Mau Komplen Aja Kok Bingung?

Dua hari yang lalu adalah kali pertama lagi ku menjejakkan kaki di Blitz-MoI. Dari awal tahun hasrat menonton selalu disalurkan di 21 or xx1 sajah. Soal harga, sebenernya ya kurleb samalah. Tapi tetap saja, nonton di Blitz kok terkesan lebih bergengsi? Entahlah dari mana kesan itu di dapat. Mungkinkah karena penonton yang ke sana ‘lebih berkelas?’ atau … ?

Tapi dua hari yang lalu itu, aku kecewa sangad lho. Gimana engga?
Blitz selama ini kan terkesan mewah dan bersih. Dan dua hal ini yang bikin kelas Blitz seolah-olah setingkat di atas 21. Dan sejak hadirnya Blitz, baik yang di Seibu ataupun Pacipic Place juga MoI selalunya ku dapati dalam keadaan bersih dan menyenangkan. Kemarin kok beda yah?

Perbedaan itu baru terasa ketika film usai dan lampu menyala. Entah apa yang akan terjadi bila ku mengetahui ‘kejorokan’ itu dari awal. Beruntung aja, datangnya rada telat, dan kebiasaan menonton selalu duduk melipat kaki, yah … gaya duduk seperti ini sebenarnya merupakan kiat mengusir dingin yang selalu menggigit. Begitulah, ketika film hampir usai, aku pun bersiap-siap. Kakiku mencari-cari keberadaan sang sendal dalam kegelapan. Ups….! Apa’an niy? Kok ‘jemek-jemek’ gituh? Perasaan jijik langsung mendera.

Jreeeng…. ! Studio sudah terang. Ku sapu pandangan ke bawah. Weksss….. :( Rupanya yang terasa ‘jemek-jemek’ tadi adalah SAOS. Iya sodara-sodara … itu tadi SAOS bekas orang makan. Dari bungkusnya siy kayaknya makanan itu dipesan dari kafetaria-nya Blitz. Ga sampe semeter dari saos yang terinjak tadi, ku lihat lagi bungkusan yang sama dan bekas diinjak orang juga. Di ujung tempat duduk (baris C) bahkan ada botol mineral water. Sambil menggerutu beranjak keluar, dan ketika bertemu petugasnya di pintu keluar, terjadilah dialog ini.

“mbak, kok tumben siy Blitz jorok gitu?”

“iya mba, tadi ga sempat bersih-bersih soalnya.” tanpa senyum lho itu nyautinya.

Jawaban yang tak ramah membuatku tak bersemangat meneruskan komplen. Selain sedang tidak mood untuk bikin ‘ribut’, ada juga perasaan takut sama swami yang emang biasanya engga seneng liat istrinya komplen sana sini. Benar saja. Begitu melewati pintu, swami langsung menegur.

“ngapain siy komplen-komplen?”

“tuh kan bener … untung tadi engga diperpanjang sama teteh. Klo diperpanjang, bisa-bisa kita yang jadi tontonan karena kita pasti berantem klo aa marahin teteh di depan petugasnya tadi.”

“Lagian kayak engga ada kerjaan aja komplen-komplen.”

“Hlooo….???? Jadi kita terima aja klo pelayanan mereka seperti itu? Terus apa bedanya dong Blitz sama Misbar? Soal waktu yang tidak cukup menurut petugasnya, sangat tidak masuk di akal. Kenapa? Karena dari film yang satu ke film yang berikutnya, bukannya mereka sudah perhitungkan dengan cermat??? Dan sebetulnya klo kita menemui kondisi tempat menonton seperti tadi, sama saja Blitz tidak menghargai penontonnya. Kayaknya wajar deh klo komplennya yang seperti ini.”

Akhirnya kami bergerak pulang dengan berdiam diri. Dalam hati aku masih menggerutu. Sebel sama Blitz, sebel juga kenapa aku bisa lupa ambil foto dari sampah2 itu. Pastinya itu bisa jadi bukti otentik toh? Tapi ya sudahlah, setiap orang memang tidak sama. Ada yang sanggup menerima hal-hal seperti ini, ada pula yang sebaliknya. Dan mungkin sudah saatnya aku belajar untuk lebih menahan diri, mau jorok kek … mau dilayani dengan seenaknya kek … terima sajalah, yang penting akur sama swami.

