Pagi ini jadi mbaca berita tentang kedatangan kedua kepala negara itu. Jujur, intensitas saya nonton tipi sudah super jarang banget, jadi kalopun update berita cuma melulu dari media on line seperti detik.com atau yahoo.com. Sejak dua hari ini ya mbaca beritanya kebanyakan tentang kedatangan Obama. Dan baru tau klo ada presiden negara lain yaitu Austria yang juga berkunjung di hari yang sama dengan kedatangan Obama. Taunya juga dari status fesbuk seorang teman yang menyatakan rasa kecewanya karena Presiden Austria seperti tidak disambut kehadirannya, padahal kedatangannya diiringi puluhan investor dari negaranya.
Kemudian jari-jari saya jahil mencari berita tentang kedatangan Presiden Austria, dan saya jadi tersenyum sendiri mengetahui hal ini. Yeah, tersenyum membayangkan bagaimana gegap gempitanya sambutan terhadap seorang Obama dan kesan yang biasa-biasa saja dalam penyambutan Presiden Austria. Yang terbayang di benak saya adalah hal-hal yang lazim kita temui di dalam kehidupan ini. Saya kok yakin hal yang saya maksud ini pastinya terjadi juga di dalam kehidupan keseharian kita.
Setiap orang pasti punya saudara yang kaya dan miskin. Pasti juga ada kenal pejabat juga kenal sama tukang sapu. Pasti juga pernah terima undangan pernikahan yang dirayakan di gedung atau di rumah. Mari kita flash-back sejenak, dan mencoba jujur dengan diri sendiri, bagaimana sikap kita dalam menghadapi kesemuanya ini?
Khusus soal undangan pernikahan yang dirayakan di gedung atau di rumah, sudah sejak lama menjadi perhatian saya, dan saya berusaha bersikap seimbang. Maksudnya apa siy? Begini lho, pada nyadar ga, klo menghadiri undangan di gedung itu, pastinya sibuk cari baju yang lebih pantas, persiapan dandanan yang lebih ok, bila perlu sampai pinjem mobil, atau paling murah ya pesan taxi. Bagaimana jika perayaan itu di rumah? Perhatiin ga klo yangdatang berpakaian sekedarnya,datang pun pake becak ga masalah
*itu klo deket*. Yang paling mencolok adalah ISI AMPLOP
Kebanyakan orang yang saya kenal *ga berani bilang kebanyakan orang2* memberi nominal yang lebih besar kepada yang merayakan di gedung ketimbang yang di rumah. Ketika saya tanyakan alasannya, maka kebanyakan jawaban yang saya terima adalah karena MALU klo ngasi dikit. Parahnya lagi isi amplop itu bisa sangat njomplang lho, klo yang di rumah, masih ada tuh yang berani naro 5rb perak, katanya sing penting ikhlas. Terus bagaimana dgn yang di gedung??? Minimal 50rb lah, begitu kata mereka. WEw ….
Kembali ke soal penyambutan yang sangat berbeda terhadap kedua Presiden yang datang di saat bersamaan, yang terpikir oleh saya adalah, bagaimana bagian protokoler mengatur jadual??? Kok bisa bentrok? Ato emang ga bisa diatur di lain hari? Sesungguhnya klo udah skala antar negara begini, kok ga etis ya apabila terkesan membeda2kan seperti ini. Malu aja. Klo gini, cover does matter dong
Popularitas seseorang pun menjadi sesuatu yang penting. Lalu bagaimana dengan etika? Bagaimana pula dengan faktor output, dalam hal ini setelah kunjungan itu, apa yang di dapat? Kabarnya Presiden Austria datang bersama rombongan investor yang artinya memang sudah berencana untuk menanam modal usaha di Indonesia, yang artinya lagi ‘mungkin’ akan membuka peluang pekerjaan yang lebih luas lagi. Lalu bagaimana dengan hadirnya Presiden USA? Sekedar kesenangan sesaat? Kunjungan romantisme, begitu yang terdengar. Bahkan, klo saya yang jadi Presiden, saya akan tersinggung lho, waktu kunjungan yang sudah singkat itu semakin dipersingkat. Anehnya lagi, sepertinya harapan yang ditanam atas hadirnya Obama di Indonesia begitu besar. Kok para petinggi itu masih seperti anak kecil ya, yang masih bisa terlena dikasi omongan yang manis2??? Ckckck …
Ya sudahlah, makin gregetan sendiri jadinya, padahal ini toh sudah terjadi. Apalagi suara rakyat kecil, emang ada yang mau ‘reken’??? Pret!!!!!!!!!!!