Heinz Fischer vs Obama

Pagi ini jadi mbaca berita tentang kedatangan kedua kepala negara itu. Jujur, intensitas saya nonton tipi sudah super jarang banget, jadi kalopun update berita cuma melulu dari media on line seperti detik.com atau yahoo.com. Sejak dua hari ini ya mbaca beritanya kebanyakan tentang kedatangan Obama. Dan baru tau klo ada presiden negara lain yaitu Austria yang juga berkunjung di hari yang sama dengan kedatangan Obama. Taunya juga dari status fesbuk seorang teman yang menyatakan rasa kecewanya karena  Presiden Austria seperti tidak disambut kehadirannya, padahal kedatangannya diiringi puluhan investor dari negaranya.

Kemudian jari-jari saya jahil mencari berita tentang kedatangan Presiden Austria, dan saya jadi tersenyum sendiri mengetahui hal ini. Yeah, tersenyum membayangkan bagaimana gegap gempitanya sambutan terhadap seorang Obama dan kesan yang biasa-biasa saja dalam penyambutan Presiden Austria. Yang terbayang di benak saya adalah hal-hal  yang lazim kita temui di dalam kehidupan ini. Saya kok yakin hal yang saya maksud ini pastinya terjadi juga di dalam kehidupan keseharian kita.

Setiap orang pasti punya saudara yang kaya dan miskin. Pasti juga ada kenal pejabat juga kenal sama tukang sapu. Pasti juga pernah terima undangan pernikahan yang dirayakan di gedung atau di rumah. Mari kita flash-back sejenak, dan mencoba jujur dengan diri sendiri, bagaimana sikap kita dalam menghadapi kesemuanya ini?

Khusus soal undangan pernikahan yang dirayakan di gedung atau di rumah, sudah sejak lama menjadi perhatian saya, dan saya berusaha bersikap seimbang. Maksudnya apa siy? Begini lho, pada nyadar ga, klo menghadiri undangan di gedung itu, pastinya sibuk cari baju yang lebih pantas, persiapan dandanan yang lebih ok, bila perlu sampai pinjem mobil, atau paling murah ya pesan taxi. Bagaimana jika perayaan itu di rumah? Perhatiin ga klo yangdatang berpakaian sekedarnya,datang pun pake becak ga masalah :D *itu klo deket*. Yang paling mencolok adalah ISI AMPLOP :P Kebanyakan orang yang saya kenal *ga berani bilang kebanyakan orang2* memberi nominal yang lebih besar kepada yang merayakan di gedung ketimbang yang di rumah. Ketika saya tanyakan alasannya, maka kebanyakan jawaban yang saya terima adalah karena MALU klo ngasi dikit. Parahnya lagi isi amplop itu bisa sangat njomplang lho, klo yang di rumah, masih ada tuh yang berani naro 5rb perak, katanya sing penting ikhlas. Terus bagaimana dgn yang di gedung??? Minimal 50rb lah, begitu kata mereka. WEw ….

Kembali ke soal penyambutan yang sangat berbeda terhadap kedua Presiden yang datang di saat bersamaan, yang terpikir oleh saya adalah, bagaimana bagian protokoler mengatur jadual??? Kok bisa bentrok? Ato emang ga bisa diatur di lain hari? Sesungguhnya klo udah skala antar negara begini, kok ga etis ya apabila terkesan membeda2kan seperti ini. Malu aja. Klo gini, cover does matter dong :P Popularitas seseorang pun menjadi sesuatu yang penting. Lalu bagaimana dengan etika? Bagaimana pula dengan faktor output, dalam hal ini setelah kunjungan itu, apa yang di dapat? Kabarnya Presiden Austria datang bersama rombongan investor yang artinya memang sudah berencana untuk menanam modal usaha di Indonesia, yang artinya lagi ‘mungkin’ akan membuka peluang pekerjaan yang lebih luas lagi. Lalu bagaimana dengan hadirnya Presiden USA? Sekedar kesenangan sesaat? Kunjungan romantisme, begitu yang terdengar.  Bahkan, klo saya yang jadi Presiden, saya akan tersinggung lho, waktu kunjungan yang sudah singkat itu semakin dipersingkat. Anehnya lagi, sepertinya harapan yang ditanam atas hadirnya Obama di Indonesia begitu besar. Kok para petinggi itu masih seperti anak kecil ya, yang masih bisa terlena dikasi omongan yang manis2??? Ckckck …

Ya sudahlah, makin gregetan sendiri jadinya, padahal ini toh sudah terjadi. Apalagi suara rakyat kecil, emang ada yang mau ‘reken’??? Pret!!!!!!!!!!!