Masalahnya, bisa engga ya? Mau engga ya? Hehehe … ga janji deeeeeeeeeehhhhh……….. LOL LOL LOL

Tauco Terong

terung terongGara-gara ke pasar, dan ngeliat 2 jenis bahan masakan ini, bikin aku pengen masak sayur TAUCO TERONG. Tambah lagi, inget di kulkas masih ada TAUCO asli dari Medan yang ku bawa sendiri pas mudik April kemarin.

Terong ini biasa disebut TERONG TELUNJUK. Dan yang disebelahnya bunga kecombrang.

asam patikalaKlo yang satu ini, namanya ASEM PATIKALA. Tapi klo orang Karo bilang namanya ACEM CIKALA *awas kebolak jadi cilaka yak LOL*. Bahan yang ini biasanya selalu disertakan hampir di setiap masakan orang Karo yang bersantan. Lebih manteb dari sekedar asam kandis ataupun cuka. Dan jelas pula, tidak ada bahan kimianya, toh?! Hehehe …. Asem patikala ini merupakan buah yang dihasilkan dari satu pohon, yaitu pohon KECOMBRANG. Pohon ini mirip dengan pohon kelapa, karena hampir semua bagian tumbuhan ini dapat digunakan. Batang, buah, dan bunga, klo daunnya, aku belum tau bisa dipakai buat apa :P

tauco terongTiga bahan diatas, akan menjadi seperti yang difoto jika ditambahkan : CABE IJO KERITING, BAWANG PUTIH & MERAH, TOMAT, SERAI, SANTAN, dan tentu saja TAUCO.
Cara memasaknya gampang sekali:
Pertama tumis bawang merah + putih, setelah berwarna kuning, masukkan cabe ijo keriting, bunga kecombrang, tomat, asam patikala bersamaan, setelah itu masukkan santan encer sekaligus dengan terongnya. Jangan terlalu lama, karena klo lodoh engga enak lagi, kira2 sudah menyatu semua, masukkan tauco dan santan pertama. Aduk merata, dan angkat.

Mudah sekali bukan? *gaya bu Sisca* xixixii ….

Ketika dicoba, wew … rasanya maknyussss… sayang swamiqu tidak suka, katanya rasanya aneh. Iya siy, buat yang belum biasa, wangi bunga kecombrang emang terasa aneh. Tapi aku tetap berhasil kok memaksanya memakan nasi bersama kuahnya saja hahaha …

Ok, nantikan resep masakan lainnya yaaa…

Bakat? Mujur? Atau Keduanya?

Apakah setiap orang diberi karunia jiwa wirausaha? Entahlah! Aku tidak begitu pandai menganalisa lebih jauh tentang hal ini, tetapi yang pasti aku ingin berbagi dengan apa yang ku alami sendiri. Ketika masih SD dulu, yang selalu terbayang di dalam benakku adalah pekerjaan sebagai seorang SEKRETARIS. Tak jarang aku bergaya seperti layaknya seorang sekretaris, lengkap dengan lenggak lenggoknya yang genit menggoda. Yeah, dulu dalam benakku emang seorang sekretaris itu harus genit dan centil. Maklum, masih SD pun bacaannya sudah majalah remaja/dewasa, jadi ya seperti itulah. Sepertinya obsesi menjadi seorang sekretaris ini terus tumbuh subur sampai lulus SMK.

Ketika profesi ini benar-benar kugeluti, sempat terpikir, apakah ini karena sudah terobsesi sejak kecil, atau karena Tuhan memang sudah menggariskan begitu? Yang jelas setelah ku mengambil keputusan meninggalkan bangku kuliah tanpa pernah menuntaskannya, pekerjaan pertama yang ku dapat memang sebagai sekretaris. Hebat ya?! *grin* Saat itu, profesi ini sudah hebat, mengingat teman-teman sebayaku yang sama-sama tidak kuliah, kebanyakan sulit mendapat pekerjaan. Apakah aku mendapatkan pekerjaan ini karena aku PINTAR? Jujur jawabnya jelas TIDAK! Rasanya faktor ‘LUCK’ lebih besar deh. Kok bisa?

