Bersusah-susah dahulu …

Pernikahanku yang sudah memasuki tahun ke-2 ini masih sepi-sepi saja. Segala sesuatunya masih dikerjakan berdua saja. Hanya di waktu-waktu tertentu harus ngemong keponakan yang ditinggal ibunya bekerja. Seperti beberapa bulan terakhir ini, dikarenakan rewangnya engga balik lagi, jadi kebagian tugas jemput si ragil pulang sekolah dan ngemong sampai nanti ibunya jemput lagi di sore hari.

Usaha untuk mendapatkan momongan memang tidak kami lakukan secara ngoyo. Semoga saja ini merupakan ucapan tulus dari suami bahwa seandainya pun tidak diberi momongan, toh kita masih punya para keponakan yang perlu diperhatikan. Alhamdulillah, dan ga kebayang akan seperti apa kalau suami bersikap sebaliknya. Gegara masih belum membuahkan hasil ini, sering pula menjadi topik yang sepertinya wajib dibahas antar para ibu, terutama ibu-ibu yang bernasib sama. Dan yang dibahaspun pasti seputar penyebab belum hamil, makanan yang wajib dan forbidden untuk dikonsumsi.

Secara umum pasti sudah pada tau klo toge merupakan sayuran yang super wajib untuk dikonsumsi. Nah, yang ini yang paling menyedihkan, yaitu ketika harus membahas makanan / sayuran yang forbidden untuk dikonsumsi, terutama bagi para ibu yang katanya mungkin belum hamil dikarenakan keputihan. Mau tau apa aja? Katanya siy engga boleh makan SAWI, KOL, TIMUN, NANAS.

Baiklah, berusaha keras untuk selalu ingat menghindari 4jenis sayuran/buah itu. Terutama sawi, susah, karena klo makan mie ayam/mie rebus pastinya enak tuh klo dikasi sawi ‘kan? Tapi ga pa pa deh, demi calon buah hati. Belakangan, ketemu lagi seorang ibu dan ngasi tau untuk stop makan TELOR dan MIE. Waduh!!! Sumpah, ini yang susah banget. Soale aku itu penggemar telor banget. Klo saja tadi yang disuruh stop itu daging, pasti dengan senang hati aku terima. Tapi TELOR???? My God!!! Dan mie???? Padahal bersama suami kami paling rajin hunting mie ayam yang enak di mana saja. Bagaimana ini???

Sekali lagi, baiklah, aku turuti. Alhamdulillah bisa dijalani, dan semoga bisa bertahan sampai si keputihan benar2 pergi dan si jabang lahir muncul. Perlu bikin dead-line ga yah? Hmm … Jalani dulu aja deh, liat kuatnya sampai di mana.

Jadi, buat anakku yang suatu hari nanti lahir ke dunia ini, jika kamu baca tulisan ini, maka kamu tau bahwa untuk menghadirkanmu pun kami (terutama aku – ibumu) harus menderita – iya, menurutku ini penderitaan, tapi ikhlas seikhlas-ikhlasnya :) wlo sesekali cemberut juga kalo suami/ponakan dengan enaknya makan mie di depanku huhuhu …

Semoga saja ga ada pantangan susulan setelah 7 jenis makanan itu tadi :P

TOILET TIME

Wait!!! Jangan tertawakan judul ini, karena bisa jadi judul ini sepele, apalagi yang memvonis topik ini jorok :P tapi apakah anda pernah memperhatikannya dengan seksama :P

Saya, hampir selalu terbangun karena kebelet vivis, dan hampir selalu pula saya sengaja minum yang banyak sebelum tidur agar nanti pagi ‘dipaksa’ bangun, karena tidak mungkin ‘ngompol’ toh?  *grin* Atau kalau ketika mau tidur terasa mau vivis, sengaja dibiarkan dan tidak dirasa-rasa agar nanti bisa bangun cepat. Jadi menurut saya, cara ini cukup ampuh untuk bisa bikin cepat bangun atau tidur tidak terlalu. (Hidup cuma sebentar ini sayang banget ‘kan klo cuma dihabiskan buat tidur hehehe). Bagi yang tidak percaya, silahkan mencoba, tidak berbahaya kok *hahaha*

