Norak!

Hitungan hari kita akan meninggalkan 2009. Dan belakangan ini rasanya kok aku semakin tak pandai mengatur waktu sehingga tak mampu menghasilkan satu tulisanpun. Sedih rasanya membiarkan blog tak terurus. Tapi begitulah hidup, kita selalu ditempatkan pada pilihan-pilihan yang selalu tak mudah untuk melakukan pilihan yang paling tepat untuk dilaksanakan.

Ketika ada satu isu yang begitu menggelitik untuk ditulis, tapi karena waktu yang sempit terpaksa ditunda. Setelah ditunda, eh kok udah ilang mood. Selalu saja begitu. Padahal, walaupun tulisan di blog ini seringnya berisi curhatan belaka, tapi pastinya satu hari nanti akan menjadi kenangan yang manis untuk diingat kembali.

Baiklah, selagi mood masih ada, walau tenaga tinggal sisa-sisa, kupaksa diriku untuk menulis. Di hari Natal ini, seorang sahabat merayakannya dan jauh-jauh hari sudah mewanti-wanti agar datang ke rumahnya. Undangan yang tak pantas untuk diabaikan, sehingga walau lokasinya jauh untuk dijangkau, maka bersama swami dan seorang sahabat, kami tetap datang ke sana. Maka hari ini jadi hari ternorak buatku :D

Setelah sekian lama tidak pernah menjadi pengguna angkutan umum, hari ini aku harus menggunakan jasa bis kota untuk sampai di Tangerang. Temanku bilang harus naik Primajasa atau AJA dan nanti turun di Tol Bitung. Sudah memang aslinya bukan penyabar, sehingga ketika bis yang dinanti-nanti tak muncul, bawa’annya mo nyetop taxi aja. Padahal, udah sengaja bawa uang pas-pasan biar engga pengen macam-macam.

Ketika ada bis lewat tujuan Merak, segera kami stop dan naik. Baru juga duduk PW, tiba-tiba pandanganku tertuju ke tulisan yang terpampang di atas duduk pak supir. Angka yang lumayan besar dan jelas Rp 17.000,-. Tak sanggup menahan kekagetan, dengan suara tertahan spontan aku berkata : MAHAL BENERRRR???? Temanku tertawa, sambil bilang NORAK LU …. :(

Kepada swami aku berbisik:

“a, kok mahal banget yah? Hiks … ”

“Ywd, mo gimana lagi!”

Urusan ongkos ini menjadi perbincangan lagi ketika kami sudah tiba di rumah sahabat itu. Rupanya, menurut dia, kami membayar terlalu banyak. Ongkos segitu untuk tujuan Merak, jadi kalau turunnya di Bitung atau sebelum Merak ya bayarnya cukup Rp 10.000,- saja. Nah lo? Emang bisa begitu? Hla, si abang kondektur aja engga nanya-nanya mau turun di mana, lalu kita juga bayar sesuai tulisan yang tertera. Hmm ….

Ya sudahlah, ini pengalaman berharga, jadi lain kali, biar engga kaget bin norak, sebaiknya tanya-tanya dulu deh tarifnya. Hehehe … ternyata cerita tentang h ari ini belum usai sampai di sini. Karena apa? Karena pada saat pulang, kami disarankan untuk naik bis yang memang khusus jalurnya dari Citra ke beberapa titik di Jakarta. Bagi yang mau ke Tg.Priok maka disarankan naik yang ke Mangga Dua. Namun, kami telat 1/2 jam sehingga bis yang tersedia tinggal jurusan Slipi saja, dan nanti turun di pintu tol Kebon Jeruk, baru nyambung lagi dengan bis lain ke Tg.Priok. Terpaksalah kami naik bis ini dengan membayar Rp 11.000,- saja.

Di dalam bis aku udah bilang ke swami, agar dia tidak tidur. Sementara aku terlelap dengan pulasnya dan ketika mendusin, sambil mengumpulkan nyawa aku mencoba mengamati keadaan di luar bis. Hmm … kok ini tolnya sudah seperti yang di daerah Jakarta yah?! Apa udah kelewatan Kebon Jeruknya? Berhubung nyawa belum ngumpul, aku masih belum bereaksi apapun. Tetapi ketika ku baca tulisan RS. HARAPAN KITA, spontan ku teriak … waduh, kita udah kelewatan dan membangunkan teman dan swami.

Xixixixi …. asli itu ketawa pait banget dah. Untungnya supirnya baek hati, jadi dikasi tau turun di mana agar mudah mendapatkan bis ke Tg.Priok. Jadilah kami diturunkan di Polda, dan alhamdulillah, baru juga nurunin itu tangga jembatan penyeberangan, bis tujuan Tg.Priok datang. Berlarian penuh suka cita, walau sudah penat sangat, bersemangat sekali naik ke dalam bis yang lengang. Duduk di bagian belakang yang kosong, dan memastikan kali ini tidak tidur lagi. Karena biasanya mereka lewat tol dan cepat sekali tiba di Priok. Daripada nanti kebawa ke terminal yang malah bikin tambah jauh, mending juga menahan kantuk sebentar kan?

Ya ya … akhirnya kami berhasil menahan kantuk sampai bis keluar tol di Plumpang, dan dengan menyambung angkot kecil, tibalah kami di ‘rumah’. Niatnya siy sampai di rumah mau tidur, kenyataannya??

