Sosoknya mungil, kulitnya legam eh tapi tak selegam warna kulit sodara kita yang dari Papua ding. Ini mah legamnya karena lama terpanggang matahari ketika dia masih berprofesi sebagai tukang rumput. Raut wajahnya masih polos di usianya yang sudah 17tahun. Murah senyum dan cekatan. Ini bukan asal puja puji, tapi saya memang kesengsem pada bocah eh udah bukan bocah ya
Pada remaja yang mengantongi ijasah SMP ini sekarang harapan saya tumpuk banyak-banyak. Semoga sih bisa klop dengan harapan dia juga. Enam bulan yang lalu kami impor dia dari kampung suami. Baru 2 hari bersama kami, saya punya feeling kalau pekerjaan bagus. Biasa pegang arit, tapi begitu dikasih mouse, lancar jaya. Berani pula anaknya, beda dengan yang 1 lagi yang butuh 2 bulan mengumpulkan keberanian untuk menerima klien yang mau print dokumen. Dia baru 2 hari itu sudah berani ngerjain print-an. Ajib ‘kan
Ketika pekerjaannya ada yang kurang beres, saya kasih tahu kepada seniornya untuk mengajari, eh dia langsung bilang, lain kali langsung kasih tahu saja, saya lebih senang, begitu katanya. Wah! Anak ini kelihatannya saja masih bocah, tapi pemikiran dan kepribadiannya sudah matang untuk anak seusianya. Sangat bertolak belakang dengan karyawan yang 1 lagi, yang sebaya dengannya, sama-sama putus sekolah juga.
Rasa senang ini sempat terpental ketika sebulan yang lalu dia bilang mau berhenti. Sempat saya gundah gulana memikirkan cara untuk mempertahankannya. Hingga dalam satu kesempatan saya ajak dia bicara. Rupanya ada temannya yang mengajaknya bekerja di tempat catering di Tangerang. Dan setelah perbincangan yang lumayan lama tapi tidak alot itu, saya tawarkan dia mengambil jatah liburnya untuk pulang kampung, melepas kangen pada keluarganya, sambil memikirkan ‘ladang’ yang mana yang selanjutnya akan ia garap.
Saya bersyukur ketika dia kembali dan mau meneruskan menggarap ladang yang sama. Sekarang ini, setelah 1 karyawan mudik dan tak kembali, pekerjaannya untuk input data stok barang saya limpahkan pada bocah ini. Dengan catatan, dicoba dulu, kalau tidak sanggup, jangan diteruskan. Tentu saja ada ekstra pemasukan dong untuk tambahan pekerjaan ini. Sampai hari ini, sudah 2 minggu dia mengerjakan tugas yang baru yang biasa dikerjakannya di sela-sela pekerjaan rutinnya. Sejauh ini dia masih menikmati dan belum ada keluhan. Beberapa kali sempat saya tanyakan apa kendalanya dalam mengerjakan tugas itu. Semoga ke depannya tetap lancar jaya.
Dan yang lebih melegakan saya adalah, ketika saya sedang menggalau memikirkan jam kerja yang menurut saya terlalu panjang. Saya katakan padanya dia boleh mengurangi jam kerjanya jika dia keberatan, tapi jawabannya sungguh di luar dugaan saya. Jika biasanya karyawan yang lain paling senang jika dikurang jam kerjanya atau tidak disuruh lembur, dia malah bilang, “saya senang kok selesai kerja bisa langsung tidur. kalau selesai kerja tapi waktu tidur masih lama, malah bingung mau ngapain. kalau keluar, nanti uang juga keluar.” Langsung deh saya ajak tos-an hehehe …
Melihat semangat kerjanya, pernah sekali waktu saya tanyakan, apakah dia masih ingin melanjutkan sekolah, entah ke SMA atau STM? Tapi dengan yakin dia bilang mau kerja saja. Lalu kami coba mengarahkannya untuk belajar jadi teknisi, dan untuk mengawali ini dia sudah setuju untuk mengambil kursus singkat untuk menjadi teknisi di salah satu tempat kursus komputer terdekat. Kata suami, kalau sudah ada basicnya, nanti suami lebih mudah mengajarinya. Semoga saja, anak ini betah bersama kami seterusnya, sampai terasah keterampilannya menjadi teknisi kelak. Karena hanya dengan begitu dia bisa mengubah nasibnya. Kalau cuma jadi operator warnet saja, gajinya ya segitu-gitu saja. Tapi kalau nanti sudah meningkat jadi teknisi, tentu sudah lain lagi. Sekarang saja dia sudah mengantongi 1.8jt setiap bulannya, dan dia sangat senang karena bisa menabung banyak setiap bulannya.
Tinggal sekarang saya masih mencari sambil berharap, semoga karyawan berikutnya yang akan kami rekrut nanti bisa sebagus anak ini kualitas mental dan etos kerjanya, sehingga mudah membangun hubungan kerja yang harmonis
Doakan kami yaaa


