Ketika kita menangis, bersedih, mengomel, menyalahkan keadaan itu bertanda kita belum dewasa namun begitu kita mampu menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi dengan baik maka kita semakin lebih dewasa. Jadi sambutanlah setiap masalah, cobaan, penderitaan dengan penuh suka cita sebab telah hadir anugerah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mendewasakan diri kita.
Aku terpaku ketika membaca kalimat di atas. Berdiam diri sejenak, merenungkan makna kalimat itu.
Bukan sekali dua, masalah menerpa kehidupan yang sedang dijalani ini. Betapa besar hasrat untuk dapat melalui setiap masalah yang datang dengan kebesaran hati, suka cita dan bersyukur pada setiap yang menimpa sedianya datang dari Allah Swt. Dan pastinya bukan ada pesan yang jelas dari Allah buatku, karena Dia-lah yang mengarahkanku kepada tulisan di atas.
Tapi, betapa besarnya pun hasrat itu, prakteknya sangatlah tidak mudah. Apalagi jika masalah datang di saat keimanan sedang jalan2 entah ke mana, wuahhhh ….. menangis, marah2, uring2an engga keruan – begitulah reaksi yang selalu datang secara spontan. Swami selalu bilang: BELAJAR SABAR dong!
Dengan ketus pasti ku menyahut, emang siapa juga yang ga mau jadi orang sabar siy???? Huh!
Astagfirullah!
Aku bahkan bilang ke swami, kalau boleh bertukar tempat, aku ingin sekali menjadi orang yang sabar sepertimu. Ingin sekali menjadi orang yang bisa nge-rem mulut cucakrowo ini. Seringkali gemas teramat sangat pada diri sendiri, terlebih ketika emosi sudah tidak terkontrol diumbar ga jelas. Dan biasanya semua itu disesali di dalam hati sambil berucap … ah seandainya …
Masih untung di beberapa kesempatan, ketika masalah datang, dan tingkat keimanan di level yang stabil, bisa menangani masalah itu dengan kearifan bak seseorang yang sudah melalui sangat banyak ujian. Bijaksana deh pokoknya! Solusi yang keluar dari otakku yang sekepalan tangan ini pun biasanya brillian. Amazing!
Lalu apa yang salah??????
Ini ku tulis karena aku ingin berubah. Aku ingin menjadi orang yang mampu menyambut setiap masalah yang datang dengan suka cita layak menjemput rejeki adanya. Jadi teringat nasihat usang bapakku ketika itu aku tertawa terbahak2. Bapak bukan mempermasalahkan cara ketawaku karena aku perempuan, tapi karena memang tidak perlu terbahak2 katanya. Biasakanlah menghadapi apapun biasa2 saja, klo sedih, tidak usah nangis gegerungan, meneteskan air mata sah2 saja, tapi ga perlu gegerungan. Begitu juga ketika sedang senang, tidak perlu sampai terbahak2, biasa saja.
Dulu, filosofi dari nasihat itu belum kupahami. Aku cuma menangkap nasihat itu sebagai larangan ketawa keras2 saat itu. Dan tentu saja, seperti anak remaja pada umumnya, dengan santai kuabaikan nasihat itu. Blas! Baru belakangan, ketika usia bertambah, kemudian ku menyadari makna sesungguhnya yang dimaksud bapakku. Dan, sayangnya, ku sudah telanjur seperti sekarang, tumbuh menjadi anak yang sangat ekspresi dan agresif, yang menangis gegerungan ketika sedih dan terbahak2 ketika hati sedang suka cita.
Ku kira, tentu semua ini berkaitan, tingkat keimanan dan kesabaran, dua faktor ini sangat diperlukan jika ingin menjadi sosok yang bersuka cita menyambut masalah.
Tuhan,
telah begitu banyak pesanMu yang ku terima,
kuatkan aku agar MAU mengimplementasikannya di sisa hidupku,
teguhkan hati yang lemah,
jagakan iman agar tak merosot sampai level zero,
Tolonglah ya Tuhanku
………………..
Dan Kami pasti akan menguji kamu dg sedikit ketakutan, kelaparan,kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan.Dan sampaikanlah kabar gembira kpd orang2 yg sabar, yaitu orang2 yg apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali (Al-Baqarah [2]: 155-156)
semua ada prosesnya. menjadi dewasa, menjadi sabar, menjadi lebih baik. jadi.. nikmati ajah dulu prosesnya… semua yang instan itu ga baik…
hemmm, tulisan yang menggetarkan bathin. memang, di zaman yang udah gila ini, butuh terapi semacam ini. dan sebaiknya, muhasabah jangan hanya milik kita, tapi bagi pejabat elit. karena indonesia butuh keinsyafan akbar…