Surat buat (oknum) Guru!

Kalau diibaratkan film kartun, saat ini asap mengepul di kepala saya,serta tanduknya keluar sangar. Apa pasal??? Kok tiba-tiba meradang seperti singa lapar? Iya!!! Ini meradangnya melebihi singa lapar, gegara dilaporin keponakan kalo uangnya yang segitu-gitunya dirampas seorang oknum guru yang lagi ngutip uang sumbangan Qurban.

Dasar emang gurunya engga punya empati ya! Mbok ya diteliti dulu uang siapa yang dirampas itu. Eh bu Guru, itu anak yang ibu ambil uangnya itu, sekolah aja kudu kerja lhooo, bu. Bukannya dikasi uang sama bapaknya. Mbok ya periksa dulu. Ih segitunya amat siy bu, napsu banget ngutip uang? Emangnya klo sekolahan engga Qurban kenapa????

Duh!!! Gimana siy yayasan sekolah itu kok ya nge-rekrut guru sekualitas itu??? Apa dia nganggep semua anak yang mampu bersekolah itu karena punya duit banyak???? Ckckckck ….

Anak itu, bapaknya entah di mana, dan engga pernah ngirim uang, bu!
Klo dia masih sekolah sampai hari ini, itu karena dia kerja part-time.
Hasilnya ya buat mbayar uang SPP, dan fotokopi bahan pelajaran yang setiap hari ada aja.
Dia juga harus pandai-pandai mengatur keuangannya dari uang yang dia terima 10rb setiap harinya. Uang segitu ya buat ongkos, jajan, fotokopi-an, nah kalo ada sisanya baru deh buat mbayar-mbayar pungutan yang ndadak seperti pungutan perayaan Qurban ini.

Jadi tolong ya bu, klo engga mau darah saya terus mendidih, dan akhirnya saya menulis keluhan ini di media dengan mencantumkan nama sekolahnya secara lengkap dan jelas, tolong deh kembaliin tuh duit.

Klo sampai dianggap tuh anak berdosa karena engga ikut mbayar iuran Qurban, masukin aja sekalian nama saya sebagai pendosa nemenin dia. Dia anak seorang muallaf bu, jangan buat persepsi tentang Islam juga semakin buruk gegara iuran Qurban ini.

WTF dah pokoknya buat ibu. OK!!!!

P-H-K

Tadi malam aku kesal sekali. Karyawan baru itu, lagi-lagi masih anteng on line. Bukannya istirahat dan tidur :( Padahal baru seminggu kerja di sini, sudah 2x dia bangun siang. Iya, bangun siang sodara-sodara. Jam SEMBILAN baru bangun. Hebat ‘kan? Di saat semua sudah bersih dan rapi, baru deh dia bangun. Manteb kan?

Sewaktu bangun siang yang pertama, dan saya sengaja mendiamkan dan tak membangunkannya, ketika terbangun dia langsung bilang maaf kesiangan. Saya bilang, ok, lain kali bangun lebih pagi ya. Tapi melihat pola tidurnya seperti itu – jam 1-2 masih melek – mana mungkin bisa bangun pagi siy??? Dan kemarin dong yang manteb, hari Minggu bangunnya siang, dan katanya dia sakit kepala minta obat. Terus sarapan deh. Manteb banget!!! Di saat orang lain yang udah berpeluh-peluh aja blom sarapan ckckckck …