Kenyataannya, sampai di rumah cuma naro barang (hasil palakan di rumah teman tadi), kami memutuskan pergi lagi untuk nonton film SANG PEMIMPI. Iri rasanya dari kemarin cuma bisa baca review dari teman-teman saja. Walau baru nonton tadi, aku tidak punya kesan sendiri terhadap film ini, sehingga tak banyak yang bisa ditulis. Jauuuuhhh banget feel-nya dibandingkan dengan LaSKAR PELANGI. Entahlah, apakah aku yang udah terlalu capek, atau memang filmnya yang rada menjemukan???

Jam sudah menunjukkan 1.34am, saatnya memejamkan mata, semoga besok bisa lebih konsisten dalam menulis. Selamat bubu semuaaa…

Dia gay, so what?!

Setelah melewati minggu-minggu yang melelahkan, akhirnya tadi malam, PC-PC baru itu siap dioperasikan. Bismillah … berkatilah usaha keras kami ini ya Allah, dan Engkau maha tahu peruntukan dari semua kerja keras ini, amin! Begitulah do’a yang terus ku lafazkan ketika swami mengangguk ringan saat ku minta ijin agar boleh memulainya malam tadi. Sebenarnya sedari siang aku sudah membujuknya agar memberikan ijin, tapi swami bersikeras mau beres semua dulu baru boleh terima client. Baiklah …

Dan menjelang Magrib kemarin, ketika aku baru kembali dari luar, baru juga menjejakkan kaki di lobi, swami sudah melambai memanggil agar mendekati dia yang duduk di meja server. Segera ku hampiri dan aku sempat Ge-eR, karena ku pikir dia mau mencium kening seperti biasa kalau lagi senang :P eh tak dinyana swami malah mo nunjukin profil billing yang baru. Profil billing yang NAKAL :D karena nge-bolehin sang operator mengintip semua kegiatan client. Jelas banget deh.

Rupanya client pertama di PC yang baru itu adalah seorang gay, yang sedang mencari ‘pasangan’. Aku pun jadi penasaran seperti apa siy sosok seorang gay di daerah kami ini. Ganteng ‘kah? Gemulai ‘kah? Atau gimana? Berbisik ku tanya swami.

“A, ganteng ya orangnya?”

Swami menjebi sambil tersenyum.

“terus kayak apa dong orangnya? cerita atuh … ”

Pantengin aja di sini, ntar juga orangnya bayar, teteh liat aja, begitu katanya.
Baiklah, dengan ketidak sabaran ku menunggu dalam penasaran yang mendera :D Iya, penasaran seperti apa siy sosok seorang gay. Selama ini aku ‘kan cuma tau dari berita belaka.

Alert berbunyi, pertanda client sudah selesai dengan aktivitasnya. Keluarlah sosok seorang pria berpostur sedang kalau tidak boleh dibilang mungil, berambut ikal, dan ku tatap wajahnya yang polos. Tersenyum manis, ku sapa dia.

“Sudah, mas?”

“Sudah, mba, berapa?”

Transaksi selesai dan dia pamit.

“Hati2 ya mas, kembali lagi besok ya…”

Aku tercenung. Ini toh sosok ‘gay’ itu. So what?! Campur aduk rasanya. Inilah perubahan jaman. Aku tidak berani bilang ini perubahan yang EDAN, tapi jelas-jelas ini sebuah perubahan. Dan sebagai sesama insan Illahi, dituntut tepo seliro yang tinggi menghadapi kenyataan ini. Perubahan yang membawa perbedaan, tapi bukan perbedaan yang perlu untuk dicemooh karena kita yang berbeda dari dia pun belum tentu lebih baik dalam keseharian dan dalam pola pikir.

Aku masih tergugu dengan pikiran penuh tanya, salah satunya, besok apa lagi?

Celoteh: Flashdisk yang nakal

Saya sedang melakukan ‘hunting job’ amanat swami di KBS, tiba-tiba seorang anak laki2 berseragam abu-abu mengetuk pintu; kirain mau pake inet, ternyata dia mo nge-print. Entahlah, belakangan semangat berbaginya sedang tinggi, jadi tanpa menghitung berapa lembar yang mau di-print, saya bersemangat untuk membantunya. Padahal petugas masih pulas, dan padahal kalau mau nolongin ya terpaksa ke lantai dua yang dalam keseharian belum tentu satu kali mau naik ke atas.

Pagi ini SUKSES ‘dikerjain’ si niat baik hati dan mau menolong. How come?! Iyalah, sampai di komputer server, ternyata harus memasukkan paswed yang mana saya yakin yang tahu paswednya cuma petugas atau bahkan swami. Demi tidak mengganggu swami yang baru terlelap jam tiga dini hari, maka petugaslah yang diganggu. Angka 469 meluncur dari bibir petugas yang disebutkannya tanpa membuka mata. Bergegas saya ke atas lagi dan mencoba memasukkan angka tersebut berulang-ulang.

flashdisk yg nakalPaswed tersebut tidak berhasil menyampaikan niat saya menolong anak ini, sehingga saya turun lagi mencoba membuat petugas benar-benar terjaga sebelum menyebut angka lain. Saking saya yang pemilik yang membangunkan, sehingga si petugas dengan ‘rela’ naik ke lantai atas dalam keadaan setengah terjaga. Ajib! Dia ga tau paswednya gitu … horeeeeeee……….. Berarti harus menanyakan pada swami. Hmm … mari kita coba :D

“A, bangun sayang … itu paswed di komputer server apa’an?”

“………………..” Yang dibangunkan tak bergeming. Maklumlah baru terlelap beberapa jam saja.