Ya iyalah, wong ketika di-interview pertama kali, dan aku ditanyai apakah mampu menggunakan komputer? Dengan sangat yakin aku menjawab IYA! Padahal, aku sama sekali tidak suka menggunakan komputer. Berbekal NEKAD dan bahasa Inggris sematalah aku mencoba melewati tes mengetik menggunakan word di komputer bisa dilewati. Walaupun rasanya hasilnya kok tidak maksimal yah? Que sera sera aja deh …

Ketika aku diterima di posisi ini, jelas aku terkesima. Lebih terkesima lagi, ketika satu hari aku menemukan berkas lamaran kerjaku dulu, dan melihat hasil ketikan di Word yang aku yakini pasti ada ‘malaikat’ yang berbaik hati mengetikkan ulang untukku. Hasil ketikan itu terlalu bagus dan aku ingat, aku tidak mengerjakannya seperti itu. Bagaimanapun, inilah cara Tuhan bekerja secara rahasia mewujudkan harapan umatNya.

Bertahun-tahun aku menikmati profesi ini, senang rasanya menjadi orang yang selalu dibutuhkan, walaupun pastinya menjadi sangat repot karena mengurusi banyak hal. Beruntung selalu punya bos yang baik hati dan mau membimbing. Sampai satu ketika, aku mengalami satu masa yang tak ada seorang pun yang menginginkannya yaitu PHK. Iya, di PHK! Ga kebayang ‘kan? Aku juga tidak pernah membayangkannya sama sekali. Lagi-lagi aku beruntung karena mampu melewati masa itu dengan ketabahan yang luar biasa. Aku pun percaya bahwa akan ada buah manis setelah kasus PHK ini. Sungguh peristiwa ini, menjadi titik di mana aku diyakinkan bahwa TUHAN itu tidak pernah tidur. DIA selalu mengawasi kita dari atas sana.

Yep! Rupanya Sang Pemilik Kehidupan sudah menyediakan lahan yang lebih subur, dan di sana jiwa entrepeneur ini diasah. Aku sama sekali tidak pernah mengira kalau punya jiwa wirausaha. Masak siy? Iyalah, wong selama sekolah dan awal bekerja, setiap mencoba berjualan tidak pernah kesampaian, karena terlalu ‘pemalu’. Merasa tidak pandai bicara menawarkan barang jualan. Tapi kemudian ketika aku benar-benar bisa ‘set up my own business’ dan bisa bertahan melewati masa-masa krisis, sekarang aku meyakini bahwa inilah berkat yang luar biasa dari Tuhan.

Sempat terpikir juga, mungkinkah bakat ini bakat turunan? Mengingat bunda tercinta lihai sangad dalam berNiaga? Mungkinkah alam bawah sadarku merekam dengan baik semua aktivitas bundaqu sedari ku kecil, bagaimana alm. menjalani hari-hari dengan peristiwa jual beli. Bahkan terkadang, aku juga meluangkan waktu menemani bundaqu berdagang di pasar. Tapi cuma menemani lho, menonton transaksi yang terjadi antara bundaqu dan pembeli yang berdatangan. Aktivitas ini terus berlangsung sampai kepindahan kami ke Jakarta, dan bundaqu mempunyai toko grosir. Kami diwajibkan untuk membantu selepas pulang sekolah. Kalau libur hari besar, kami diberi insentif jika mau menunggui box es krim yang pasti selalu ramai peminatnya. Tapi lagi-lagi aku pun tidak bisa menyimpulkan, apakah semua proses ini yang menggiringku ke titik yang sekarang?

Walau belum masuk kategori orang yang sukses, tapi paling tidak aku terus berusaha meraih sukses. Satu hal lagi, sejak masuk ke dunia kerja, rupanya aku tidak punya mental karyawan. Mental karyawan yang ku maksud adalah tipikal orang yang sanggup mengerjakan kegiatan rutinitas bertahun-tahun. Paling lama aku bertahan satu tahun jika sudah merasakan semuanya seperti sebuah rutinitas belaka. Jika sudah tidak ada tantangan, pasti ‘kabur’ mencari tantangan lain di perusahaan yang lain lagi. Sehingga aku diberi predikat ‘kutu loncat’ oleh teman-temanku. :D Iyalah, setiap tahun pindah kerja, apalagi klo bukan ‘kutu loncat’, iya kan? Hehehe …

‘Petualangan’ itu telah dihentikan olehNya, dan setelah sekian tahun berwira-usaha, sepertinya jalan menuju SUKSES itu masih harus terus diperjuangkan. Beruntung, semangat berusaha pun selalu membara, dan semoga tak pernah padam, selagi hayat masih dikandung badan.

Tetap semangat!