Itulah sebabnya tadi malam, ketika ku lihat dia masih anteng, langsung aja aku bilang, kok blom istirahat? Besok ga bisa bangun pagi lho. Tapi ga ditanggepin dong. Bikin makin dongkol aja. Ngadu ke suami, responnya cuma begini : biarin deh, besok tanyain apa niat kerja ato mo numpang on line gratis doank di sini. Hhhh …………

Dipikir-pikir niy orangnya kerjanya sama sekali ga beres deh. Bukan cuma masalah bangun tidur, inisiatif kerja juga sangat teramat kurang. Mesti kayak sapi kudu dilecut pantatnya baru bergerak, padahal katanya sudah pernah kerja???? Di saat jam kerja itu sibuk sendiri sama HP nya, paling sering ya SMS-an. Ngetik kaga becus, katanya bisa nge-patch game, eh boong. Ampooon dah ..

Hari ini jam segini, 7:33 dia masih mendengkur pulas, di saat mana saya sudah mengambil keputusan akan memberhentikan dia dan menyuruhnya pulang ke rumahnya. Ya, PHK! Itu lebih baik, ketimbang bikin suasana di sini jadi panas, membuat yang lain merasa tak nyaman. Daripada menyimpan duri lama-lama, mendingan cepet dicabut dah dari sekarang, biar cepet cari gantinya.

BT BT BT …. (bukan Birahi Tinggi ini hehehe)

Rasa Cemburuku dan Marissa

Gegara kemarin ramai soal blognya Marissa Haque, jadi penasaran juga mbaca apa siy isi blognya itu. Blog yang padat itu pun akhirnya dilahap dalam sekejap, dan sejenak berpikir seandainya sendiri di posisi Marissa, kira-kira apa yang saya lakukan ya? Pastinya siy tidak mungkin memendam rasa, tapi pastinya juga saya tidak akan menghakimi orang lain, dalam hal ini saya melihat ‘kurang pas’ jika Marissa mengkritisi cara berpakaian Memes & Mama Ina. Maafkan saya, Marissa, kita boleh sama-sama perempuan, tapi boleh dong beda pendapat?! Walau saya tau, dalam keadaan emosi, pendapat orang lain menjadi tak penting, apalagi Marissa toh tak mungkin nyangsang ke blog saya ini kan hehehe

Kenapa saya bilang ‘kurang pas’? Tentu ada alasannya sehingga saya berani mengatakan seperti itu. Saya mengibaratkan masalah ini seperti masalah orang tua – anak – pergaulan; jika anaknya jadi males sekolah/bolos dan ditemukan nongkrong di warnet, terus yang diamuk siapa??? Anak? Atau warnet? *ini pengalaman pribadi banget dah pokoknya*. Kebanyakan para orang tua menyalahkan warnet KENAPA membiarkan anaknya nge-net jam segitu. Hla? Padahal ketika kita tanya kok datang jam segitu, jawabnya masuk siang. Terus???? Apalagi yang bisa kami lakukan coba? Masak iya anaknya kami usir dan tidak memperbolehkan masuk?  Bagaimana jika memang itu anak masuk siang, dan harus pergi karena orang rumah juga pada pergi? Kami juga menemukan kasus yang seperti ini, orang tua menitipkan anaknya sambil menunggu datangnya jam sekolah, karena mereka ada keperluan sehingga tidak ada orang di rumah yang akan mengurus mereka di saat harus berangkat sekolah.

Hal-nya Marissa, menurut hemat saya, mestinya ya nyecer suaminya agar bisa menjaga mata dan hatinya. Kita toh tidak bisa melarang /mengatur orang lain untuk kepentingan kita. Justru kita harus tawadhu, menerima orang lain apa pun adanya, seperti kita juga pastinya mengharapkan orang lain menerima kita seperti apa adanya kita. Siapa Marissa sehingga merasa boleh mengumbar kata-kata yang sangat tidak pantas untuk orang yang punya pendidikan tinggi seperti dia. Doktor ‘kan? Atau tingkat intelektualitas seseorang tidak bisa dikaitkan jika emosi sudah berbicara??? Bisa jadi! *klo saya siy boleh lah kyk gitu, wong SMA aja ga tamat LOL*