“A …bangun atuh, ada anak sekolah mo nge-print, kesian … ”

“……………..” balik badan pindah posisi. hmm…

“Sayaaaang…. gpp ga bangun, yang penting kasi tau paswednya apa?” Sambil menggoyang-goyangkan badan swami berharap dia segera terjaga.

“kbsnet***…” akhirnya paswed itu meluncur juga dari bibir swami dalam keadaan setengah terjaga tapi mata tetap terpejam rapat.

Saya masih semangat 45 mau menolong anak tadi, buru-buru menaiki tangga yang tidak enak itu ke lantai dua. Jreeeeeeeng……….!!! Berhasil … berhasil … berhasil … horeeee….*gaya dora banget yah?* Ya, sodara-sodara, berhasil masuk ke komputer server. Mulailah saya mencoba memasukkan flashdisc si bocah. Masuk ke My Computer, niatnya siy mau buka file lewat sana langsung. Lho? Kok ga ada? Ok, mari kita coba buka dari windowsnya saja.

“Filenya apa dek? words ato excel?”

“Words, bu.”

“ok, kita coba dulu yah. Tapi apa kamu yakin file-nya di situ?”

“Yakin, bu.”

“emang kerjain di mana? kok ga langsung di print kemarin?” sambil mencoba menemukan filenya.

Berulang kali klik REFRESH, tapi flashdisk dia aja tidak kedeteksi. Nah lo? Si anak pun panik.

“Ga ada ya bu?! si anak mulai gusar.

“iya, ga bisa niy, bahkan flashdisc kamu aja tidak terdeteksi lho.” Sambil mencoba flashdisc yang ada, dan menunjukkan tanda kalau memang flashdisc kita terbaca.

“Apa flashdisc saya rusak ya bu?”

“Bisa jadi, soalnya ga ke-detect sama sekali siy ….”

Si anak terlihat merasa bersalah, sekaligus gelisah karena alamat gagal mengumpulkan tugas hari ini. Niat baik untuk menolong masih tinggi, maka saya bertanya.

“Lain kali, kalau memang kamu ngerjain tugas itu di warnet, walau sudah disimpan di flashdisc, sebaiknya tetap kamu simpan dengan cara lain. Ayo ke bawah saya kasi tau caranya.” Bergegas saya turun ke bawah dan anak itu mengekor dengan manisnya.

“Kamu pasti punya akun email toh? Nah, file itu kamu kirimkan ke emailmu sendiri, baik dalam bentuk lampiran ataupun di-copas ke body text email”

“Tapi, settingannya ilang ya bu?”

“Maksud kamu settingan editan huruf2?”

“iya bu.”

“Kalau dalam bentuk lampiran, biasanya siy tidak ada yang berubah. Tetapi kalau lampiran tidak bisa dibuka, minimal datanya masih ada di body text email, dan kamu tinggal meng-edit sesuai yang kamu inginkan. Bukankah datanya jauh lebih penting?”

“iya bu, makasi banyak ya bu. Selama ini saya tidak tahu bikin begitu.”

“Ya udah, lain kali kamu ikutin aja saran saya tadi.” Sambil menebar tersenyum manis.

“O iya, tadi ‘kan flashdisc kamu ga kedeteksi tuh, klo mo beli, kita ada jual kok. Mampir ke sini lagi yah.” Teuteup jualan hahaha … dasar pedagang ya gini ya hihihi

“Iya bu, makasi.” Si anak pergi dengan tersipu malu. Haiyah … :P

Seberapa Pedulikah Kita?

Senang sekali mempunyai kebiasaan bangun pagi, jadi semakin kaya rasanya karena punya banyak waktu untuk memulai aktifitas tanpa dikejar-kejar rutinitas lainnya. Dan pagi ini saya jadi berkesempatan untuk mampir ke blognya mas Vavai kemudian menemukan tulisannya tentang ‘minimalis’ yang kemudian saya terjemahkan sebagai penghematan dalam banyak lini kehidupan.

Seringkali memang kita tidak menyadari bahwa perubahan itu harus kita mulai dari diri sendiri. PLN memang salah karena tidak menjaga jumlah pasokan listrik pada pelanggannya, tapi apakah kita sebagai pengguna listrik tidak punya andil dalam menghabiskan pasokan listrik untuk hal-hal yang mubazir? Apalagi tak jarang saya mendengar ada kalimat seperti ini: “yaelah, yang penting kan gw bayar setiap watt yang gw pake!” Saya tidak akan menggurui orang lain, tapi ingin koreksi ke dalam. Apakah saya sudah menghemat listrik di rumah?

Saya harus mengakui dengan jujur bahwa saya BELUM berhasil mendisiplinkan diri untuk menghemat listrik. Terutama listrik yang digunakan oleh laptop + PC di rumah. Masalahnya cuma karena malas menghidupkan kembali :( Jadi tak jarang, laptop + PC hidup secara bersamaan padahal pemiliknya tidur pulas. Bahkan, karena sambungan koneksi utamanya ada pada PC, padahal yang paling sering digunakan adalah laptop, maka sangat sering PC dalam keadaan ON tapi mubazir tidak digunakan. Memalukan, bukan???

Namun, di sisi lain, saya merasa sudah mulai bisa berhemat karena kalau malam sebelum tidur, saya ingat untuk mematikan dispenser. Senang sekali bisa mengurangi ‘suara-suara’ ketika mematikan dispenser. Perhatikan deh, semua elektronik itu mempunyai suara sendiri lho. Keadaan di rumah jauh lebih ketika kita mematikan sebagian elektronik.

