Recent Blog Posts

Kisah Mantan Tukang Rumput

Sosoknya mungil, kulitnya legam eh tapi tak selegam warna kulit sodara kita yang dari Papua ding. Ini mah legamnya karena lama terpanggang matahari ketika dia masih berprofesi sebagai tukang rumput. Raut wajahnya masih polos di usianya yang sudah 17tahun. Murah senyum dan cekatan. Ini bukan asal puja puji, tapi saya memang kesengsem pada bocah eh udah bukan bocah ya :D

Pada remaja yang mengantongi ijasah SMP ini sekarang harapan saya tumpuk banyak-banyak. Semoga sih bisa klop dengan harapan dia juga. Enam bulan yang lalu kami impor dia dari kampung suami. Baru 2 hari bersama kami, saya punya feeling kalau pekerjaan bagus. Biasa pegang arit, tapi begitu dikasih mouse, lancar jaya. Berani pula anaknya, beda dengan yang 1 lagi yang butuh 2 bulan mengumpulkan keberanian untuk menerima klien yang mau print dokumen. Dia baru 2 hari itu sudah berani ngerjain print-an. Ajib ‘kan :D

Ketika pekerjaannya ada yang kurang beres, saya kasih tahu kepada seniornya untuk mengajari, eh dia langsung bilang, lain kali langsung kasih tahu saja, saya lebih senang, begitu katanya. Wah! Anak ini kelihatannya saja masih bocah, tapi pemikiran dan kepribadiannya sudah matang untuk anak seusianya. Sangat bertolak belakang dengan karyawan yang 1 lagi, yang sebaya dengannya, sama-sama putus sekolah juga.

Rasa senang ini sempat terpental ketika sebulan yang lalu dia bilang mau berhenti. Sempat saya gundah gulana memikirkan cara untuk mempertahankannya. Hingga dalam satu kesempatan saya ajak dia bicara. Rupanya ada temannya yang mengajaknya bekerja di tempat catering di Tangerang. Dan setelah perbincangan yang lumayan lama tapi tidak alot itu, saya tawarkan dia mengambil jatah liburnya untuk pulang kampung, melepas kangen pada keluarganya, sambil memikirkan ‘ladang’ yang mana yang selanjutnya akan ia garap.

Saya bersyukur ketika dia kembali dan mau meneruskan menggarap ladang yang sama. Sekarang ini, setelah 1 karyawan mudik dan tak kembali, pekerjaannya untuk input data stok barang saya limpahkan pada bocah ini. Dengan catatan, dicoba dulu, kalau tidak sanggup, jangan diteruskan. Tentu saja ada ekstra pemasukan dong untuk tambahan pekerjaan ini. Sampai hari ini, sudah 2 minggu dia mengerjakan tugas yang baru yang biasa dikerjakannya di sela-sela pekerjaan rutinnya. Sejauh ini dia masih menikmati dan belum ada keluhan. Beberapa kali sempat saya tanyakan apa kendalanya dalam mengerjakan tugas itu. Semoga ke depannya tetap lancar jaya.

Dan yang lebih melegakan saya adalah, ketika saya sedang menggalau memikirkan jam kerja yang menurut saya terlalu panjang. Saya katakan padanya dia boleh mengurangi jam kerjanya jika dia keberatan, tapi jawabannya sungguh di luar dugaan saya. Jika biasanya karyawan yang lain paling senang jika dikurang jam kerjanya atau tidak disuruh lembur, dia malah bilang, “saya senang kok selesai kerja bisa langsung tidur. kalau selesai kerja tapi waktu tidur masih lama, malah bingung mau ngapain. kalau keluar, nanti uang juga keluar.” Langsung deh saya ajak tos-an hehehe …

Melihat semangat kerjanya, pernah sekali waktu saya tanyakan, apakah dia masih ingin melanjutkan sekolah, entah ke SMA atau STM? Tapi dengan yakin dia bilang mau kerja saja. Lalu kami coba mengarahkannya untuk belajar jadi teknisi, dan untuk mengawali ini dia sudah setuju untuk mengambil kursus singkat  untuk menjadi teknisi di salah satu tempat kursus komputer terdekat. Kata suami, kalau sudah ada basicnya, nanti suami lebih mudah mengajarinya. Semoga saja, anak ini betah bersama kami seterusnya, sampai terasah keterampilannya menjadi teknisi kelak. Karena hanya dengan begitu dia bisa mengubah nasibnya. Kalau cuma jadi operator warnet saja, gajinya ya segitu-gitu saja. Tapi kalau nanti sudah meningkat jadi teknisi, tentu sudah lain lagi. Sekarang saja dia sudah mengantongi 1.8jt setiap bulannya, dan dia sangat senang karena bisa menabung banyak setiap bulannya.