Jujur saya juga pastinya pernah dibakar cemburu, padahal pernikahan ini baru seumur jagung. *eh klo jagung mah udah 2x panen ya? :P * Nistanya saya cemburu pada orang yang mengumbar kata kangen untuk suamiku, yang notabene mereka pun belum pernah bertemu, hanya saja mereka diakrabkan di dunia maya dan entah apa yang pernah mereka bahas di masa lalu dan mungkin saja belum tuntas sehingga si perempuan merasa masih boleh mengharapkan sambutan hangat dari suamiku. Bisa jadi apa yang saya lakukan padanya akan menuai kritik *Ge eR*, karena setelah beberapa kali saya menemukan jejak perempuan ini, maka saya berinisiatif untuk ‘mencegatnya’ satu hari nanti.

Sehingga, ketika satu hari percakapan itu dimulai, maka apa yang menjadi kecurigaan saya selama ini menjadi terbukti. Iya, selama ini saya bilang kepada suami bahwa jika perempuan ini masih mencoba mencarimu maka itu berarti dia masih mengharapkanmu. Tapi suami selalu dengan enteng bilang: “ga usah su’udzon sama orang lain.” Hhhh… enak aja ngomong begitu, feeling seorang istri mana bisa salah siy. Haqul yaqin perempuan ini masih memendam rasa, terserah mau bilang itu su’udzon atau apa. Dan hari itu, percakapan di antara kami – aku dan perempuan itu – yang cuma sebentar itu, menjawab tanya yang menanti jawaban sekian lama.

Cukup satu kata yang terketik *bukan terucap lho ya* – KANGEN – begitu katanya. Dan saya menyahuti dia dengan kalimat ini.

“Jika satu hari nanti kamu menikah, dan ada perempuan yang mengatakan KANGEN pada suamimu, bagaimana perasaanmu?”

Butuh beberapa saat baru dia menjawab :

“Maaf, cuma becanda kok.”

Tidak lama dia pamit karena ada urusan katanya. Dia pergi meninggalkan saya yang keringat dingin menahan emosi. Emosi karena analisa saya selama ini bukan semata-mata su’udzon. Dan saya lega karena saya tidak cemburu buta. Sejak saya tau kisah perempuan ini, perempuan yang kata suami saya berani memintanya untuk menjadi suaminya, tapi entah dengan pertimbangan apa suami malah memilih menjadikan saya sebagai istrinya dalam waktu yang sangat singkat, saya yakini pasti menimbulkan rasa tidak percaya di hati perempuan itu. Sulit memang mempercayai betapa kilatnya proses pernikahan kami, sehingga wajar pula jika perempuan itu masih mencoba mencari tau langsung – apa gerangan yang terjadi dengan pujaan hatinya.

Kembali soal Marissa, saya dapat merasakan bagaimana api cemburu membakar hati dan akal sehatnya. Wong saya yang ‘cuma’ begitu saja langsung mendidih di ruang ber-ac ini. Tulisan ini pun bukan sebagai tanda simpati pada Memes/Mama Ina, tapi justru saya bersimpati pada Marissa, sekaligus kasihan. Kasihan karena dia lepas kontrol, kata-kata yang sudah terketik itu seperti ludah yang sudah dilepeh, tidak mungkin dijilat lagi.  Api cemburu itu benar-benar memberangus akal sehat Marissa, sehingga dia mengumbar amarah yang bisa jadi tak ingin dia umbar pada sang suami. Atau malah mungkin amarah itu sudah diumbar tapi suaminya santai saja alias menanggapi dengan enteng? Hehehe…kalo benar suaminya santai saja, bisa jadi itu pemicu tulisan itu muncul.

Bagaimanapun saya, karena dari dulu sudah ditanamkan oleh orang tua, bahwa jika muka sendiri yang buruk, jangan kaca yang dibelah. Jika keluarga sendiri yang berulah, ga perlu deh nyecer orang lain. Ga perlu mencari kambing hitam. Ga perlu menuding telunjuk ke muka orang lain. Cobalah introspeksi ke dalam. Dalam halnya Marissa, bicarakan dengan suami, bisa jadi telanjang pun seorang perempuan sang suami sudah tidak tergoda??? Siapa tau! Tapi membaca blog Marissa, saya kok malah terpikir jangan-jangan ledakan di blog itu merupakan klimaks dari rasa yang terpendam sekian puluh tahun??? Wallahu’alambissawab!