Perihal lain yang sampai saat ini masih mengganggu saya dan belum saya temukan solusi tepatnya adalah penggunaan plastik untuk menampung sampah basah maupun kering. Jika sampah tidak diwadahi di plastik, kasihan sama yang ‘ngangkut’, jorok dan ‘blepetan’. Bahkan, saking kasihannya sama mas-mas yang tugasnya setiap 2hari sekali mengangkut sampah dari bak setiap rumah di komplek ini, saya pernah memarahi seorang pemulung yang kedapatan sedang ‘ngoprek2′ sampah yang sudah dibungkus plastik nan rapi. Pemulung memang tidak akan menemukan apapun di kantong plastik sampah saya, karena saya selalu memilah-milah sampah kertas (kotak dari kertas rupanya sasaran pemulung juga) dan botol plastik bekas minuman. Walau sesudahnya saya jadi ‘takut’ akan diisengi oleh pemulung tersebut, karena saya seringkali membiarkan barang-barang tergeletak di halaman belakang, termasuk mesin cuci :D

Kira-kira, apalagi yang bisa kita hemat dalam keseharian ya?

Selamat Jalan, Pangeranku

Ku mengenalmu empat tahun yang lalu, tepatnya di bulan Agustus 2005 dan ku jatuh hati pada pandangan pertama. Kali pertama ku bersitatap denganmu tlah meyakinkanku ‘tuk memilihmu menjadi pendamping hidupku. Dan sejak itu, kau selalu setia menemaniku, mendengarkan curhatku yang terkadang diseling sedu sedan tangisku, kapan saja tak kenal waktu. Kau tidak pernah mengecewakanku sampai hari ini. Sungguh, aku harus mengakui bahwa tak pernah ku sangka bahwa kesetiaanmu begitu mengesankan, membuatku tak pernah berpikir jika sampai terpisahkan denganmu.

Duhai ‘mama biring’ aka si item, pangeranku sayang, hari ini ku lepas kepergianmu, tanpa air mata. Kilat sedih pasti ada, rasa haru menyeruak di dada, tapi ku tahu kau tak ingin ku melepasmu dengan kesedihan, karena kau pasti memberikan kehidupan yang baru bagiku.

Hari ini, kebersamaan kita terpaksa disudahi. Janji setia di antara kita tak bisa ditunaikan walau tak ada dusta di antara kita. Tak pernah ku bayangkan bagaimana ‘kan ku lewati hari esok tanpamu. Aku juga memikirkan bagaimana kau tanpaku, akankah kau temukan pendamping yang sebaik diriku atau bahkan lebih baik? Semoga siapapun yang mendampingimu nanti, ku harap dia dapat menjadi kekasihmu yang terakhir sampai maut memisahkan kalian. Berjanjilah untuk setia padanya nanti atau kau carilah jalan ‘tuk kembali padaku.

Kau dan aku sejatinya berdoa bersama, agar kebersamaan kita selama empat tahun ini dapat diulang kembali, entah di dunia ini, atau di masa yang akan datang.

Pangeranku, sungguh perpisahan ini begitu menyakitkan, tapi ku percaya kau juga memberi jalan terang bagi masa depan yang sedang kutiti bersama rivalmu. Kuatkan hati, tegakkan kepala. Masa ini memang harus kita jalani, sungguh tak kuasa kita menolaknya.

Selamat jalan, pangeranku! Doaku selalu bersamamu, sosokmu ‘kan terus lekat dalam kenangan.

Tragedi Seragam

Waktu menunjukkan pukul 2 lewat ketika ku terjaga dari tidurku. Teringat emang ada niatan bangun jam segitu, buat bantuin swami ‘jaga lilin’. Guess what? Ternyata swami masih anteng di ruang kerja. Hmm … kok gerah banget ya? Mandi dulu ah biar seger …. Oopss … kok kayaknya ada rasa-rasa panggilan alam neh, ya udah mari kita tuntaskan dulu. Biasanya aktivitas itu dilakukan sambil membiarkan pikiran mendata pekerjaan yang mesti masuk dalam antrian ‘to do list’. Eh? Apa itu yang di ember cucian kotor? Bukannya itu seragam keponakan tersayang? Hari apa ini? Kamis? Panik pun mendera!!!

Gee…!!! Beneran lho, itu seragam ponakan yang kudu dipakai hari ini. Mati lu! Gimana niy :( Ga mau kan ponakan ngalamin kejadian di foto di atas LOL Buru-buru kirim SMS ke ipar nanyain anaknya pakai seragam apa hari ini. Tapi kok ga ada balasan? Ya iyalah, jam segini umumnya orang pada pules bukan? Hadohhh….. sempat nggerundel di dalam hati. Kenapa? Bayangin aja deh, kemarin itu, sepulang anaknya sekolah, dan sepulang ibunya mengajar, mereka itu di rumahku, dan engga kemana-mana. Aku malah yang ada urusan dan pergi seharian, baru kembali sore menjelang magrib. Kok ya bisa engga inget dan nyempetin meriksain keperluan anaknya sekolah besok????

Baiklah, sesi mangkel mending disudahi saja, daripada besok ponakanku sekolah engga ada seragam maka sebagai Tante yang baik hati dan tidak sombong, ku berinisiatif untuk melakukan kegiatan laundry dadakan. Sepasang seragam itu sekarang nangkring di sebuah kursi lipat di depan kipas dengan kecepatan maksimal. Barusan ku periksa, alhamdulillah, bajunya sudah kering, tinggal berharap roknya juga engga bawel2 amat bertahan dalam lembab. Kalaupun iya, siap-siaplah dia dihajar oleh setrika super panas sebentar lagi.