Tinggal sekarang saya masih mencari sambil berharap, semoga karyawan berikutnya yang akan kami rekrut nanti bisa sebagus anak ini kualitas mental dan etos kerjanya, sehingga mudah membangun hubungan kerja yang harmonis :) Doakan kami yaaa :D

 

Read More

Miliknya Bukan Milikmu

Sana ribu, sini ribut. Semua ribut urusan lahan. Cakepnya lagi, muncul pengakuan kalau mereka sadar kalau tanah yang mereka tempati bukanlah milik mereka. Tapi tetap saja mereka menuntut sejumlah ganti rugi. Lalu, ingatan saya melesat pada satu kejadian belasan tahun yang lalu.

“Kemana kakak itu, mak?”

“Ke ladang, katanya.”

“Ladang? Emang punya ladang di Jakarta?”

“Ladang rame-rame.”

“Dimana ada ladang rame-rame? Gak paham sih aku?”

“Iya, tanah orang. Digarap rame-rame. Katanya untung-untungan aja, kalau diusir ya pergi, kalau gak ya terusin aja di situ.”

“Ha??? Kok gitu? Apa gak malu kalau sampai diusir nanti itu, mak?”

“Gak taulah, rame-rame katanya. Jadi kalau ada apa-apa ya rame-rame aja nanti.”

“waaah … gak bener ini. Mestinya kalau sudah tahu itu bukan punya kita, jangan tempatilah.”

“Katanya tanah kosong, udah lama gak dipake, sayang dianggurin, makanya dipake orang rame-rame. Ada yang sudah panen pun, kakakmu itu justru baru mau nyoba. Dia pun diajak temennya.”

“ckckck … gak bener itu mak, gak boleh. Entah siapapun yang punya, mana boleh ditempatin gitu aja.”

“Sudah, biarin aja, itu kan tahan-tahanan. Belum tentu nanti kakakmu betah berladang, aslinya bukan peladang.”

Dan benar saja, si kakak (kenalan sekampung) cuma bertahan beberapa bulan, malah mungkin tak sampai panen. Lahan itu ditinggalkannya, dan masuklah orang baru. Lahan itu sekarang masih kosong. Kadang-kadang digunakan tukang sirkus keliling, kadang-kadang ada pasar malam. Tapi di beberapa sisi sudah dikuasai orang-orang sejak belasan tahun yang lalu.

Maka saya pun berpikir, pasti kurang lebih begitulah dulu asal muasalnya penguasaan tanah-tanah negara yang dianggap tak bertuan karena dibiarkan kosong dalam jangka waktu yang lama. Belum lagi keterlibatan oknum-oknum petugas penyedia listrik ikut memperkokoh cengkeraman para penjarah tanah. Ya, saya melabeli mereka penjarah tanah!

Secara logika, secara umum, jika mereka berpikir dengan kesadaran penuh, seharusnya bersyukur telah menggarap tanah itu secara gratis belasan tahun. Bisa tinggal di sana pula. Bayangkan jika harus menyewa, berapa dana yang sudah tersedot ke sana? Tapi, kenapa mereka tidak berpikir seperti itu? Bolak balik asya mencoba cara pikir mereka, tapi saya gak ketemu.

Yang ada, saat ini kami meninggalkan tanah yang luasnya entah berapa di kampung sana. Tanah yang telah dibeli dengan surat lengkap, namun kemudian menjadi sengketa dengan istri si penjual semata-mata karena dia punya kakak laki-laki yang pundaknya berbintang.  Yang gara-garanya pula kami mandah ke Jakarta. Baru-baru ini kami menemukan surat tanah itu tanpa sengaja. Adikku sempat bilang gimana kalau diurus lagi agar tanah itu bisa dimiliki lagi. Namun bapa bilang, sudahlah relakan saja, takkan Tuhan membiarkan kita kesulitan hanya kehilangan sebidang tanah itu. Memang kalau diturutkan hati, pastilah ingin memiliki lagi, tapi apakah kita siap jika  ketenangan yang sudah kita rasakan selama ini, terusik lagi? Walaupun oknum itu sudah pensiun, tapi toh dia tetap punya koneksi. Relakanlah, itu lebih baik! Kami pun patuh. Semoga rejeki kami selalu dicukupkan Allah agar tidak tergiur mengurus tanah itu lagi. Dan kalau sampai pulang kampung satu hari nanti, harus bisa menutup mata dan tak tergerak mencari tahu status tanah itu.