Kasus Marissa menjadi pelajaran berharga buat saya, juga menjadi pengingat buat saya, naudzubillah, jika kurang lebih mengalami kasus serupa, maka semoga saja bisa menahan diri, dan saya tak perlu heboh mencari kambing hitam.

Doakan saya ya temans :)

Oleh-oleh blogwalking

Pagi ini secara tidak biasa, sempat blogwalking ke blog Brad, Dhodie, dan Priyadi. Kok bisa nyangsang ke sana? :D Mari kita tanya kepada yang menguasai Hidup hehehe … Tulisan ini  pagi ini pun jadi berubah topik. Lebih kuat perasaan menulis tentang pengalaman blogwalking singkat barusan. Mampir ke blog-nya om Brad pun karena rasa penasaran, siapa ya orang ini, kok rajin ke blog aku, asli lupa bagaimana bisa terkoneksi dengannya. *blushing* Maafkan saya ya om Brad!

Setelah membaca beberapa tulisan di blog om Brad, jadi tertarik nge-klik blognya Dhodie tentang gerakan agar PriyadiNgeBlogLagi. Dari situ, jadi pengen tau juga apa isi tulisan perdananya mas Pri. Berhenti di situ. Dan saya pun tercenung, betapa mengharukannya hubungan personal antar blogger. Saya, jujur belum merasakan kedekatan yang sedemikian itu dengan blogger se-Indonesia. Hal ini semata-mata karena saya memang tidak/kurang aktif blogwalking. Mungkin mulai saat ini, saya harus menyediakan waktu khusus buat blogwalking untuk menjalin hubungan sosial dengan para blogger lainnya. Mungkin, karena belum tentu juga saya mampu melaksanakan keinginan yang baik ini, karena bermacam alasan.

Dari hasil blogwalking tadi, ada satu kalimat yang membekas dan saya rasa patut untuk saya quote juga di sini, agar dapat menjadi pengingat bagi saya untuk terus menulis, dalam keadaan apapun, tanpa berusaha mencari alasan jika tidak melahirkan sepotong postingan pun.

“Menulislah dari hatimu, sesederhana apapun bentuk dan isinya, ia akan sampai pada hati pembacamu.” – Dodi Mulyana.

Seperti blogger lainnya yang juga pernah vakum nge-blog, maka berikut ini adalah respon yang seringkali terucap.

“lagi stuck, ga tau mo nulis apaan.”

“males nulis, ga mood. padahal ide lagi banyak niy.”

Kalau saya, alasannya terkadang lebih norak lagi :D “malu ah mo nulis, tar dibaca orang jadi gimana gitu hiks …” Ge eR banget ‘kan? Padahal siapa juga yang mau mbaca tulisannya hahaha …

Bagaimanapun, saya senang menuntaskan tulisan ini, karena dengan adanya tulisan ini berarti saya sudah menunaikan tugas menulis hari ini :D

Bagaimana dengan anda?

Sepenggal Kisah Nyari Karyawan

Setelah Lebaran kemarin, setelah karyawan ‘teladan’ itu berhenti, kami mulai dong hunting karyawan penggantinya. Dan sampai hari ini kira-kira ada deh sepuluh orang yang diwawancarai. Wawancara informal biasanya dilakukan via YM, dengan pertimbangan ini kan Jakarta, di mana-mana macet, jadi ga ada salahnya dong mempermudah pihak pelamar.  Apalagi kalau si pelamar berdomisili di luar Jakarta, kasihan aja kalau harus merogoh kocek untuk panggilan wawancara. Walaupun saya tau juga bahwa banyak kok orang yang bela-belain datang ke kota tempat di mana dia akan mendapatkan pekerjaan. \

Kira-kira dari sepuluh orang yang diwawancara, sebagiannya memang tidak lolos seleksi. Ada yang tidak diteruskan ke wawancara kedua karena hobinya nge-game; ada pula yang karena kualifikasinya di bawah standard yaitu tidak familiar dengan Microsoft Office. Nah, bagaimana dengan yang sudah ada kecocokan?