*lagu SADIS-nya Afgan* baru saja berkumandang pertanda ada SMS masuk, sudah ku tebak pasti iparku. Betul saja, dan isinya apa????

“Kak, hari ini Dinda engga usah sekolah, karena seragamnya msh di rumah, kami masih capek buat nganterin ke situ.”

“What? Bukannya mer-put hari ini???”

“Bukan, kak, hari ini kan Jumat, jadi pake baju olah raga.”

Gubraaaaaaakkkkkk……!!! Ternyata salah hari toh? Ya ampuuun….udah heboh sendiri dong huhuhu … wes wes … payah dah klo sudah jadi pelupa gini.

Begitulah sekilas curhatan ku pagi ini heehehe :P

Pilihan Komunitas

Artikel ini menjadi penting bagi pemilik blog karena punya keterkaitan dengan salah satu komunitas dari beberapa komunitas yang disebutkan oleh penulis. Ketika membaca artikel ini, jadi teringat kepada komunitas terakhir yang saya ikuti, Komunitas Blogger Bekasi. Kenapa? Entahlah, tiba-tiba saja teringat :)

Kamis, 12 November 2009
Oleh : Joko Sugiarsono

“Menjadi komunitas pilihan memang bukan soal mudah. Namun, juga bukan sebuah utopia. Bagaimana caranya? Mari kita lucuti rahasia sukses beberapa komunitas yang mampu mewujudkannya.”

Pengurus Bike to Work (B2W) boleh saja enggan menyebutkan komunitasnya sebagai komunitas penggemar bersepeda paling menonjol. Akan tetapi, jelas sudah tanpa klaim mereka pun, B2W memang komunitas istimewa. Simak saja apresiasi berbagai kalangan kepada komunitas yang didirikan Toto Sugito, Taufik Hidayat dan Tekad Adiyono ini. Pada 2006, B2W memperoleh penghargaan Clean Air Award dari lembaga bergengsi Swiss Contact karena peran kepeloporannya di bidang perbaikan lingkungan (udara). Lalu, pada 2007 komunitas ini dipercaya sebagai penyelenggara kegiatan pendahuluan Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Denpasar dengan kegiatan bersepeda Jakarta-Bali, yang rombongannya dilepas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dari segi nama, popularitas komunitas yang dideklarasikan pada 27 Agustus 2005 ini tak usah dipertanyakan. Jumlah anggotanya pun berkembang pesat, dari hanya 2.500 orang pada 2006, menjadi 5 ribu orang pada 2007, dan 10 ribu orang pada 2008. “Tahun (2009) ini diperkirakan anggotanya mencapai 22 ribu orang,” kata Rivo Pamudji, Ketua I B2W. Jaringan (cabang)-nya pun sudah tersebar di 36 wilayah setingkat kabupaten/kotamadya di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu efeknya,”Sejak kampanye pertama B2W (pada 4 Agustus 2004), kami sudah mendapat berbagai tawaran kerja sama dari banyak perusahaan,” kata Taufik Hidayat.

Di Indonesia, komunitas istimewa seperti ini bukan hanya B2W. Contoh lainnya adalah id-BlackBerry, komunitas pengguna dan penggemar BlackBerry di Tanah Air. Pada 2005 delapan pemilik Blackberry awal merintis milis (mailing list) BlackBerry pertama di Indonesia (id-blackberry@ yahoogroups. com). Agus Winarto, salah satu moderator id-BlackBerry, mengakui saat ini memang cukup banyak komunitas BlackBerry berbasis milis di Indonesia, tetapi komunitas yang dikelolanya diklaimnya paling besar. “Yang membuat besar komunitas ini karena id-BlackBerry merupakan milis pertama di Indonesia,” katanya. Ya, kepeloporan memang bisa membuat sebuah komunitas jadi pilihan. Bahkan, Arie S. Antara, salah seorang pendiri dan moderator id-BlackBerry, berani mengklaim milis BlackBerry-nya ini merupakan yang terbesar di dunia. “Lebih dari 5 ribu anggota telah bergabung di milis ini, sedangkan milis di AS saja cuma punya 3 ribu anggota. Saya tahu karena saya juga moderator milis BlackBerry di sana,” kata Arie dengan nada bangga. Yang juga istimewa, traffic di milis ini dalam sehari mencapai 1.000-1.500 posting. Namun, keterangan ini bisa diterima karena pertumbuhan pengguna BlackBerry di Indonesia tergolong tertinggi di dunia, dengan data terakhir, seperti disebut Agus, mencapai 800%.

Yang menarik, sebuah fans club juga bisa jadi komunitas istimewa. Contohnya Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC), klub para penggemar Chelsea FC. Komunitas penggemar klub sepak bola yang didirikan oleh Mogamas Farkhan, Agung Santoso, Retni Setyawati dan Ary Muladi pada 7 Oktober 2003 ini sudah terdaftar resmi di London. Anggota aktifnya kini mencapai 1.400 orang, sedangkan forum dan milis di website-nya menampung lebih dari 4.500 peserta. Komunitas ini boleh berbangga karena sudah dua kali diundang ESPN dalam pertemuan antar-fans club sepak bola se-Asia Tenggara. Dalam hal prestasi, di sekretariatnya telah berjejer berbagai piala, termasuk Piala Bergilir dari Menpora (Kejuaraan Futsal Antar-Fans Club).

