok di draft box, tapi body text nya baru hari ini saya isi. Satu hal lagi yang membuat saya merasa boleh ikutan kontes ini, karena saya memang punya pengalaman pribadi tentang Safety Riding itu sendiri.

Kisah saya bisa menyetir baru dimulai tanggal 6 Desember 2005. Inget banget kan saya? Iyalah, karena hari itu adalah hari yang paling bersejarah di dalam hidup saya. Bisa menyetir itu adalah satu pencapaian luar biasa karena ngontel pun saya tak becus. Karena tak becus ngontel otomatis tak punya nyali motoran. Untuk bisa nyetir mobil aja, saya butuh waktu sekitar 4 bulan untuk belajar rutin, saya ingat persis juga karena bulan Agustus itu mobil pertama yang mampu saya beli keluar. Selama ini setiap ada yang mau mengajari menyetir pasti saya tolak mentah-mentah karena saya tidak mau mengambil resiko harus mengganti mobil orang kalau terjadi kecelakaan di saat saya belajar :D

Pertama kali belajar menyetir, gurunya adik saya almarhum. Sebetulnya dia tidak mau mengajari, katanya toh saya bisa mengandalkan adik-adik untuk menyetiri saya kemanapun pergi. Tapi saya tetap dengan pendirian saya bahwa saya harus bisa, apalagi mobil itu kan rodanya ada 4 jadi kalau pun terjadi kecelakaan, maka yang pertama ringsek itu kan mobilnya bukan badan saya. Ya, faktor over-protective keluarga juga mempengaruhi ketidakbisaan saya ngontel/motoran. Bapak saya sampai berkata : daripada kamu belajar motor lebih baik bapak mati duluan. Gawat ‘kan?

Ternyata Tuhan memang sudah mengatur semuanya dengan baik, baru 6 bulan saya berani menyetir sendiri, Juni 2006 adik tersebut berpulang karena sakit. Tidak terbayangkan kerepotan saya jika saya masih harus mengandalkan dia saat itu. Dan ada satu kalimat yang selamanya akan membekas di dalam ingatan saya tentang aman berkendaraan ini.

“Sepenting-pentingnya urusan di tempat lain sehingga membuatmu merasa perlu ngebut, maka ingatlah tak ada yang lebih penting daripada nyawamu sendiri.”

Dia juga selalu mengingatkan saya untuk membatasi kecepatan maksimum di angka 80km/jam. Beberapa kali saya bandel dan melaju dengan kecepatan maksimal. Hasilnya? Beberapa kali saya hampir menabrak pembatas jalan tol, karena selain kecepatan maksimal, saya juga menyetir dalam keadaan mengantuk berat. Hanya dalam hitungan detik, dan hanya pertolongan Tuhan semata jika kejadian itu tidak terjadi, karena secara ajaib saya tersadar dan dengan refleks menginjak pedal rem. Di lain waktu pernah juga hampir mencium bokong mobil box dan lagi-lagi tangan Tuhan menyelamatkan saya karena cuma selisih sekian detik, saya tersadar dari kantuk dan tabrakan tidak terjadi.

Saya juga sering bandel soal sabuk pengaman, padahal setiap sore mendengarkan ‘iklan’ dari TMC di sebuah radio tentang pentingnya menggunakan sabuk pengaman. Persis seperti di iklan itu, saya juga berpikir, ah dekat ini, ah sebentar ini, ah ga ngebut ini, dan parahnya sabuk pengaman cuma dipakai kalau sudah melihat sosok Pak Polisi atau di jalan protokol. Tapi belakangan, ketika saya mengikuti kelas yang diselenggarakan DSFL Indonesia waktu Pesta Blogger 2009, saya jadi sadar sesadar-sadarnya untuk selalu menggunakan sabuk pengaman, tanpa kecuali.

Hampir semua hal yang membahayakan dalam berkendara, sepertinya sudah saya jalani, termasuk ber-henpon/sms ria ketika menyetir. Tak jarang teman-teman yang menumpang mobil saya mengingatkan agar tidak menerima telpon atau ber-sms-an ketika menyetir, tapi tetap saja saya membandel. Maklum, belum kena batunya! Dan saya bersyukur, sayangnya Tuhan begitu besar maka saya tidak pernah mengalami kecelakaan dari kebandelan saya itu. Naudzubillah, jangan sampai deh.

Belakangan saya lebih sering motoran kemana-mana, dan saya harus mengakui kalau saya masih juga bandel. Masih sering tidak pakai helm, dengan alasan yang itu-itu juga (ah deket ini, ah sebentar ini, ah ga ada polisi ini), padahal saya sudah melihat sendiri kejadian yang menimpa tetangga saya gara-gara tidak pakai helm.