Ada seorang pelamar yang mencantumkan alamatnya di Bekasi, tapi ketika diwawancara katanya sedang pulang kampung karena mau urus SIM/KTP yang sudah kadaluarsa. Ketika ditanya kapan paling cepat bisa sampai di Jakarta, kira-kira minggu depan, begitu jawabnya. Tungu punya tunggu, seminggu yang dia janjikan lewat, tentu saja saya berusaha menghubungi orang ini dong. Berulang kali sms tapi kok tidak dibalas??? Akhirnya, ditelponlah yang bersangkutan. Nah??? Kenapa ga bisa? Kata si veronica nomor yang dihubungi tidak aktif lagi. Nah lo???? Kata suami bersangka baik, mungkinkah hp-nya hilang??? Woot…………..

Cerita dari pelamar yang kedua, begini. Alkisah dia seorang bapak beranak satu. Juga mencantumkan domisili di Pd.Gede, Bekasi. Ketika diwawancara mengaku ada di Banjarnegara, kampung istrinya. Katanya terpaksa pulang kampung karena belum dapat kerjaan lagi di Jakarta. Dia tamatan SMP, yang agak bikin hati saya mengkeret. Tapi suami berusaha membesarkan hati saya untuk tetap mencoba orang ini melihat catatan tentang kemampuan dia. Dia bilang dia bisa Corel, PhotoShop, dan lain sebagainya. Ok banget dong untuk ukuran orang yang cuma tamat SMP. Dalam percakapan di YM sore itu, sudah bicara masalah gaji dan lain sebagainya, tapi mengingat pengalaman tidak mengenakkan sebelumnya, saya berusaha mengakhiri pembicaraan sore itu tanpa keputusan. SAya bilang, nanti saya kabari anda besok siang jika kami menerima anda.

Karena kesibukan terlupakanlah soal berkirim kabar kepada calon karyawan itu. Dan ngeuh lagi ketika dia sms menanyakan apakah dia diterima bekerja di sini? Biasanya kalau begini, sinyalnya positif, yaitu si calon memang butuh pekerjaan. Bukan begitu? Sehingga saya dan suami memutuskan menerima orang ini, dan dia bilang siap berada di Jakarta Kamis sore. Lega! Senang! Karena mulai besok sudah ada tenaga bantuan.

Tapi apa yang terjadi? Sore menjelang sebuah SMS masuk dan bunyinya begini :

“Mas, saya minta maaf, saya tidak jadi bekerja di Jakarta, karena sudah dapat kerjaan di sini, lebih dekat dengan keluarga.”

Haiyaaaaaaahhhhhhhhh…………….. apalagi ini???? Arrrgghhhh…………

Ya sudah, kita toh engga bisa maksa orang untuk bekerja dengan kita kan? Saatnya berburu karyawan lagi berarti saatnya ngubek2 www.warnetforum.com lagi. Kalau tadinya cuma menghubungi orang-orang yang datanya masuk di bulan September-Oktober, akhirnya menjelajah juga ke bulan-bulan yang sudah lewat jauh. Beberapa orang di sms dan di email.

Seorang perempuan merespon dengan mengirimkan CV nya ke email. Lalu janjian untuk wawancara via YM (lagi!). Selesai wawancara, sudah disepakati dia akan datang untuk di tes keesokan harinya. Saya kembali bersemangat, karena memang kualifikasinya OK banget, katanya dia dulu pernah kerja di warnet yang tugasnya mendata stok barang jualan, ngetik2, bersih2, benerin komputer juga bisa. Keren kan? Tapi apa pula yang terjadi? Sekitar 30 menit dari waktu tes yang disepakati, saya sms dia menanyakan keberadaannya karena saya takut dia nyasar. Apa jawabnya?