Itu tanah pribadi, yang tentunya beda dengan  lahan waduk yang dikuasai segelintir masyarakat yang sedang ramai diberitakan itu. Eh segelintir kok ribuan KK ya :( Lahan waduk yang jika fungsinya dikembalikan sebagaimana mestinya, mudah-mudahan musibah banjir tak lagi menimpa warga Jakarta di tahun-tahun mendatang. Tapi ternyata mencapai hal-hal baik itu tidak gampang, selalu penuh onak dan duri. Sudahlah diurusi pemimpin yang insya Allah tidak korup, eh masyarakatnya susah diatur, keras kepala, dan mau menang sendiri.

Ada yang bertanya dan berkata pada saya, “ah situ kan enak ngomong, karena gak tinggal di sana.” Tapi dengan tegas saya menjawab, “iyalah, karena saya takkan pernah mau menempati tanah yang bukan milik saya. Ngapain ngaku-ngaku sampai rela ribut seperti itu, sudah syukur negara gak nuntut biaya sewa sekian belas tahun. Emang sanggup gitu mbayarnya?” Dan seseorang yang usil itu pun memilih melipir daripada nyari ribut sama saya yang lagi kegerahan mbaca dan nonton berita yang rasanya bikin gemes sampai ke ubun-ubun hehehe

Jadi, pertanyaannya, tanah siapa yang anda tempati sekarang? #kepo doang ini gak usah dijawab hahaha ….  Saya sih masih nyewa, punya tanah tapi belum mau menempati, karena di sana gak bisa usaha :D Semoga teman-teman blogger tidak ada yang maksa tinggal di atas lahan milik orang lain yaaa … aamiin :)

Read More

GACAPE

Hayooo …. ada yang pernah dengar/baca GACAPE?

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar/baca kata GACAPE?

Pertama kali saya mendengar kata GACAPE, saya tidak terlalu memperhatikan pelafalannya. Paling sering sih lihat penampakannya di monitor ketika saya berjaga. Apalagi setiap ada pelanggan yang mengeluhkan tentang satu game, pasti GACAPE langsung dipentang lebar-lebar selanjutnya dioprek. Begitupun saya masih tak peduli :D

Sampai terjadi momen memalukan, yang untungnya cuma suami seorang yang menertawakan istrinya (meni tega hiks).

Ceritanya malam itu kami berjaga, karena 1 karyawan mudik, maka mau tak mau, capek gak capek, ya harus berjaga, padahal Subuh mau berangkat ke Sukabumi. Tapi lebih baik nyiksa diri sendiri, daripada nyiksa karyawan yang sudah beraktifitas sejak Subuh. Kami ‘kan gak mau sampai ada kasus perbudakan jilid 2 :D Setelah proses aplusan tuntas, suami ngacir ke lantai atas meneruskan instal si GACAPE ini.

Lewat jam 8pm, saya ingatkan suami untuk makan bekal yang sengaja saya bawa tadi. Begitu turun, saya langsung tanya, “Masih lama gak nge-gekepinya, a?” Suami melongo, sambil tanya, “apa?”. Masih pede nih saya nyautnya, “masih lama gak nge-gekepin kompi atas?” Eh alih-alih nyaut, yang ada suami malah ketawa segeli-gelinya. Jelas dong saya manyun. Gak jelas gitu sih ngetawain orang. Setelah ketawanya reda, baru ditanya, “Emang teteh pikir yang diinstal itu apa?” Jiahhh malah ditanyain pula, kadung kesel, maka ketuslah saya “meneketehe … ” Eh ketawa lagi dia. Asyeeem tenan!

Rupanya sodara-sodara, software GACAPE ini sudah berhasil mengecoh saya. Yang ngasih nama GACAPE ini perlu dikethak mpe benjut dah pokoknya. GACAPE yang saya english-kan itu, ternyata berasal dari 2 kata bahasa Indonesia yaitu GA CAPE, artinya kalau pakai software ini, maka teknisi warnet itu gak akan cape, karena setelah menginstal s/w nya di semua kompi yang dituju, maka selanjutnya bisa melakukan update game hanya dari kompi server saja. Sangat mempermudah pekerjaan! Jika biasanya suami butuh waktu sangat lama untuk update-in satu-satu, eh sekarang gak lagi. Itulah asal muasal kata GACAPE ini. Huh!