Kejadiannya sudah beberapa tahun silam, sepasang suami istri sedang bepergian, dan istrinya cuma pakai helm proyek. Persis di satu perempatan, lampu merah pertanda berhenti dan mereka berhenti dong, tapi ada satu truk dari belakang yang melaku kencang dan tidak sempat nge-rem …. BRAAAKKK  ………pasutri itu ditabrak dari belakang. Suaminya tidak apa-apa dan bisa diselamatkan, berbeda dengan s istri yang meninggal di tempat karena kepalanya terbentuk aspal. :( Jadi deh 2 anaknya jadi piatu hari itu. Kejadian yang tragis bukan? Saya sendiri heran, sudah ada kejadian seperti itu, tapi kok saya masih aja bandel ya? Parah deh! Apa memang ini bentuk tidak sayang sama diri sendiri???

Saya pikir kampanye seperti yang dilakukan oleh DSFL Indonesia itu perlu diperbanyak, soal siapa penyelenggaranya tentu tidak penting, tapi konsepnya ya seperti itulah. Agar penduduk Indonesia semakin menyadari pentingnya berkendaraan yang aman dalam keseharian mereka. Agar penduduk Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa kecelakaan lalu lintas juga berpotensi menjadi mesin pembunuh yang ganas. Sudah banyak statistik yang berbicara tentang jumlah korban kecelakaan yang meninggal ataupun cacat. Kampanye ini pun sudah harus digalakkan dengan serius, klub-klub motor mungkin bisa berpartisipasi untuk melakukan road-show ke sekolah-sekolah. Bukankah para remaja pun banyak yang menjadi korban keganasan jalan raya?

Bisa jadi virus HIV/AIDS dianggap paling membahayakan saat ini, bisa jadi narkoba dianggap paling berpotensi menghancurkan masa depan anak bangsa, sehingga banyak pihak yang  lengah bahwa kecelakaan lalu lintas juga sudah merenggutkan banyak nyawa anak bangsa.

Jadi sudah saatnya dong kita memberi kepedulian yang lebih besar terhadap pentingnya berkendara yang aman, bukan?!

Catatan:
Tadinya mo ikutan kontes, tapi engga jadi karena hal-hal teknis; karena tulisannya sudah jadi, dan saya belum punya ide apapun untuk menulis sesuatu yang baru, jadi biar deh postingan ini dimunculkan untuk update blog ini di hari Minggu yang mendung ini :D

HAPPY SUNDAY!!!

Suka-suka?!

Sudah dua minggu lebih penjual nasi uduk di depan rumah absen, kabarnya si mbah lagi sakit. Sempat ada  anaknya yang mencoba menggantikan berjualan, tapi cuma bertahan beberapa hari. Sementara penjual nasi uduk di kiri dan kanan kok rasanya tidak seenak rasa nasi uduk bikinan si mbah :(

Pernah juga nyobain nasi uduk yang rada jauhan, tetep aja rasanya ga pas di lidah. Dan kalau sudah keliling begitu, ujung-ujungnya bukan sarapan nasi uduk, tapi bubur ayam, karena selama ini seburuk-buruknya rasa bubur ayam, tetep bisa dimakan. Atau bisa juga jadi sarapan mie ayam, dan ini yang bahaya buat saya, sementara suami siy maunya emang mie aja, kalau boleh malah mau setiap hari.

Sampai kemarin pagi, hasrat makan nasi uduk sudah tak terbendung lagi, dan kali ini bergerilya sendirian. Masuk-masuk gang dengan mata awas merhatiin penjual nasi uduk yang paling banyak dikerumuni pembeli. Eitsss … apa itu yang dikerumunin banyak orang? Penasaran karena yang dikerumunin sampai ga keliatan, eh begitu disamperin ternyata itu kerumunan pembeli, dan tentu saja yang dikerumunin ya penjual nasi uduk.