“Maaf pak, saya tidak jadi bekerja di warnet Bapak, karena saya tidak boleh keluar dari tempat kerja saya yang sekarang.”

What??? Padahal kemarin, begini kira-kira percakapan saya dengan dia.

S : Jika kamu diterima bekerja di sini, kira-kira kapan kamu bisa mulai kerja ya?

CK: Lusa juga bisa pak.

S : Yang bener??? Apa  tidak masalah dengan perusahaan yang sekarang?

CK: Gpp pak, kan saya memang sudah mau keluar.

S : Tapi itu tidak baik lho,  sebaiknya kalau mau keluar ya baik-baik jangan main keluar begitu aja.

CK: Gpp pak.

S: Ya sudah kalau begitu, kamu yang paling tau kondisi perusahaan yang sekarang. Jadi saya tunggu besok ya.

Begitulah, bikin shocked kan???

Saya pun tercenung. Ada apa ini? Kok pada menolak / membatalkan di saat last minute?? Lalu saya ingat-ingat lagi pembicaraan antara saya dan para pelamar itu, dan saya kok terpikir pada hal ini, bahwa sepertinya mereka tidak happy ketika saya beritahukan bahwa pekerjaan mereka pure ngurusin bersih2, mbantuin klien, dan berbaik2 dengan kompi2 itu. Itu artinya mereka tidak akan duduk di meja kasir. Karena dengan jelas saya katakan bahwa saya sudah ada orang yang njagain meja kasir, kecuali mereka kena shift malam, baru deh mereka bekerja merangkap kasir. Tapi untuk 3bulan pertama saya tidak akan menempatkan mereka untuk shift malam dulu. Mungkinkah analisa saya ini benar? Wallahu’alam …

Dan kemarin, seorang kenalan ngasi tau klo ada orang yang mau melamar. Ketika bertemu dengan orangnya, tidak feeling so good siy, biasa aja. Bener aja, langsung ilfil ketika dia bilang begini :

“Bu, saya maunya kerja 8jam, karena 8jam lagi mau saya pakai istirahat, dan sisanya untuk rekreasi.”

Ngelus dada. Asli. Saya aja udah berapa bulan ini engga sempat rekreasi. Masih untung bisa istirahat. Tapi saya masih menjawab begini.

“Ok mas, terus untuk 8jam kerja itu, mas mau dibayar berapa?”

“Ya ikutin aturan sini aja bu.”

“Jangan begitu mas, setiap orang kan pastinya punya standard berapa kira2 yang dia mau hasilkan dari tenaga yang dia keluarkan. Jadi mas minta berapa?”

“Hmm … gimana klo 800rb bu?”

“Itu all in mas?”

“Iya bu.”

“Ya udah, akan saya bicarakan dengan si Om, nanti kami kabari kalau kami memang mau menerima mas bekerja di sini ya.”

” Baik bu.”

Tadi siang saya sms orang ini dan bilang kalau dia diterima bekerja di sini. Eh dibales begini :

“Saya dapat makan ya bu?”

Gubrak!! Langsung malessss…………
Dia sendiri yang nentuin gajinya, udah bilang all in pula, kok masih nawar??? Jadi BT.

Dan sampai barusan, dia berusaha  nelpon saya kadung ilfil, engga saya angkat. Biarin deh, klo dia datang besok pagi, ya berarti dia kerja di sini, klo ga, ya sudah cari orang lagi aja.

Tersisa satu orang, sebetulnya karena satu hal, suami tidak mau memilih orang ini, tapi karena kelangkaan orang, saya tetap  jalan wawancarain orang ini. Bahkan dia cukup proaktif menanyakan apakah dia diterima atau tidak. Tadi sore dia datang untuk dites. Ketika saya tanya bagaimana kesan pertamanya, jawabnya Ok, menyenangkan tempat kerjanya. Lega. Katanya siy baru bisa mulai kerja lusa, itu artinya hari Rabu. Ya sudahlah tidak apa-apa, yang penting dia serius mau kerja. Semoga saja tidak ada perubahan, semoga!

Ada yang mau bantu doa? :D