Ga inget, apakah pernah ‘ngoceh’ tentang satu karyawan di warnet ini. Klo pun udah, gpp kan ya ada pengulangan
Sahibul hikayat, taon lalu, nulis iklan di forumwarnet.com klo mo cari karyawan yangn pernah kerja di warnet. Dari beberapa kandidat, pilihan pun dijatuhkan pada dia, inisial ABW. Kesan pertama sungguh menggoda, keliatannya rajin dan cukup berpengalaman. Sebenere sudah minta swami untuk nge-tes niy orang; apakah dia bener2 mampu seperti yang diaku-kannya. Tapi swami bilang, udah deh, masak dia mau boong. Ya wis lah …
Di bulan pertama itu aku begitu bersemangat memotivasi dia, berharap dia bisa diandalkan menjadi ‘tangan kanan’. Sering ‘tak ajak sharing untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Bulan kedua mulai luntur. Keliatan emang rajin, tapi rajin engga jelas. Sama sekali tak terarah. Ok, klo begini, biasanya atasan yang disalahkan, karena dianggap tidak bisa mengarahkan karyawan. Teori juga bilang ajarkan dengan perbuatan bukan hanya kata2 semata. OK!
Satu per satu diajarkan langsung, salah satunya bagaimana membersihkan bilik2 warnet agar benar2 bersih dan rapi. Tapi apa yang terjadi???? Tumpukan sampah hampir saja menggunung kalau tidak cepat ketahuan. Bener2 rungsep!!! Tangga yang penuh debu, kamar mandi yang jorok, meja yang debunya boleh buat mbedaki muka biar tambah item. Aaaarrrggghhhh ……
Yang paling keterlaluan, ketika satu waktu aku melihat seorang ibu sudah mulai terlihat gusar. Emang siy udah rada curiga sama ibu ini. Perasaan udah dari jam 7 si ibu kok blom pulang2 juga. Akhirnya aku samperin.
“Lagi nunggu apa bu?”
“Ketikan, mba.”
“Emang ada berapa lembar?”
“5 aja niy.”
Ku tinggalkan lagi mereka, berharap si ibu dilayani dengan cepat. Tapi apa yang terjadi? Setelah beberapa jam dan aku masih melihat ibu itu di situ dengan wajah lelahnya. Ku lihat jam sudah jam 11 lewat. Wah??? Kok lama gini? Dan begitu melihatku, si ibu bereaksi begini.
“Mba, tolongin dong, blom kelar2 niy.”
“Emang kurang apanya, bu?”
“Ini nge-print engga beres2.”
Dengan kesal dan malu kepada klien, ku ambil alih ketikan itu. Ampoooooooooooonnnnnnnnn…………….. Sebenarnya itu bukan sesuatu yang sulit. Masalahnya cuma bisa ato engga?????
Cuma itungan menit semua beres dan si ibu pulang. Dan tinggallah aku ngomel panjang lebar, merasa dibohongi. Dulu katanya ngerti words, excel dll. Ini kok ngerjain words 5 lembar duank bisa 5jam lebih??? Mending klo itu text panjang2, itu 5lembar cuma model surat2 gitu aja lhooo …. aaarrggghhh ….
Ini yang masih anget … bener2 fresh from the oven ![]()
Seorang klien datang minta diketikkan, contohnya sudah ku liat, dan ga ada yang susah mestinya. Tinggal mengetik ulang yang persis seperti dan mengganti data sesuai yang diinginkan klien. Plek!!! Gampang toh? Kalau saja aku tidak di tempat, ketika klien tersebut datang mengambil ketikan tersebut pastilah aku tidak akan tau masalah ini. Untungnya si klien teliti, karena dia periksa lagi hasilnya, padahal si klien buru2 pulang karena rumahnya jauh. Ketahuanlah klo hasil ketikan jauuuuhhhh banget dari contoh yang sudah diberikan. Sampai kaku rasanya badan ini menahan marah, wlo akhirnya tak mampu juga meredam.
Bayangin aja, di contoh itu ada kolom2 bergaris, eh ini kaga dikasi garis.
Contohnya : full a4, eh ini nanggung2 aja gitu.
Contohnya : rownya besar2 eh dia bikin kecil2. ETC…
Bener2 ga habis pikir, kesulitannya di mana siy????? Wong tinggal njiplak gitu lhoooooooo………..aaaarrrrgggghhhhhhh!!!
Keliatannya MUNGKIN SEPELE, dan MUNGKIN ada yang bilang, ga perlu marah2 kali cuma gitu aja.
Ok, klo ini terjadi sekali sebulan aja, mungkin aku bisa coba pahami. Tapi klo terjadi kesalahan yang sama 2x dalam sehari???? Belum lagi kesalahan yang lainnya???? Hari ini, kembali aku harus ngasi contoh ‘menyikat’ anak tangga agar bersih dari debu. Padahal aku sudah jelasin lho, klo debu itu numpuk, maka debu itu akan beterbangan ke makanan yang ada di dapur, jadi anak tangga harus dijaga selalu bersih dari debu. Minimal 1x sehari harus disikat bersih. Begitu juga pegangan tangga, ampuuuun …. udah seperti tangga ruko yang tahunan engga dihuni. ADuuuhh … bener2 makan ati berulam jantung.
Pasti pertanyaannya: KENAPA GA DIPECAT AJA???
Emang siy paling gampang ya dipecat aja, ga bikin aku stres dan suasana tenang. Tapi aku juga engga tahu dengan jelas kenapa aku masih mempertahankan dia. Mungkinkah karena KEJUJURANnya? Atau karena aku belum menemukan karyawan yang baru? Atau mungkin aku takut untuk mencoba dengan karyawan baru, karena belum tentu lebih baik dari dia???? Entahlah!
Aku mencoba fair terhadap dia, sehingga aku selalu berusaha mengingat sisi positif yang dia punya.
1. Jujur
2. Rajin Ibadah
3. Rajin Kerja *rajin klo disuruh, wlo sering engga jelas. Disuruh ngerjain sesuatu, bisa mondar mandirnya 100x.*
4. Engga gampang sakit hati *ga tau deh klo ditumpukin sakit hatinya dan satu hari nanti bisa meledak?*
5. apalagi ya?
Minggu lalu dia cuti, katanya cuma 3hari. Tapi setelah hari ke-4 dia tidak datang, aku sudah pikir dia pasti tidak kembali. Tapi mau nunggu seminggu baru cari orang yang baru. Suasana pun tenang, paling ribut2nya sama swami karena berbagi kerjaan. Eh, Sabtu sore ku liat sosoknya turun dari angkot, halahhh …. dia kok balik
Selamat datang stress, siap2 dah kena stroke!
Sebetulnya, aku sendiri sudah berusaha untuk meminimalisir menilai pekerjaan dia. Korslet2 yang terjadi ini pun karena langsung kelihatan aja kesalahannya. Apes ya?! Dalam pikiranku, setiap orang pasti selalu berusaha untuk memberikan (mengerjakan) yang terbaik; apakah dia juga begitu???? Aku sama sekali engga bisa memahami jalan pikirannya. Blas!!! Padahal dulu, ketika aku kerja sebagai HRD, rasanya semua begitu mudah ditangani. Kok sama orang yang satu ini, aku bisa hampir menyerah????
Ah, ga ada abis2nya klo nulis tentang dia, untung lagi ga hamil, bisa revot urusan tuh, mesti istigfar terus
Dan tulisan ini pun kayaknya perlu ditutup dengan membaca istigfar deh : astagfirullahalaziiiim…. !