Ternyata ada lho penjual nasi uduk yang pembelinya ngantri dengan rapi, dan letaknya cuma beda satu gang saja. Ngantrinya betul-betul harus sabar. Jualannya juga bervariasi, kumplitlah untuk sarapan. Ada nasi uduk pastinya, longsay, gorengan juga lengkap, ada ketan, semur jengkol juga tersedia. Baru tau siy ada semur jengkol dijual untuk menu sarapan pagi hehehe … *minat tapi engga berani makan karena kondisi tubuh tidak pernah fit – dan yang ku tau klo makan semur jengkol di saat kondisi tubuh drop bisa fatal*

Setelah memperhatikan sekeliling, ternyata saya pengantri ke-4. Mata bulatku sudah melotot aja merhatiin semua makanan yang terhidang, sambil hati menimbang-nimbang antara nasi uduk vs longsay. LOngsay-nya menarik karena santannya tidak berminyak. Nasi uduknya gimana? Bukannya dari kemarin-kemarin pengen nasi uduk? Tapi itu penampilan tempe oreknya kok kayaknya ga meyakinkan ya? Gimana klo ga  enak??

Jadilah pilihan jatuh pada longsay, dan cara belinya ngikutin seorang nenek yang beli longsay satu bungkus utuh (lontongnya dibungkus daun pisang seperti yang dijual tukang sate itu lho) seharga Rp 2.500,-. Murah kok??? Tapi pesanan saya ditambah telor sambal balado. Harganya Rp 4.500,-. Karena ini baru coba-coba cukup beli 1 bungkus saja dulu, tapi gorengannya ikut dibeli masing-masing 2buah per jenisnya. Rasanya? Maknyussss … murah meriah enak dan bersih. Kok tau bersih? Anggap aja bersih, kan masaknya di rumah, kalau jorok ya keterlaluan aja.

Nah, kenapa pagi ini, ceritanya mau pamer temuan ini ke suami, jadi ke penjual nasi uduk itu lagi. Eh udah abis aja lho?? Yang tersisa tinggal longsay aja + tempe goreng+1 telor semur. Jiahhhh … ya udah deh daripada ga ada, beli 2 bungkus longsay. Tapi kali ini yang melayani beda dengan yang kemarin, dan cara belinya juga beda, ga bilang longtongnya utuh satu.

Ada satu orang pembeli lagi, yang juga terpaksa beli longsay karena tinggal itu yang ada. Berarti si ibu harus bikin 3 bungkus longsay. Si ibu mengambil 2 lontong yang masih utuh, saya masih pede itu 2-2-nya buat saya. Eh begitu jadi, ternyata dibagi 3 aja lho? Merhatiin aja deh, barangkali harganya beda? Eh pas bayar diminta Rp 5.000,-??? Kok beda? Lontongnya lebih sedikit, tapi harganya lebih mahal.

Saya mah diam saja, tidak mau protes *malu hahaha*, tapi dalam perjalanan pulang saya jadi berpikir; bukankah saya pun memberlakukan perbedaan yang seperti ini di warnet? Pasti banyak pelanggan yang sering bingung dengan harga yang berbeda-beda antara saya dan karyawan. Saya yakin sekali soal ini.

*saya jadi mesem-mesem sendiri sepanjang jalan*

Kenapa? Karena saya ngebayangin situasi yang dihadapi karyawan saya, yang memang selama ini sering mereka keluhkan karena ulah saya.

Ketika klien datang dengan tujuan nge-print tugas yang banyak, dan saya yang sedang bertugas, seringnya mereka dikasi potongan. Misalnya jumlah print-an Rp 27.000,-, mereka boleh bayar Rp 25.000,- saja. Atau yang buntut-buntutnya Rp 500,- seringnya tidak dibulatkan ke atas. Atau kadang-kadang kalau nge-print cuma 1-2 lembar, dan saya tau orang tersebut sering nge-net di sini, yang ada saya kasi gratis saja alias ga bayar.

Nah, ketika orang ini datang nge-print lagi tapi yang jaga bukan saya, maka mulailah protes bertaburan. Kemarin sama ibunya dikasi diskon? Kemarin sama ibu klo cuma 1 lembar gratis siy? Kok sama mba/mas nya jadi mahal? Kok begini dan begitu… ?

Hihihi … dan saya pun menuai protes dari mereka, gara-gara saya mereka disewotin sama pelanggan. Hahaha … habis gimana dong, saya kan mau menciptakan hubungan personal yang baik dengan para pelanggan, ya maaf aja jika secara tidak langsung para penjaga kena getahnya.