Kisah si “Peuyeum”

“…….kenapa *peuyeum* buah tangan seorang `Insinyur` lebih bisa dihargai *orang* daripada buatan seorang pengangguran? pdhl hasilnya sama aja…..”

peuyeum

 

 

 

 

 

 

 

Begitu teks yang ditulis swami di Plurk.
Hmm… tidak seperti biasa niy, kok swami bikin ‘status’ kek gitu yah….
Mungkin akan ada segelintir orang yang paham, karena lagi2 ini masalah apresiasi.

Sempat menjadi perbincangan yang hangat pagi tadi sambil menyantap sarapan nasi uduk yang gurih dan enak ditemani teh tawar yang panas.

“A, baca deh ini …. tadinya pengen tth kasi komentar bla bla … “

“Bikin aja … “

“He? Aa ga marah klo tth tulis begitu?”

“Engga, bikin aja.”

Swamiku yang pendiam dan tidak banyak bicara, sehingga sulit bagiku mengartikan diamnya, marahkah dia? Sampai aku membaca statusnya yang di Plurk itu, maka mengertilah aku. Tapi aku batal mengomentari (lagi) status seseorang itu, tepatnya siy menunda, karena tidak mau meninggalkan jejak negatif hehehe … (2010 ini pengennya positif2 aja deh).

Cuma rupanya status seseorang itu meninggalkan kesan yang mendalam (kekecewaan) bagi swami sehingga menuliskan seperti itu di Plurk. Ya sudahlah,selalu ada hikmah dari setiap kejadian bukan?! Begitu pula kali ini, ‘feeling’ istri mungkin tidak selalu benar, tetapi mungkin patut dipertimbangkan. Seseorang itu memang tidak tau bagaimana ‘hectic’nya swamiku, namun masih menyempatkan diri (tepatnya memaksakan diri) untuk menyanggupi dan menyelesaikan permintaan teman-teman yang sangat dia hargai.

Tetaplah berbuat baik, walau terkadang harus menuai kecewa :)

Warna

bola warnaBicara tentang warna, baru tau klo ternyata warna-warna pilihanku mempunyai arti yang bagus :D Padahal ketika menentukan warna-warna tersebut sama sekali tidak mengacu pada arti warna alias totally blank. Dan juga emang ga berusaha nyari info tentang arti warna tadi. Jadi murni naluri semata yang mengambil keputusan mo pake warna IJO dan OREN.

Tentang warna IJO, memang sudah menjadi favorit ku sejak lima tahun terakhir ini. Kenapa? Ga tau deh! Rasanya kok suejuk ajah gitu. Mulai dekor rumah yang hampir semua berwarna IJO, tanpa kecuali termasuk TOILET *grin*. Pasti senang sekali setiap menemukan pernik-pernik dengan warna IJO. Apapun yang berwarna IJO pasti mampu menguras dompetku. Itu pasti!

Lalu tentang OREN, kenapa OREN? Jawabku ya pasti GA TAU! Seneng aja. Dan warna OREN lalu menjadi partner yang pas si IJO ketika mencari kombinasi warna untuk dekor i-cafe. Dinding dan lain sebagainya berwarna IJO dan sofa berwarna OREN.

Kenapa hari ini aku menulis tentang kedua WARNA ini? Hehehe …. ini gara-gara temen2 lagi pada ngomongin warna dan kemudian membincangkan arti warna-warna ituh. Katanya begini :

IJO itu melambangkan elastisitas keinginan. Cenderung pasif, bertahan, mandiri, posesif, susah menerima pemikiran orang lain. Pengaruh dari warna ini antara lain teguh dan kokoh, mempertahankan miliknya, keras kepala, dan berpendirian tetap.

OREN itu melambangkan kekuatan, kemauan, eksentrik, aktif, agresif, bersaing, warna ini memberikan pengaruh berkemauan keras dan penuh semangat.

Terlepas dari benar tidaknya arti kedua warna ini, rasa-rasaku kok pas yah? Terutama soal bawaannya emang SEMANGAT terussssssssss…………. hehehehe …

Jadi, apa warna kesukaanmu? Apakah sesuai dengan arti dari warna-warna itu sendiri?

Saya Keledai, Kamu?

kedelaiSabtu, malam minggu kemarin, suasana di i-cafe ramai sangat. Pelanggan keluar masuk terus bergantian. Dan sore itu, iparku datang berkunjung bersama anak2nya. Lalu kami terlibat obrolan panjang tentang ‘sesuatu’ yang tidak pantas jika didengar orang lain. Soalnya ngomongin orang lain hiks …

Rasanya sudah panjang lebar itu cerita, dan terhenti sejenak ketika seorang klien bilang mau bayar. Transaksi selesai, dan seperti biasa, ucapan terima kasih dan ‘datang lagi ya’ selalu diberi bonus senyum manis. Yang membuatku terhenyak, untung engga pingsan, ketika si pelanggan menyahut dalam bahasa ibu-ku, bahasa KARO.