Kembali ke cerita tentang pagi ini. Terbangun pagi karena mau vivis, hajat pun sudah ditunaikan. Berarti toilet time babak satu tuntas. Biasanya pula ga akan bisa tidur lagi, so?  Tujuan selanjutnya? Duduk di depan PC. Baru itungan detik, kok berasa mules ya.  Let’s go! Toilet time sesi kedua pun dimulai. Seperti biasa pula, diyakini pasti banyak teman mengalami hal ini, bahwa alam pikiran mengembara dengan bebas ketika melakukan hajat yang satu ini. Tak jarang pula ide-ide kreatif nan jitu justru muncul di saat-saat seperti ini. Entah kenapa kok bisa begitu, tapi ya ini faktanya, mungkin perlu juga diteliti biar lebih akurat hasilnya *grin*

Toilet time sesi kedua selesai, lega pastinya :D Sudah boleh memulai aktivitas hari ini? Eits … ternyata belum. Ketika proses serah terima dengan pekerja shift malam, kok terasa mules lagi ya. Dan rasanya lebih mules dari sesi kedua tadi. Ngibrit lari ke toilet, dan itu artinya toilet time sesi ketiga dimulai. Hahaha … Dan pada sesi ketiga inilah ide menulis tentang TOILET TIME ini muncul, nah, bener ‘kan, klo ide kreatif itu muncul di saat-saat seperti ini *grin* Di saat seperti ini pulalah saya jadi memikirkan berapa banyak waktu yang terbuang khusus untuk menunaikan TOILET TIME ini. Ckckckck …

Ketiga sesi ini terjadi bukan karena kondisi badan yang tidak fit, tapi memang begitulah siklus kehidupan saya. Dan saat ini, semua masih berjalan lancar, semoga saja tidak ada toilet time sesi ke-empat di beberapa menit ke depan, karena jika itu yang terjadi, berarti saya perlu memastikan apakah kesehatan saya baik-baik saja hari ini?! :P

Tulisan ga penting ini bisa bikin saya tersenyum dan ketawa geli sendiri, gimana dengan teman2? :P

Weekend Kelabu

Minggu kemarin semestinya ada beberapa agenda yang wajib ditunaikan, apalagi sudah dirancang sejak dua minggu sebelumnya. Agenda permak wajah di N*****a setiap dua minggu sekali, dan setelahnya janji nonton maraton bersama Jeng Devi. Bahkan rencana nonton kali ini sudah cukup matang dengan menentukan pilihan pada film Eat Pray Love dan Life as We Know It.  Tapi apa yang terjadi??

Hari Sabtu siang body sudah mulai agak-agak ga enak gitu, tapi masih terus beraktivitas seperti biasa. Sok super woman deh pokoknya :D Menjelang sore sudah mulai limbung, mual tak tertahankan. Bolak balik ke toilet, rasanya kok mau BAB, tapi setiap ke toilet malah tidak bereaksi apapun :( Cape deeehhh …. Mau tiduran, tapi ga tega ninggalin karyawan baru sendirian, sementara keponakan yang semestinya membantu, masih tidur setelah begadang di malam sabtu, dan rencananya malam ini dia juga yang akan standby.

Semakin ditahan semakin meradang, akhirnya telpon suami biar segera pulang. Iya, saat itu suami lagi mantau warnet bapak yang baru mau dibuka minggu depan. Sempat ngambek juga karena suami lama datangnya, padahal sakitnya udah ga ketulungan :( Sebelum suami datang, sempak huek huek tapi yang keluar cuma angin duanjk. Sore itu jadinya dikerokin aja sama my lovely-maid, berharap siy seperti biasa abis dikerokin pasti mendingan, apalagi bisa tidur sejenak.