GACAPE oh GACAPE … gara-garamu suamiku jadi punya bahan ledekan sekarang, sok minggris sih, katanya huaaa … siapa juga yang sangka ‘kan? :P

Pernahkah temans mengalami seperti diriku ini? Biarpun sama suami, tetep loh maluuuu :D

Selamat berakhir pekan yaaaa …!

Read More

Potret Biskota Kita

perhatikan penumpang yang duduk di dekat kaca belakang?

perhatikan penumpang yang duduk di dekat kaca belakang?

Prihatin!

Tahukah kalian apa yang membuat saya prihatin? Itu lho, perhatikan gambar di atas, para penumpang duduk persis di balik kaca. Di sana memang disediakan selembar papan yang ditutupi karpet biru untuk dijadikan tempat duduk para penumpang yang tidak kebagian tempat duduk di posisi yang normal. Posisi yang normal? Ya! Posisi yang norma menurut saya ya yang letaknya BUKAN seperti itu.

Herannya lagi (boongan herannya), itu pegawai DISHUB sliweran di terminal Baranangsiang, tapi seperti tak melihat pemandangan ini. Ya, gambar ini saya ambil di terminal Baranangsiang kemarin, ketika saya berada di dalam bis AC tujuan Tg.Priok.

Sebetulnya tak sengaja saya memperhatikan bis yang parkir di sebelah bis yang akan membawa kami pulang. Karena kondekturnya perempuan paruh baya. Saya kira itu tadinya kondektur, sebab gayanya persis kondektur. Dia mengatur setiap penumpang yang naik. Terakhir ya itu, ketika bis penuh dan penumpang tidak mau disuruh naik bis yang sudah mengantri di belakang. Mungkin penumpang ini tidak mau menunggu lebih lama, tapi dengan mempertaruhkan nyawa? Bisa dibilang begitu dong? Karena duduk di balik kaca itu menurut saya sangat berbahaya, apalagi jika pas pak supir nge-rem mendadak? Bisa terjungkal deh kayaknya :( Nah, ibu itu yang mengarahkan para penumpang duduk di situ. Terakhir yang naik seorang bapak dan anak gadisnya yang berseragam pramuka. Ternganga saya, itu anak perempuan lho. Wah! Hebat juga bapaknya, gak ngeri dia. Atau saya saja yang sok ngeri? :(

Ketika bis perlahan beranjak, dan ibu itu turun, perhatian saya sempat teralihkan pada kegiatan lainnya di terminal itu. Dan ketika bis benar-benar tak tampak lagi, ibu itu terlihat sedang berbagi uang dengan seorang laki-laki paruh baya, barulah saya mengambil kesimpulan. Oh, ternyata ibu itu bukan kondektur, entah apalah namanya, tapi yang jelas dia mendapatkan rejeki dengan mengatur penumpang masuk ke dalam bis.

Dengan menempatkan penumpang seperti itu, kok si pemilik bis kelihatan banget gak mau ruginya ya. Bila perlu, dikasih bangku tempel juga kali di lorong :( Ah, sekarang ini keselamatan penumpang sudah diletakkan entah di urutan ke berapa, baik pemilik bis ataupun penumpang sudah hampir sama-sama tak peduli. Yang penting bisa melewati hari itu dan sepertinya semua sudah menjalani rutinitas yang begitu-begitu saja, tanpa merasa perlu memikirkan tentang keselamatan lagi? Sepenuhnya berpasrah diri pada kehendak Sang Khalik?

Well, memang pemandangan di atas itu belumlah semengerikan gambar di bawah ini.

diatas atap bus (gambar dipinjam dari http://bangsalogue.blogspot.com/)

Lihat itu, ada petugas DISHUB berdiri di antara 2 angkutan itu, tapi tidak melakukan tindakan apapun? Keren sekali ‘kan. Pemandangan seperti itu bisa juga dilihat di Jakarta, tapi bukan bis, melainkan kereta api ekonomi. Entahlah, masih ada atau engga sekarang ini.