Tiga komunitas di atas bisa dijadikan contoh di antara komunitas-komunitas yang pantas dinilai sebagai komunitas pilihan (communities of choice). Mereka punya ciri-ciri, antara lain, namanya beken (populer), anggotanya banyak dan terus berkembang, menonjol di antara komunitas sejenis, dicintai dan diloyali anggotanya, diapresiasi banyak kalangan, serta diminati kalangan produsen ataupun pemilik merek produk yang ingin mendongkrak nama dan citranya. Tentu saja, ada beberapa komunitas lain di luar ketiga komunitas tadi yang sudah bisa dimasukkan dalam kelompok komunitas pilihan ini.

Lantas, bagaimana mereka bisa mengembangkan komunitas masing-masing sebagai community of choice? Kita bisa belajar dari para pelaku di lapangan seperti mereka. Pertama, sebuah komunitas bisa menjadi komunitas pilihan karena menawarkan sebuah visi-misi yang idealis. Ini, misalnya, bisa dilihat dari kehadiran B2W. Ketika dideklarasikan pada 27 Agustus 2005, visi yang dipancangkan adalah ikut menciptakan lingkungan hidup yang sehat dengan kegiatan bersepeda. Di antara misi besarnya adalah membudayakan kegiatan bersepeda untuk beraktivitas (istilah “to work” tak hanya diartikan “bekerja”, tetapi “beraktivitas” ) dan mendorong terwujudnya jalur khusus sepeda di kota-kota di seluruh Indonesia. “Idealisme untuk mengampanyekan lingkungan sehat melalui bersepeda itulah yang membuat B2W bisa menjadi besar seperti sekarang,” kata Taufik meyakini.

Rasanya tak berlebihan. Ketika dideklarasikan, sudah cukup banyak komunitas bersepeda di Tanah Air. Ingat saja, para pendiri B2W sendiri sebelumnya adalah para pegiat aktivitas bersepeda lewat Komunitas Mountain Bike-Jalur Pipa Gas di seputar Bintaro dan

Akan tetapi, visi-misi besar tak ada gunanya bila para anggota komunitas tak memperoleh manfaat. Untuk menjadi komunitas pilihan, sebuah komunitas harus mampu memberikan manfaat bagi anggotanya. Contohnya, dengan ikut B2W, anggota bisa memperoleh pengalaman menarik dalam bersepeda, misalnya lewat acara Fun Bike dan touring. Selain itu, juga bisa memperoleh pengetahuan soal safety riding dan perawatan sepeda, serta asuransi dalam aktivitas bersepeda.

Di komunitas id-BlackBerry, banyak anggota yang bergabung lantaran mengejar manfaatnya. Maklumlah, sebagai produk teknologi, pengguna baru tentu ingin belajar bagaimana memanfatkan handset BlackBerry berikut layanannya. Pengguna lama pun tentu ingin memperkaya pengalamannya ber-BlackBerry, misalnya dengan berbagi pengalaman atau aplikasi. “Di sini memang tempat orang yang ingin tahu dan sharing tentang BlackBerry,” kata Agus Winarto. Reisa Kartikasari, dokter di RS Polri Kramatjati yang baru jadi anggota id-BlackBerry tiga bulan lalu, misalnya, mengaku memperoleh manfaat dengan mengikuti komunitas ini. “Selain menambah pengetahuan dan sharing pengalaman dari orang yang lebih tahu BlackBerry, saya juga bisa menambah wawasan lain dan teman lewat forum chatting,” kata sang dokter semringah.

Semakin banyak dan beragam aktivitas yang digulirkan komunitas, secara umum anggota tentu makin senang, dan di sisi lain juga bisa menarik anggota baru. B2W selain menyelenggarakan ajang bersepeda bersama, seperti sudah disinggung, juga mengadakan acara workshop (safety riding, perawatan sepeda, dan sebagainya), bahkan terlibat sebagai pelaku penting dalam kampanye internasional.

Jakarta Mio Club (JMC) juga termasuk komunitas yang rajin menggeber aneka kegiatan. Setiap tahun sedikitnya ada tiga kali touring dengan motor skutik Yamaha Mio mengelilingi kota untuk pelantikan anggota. Kegiatan rutin lainnya adalah kontes modifikasi dan rolling thunder dengan menampilkan aksi-aksi atraktif anggota JMC. “Kegiatan-kegiatan itu yang membuat anggota saling kenal dan dekat,” kata Fathur Rahman, Ketua Umum JMC. Bukan hanya soliditas komunitas yang diperoleh, tetapi juga penambahan anggota baru. Tak mengherankan, meski relatif baru, JMC kini punya 500 anggota. Dalam waktu dekat bahkan akan buka chapter (cabang) di Depok dan Bekasi.

Rupanya, komunitas-komunitas beken ini bukan hanya punya aneka kegiatan berorientasi internal (untuk anggota), tetapi juga kegiatan untuk lingkungan dan masyarakat. JMC, misalnya, dua kali setahun menggelar acara touring bakti sosial (baksos) dan donor darah. “Tapi, karena sekarang lagi musim bencana, acara baksos kami jadi lebih sering,” kata Fathur. B2W juga punya program donor darah, penggalangan dana korban bencana, dan bakti sosial di panti-panti asuhan selama bulan puasa. Bahkan, acara seperti ini sudah digarap di cabang-cabangnya. Dan, komunitas id-BlackBerry yang sebenarnya lebih berbasis milis pun seperti tak mau kalah. “Kami juga pernah membuat kegiatan untuk menyumbang korban gempa di Tasik,” kata Dian Adiwaskitarini, moderator milis id-BlackBerry lainnya.