Terbangun dari tidur yang sebentar itu, langsung cari suami, lho kok ga ada? Kata keponakan udah pergi lagi, sebentar katanya. Hiks … tega nian :( sekali lagi sms suami biar pulang, soalnya walau sudah dikerokin kok kali ini engga langsung mendingan yaaa … adoooh … yang kepikiran mah gimana dengan rencana hari Minggu itu :( Rasa mual yang semakin mendera, akhirnya bisa dituntaskan tas tas tas. Tenggorokan sakit, badan jadi lunglai, untungnya ada suami mendampingi. Seperti biasa, kalau sudah seperti ini pastinya lebih manjur kalau dipijit suami, dan betul saja, hampir bisa tertidur lagi, kalau saja listrik tidak mati.

Yep, ini cobaan yang lain lagi. Listrik padam, padam lokal saja. Tadinya siy mau ganti mcb karena AC ga nyala. Kebayang dong ruangan ini panasnya seperti apa? apalagi ini malam minggu, pasti ramai yang begadang. Kata teknisinya tidak sengaja nyenggol mcb utama. Nah lo! Nungguin teknisi lain datang ternyata butuh 1jam sampai listrik nyala lagi. HUaaaa…. untungnya pelanggan KBS itu setia2 semua lho, ga kebayang klo pada langsung pula :(

Alhamdulillah, malam itu yang begadang full atas bawah. Semua klien sudah duduk manis, tapi kok ini perut keroncongan??? Baru inget kalau belum makan, setelah semua dikeluarkan tadi. Suami nawarin kebab atau pecel ayam, tapi ngotot minta dianterin nyari buryam. Suami pesimis masih ada buryam karena saat itu sudah lewat jam 11 malam. Tapi tau aja klo ga dianterin, istrinya bakal ngambek berat :P Buryam pertama yang dituju yang mangkal di Gorontalo, rasanya enak dan gurih. Keberuntungan masih berpihak padaku, karena sampai di sana buryamnya masih ada walau sudah tidak terlalu panas lagi. Satu mangkok kandas, alhamdulillah.

Sepanjang perjalanan pulang berdua ngobrolin rencana pemasangan wireless di warnet bapak dan warnet kami sendiri. Baru setengah perjalanan eh musibah lain datang. Tiba-tiba entah bagaimana kecelakaan itu terjadi. Alhamdulillah masih dilindungi, karena biasanya kalau kecelakaan motor itu yang paling parah biasanya yang dibonceng, tapi ini aku malah tidak apa-apa, cuma luka kecil tak berarti di pergelangan kaki. Thanks Lord! Malah suami yang parah, tangan kanannya lecet dan jari tengahnya bengkak, begitu juga jari kakinya. Belum lagi kerusakan pada motor, masak engkolnya bisa bengkok ke dalam gitu???

Sementara si penabrak terkapar ditindih motornya, dia sempat ngotot merasa tidak salah. Malam itu aku pun tidak ada napsu untuk bertengkar, sibuk mensyukuri karena kami dilindungi sedemikian rupa. Aku yang terguling ke tanah, malah ditinggal suami yang langsung nyamperin si penabrak yang tertindih motornya. Warga sekitar yang lagi nongkrong nyamperin aku, dan menanyakan keadaanku sambil membantuku berdiri. Warga juga yang langsung menengahi agar kejadian itu tidak usah diperpanjang.