Kapan yaaaa pemerintah mau bertindak tegas? Kapan yaaa rakyat mau mengedepankan keselamatan dirinya? Kapan yaaa pemilik bis mau bersikap lebih manusiawi terhadap penumpangnya? Mari kita nyanyi kapan-kapan … :D

Eh sudah hari Jumat ya? Selamat menjelang akhir pekan yaaa … !

 

PS: Jadi tulisan juga gambar yang diambil iseng itu :D Padahal saya tadi teh cuma mau posting dengan 2-3 baris kalimat, eh meni jadi panjang kieu :D  

Read More

Menjaga Silaturahmi

Pernahkah kita memperhatikan atau menyadari, ketika memberikan ucapakan selamat pada yang berulang tahun, kebanyakan isi ucapannya adalah “semoga diberi panjang umur yang barokah, sehat selalu dan murah rejeki (dan didekatkan jodohnya bagi yang masih single! :D )”. Lumrah banget ‘kan ucapan yang seperti ini. Bahkan hampir kehilangan makna saking lumrahnya. Padahal, kata-kata dalam ucapan itu adalah yang paling didamba hampir semua orang yang masih hidup di dunia ini. Kalau ada yang sebaliknya, itu pasti karena dia sudah jenuh dan ingin lekas menjajal kehidupan di dunia yang lain :D

Lalu, kenapa pula tiba-tiba saya membahas hal ini? Tak lain tak bukan, karena pada pertemuan bersejarah kemarin *lebay*, di mana bapaku berkesempatan lagi bertemu dengan Biudanya (adek kakekku dari bapa), meluncurlah satu kisah tentang ucapan/doa untuk yang berulang tahun yang menginspirasi tulisan ini. Bahwa di satu masa entah kapan, seorang kenalan bapa curhat, setiap ulang tahun anak-anaknya mereka berdoa seperti di atas itu. Hingga satu hari tinggallah orang tua itu berdua saja di rumahnya, dan mulai mengeluh. “Bertahun-tahun kami  mendoakan mereka agar panjang umur sehat selalu dan murah rejeki eh ketika itu tercapai kami malah sengsara karena ditinggal berdua saja di rumah besar ini. Walau setiap bulan dikirimi uang, tetap saja kami kesepian.” Mendengar kisah ini, nenekku yang biasa kami panggil ITING langsung menambahkan, mestinya doa itu ditambahkan “dan mereka tetap bersama kami sampai ajal menjemput.” Meledaklah tawa kami … spontan! Karena jarang atau bahkan hampir tak pernah orang berdoa demikian. Sebab orang tua juga percaya bahwa anak-anak itu macam anak panah yang bisa melesat tak tentu arah, tapi bisa juga diam di tempat menemani busurnya.

Dan dalam perjalanan pulang, hal ini masih menjadi pembahasan kami. Legaaaaa rasanya ketika bapa bilang, “saya beruntung karena kalian tinggal di dekat saya di sini.” Terharu! Jarang-jarang kami merasakan hal ini, selama ini bapa terlalu mandiri buat kami. Rupanya, kehadiran kami yang sebentar-sebentar sliweran di dalam kesehariannya itu sangatlah berarti baginya. “Saya gak bisa bayangin kalau harus hidup seperti nenekmu itu, berlimpah harta, tapi sendirian dalam sepi. Anak cucunya jauh di perantauan semua, sementara fisiknya pun tak lagi mampu menjelajah tempat tinggal anak-anaknya secara rutin.” Maka membatinlah saya, pantas saja bapa sering tidak begitu antusias mendengar rencana-rencana kami untuk pindah ke luar Jakarta. Tapi bapa pun tidak mau berterus terang kalau ingin di usia senjanya tetap dikelilingi anak cucunya. Berarti juga, walau bapa sering mengatakan tidak tahan berisik ketika cucu-cucunya kumpul, tetap saja keberisikan cucu-cucunya itu telah menjadi doping yang begitu kuat baginya untuk terus mempertahankan kualitas hidupnya demi kesehatan yang prima yang berujung pada pengharapan agar diberi umur yang panjang dalam keadaan sehat.