Mati dah!!! Tadi gw udah ngomong apa aja ya?!! Duh malunyaaa…..!!! Sungguh kecerobohan yang tak dapat dimaafkan. Ya, sulit memaafkan diri sendiri karena kejadian ini. :( :( :( :( Andai ku bisa memutar waktu …..

Padahal ya, duluuuuuuuuu banget, kejadian ini sudah 2x terjadi, itu sebabnya kejadian ini membuatku merasa tak lebih baik dari seekor keledai yang dungu, yang menurut hikayat saking bodohnya sampai terperosok di lubang yang sama lagi dan lagi.

Dulu, kejadian pertama itu di Jogja, di atas Metromini. Cuma waktu itu ngobrolin yang umum-umum aja, jadi ga ngerasa banged2 malunya. Yang kedua juga begitu, di atas sebuah mikrolet. Kali ini rada sepet, karena ngomongin supirnya, eh supirnya malah ngerti bahasa Karo. Wkwkwkwk…..

Semoga aja kejadian kemarin menjadi yang terakhir, semoga!

Kobarkan Semangat!

Capek? Iya!
Ga enak badan? Iya!
Tapi kok tetep bisa bangun pagi?
Kok tetep bisa beraktivitas?
Tetep bisa haha hihi?
Boongan ya rasa capek dan ga enak badannya?!

Entahlah, tapi yang jelas TIDAK ADA KEBOHONGAN.
Gimana ga CAPEK klo saat istirahat pun mendekati jam 2pagi.
Dan pagi sesuai teriakan alarm (bukan azan lho) pastinya bangun juga.
Eh, tidur jam 2pagi, apa bisa bangun pagi?
Bisa tuh! Bangun pagi dan langsung mandi, dan bersiap menjemput recehan hari itu.

Nah? Gimana dengan rasa capek dan ga enak badan itu?
Entahlah, tak begitu dirasa sepertinya. Terkalahkan oleh SEMANGAT menjemput rizki Allah hari itu.
Iya, SEMANGAT itu yang selalu membuatku mampu melewati hari-hari.
Iya, SEMANGAT itu yang membuatku lupa sama yang namanya ga enak badan, capek dan lain sebagainya.
SEMANGAT yang membara, SEMANGAT yang tak pernah padam, insya Allah, membuatku bergerak dari jam 6 pagi sampai jam 2pagi lagi. Dari menjadi operator dadakan, terima ketikan, sambil mengerjakan pembukuan, sambil mikirin menu makanan apa untuk hari ini, menyiapkan sarapan, dan semua itu dilakukan sambil menunggu swami bangun dan diantar ke pasar, kembali dari pasar langsung masak, terus dan terus ada saja yang terus dikerjakan. CAPEK? Pastilah! Aku ‘kan bukan robot, jadi pasti ngerasa capek.

Tapi cukuplah SEMANGAT yang mengusir semua rasa itu. ‘SEMANGAT’ cukup ampuh mendampingi hari-hariku. Sampai hari ini. Bagaimana dengan ANDA?

Kena Batunya

Kemarin, hari Minggu yang takkan pernah bisa terlupakan. Kenapa? Sesungguhnya ini hal yang paling memalukan untuk diceritakan, tapi ku ingin mengawali 2010 ini dengan KEJUJURAN. Jujur pada diri sendiri bahwa aku tidak / belum cukup ‘baik’, sehingga masih harus belajar terus memperbaiki diri. Hal opo to???

kena batunyaBeginilah peristiwa yang terjadi kemarin. Sehari sebelumnya, dapat telpon dari seorang sahabat yang baru mudik dari negeri jauh. Ngajak janjian untuk ketemu, katanya siy mo mampir ke tempatku tapi ditunggu sampai sore, tak ada kabar beritanya. Kalau dia ga nelpon lagi keesokan harinya, aku juga lupa digilas kesibukan. Dan hari itu, kami janjian lagi untuk berjumpa besok di SenCi.

Tak lama kemudian, masuk sebuah sms ke esiaku.