Ya sudahlah, yang penting masih selamat. Kami beranjak pulang, dan yang dituju langsung rumah bapak untuk mendapatkan pertolongan pertama. Suami yang kesakitan berjuang keras agar bisa selamat sampai di rumah bapak. Begitu sampai di rumah Bapak, eh suami kok malah muntah-muntah. Keluar deh semua :( Sepertinya itu efek kaget plus karena tadi memijiti aku, dan anginnya pindah ke dia semua. Wah, adil banget ya :D malam itu kami berdua mengalami hal yang sama, yaitu muntah bersama *grin*

Malam itu kami pulang naik becak dari rumah bapak, ini kali pertama naik becak sejak kami menikah. Romantis juga *blushing* Jadi pengen becak-an di Jogja, pasti lebih kerasa romantismenya … tapi  hmm … kapan ya?! Dalam perjalanan aku tanya, apakah besok tetep bisa pergi?? Jawabnya : pergi aja klo ga sayang sama suami. Huaaa… telak banget siy jawabannya. Hiks …

Minggu pagi, ada sms dari Devy, nanyain soal janji hari itu. Terpaksalah dibatalkan, daripada dianggap tidak sayang suami, iya toh? :P Emang ya suaminya ogo-an, tapi ya sudahlah, masih ada minggu depan. Semoga aja minggu depan ga ada halangan apapun lagi deh.

Sungguh bukan weekend seperti ini yang diharapkan setiap orang, tapi tak ada yang bisa kita perbuat ketika musibah memang sudah harus terjadi.

Yang pergi dan datang

Begitu lebaran usai, karyawan lama sempat pulang sehari, dan setelah itu dia pamit untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Selang beberapa hari, sepupu yang biasanya dipercaya untuk ‘jaga meja’ juga pamitan karena ada pembukaan penerimaan calon polisi di Medan sana. Memang, ketika datang dulu dia bilang sewaktu-waktu akan pulang kalau ada kesempatan untuk melamar menjadi polisi. Hampir sebulan hanya berdua suami mengurus tempat usaha ini. Tenaga bantuan baru datang sore hari, karena keponakan sekolahnya sampai sore. Tenaga bantuan ini menjadi tenaga utama ketika weekend tiba. Alhamdulillah, sedikit bisa ‘ngelempengin’ pinggang.

Beberapa kali aku mendesak suami untuk mencari karyawan, tapi jawabnya selalu : udah, kita coba aja dulu begini. Waks!!!! Gile aje, udah kayak budak duit gini, semua dikerjain sendiri. Otomatis selama kurun waktu itu, terpasunglah di dalam sini, di ruangan empat kali sepuluh. Makananpun lebih sering beli ketimbang masak. Hiburan pun cuma poker dan poker. Jenuh? Pastilah! Tapi dalam rasa jenuh itu masih penuh rasa syukur, mengingat orang lain mau sibuk pun belum tentu ada peluang, sementara kami, diberi rejeki kok mau mengeluh ini itu??? :)

Kira-kira dua minggu yang lalu, mulailah hunting karyawan baru. Kuatir aja bakal ambruk yang ‘cost’nya sudah pasti lebih mahal ketimbang mbayar karyawan. Para kandidat dikirimi pesan singkat, lalu interview singkat dan informal by YM.  Setelah itu baru memanggil satu per satu untuk bertatap muka, mencari ‘rasa’ orang yang manakah yang paling sreg di hati. Orang pertama yang dipanggil bernama Ali Umana. Dia lebih dulu dipanggil karena dari pembicaraan di YM terasa sreg. Maksud hati kalau pada saat ketemu nanti makin sreg ya pilihan akan jatuh padanya saja.

Waktu dia datang, ada rasa kaget juga. Karena ternyata dia seorang yang spesial dan berbeda dengan kita. Timbang sana timbang sini, kami (aku, suamiku dan bapakku), beranggapan bahwa orang spesial itu biasanya JUJUR, dan yang paling penting dibutuhkan saat ini memang orang yang jujur. Memang sempat ragu dengan kekhususannya itu, tapi ketika tes mengetik kok sepertinya tidak masalah ya. Dia bisa mengetik satu surat di Word dalam waktu 12 menit, dan itu dia kerjakan dengan tangan sebelah. Photoshop juga bisa. Jadi, ya lumayanlah.