Bagi saya, pertemuan keluarga kemarin memang sangatlah bersejarah. Sebetulnya antara bapa dan nenekku ini terakhir bertemu itu sekitar 2 tahun yang lalu, hanya saja bagi mereka kurun waktu itu terasa begitu lama. Ditambah lagi kemarin kami menyertai bapa sehingga suasananya persis seperti di rumah kami waktu di kampung dulu. Kami – cucu-cucunya yang sudah lebih dari 20tahun tak pernah bersua dengannya. Entahlah bagaimana kami bisa ‘mengabaikannya’ selama ini, padahal ketika di kampung dulu, nenek ini termasuk yang rajin menyambangi rumah kami. Sepertinya kehidupan di Jakarta telah menggilas rasa kepedulian kami padanya. Dan saat ini, tinggal nenek ini yang hidup dari trah keluarga besar bapa.

Mengharukan sekali melihat bapa dan iting saling menuntun begitu turun dari mobil, berjalan perlahan memasuki rumah Bitengah – anaknya nenek yang tinggal di Depok. Sampai di dalam rumah pun keduanya tetap saling bergenggaman tangan. Bagi orang Karo, bagi seorang nenek seperti iting ini, bertemu dengan permennya yang juga tinggal satu-satunya ini sangatlah terasa istimewa. Istilahnya, serasa bertemu bapa dan saudara laki-lakinya saja layaknya. Apalagi mereka bisa bertemu dalam keadaan ‘cawir metua’. Lalu keduanya saling berbagi cerita dan semuanya cerita jaman duluuuuu banget. Anehnya, cerita jadul masih lengket dalam ingatan, sementara nama cucunya (adikku) yang ketika kami berangkat ke Jakarta masih kecil banget, bolak balik ditanya karena nenek sudah pikun.

Semoga yang kemarin bukanlah pertemuan terakhir bagi mereka, juga bukan pertemuan terakhir bagi kami. Sudah sepatutnya kami memanjangkan tali silaturahmi secara berkesinambungan, agar kelak antar anak cucu masih saling kenal. Tidak lagi seperti kemarin, antar cucu-cucunya merasa asing satu sama lain, padahal sama-sama merasa sayang pada nenek yang tinggal satu-satunya ini.

Ah, Jakarta-Depok tidak sejauh Medan-Jakarta, tapi kesibukan dan kemacetan Jakarta selalu menjadi alasan renggangnya sebuah silaturahmi. Memalukan sekali yah :( Harus ada yang memulai, harus ada yang mau repot, agar hubungang kekeluargaan ini tetap terjalin dengan baik, insya Allah akan dimudahkan, aamiin :)

Mau pajang foto bapa dan nenek ahhh … :D

 

bapa dan iting

bapa dan iting

Read More

Kamis Manis

Pertama, mau curhat dulu :( Eh blom curhat udah manyun duluan yak :( Iya nih, sudah sebel tingkat benua, hasrat menulis tak kembali seperti dulu lagi sampai hari ini. Semakin dipaksa semakin mentah. Dibuat relaks malah semakin malas. Masak iya sih, harus memulai dengan postingan galau :D Gak ada yang ngelarang bergalau ria sih, cuma rasanya sedang tak nyaman juga. Lagian engga galau beneran, jadi ya gimana bisa bikin postingan galau ‘kan hehehe

Terus sekarang mau tulis tentang apa dong?

Hmm, saya mau cerita aja kalau baru-baru ini menemukan grup baru, namanya Komunitas Warnet Indonesia. Sebetulnya suami sih yang menemukan, dan saya seperti biasa jadi penggembira aja. Dan, ternyata di sana semangat berkomentar saya lumayan tinggi. Apalagi yang dibahas memang masih masalah-masalah yang sedikit-sedikit saya kuasai. Tentu bukan masalah software ataupun hardware, tapi ini masalah managemen dan strategi dalam menjalankan usaha yang sekarang ini.

1. Penyeragaman Tarif

Topik ini ramai dibicarakan, kebanyakan sih mengeluh dengan tarif yang mereka berlakukan sekarang, kisaran Rp 2-2.500,-/jam. Sementara TDL naik secara progresif, belum lagi kalau yang tempatnya menyewa seperti kami. Lalu ada yang menyarankan untuk penyeragaman tarif, yang mana sebenarnya ini adalah ide yang bagus yang juga disambut dengan sangat baik oleh banyak orang. Jika diumpamakan, berharap punya organisasi sekelas ORGANDA untuk angkutan umum, yang mengatur regulasi secara menyeluruh dan dipatuhi oleh siapapun yang berkecimpung di usaha perangkotan.

Apakah mungkin pengusaha warnet membangun organisasi semacam ini?