“Ini no R***i?” pengirim 0811-xxxx58

Biasanya aku abaikan saja jika tidak kenal nomor si pengirim. Tapi hari itu kok pengen mbales yah.

“Ini siapa?” singkat saja ku membalasnya.

“Ini istri Pak K****, kakaknya M**** dari Itali.”

Gubraakkkkkkk………….!!! Mati dah gw … nyautnya kaga sopan pula.

Buru-buru ku telpon nomor tersebut, dan ….

“Nuwun sewu bu, maaf banget, tadi saya tidak sopan, maaf karena tidak mengenali nomor ibu …. ” Klo saja kulitku putih, pasti udah kayak kepiting rebus deh. Tapi yang jelas, keringat dingin langsung mendera. Tiba-tiba kena penyakit gagap.

“Hehehe … apa kabar kamu? Sudah lama tidak keliatan?” ujar beliau dengan nada ringan, sehingga membuatku menjadi sedikit relaks.

“Ada bu, sibuk sama urusan sendiri. Ini ada apa ya bu?” ganti penasaran kok tumben dicariin sama ibu petinggi.

“Main dong ke Bogor ….”

“Waduh, malu ah bu, sungkan, udah lama ga sowan … ” tau diri banget ya aku.

“Gpp, datanglah … ”

“Umm … boleh ajak teman2 bu? Kami datang besok saja ya bu? Boleh?” Ku mencoba menawar.

“Hari ini aja, ibu tunggu ya, gpp ajak aja teman2nya yang lain.”

“Iya deh bu, setelah ini saya telpon teman2 lain biar rame yang datang ke Bogor.”

“Ok, sampai nanti!”

“Baik bu, terima kasih undangannya, sekali maaf yang tadi.”

“Iya, assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Seketika kutarik nafas dalam-dalam. Rasanya tadi malam engga mimpi deh, tapi kok …. ?

Lain kali harus lebih berhati-hati menyahuti nomor tidak dikenal, agar kejadian hari ini tidak terulang lagi.

Pulut Durian

Malam terakhir di 2009 sudah dilewati. Tak ada yang khusus, semua biasa saja. Kecuali 2 keponakan yang hadir di ‘rumah’, malam tahun baru kali ini dilewati tetap dengan agenda mengumpulkan recehan. Lagipula, untuk bepergian, rasanya males juga, sudah kebayang macet yang menggila seperti tahun2 sebelumnya.

Malam 31 Desember juga akan selalu menjadi malam yang khusus sejak 4tahun yang lalu, sejak si cantiq Egidia lahir. Tadi malam pun dia ada di sini, dan sempat protes kenapa tidak ada KEHEBOHAN menjelang hari ulang tahunnya. Karena keadaan pula yang membuatku lupa membeli kembang api dan trompet. Trompet siy masih mudah dicari, tapi kembang api? Hmm…Akhirnya Egi dan si abang diboyong aja ke lantai 2 dan menonton kembang api dari sana. Untungnya mereka tetap bisa menikmatinya.

Malam tahun baru, rencananya mau bikin barbeque, tapi kondisiku tidak memungkinkan untuk hunting ikan dan lain2nya. Masih untung ada tukang sate yang tetap berjualan, sehingga sate ayam pun menjadi menu spesial malam tadi. O iya, ada menu spesial lainnya ding, yaitu PULUT DURIN. Makanan ini khas dari Medan, khususnya orang Karo. Inipun dadakan juga masaknya.

Menjelang sore, sepupunya swami sms klo dia mangkal berjualan durian di depan Islamic Centre Kramat, Jakut. Dari situ jadi pengen bikin PULUT DURIN, sebenernya ini rencana akal-akalan agar aku tetap boleh nyicipin durian hehehe …. lagian, siapa suruh ngelarang aku makan durian. Dan karena niatnya dadakan, jadi mencari santan dan gulanya pun ndadak pula. Lagi-lagi masih untung ada tukang kelapa dan tukang beras ketan yang buka, padahal itu sudah menjelang maghrib. Yah, masih rejekilah namanya, iya ‘kan?! :P

pulut durian

Sebetulnya niat bikin tulisan perdana di tahun 2010 udah sejak tadi, tapi karena keburu ngantuk, jadi maunya bubu bentaran, eh kok ya kebablasan. Gpp deh, lebih baek telat daripada engga sama sekali ‘kan? Salah satu resolusi di 2010 adalah NGE-BLOG tiap hari, dan harus bisa KONSISTEN.

So, sampai besok lagi yah….