Sempat mau memanggil kandidat yang lain, tapi dengan berbagai pertimbangan, termasuk mempertimbangkan ‘kelambanannya’ karena keterbatasannya itu, maka kami putuskan untuk memilih Ali Umana. Dia juga termasuk unik karena paket remunerasi yang kami tawarkan dia tolak mentah-mentah dan tetap meminta gaji delapan ratus ribu per bulannya serta diijinkan kasbon lima belas ribu setiap hari. Padahal jelas-jelas paket remunerasi yang kami tawarkan jauh lebih baik lho. Ya sudahlah, kalau itu membuat dia senang, kenapa tidak?!

Tanggal sepuluh kemarin dia datang, sudah sore, dan dia bilang baru mau mulai kerja hari Sabtu saja. Ok! Tapi hari itu kelihatan dia ngepel tanggal. Ups! Berarti orangnya OK niy :) Punya inisiatif. Lalu fokus kami pun beralih kepada urusan bapak untuk buka warnet di dekat rumahnya. Sudah ‘pede’ meninggalkan Ali dan asisten yang satu lagi untuk urusan ‘jaga meja’.

Sampai dua hari yang lalu, Ali bilang mau pamit. Kaget juga, dan jadi berpikir keras, apa gerangan yang bikin dia tidak betah.

“Lho? Kok udah rapi? Mau kemana?”

“Iya, mau pamit, bu.”

“Pamit? Maksudnya pulang dan tidak balik, atau bagaimana?”

“Iya bu, seperti itu.”

“Lho? Kenapa? Apa yang bikin ga betah?”

“Tidak ada, bu, cuma saya memang mau pulang saja.”

“Boleh saja, tapi kami juga boleh tau dong kenapa kamu ingin pulang. Orang yang tidak bekerja itu pasti ada alasannya. Apakah overload? Apakah ada yang tidak menyenangkan? Agar dapat menjadi evaluasi bagi kami.”

“Tidak ada, bu.”

Terdiam sejenak. Aku pun muter otak lebih keras bagaimana caranya mempertahankan orang ini. Seperti kata seorang teman, awal-awal di tempat orang lain bisa jadi membuat seseorang dilanda homesick.

“Bagaimana kalau kamu bertahan seminggu lagi? Soalnya minggu-minggu ini kami harus membantu bapak untuk setting warnetnya. Dan kami butuh orang seperti kamu untuk di sini.”

Dia diam berpikir.

“Saya minta tolong lho. Karena ketika memilih kamu dari sekian kandidat, samasekali tidak terpikir kalau kamu akan berhenti secepat ini.”

“Ya udah, bu, gpp saya batal pamit dulu.”

Lega. Bersyukur juga. Berharap dalam seminggu ini akan ada perubahan.

Sehari setelah itu, ada orderan edit foto. Dan oleh pemesan, dia diberi tip empat belas ribu. Tapi tip itu DITOLAK lho :P Ketika ku tanya kenapa dia tolak, katanya orang itu aja masih nyari kerja, kasian … waks … ya wes, terserah deh. Sempat saya berpikir mungkinkah dia menolak tip itu karena merasa diberi karena kekhususannya? Entahlah.

Dan hari ini, pagi-pagi dia sudah rapi dengan tas tersampir di pundaknya. Hari ini hari Sabtu, sudah pasti akan ramai, dan dia memilih pamit hari ini. Jelas saya kecewa. Tapi tidak bisa apa-apa. Walau sudah menahan diri, saya merasa perlu berkata-kata.

“Jujur saya kecewa kamu tidak mau bertahan untuk beberapa hari lagi, karena sebetulnya saya sedang menunggu karyawan baru. Begitu dia datang, silahkan kamu pamit. Kamu tau, ketika kamu dipilih itu bukan tanpa pertimbangan, tapi sepertinya kamu tidak memikirkan orang lain dalam hal ini orang yang mempekerjakan kamu. Sebaiknya di masa mendatang, di mana pun nanti kamu bekerja, kamu tidak melakukan hal seperti ini.”