Argumen saya, membangun organisasi itu gampang banget. Tinggal kumpulkan orang, kumpulkan tanda tangannya, deklarasi, selesai deh. Tetapi bagaimana dengan prakteknya? Ini yang sulit. Secara logika, yang memiliki warnet dengan spesifikasi perangkat dan fasilitas yang minim, pasti tidak akan mau dengan tarif yang diseragamkan. Ini tentu ada kaitannya dengan permodalan, yang dengan modal seadanya nekad buka usaha warnet, sehingga boro-boro mikirin pelayanan pelanggan, bisa beroperasi dengan baik/lancar setiap hari aja udah syukur.

Belum lagi warnet-warnet yang tempatnya milik sendiri plus listriknya pun nyolong. Kebanyakan 2 tipe pengusaha ini selalu memasang tarif di bawah tarif rata-rata. Kalaupun tidak semua, setidaknya 90% begitu.

Andaikan pun yang punya spesifikasi komputer dan pelayanan yang sama, tempat usaha sama-sama menyewa, listrik pun sama-sama resmi, BELUM TENTU mau menyeragamkan tarif. Sudah menjadi naluri alami setiap orang bahwa untuk mendapatkan pelanggan yang ramai itu adalah dengan memasang tarif di bawah tarif kompetitornya.

Sampai hari ini sih saya masih terus memikirkan wacana ini, berharap dapat wangsit ‘win-win solution’, yang sekiranya dapat diterima semua pihak. Atau teman-teman ada ide? Bagi dooong :D NTar dikasih voucer on line gratis deh hehehe

2. Pelayanan Pelanggan

Ada satu member dari grup ini yang berbagi tentang keengganannya memenuhi permintaan kliennya untuk mengadakan paket malam. Menurutnya, paket malam itu hanya merugikan saja. Masak Rp 10.000,- untuk 6 jam?

Hmm, ini persis dengan pemikiran suami saya dulu. Menurutnya, tidak sebanding uang yang diterima dengan kerja komputer yang ekstra. Tetapi sebagai orang yang otaknya selalu beraroma madu (ma-ta du-itan hahaha), saya punya pandangan yang berbeda. Bahwa diadakannya paket malam itu salah satunya adalah merupakan pelayanan dan dedikasi pada pelanggan yang telah setia bersama kami selama ini. Apalagi dengan cara ini, mengecilkan peluang bagi mereka untuk hunting tempat nge-game yang lain yang bisa saja itu lebih cozy  dan bisa bikin mereka pindah ke lain hati ‘kan.

Jika dihitung yang on line hanya yang mengambil paket malam saja, tentulah rugi. Tetapi, pada kenyataannya, tidak semua yang datang di malam hari itu mau mengambil paket malam. Banyak juga yang hanya mengambil 1-2jam kok. Atau sekedar membeli voucer game online. Bahkan di tempat kami, penduduk sekitar jadi belanja jajanan/minuman/rokok karena tak ada warung yang buka 24jam. Belum lagi melayani print-an untuk anak sekolah/mahasiswa yang seringkali datang dalam keadaan putus asa karena susah menemukan warnet yang buka 24jam :D Setelah itang itung, pendapatan di malam hari itu cukup lho buat bayar tagihan koneksi dan gaji penjaganya.

 3. Management

Dalam satu momen berbagi, saya sempat melontarkan tentang BIAYA PENYUSUTAN. Saya tahu tentang ini ketika belajar di SMK dulu sih, dan alhamdulillah terpakai sampai sekarang. Bahwa pendapatan setiap bulannya itu tidak boleh melulu dianggap sebagai keuntungan semata. Harus dianggarkan sekian persen untuk dimasukkan pos biaya penyusutan, karena barang-barang yang digunakan untuk mencari uang ini ada masa pakainya. Dan biasanya biaya penyusutan yang disimpan secara teratur setiap bulannya, sangatlah membantu, sehingga kita tidak perlu kelabakan mencari uang untuk mengganti komponen yang aus ataupun rusak. Selain dananya tersedia, juga tidak terasa beratnya.

Selain itu, harus juga dianggarkan biaya maintenance. Adanya pos biaya yang satu ini, membuat kita lebih sigap dalam mengganti asesoris yang rusak. Dan tentunya ini selalu berkaitan dengan pelayanan pelanggan. Mana ada pelanggan yang betah jika headsetnya cuma bunyi sebelah, misalnya. Atau keyboardnya sudah tak jelas hurufnya? Buruknya lagi, banyak juga yang membiarkan keyboard yang sudah oplok-oplok hurufnya, tapi tidak juga diganti-ganti. Jangan salahkan pelanggannya kabur kalau fasilitas yang disediakan tidak maksimal.