Guna lebih mengenalkan nama dan citranya, juga untuk memperbesar gaung aktivitasnya, beberapa di antara komunitas pilihan ini juga menyadari pentingnya promosi dan komunikasi pemasaran. Aktivitas B2W, sebagai contoh, banyak diliput media. Bahkan, ketika melakukan kampanye pertama pada 4 Agustus 2004 sebelum komunitas ini dideklarasikan, perintisnya sudah memikirkan lokasi dan caranya agar diliput media. Memang, acara kampanye yang dilakukan di halaman Gedung Bank Danamon (kini Gedung Sampoerna Strategic) itu yang tadinya ditargetkan hanya didatangi 50 penggemar bersepeda ternyata diikuti 120 penggemar. Dalam beberapa hari media juga masih meliput peristiwa itu. “Telepon saya tidak berhenti sejak itu, karena banyak orang menanyakan B2W,” Taufik mengenang. “Media memberikan kontribusi sangat besar dalam membesarkan nama B2W,” kata Taufik lagi mengakui.

CISC juga tergolong rajin berpromosi, terutama lewat media-media khusus olah raga, Internet, serta secara word of mouth. Promosi lewat media massa ini, menurut Agung Santoso, salah satu pendirinya yang kini duduk sebagai penasihat, tanpa biaya. “Biasanya mereka sediakan space khusus, gratis untuk menyalurkan aspirasi. Kami promosi di sana,” katanya.

Mereka bisa menjadi komunitas pilihan ternyata juga karena kemampuan mereka bergaul dan bekerja sama dengan lembaga ataupun komunitas lainnya. “Sangat penting adanya kolaborasi antarkomunitas,” kata Arie dari id-BlackBerry. Komunitasnya, misalnya, bekerja sama dengan komunitas Gadtorade (Gadget to Trade) yang memang berisi para penggemar gadget, untuk menyelenggarakan acara mengupas problematika BlackBerry dan solusinya. Arie mengungkapkan pihaknya juga akan menjalin kerja sama dengan komunitas penggemar touring seperti dari Harley-Davidson atau komunitas bersepeda, dengan sasaran mereka — yang mungkin juga pengguna Blackberry — bisa memanfaatkan fasilitas GPS-nya.

Dalam konteks aktivitas intercommunity ini, Prasetiya Mulya menyebutkan bahwa pola interaksi yang bersifat “tasking” alias “pembagian tugas” dinilai sebagai pola kemitraan yang ideal. Dalam hal ini, meskipun ada perbedaan nilai (diferensiasi) yang tinggi, ada kesamaan nilai (kecenderungan) yang tinggi pula untuk bekerja sama. Dalam pola ini, komunitas pengajak selanjutnya membuat kemitraan pula dengan komunitas lainnya.

Yang juga menarik diamati, komunitas pilihan ini umumnya juga punya pengaruh (positif) terhadap bisnis. Tidak hanya komunitas yang diinisiasi produsen, tetapi juga yang didirikan atas inisiatif konsumen. Sudah jamak bila produsen atau pemilik merek tertentu akan mengamati komunitas yang mengusung mereknya. Itulah mengapa RIM segera memberikan dukungan sebaik mungkin ketika mengetahui betapa potensial dan pesatnya perkembangan komunitas id-BlackBerry. Indosat sebagai salah satu reseller dan penyedia layanan BlackBerry di Tanah Air pun tak menyia-nyiakan berkembangnya komunitas penggunanya. “Mereka bisa berfungsi sebagai penampung saran,” kata Hesti D. Priamsari, Kepala Divisi Loyalitas & Retensi Integrated Marketing Indosat. Pengaruh lainnya,”Turn rate (tingkat perpindahan pelanggan) anggota komunitas itu jauh lebih kecil, cuma 2%, padahal rata-rata industri telco sampai 12%. ARPU (average revenue per user) mereka juga lebih tinggi dari pelanggan lainnya,” kata Hesti

Begitu pula, melihat berkembangnya komunitas Avanza-Xenia Indonesia Club (AXIC), yang juga dibentuk atas inisiatif konsumen, PT Toyota Astra Motor (TAM) tak segan memberikan dukungan untuk berbagai kegiatannya, bahkan dalam bentuk materiil (misalnya, dana). Maklumlah, AXIC kini telah tumbuh menjadi komunitas pengguna produk TAM yang paling besar dari segi jumlah anggota — walaupun umurnya relatif masih muda. “Dukungan TAM kepada komunitas itu lantaran adanya imbas positif dari komunitas untuk merek kami,” ujar Achmad Rizal, Manajer Komunikasi Pemasaran

Produsen atau pemilik merek yang sigap bahkan bisa memanfaatkan komunitas independen yang tidak mengusung merek tertentu. Contoh paling gampang melihat apa yang dilakukan Polygon. Ronny Liyanto, GM Polygon, mengaku selama ini telah menjalin kerja sama dengan puluhan komunitas bersepeda, antara lain B2W, Komunitas Sepeda Ontel, Komunitas Sepeda Gunung dan Komunitas Sepeda Lipat. “Intinya, kami mau bekerja sama dengan komunitas-komunitas yang punya kesamaan visi dengan kami, yakni memasyarakatkan gaya hidup bersepeda,” katanya.