Reaksinya? Cuma tersenyum :P Hhhhhhhhh……………..

Pergilah dia. Dengan meninggalkan tanya *lebay mode on*

Kecewanya beda banget dengan ketika karyawan yang selalu bikin darting itu pamitan. Waktu itu rasanya lega dan lega.

Ya sudahlah, semoga saja karyawan baru itu cepat datang minggu depan, amin!

Hi, I’m back

Setelah koma sejak 16 Agustus yang lalu, hari ini pengen nge-blog lagi. Hari-hari kemarin sepertinya begitu sulit membangun mood untuk menulis. Entah kenapa :( Dengan begini, komitmen menulis setiap hari sudah jelas-jelas tak tercapai alias GAGAL!!! Masih ada 3bulan ke depan, mungkinkah bisa konsisten??? Kita lihat saja nanti :P

Hari ini menulis tanpa kejelasan juga. Bingung mau menulis tentang apa, saking banyaknya hal-hal yang memenuhi kepala ini. Kehidupan rumah tangga, terus seputar pekerjaan sehari-hari, tentang kakak dan adik-adik, juga para keponakan, semua sudah mewarnai hari-hari, campur aduk – mengaduk emosi menjadi beragam rasa.

O iya, sesi rupa-rupa ini mungkin paling tepat berbagi cerita tentang terapi yang ku ikuti sudah 4 kali sampai minggu kemarin. Adalah bapakku yang menyarankan untuk mengikuti terapi ini karena kakiku yang bengkak ga jelas sudah 2x dalam setahun ini. Selain bengkak, betis pun seperti kayu kerasnya. Tempat yang disarankan, dan tempat yang sudah dicobai sendiri oleh bapakku namanya ATFG-8. Bagi penggemar acara kesehatan di salah satu tivi swasta pasti tau dan familiar deh dengan pengobatan alternatif yang satu ini. Bapak juga menyarankan agar sekalian terapi untuk mendapatkan keturunan. Haiyaahh … rupanya diam-diam bapak mengharap cucu dari kami.  (Ya iyalah, wlo cucu sudah banyak, tetep aja kaleeee :P )

Tidak menunggu lama, saat itu juga di depan Bapak, aku telpon ATFG-8 untuk menentukan jadual terapi. Tentunya menyesuaikan dengan jadual waktu senggang di warnet tempat kami bekerja, maka pilihan waktu adalah hari Selasa. Kenapa Selasa? :P Karena biasanya game favorit gamers saat ini yaitu Point Blank, pastinya sedang maintenance sehingga sangat sedikit gamers yang sowan ke warnet.

Terapi pertama, bersama suami tapi yang diterapi aku saja. Biasalah, suamiku itu adalah orang yang  merasa paling sehat sedunia, jadi dia menganggap tidak perlu ikut terapi. Entah dasar pertimbangan apa, dia mau juga ikut terapi pada sesi ke-2 minggu berikutnya. Hasil dari terapi pertama lumayan, badan jadi lebih ringan, dan tentunya kaki yang bengkak sudah normal kembali.  Tetapi hasil dari terapi ke-2 dan ke-3 oleh terapis yang berbeda dari yang pertama, koq mengecewakan ya?! Bukannya merasa lebih ringan dan segar, tetapi sebaliknya, bawaannya juga ngantuuukkk terus :(

Dan ketika terapi ke-4 kemarin, ada insiden yang tak mengenakkan. Gegara suami yang bangunnya susah, gegara nyariin helm yang keberadaannya entah di mana, jadi aja jam 8 masih di rumah. Nelpon ke ATFG-8 minta ditunggu, eh malah dapat jawaban yang menjengkelkan.

“Mas, maaf ya sepertinya kami datang terlambat. Tolong ditunggu ya.”

“Wah, maaf bu, jam 9 sudah penuh.”