Last but not least, personal approach tentulah harus diprioritaskan juga, untuk menciptakan ikatan yang kuat sehingga tak terbersit bagi pelanggan untuk berpaling dari kita. Tak percaya? Kami sudah buktikan kok :D

Baikanya saya akhiri tulisan ini, yang tidak dinyana bisa sepanjang ini hehehe… berharap besok bisa terus menulis semengalir ini :) Sungguh, ini hari Kamis yang manis buat saya dan semoga juga demikian bagi teman-teman semua :)

PS : Di akhir tulisan kok jadi terpikir untuk kasi judul KAMIS MANIS ya? :D

 

Read More

Jangan goda polisi dengan uang damai

Pernyataan Kapolda Metro  di merdeka.com pagi ini sangat menggelitik. Jangan goda polisi dengan uang damai, katanya. Saya pun teringat pada kejadian kira-kira sebulan yang lalu. Kejadiannya di putaran TIS Cawang. Saat itu sudah malam, dan suami salah mengambil jalur, harusnya menuju Tg.Priok eh malah masuk ke Cawang. Dan pintu keluar terdekat ya pintu Tebet. Pas pintu keluar, entah bagaimana deh, sepertinya udah panik karena tadi sempat salah jalur, kesalahan kedua suami masuk jalur busway. Saya sudah mengingatkan agar cepat mundur dan pindah ke jalan biasa. Tapi terlanjur sudah, mobil meluncur dan di kejauhan saya melihat sosok polantas sedang berdiri siaga :D Spontan saya bilang, “ini mah sama aja nyamperin buaya, bakal diterkam deh.”

Benar saja, kami diminta minggir dan ditanyakan surat-surat. Lengkap semua. Ketika ditanya apakah tahu apa kesalahan kami, tentu saja kami mengaku, sambil minta maaf gitu deh (yang ini bagian saya). Petugas bilang sih tidak bisa dimaafkan begitu saja, karena bisa mengiri nanti orang lain. Tapi saya masih berusaha, terus bolak balik minta maaf dan janji gak akan begitu lagi. Meminta belas kasihannya juga karena anak-anak sedang tertidur dan harus cepat sampai di rumah, karena besok pagi harus sekolah. Entah petugas ini baru, tapi saya anggap sih memang kami yang sedang beruntung karena bertemu petugas yang tidak galak. Walau sempat melontarkan kalimat-kalimat ambigu, yang saya tanggapi dengan bersikap seperti er te bolot :D Ini betul, kalimat saya cuma minta maaf dan minta dikasih ijin lewat agar cepat sampai di rumah. Saya menulikan telinga dengan ucapan-ucapan dia. Mungkin saja, petugas itu berpikir saya kurang waras ‘kali yah, akhirnya kami dilepas juga.

Setelah lewat, suami baru cerita, dan tanya apakah saya betul-betul tidak dengar ketika petugas itu berusaha mengajak berdamai? Kaget gak kaget sih saya. Kaget karena saya rupanya terlalu fokus pada ucapan saya sendiri. Gak kaget karena memang sudah biasa juga terjadi begitu ‘kan, petugas yang mengajak berdamai. Ah apapun itu, yang penting kami lepas tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun.

Dan kalimat di atas mengingatkan saya pada satu nasihat orang tua yang selalu saya camkan sampai hari ini. Biasanya nasihat ini keluar kalau kami mencoba menyalahkan orang lain pada satu masalah. Contoh kasus, anak kita berkelahi dengan anak tetangga. Nah, tidak boleh tuh marahin anak tetangga, uruslah anak sendiri, karena anak tetangga itu ya urusan orang tuanya.  Relevansinya dengan pernyataan Kapolda itu, menurut hemat saya, kalau anaknya (anggotanya) yang nakal, semestinya anggotanya yang dibenahi dong moral dan mentalnya, bukan minta orang lain yang harus begini dan begitu. Justru lebih terdengar lebih ksatria toh :)

Read More
12345...102030...

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 48 other subscribers

Top Guest Star

15 comments
10 comments
7 comments
5 comments
5 comments

Categories