Di antara komunitas bersepeda, B2W yang kelihatan paling mampu melakukan kerja sama mutualistis dengan produsen sepeda seperti Polygon. Contohnya, komunitas ini telah mengajukan desain pembuatan sepeda dengan harga terjangkau. Tahun lalu tipe sepeda buatan B2W bisa terjual hingga 2 ribu unit. “Belum pernah ada satu tipe sepeda yang terjual habis sebanyak 2 ribu unit dalam setahun,” kata Ronny. Yang terbaru, desain sepeda lipat B2W untuk produksi pertama sebanyak 400 unit pada Agustus lalu ludes tak sampai sebulan. “B2W tentu mendapatkan royalti dari setiap penjualan sepeda tersebut. Pemasukan ini akan digunakan untuk mendukung kegiatan komunitas ini,” kata Rivo terus terang.

Seperti terungkap dalam penuturan di atas, komunitas-komunitas beken itu — lewat kepeloporan, visi, strategi ataupun kreativitas dalam aktivitas mereka — mampu menunjukkan keunggulan dan keistimewaan mereka, sehingga bisa menjadi komunitas pilihan. Kita sudah mengetahui, cukup banyak komunitas bersepeda, tetapi B2W bisa tampil terdepan. Begitu pula, cukup banyak komunitas pengguna BlackBerry, tetapi komunitas id-BlackBerry yang berbasis milis bisa memiliki anggota terbanyak, bahkan diklaim sedunia. Juga, cukup banyak komunitas yang mengusung merek-merek produk TAM di Tanah Air, tetapi AXIC-lah yang bisa menonjol.

Jalan lain untuk menjadi komunitas pilihan adalah siap update alias bersikap adaptif terhadap perkembangan dan hal-hal baru. Komunitas yang terkait dengan gadget biasanya memang harus mampu memiliki sikap dan kemampuan ini bila ingin diminati orang. Maklumlah, perkembangan teknologi demikian pesat. Komunitas id-BlackBerry termasuk yang mampu mengakomodasi kebutuhan anggota terhadap perkembangan terbaru seperti itu. “Mereka (para pengguna) rupanya sangat peka dengan hal-hal baru,” kata Agus Winarto. Ia bahkan menyebutkan ada “kegilaan” sebagian anggota ketika ada versi ataupun aplikasi BlackBerry terbaru. “Ketika belum resmi hadir di Indonesia, teman-teman di komunitas ini sudah bisa mencobanya,” katanya lagi bangga.

Namun, betulkah adaptif terhadap hal-hal baru hanya milik komunitas gadget? Tidak juga rupanya. Contohnya, B2W terlihat tak ketinggalan isu terbaru, misalnya kini mengembangkan kegiatan yang terkait dengan tren Go Green. Contoh lainnya, mengakomodasi tren sepeda lipat.

Nah, beragam kegiatan, apalagi bila ingin berjalan rutin bahkan ada yang sampai beraroma bisnis, jangan digarap secara serampangan dan asal-asalan tanpa rencana. Kenyataannya, meski komunitas ini pada dasarnya berupa paguyuban, beberapa komunitas yang sudah mapan memang punya organisasi yang cukup rapi dan efektif. Ini antara lain bisa dilihat dari adanya pengurus berikut strukturnya, aturan main (peraturan, misalnya AD-ART), program yang sistematis, dan kehadiran cabang-cabang pendukungnya di berbagai daerah. Proses regenerasi kepengurusan, misalnya, sudah terjadi di B2W. “Peran pendiri itu memang fakta sejarah. Tapi, saya berterima kasih kepada para pengurus yang telah meneruskan kampanye B2W,” kata Taufik Hidayat. Kini, komunitas yang telah beranggotakan 22 ribu orang ini punya cabang di 36 wilayah. Masing-masing punya otonomi sendiri untuk mengembangkan kreativitas mereka. “Hubungan dengan B2W Indonesia bersifat koordinatif saja,” kata Afan Mendrova, Ketua II B2W. “Saat ini kami malah sedang merumuskan mekanisme musyawarah nasional atau jambore B2W Indonesia agar bisa merumuskan berbagai macam agenda nasional B2W,” tambah Afan.

Ya, banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan pula untuk menjadi komunitas pilihan.

Reportase: Ahmad Yasir Saputra, Moh. Husni Mubarak, Herning Banirestu, Sigit A. Nugroho, Siti Ruslina

BOKS


10 Jalan Menjadi Komunitas Pilihan

  1. Punya visi-misi ideal
  2. Punya organisasi dan mekanisme kerja yang efektif
  3. Mampu menggulirkan aneka kegiatan bermanfaat
  4. Bisa mengomunikasikan serta mempromosikan peran dan kegiatannya
  5. Bisa memberi manfaat untuk anggotanya
  6. Punya kepedulian pada lingkungan dan masalah sosial
  7. Mampu menunjukkan kepeloporan ataupun keunggulan di bidangnya
  8. Mampu menjalin kerja sama dengan lembaga dan komunitas lainnya
  9. Bisa memberikan dampak positif pada dunia bisnis
  10. Bisa beradaptasi dengan perkembangan dan hal-hal baru

Poin terpenting dari artikel ini menurutku adalah tentang sepuluh poin di atas, kiranya dapat menjadi pengingat bagi setiap komunitas yang sudah berdiri maupun yang akan berdiri. Tanpa itu, rasanya sulit bagi sebuah komunitas untuk bisa bertahan lama. Tidak percaya? Coba saja :)