“Iya saya tau, saya juga tidak minta ganti jadual dan  saya juga tidak telat setiap terapi pak. Mohon toleransinya saja.”

Pastinya udah geradak geruduk tuh biar bisa cepet sampai di tempat terapi. Persis 15 menit dari jam 8 sudah duduk di depan administrasinya. Nah ini yang langsung bikin sewot.

“Maaf bu, karena datang terlambat jadi diterapinya seadanya saja, waktunya tidak bisa sama dengan yang sudah2.”

“Maksudnya?”

“Iya, jadi jam 9 terapi sudah harus selesai.”

Duh, aku gagal lagi untuk jadi orang yang sabar :( Karena tanduk langsung berdiri dan para setan langsung bikin gerah.  Apalagi saat itu aku sebetulnya juga sedang komplen tentang terapis yang menangani aku di minggu ke-2 dan ke-3, dan aku minta terapis yang pertama menangani. Katanya, terapis yang pertama itu sedang mudik.   Jadi yang tersisa cuma ada dia dan seorang perempuan. Dan jika dia yang ‘megang’ suami, maka mau tak mau terapis perempuan itu (lagi!) yang menangani aku. Di tambah lagi katanya, kali ini kami diberi kamar terpisah, dan ketika ku tanya, emang kamar yang buat pasutri itu kenapa??? Dia tidak bisa menjawab. Dan belum selesai urusan ini,  di saat yang sama, ada telpon masuk, dan dia lebih mementingkan telpon masuk itu ketimbang menyelesaikan urusan dengan ku. Hhhh… Menurut ilmu etika yang aku tahu siy, telpon masuk bisa disuruh menunggu, dan harus mendahulukan tamu yang ada di depan mata.

Tanpa bisa menyembunyikan rasa jengkelku lagi, maka yang keluar sudah kalimat2 tak sedap untuk didengar.

“Mas sendiri yang bilang waktu untuk kami terbatas, mbok ya o langsung diurus, mosok mentingin telpon masuk? Mosok orang di telpon jauh lebih pantas dihargai ketimbang  pasien di depan mata???”

Eh si mas mas itu masih mencoba menyahut tapi tidak jadi begitu melihat kilat marah di mataku. Serta merta dia memanggil terapis perempuan itu dan mempersilahkan kami masuk ke ruangan yang biasa dipakai untuk pasangan. What the hell … aarrgghhh …

Aku jadi mengomel sendiri, ini tempat orang berobat atau apa siy? Klo ini tempat orang berobat, bukankah semestinya mereka, para terapis itu bisa menjaga emosi pasiennya. Apakah tempat berobat sekarang ini sudah sama dengan game centre??? Yang klo udah dapat jatah 1jam, dipakai atau tidak waktunya, setelah 1jam itu hangus menurut mereka, maka kita otomatis tidak bisa main lagi??? Jadi kesembuhan bukan menjadi prioritas buat mereka ya? Ah menyedihkan sekali kalau betul begitu :(

Sungguh deh, selama terapi kali ini sangat tidak nyaman rasanya. Jadi aja mengingat-ingat tindakan yang dilakukan pada sesi yang lalu, kuatir ada bagian yang terlewatkan. Dan memang hampir saja itu terjadi, sampai aku mengingatkan, kok belum diginiin mba? Biasanya sebelum diginiin, kan tahap ini dulu. Iya, bu setelah ini. Waksss…. Pinter juga si mba terapis ngeles.

Baiklah, mungkin ini terapi yang terakhir, image bagus dan menjanjikan yang disampaikan bapak, luntur tur tur. Engga banget deh klo tempat berobat seperti itu. Bukannya tambah sehat, yang ada malah nambah penyakit :P

So, bye bye ATFG-8, semoga saja P.Gondo pemilik pengobatan alternatif ini lebih memperhatikan SDM nya agar ATFG-8 tidak kehilangan pasiennya dengan cara seperti ini.