Sebetulnya siy, pelanggan itu sudah saya beritahu agar mereka mengikuti harga sesuai aturan jika yang bertugas bukan saya, jadi protes apapun tidak berlaku. Tapi tetepppppp aja ada yang mbalelo, bikin para penjaga jadi semakin sebel sama saya hahaha

Jadi, masih bagus ya tadi saya tidak protes secara spontan ke ibu penjual nasi uduk, karena jika itu yang saya lakukan, bisa-bisa si ibu itu ‘ngomelin’ penjual yang kemarin karena ngasi saya harga yang lebih murah hehehe

Lho? kok panjang ini tulisannya? hahaha … ga penting pula :P

(bingung cari foto-nya, kayaknya besok harus jepret sendiri deh fotonya, biar lebih afdol, abis dari tadi googling ga ada yang pas di hati semua hiks)

Si Abang

Dua hari yang lalu, si abang dan si dede terpaksa menginap bersama kami, karena mamanya terpaksa kerja lembur dan baru akan pulang tengah malam. Jika dipaksakan pulang malam itu, maka akan kasihan sama abang adek ini karena pasti sangat tidak enak jika tidur terganggu. Padahal  besok pagi si dede harus sekolah, kalau si abang masih mending karena masuk siang. Malamnya si dede lumayan rewel, dia ngotot minta pulang, karena mau sama mamanya. Sementara si mama besok pagi-pagi harus berangkat kuatirnya repot jika anak-anak masih bersamanya di saat dia harus buru-buru berangkat ke kantor.

Sedih sekali melihat si dede merengek minta pulang, tapi kasihan juga sama mamanya juga si dede kalau besok pagi harus serba repot. Kebayang dong repotnya? Satu sisi si mama harus buru-buru, sementara anak-anak pasti susah bangun pagi, apalagi kalau sempat berpindah tempat tidur begitu. Jadi yah harus tega-tegain deh :(

Tadi pagi, seperti yang sudah ku duga, si dede susah dibangunkannya, sampai-sampai harus dibopong ke kamar mandi. Dan sempat menangis karena tahu mamanya engga bakal bisa nganterin dia ke sekolah pagi itu. Tangisnya reda ketika ditawari mie goreng :D Sambil makan dia bilang maunya dianterin Biuda sama Kila ke sekolah. Yes, she called me Biuda :) and she called Kila to my husband. Both are Karonese language. Tentu saja keinginannya itu sulit dikabulkan karena Biuda-nya harus stand-by jagain warnet. Dia sempat mogok tidak mau berangkat, tapi akhirnya ya nurut juga setelah dibujuk-bujuk :D Horee  …berhasil!!

Tadi sore, eh udah malam ding, sambil menyantap makan malam mereka menanyakan kok mamanya belum pulang?

Abang : kok mama blum pulang?

Biuda : iya, mama masih banyak kerjaan di kantor, bang.

Abang : jadi, nginep lagi?

Biuda: belum tau, kita lihat nanti mama bilang apa. Memangnya kenapa kalau nginep lagi bang?

Abang : gpp. *lalu dia sibuk dengan nasinya*

Biuda : emang kalau nginep di sini, abang ga senang ya?

Abang : kurang

*ga jelas karena dia cadel atau biudanya budi :D *

Biuda : kenapa bang?

Abang : kuraaang

Biuda : kenapa kurang?

Abang : *diam*

Biuda : apa karena ga ada mama?

Abang : *mengangguk sambil tersenyum*

Biuda : terdiam – sedih lagi. Duh! Kalau saja mampu membiayai kehidupan mereka tanpa mamanya harus bekerja, rasanya mau deh melakukan itu. Mungkin mamanya harus mulai memikirkan untuk membuka usaha saja, agar lebih banyak waktu di rumah bersama si abang dan dede. Jawaban “KURANG” itu tadi sangat spontan, jelas itu jawaban dari lubuk hatinya paling dalam. Itu adalah jawaban yang cerdas menurutku, akan sangat berbeda (rasanya bagiku) jika dia mengatakan TIDAK SUKA DI SINI atau kata-kata negatif lainnya.

Biuda : ya udah, kita tunggu saja sms dari mama, apakah nanti pulang atau nginep lagi ya bang?!

Abang : iya.

Makan malam usai, mereka mulai membaur dengan klien yang sedang main game, tiba-tiba sms masuk dan ternyata mamanya.

Ayo siap-siap …. mama sudah dekat mo pulang … !

Mereka berteriak kegirangan, senang akan bersama mamanya lagi.

Ah, apapun yang kita suguhkan, atau semewah apapun kehidupan yang kita berikan pada mereka, saya yakin kebahagiaan mereka hanya lengkap jika bersama ibu kandungnya. Bukan berarti mereka tidak menyayangi kami, tapi ikatan batin ibu – anak tentu tak bisa dibandingkan dengan ikatan batinnya dengan kami, walaupun kami selalu ada untuk melengkapi ketidakberadaan mamanya.

O iya, sebetulnya hari ini ada cerita tentang si dede Egi, nanti ditulis di chapter tersendiri aja deh :)