Recent Blog Posts

Bersedekah Atau Menyogok?

Ketika terbangun tadi pagi menjelang siang, entah bagaimana pemikiran ini terlintas di benak saya, bahwa “kok manusia (saya) seperti menyogok Tuhan dengan bersedekah ya?” Entahlah, kenapa pikiran itu yang pertama kali menguasai kepala saya  dan membuat saya merenungkan kebenarannya. Adakah saya telah berusaha menyogok Tuhan agar Dia memberikan kehidupan yang selalu baik sesuai yang saya harapkan? Apakah memang sudah fitrahnya manusia melakukan praktek suap menyuap ini? Atau manusia juga mencari pembenaran atau  kosa kata yang lebih pantas didengar selain kata suap menyuap itu tadi, padahal prakteknya 11-12?

Tadi malam, tepatnya tadi pagi sekitar jam 2, saya mendengar berita tentang perampokan yang terjadi di sebuat warnet di daerah Pd.Kelapa. Mengerikan sekali, karena pelakunya tidak lagi menggunakan senjata tajam melainkan BECENG, yang sekali meletus bisa memporak porandakan isi kepala siapapun :( Saat itu saya sedang berjaga, dan kondisi warnet penuh atas bawah. Seharusnya sih suami yang berjaga, tapi sepertinya dia kelelahan setelah seharian kami berjibaku melewati kemacetan Jakarta-Sukabumi-Jakarta. Untuk menawar kantuk, saya berjalan-jalan di parkiran di depan ruko. Pas pula pak Hansip lewat sedang patroli naik motor. Karena saya mengangguk tanda menyapa, eh si bapak jadi berhenti, dan kami pun mengobrol. Darinya saya jadi tahu kalau si bapak patroli 2-3 kali sepanjang malam. “Enak dong pak keliling pakai motor, kalau tempo hari pakai sepeda kan capek.” komentar iseng ini sebenarnya. Eh kata si bapak, enak di badan tapi gak enak di kantong, bu. Nah lo? Kok bisa? Rupanya, kata si bapak, dia pribadi yang menanggung bensin motornya. Tidak ada jatah dari kantor. Kaget juga saya, karena saya pernah baca berita kalau RT/RW dapat jatah dari atas. Kata si bapak, jatah itu mah buat pejabatnya, bukan buat operasional RT/RW. Wew! Keknya perlu ngimelin Pak Ahok deh, agar orang-orang kayak Pak Hansip ini dikasi jatahlah, kalau cuma mengandalkan iuran warga, ya susah juga.

Eh saya sudah ngelantur … :(

Malam tadi, saya merasa telah menyogok Pak Hansip dengan 2 botol kopi :( Selanjutnya yang lebih parah lagi :( Ketika pengunjung mengantri, akhirnya saya bangunkan suami untuk buka warnet sebelah. Selanjutnya saya menyampaikan peristiwa yang baru saja terjadi di daerah lain. Lalu saya bilang, bukankah sedekah menolak bala? Gimana kalau kita kasih jatah bulanan ke Pak Hansip tadi. Karena ada 5 hansip, ya digilir setiap bulannya agar adil. Suami sih setuju-setuju aja.

Dan entah bagaimana obrolan kami ini membuat saya terbangun dengan perasaan bersalah. Lalu, saya berpikir, apakah jika saya punya usaha yang lebih besar, maka saya pun akan menyogok orang-orang yang lebih kompeten untuk melindungi kelancaran usaha saya? Seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang di atas sana? Entahlah …

Atau saya terlalu ketakutan sehingga kehilangan akal sehat sampai beranggapan bahwa bersedekah itu identik dengan menyogok? *istigfar*

Selamat hari Jumat teman, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah, dijauhkan dari segala marabahaya, aamiin!

 

Read More

Antara Hobi Dan Usaha

Baru-baru ini saya dibuat geleng-geleng kepala ketika membaca komentar orang-orang yang bergabung di satu komunitas tentang HOBI dan USAHA. Rupanya, sama saja dengan orang-orang yang punya hobi apapun lainnya, yang rela keluar uang tak mengenal seri demi hobi. Yang ‘gawat’ adalah kalau hobi itu dijadikan usaha. Outputnya akan berbeda dengan orang yang membuka usaha di bidang yang sama, tapi melulu business oriented.

Inilah yang terjadi antara kami (sekelompok orang yang berusaha karena memang mencari nafkah di bidang itu) dan mereka (yang menjalankan usaha di bidang itu demi hobi semata). Percakapan di antara kami dan mereka tidak bisa ketemu :) Tapi tidak sampai gontok-gontokan sih, karena pada akhirnya dikembalikan pada individu masing-masing.

Sebetulnya, sangatlah bagus orang yang menjalankan usaha berangkat dari hobi, karena dengan begitu maka dia akan all out untuk memberikan menyediakan fasilitas yang terbaik kepada para pelanggannya. Apabila diiringi dengan managemen usaha yang mumpuni, pastinya usaha mereka akan lebih berhasil. Hanya saja, kekurangannya mereka yang mencampurkan antara hobi dan usaha ini seringnya tidak terlalu peduli dengan keuntungan usaha. Jadinya malah banting harga. Nombok pun mereka rela, yang penting banyak orang yang ‘menemaninya’ bermain game kesukaannya sepanjang hari.

Sementara di lain sisi, orang-orang seperti kami, yang melulu menjadikan hobi mereka sebagai ladang tempat mengumpulkan recehan. Bersaing ketat dengan yang mereka menyediakan fasilitas terbaik bagi pelanggan, tapi tak jarang K.O ketika sudah bicara tentang harga jual yang berbanding lurus dengan keuntungan. Kami takkan rela nombok untuk menjalankan usaha, karena sedari awal pastilah berharap keuntungan.

Kesimpulannya apa? Gak ada :D Berharap aja tetangga-tetangga yang membuka usaha yang sama BUKAN yang berangkat dari hobi dan mengerjakannya demi hobi thok! Itu saja! Karena sampai hari ini sih, masih lebih banyak bertemu yang menjalankan usaha ini semata-mata sebagai mata pencaharian, bahkan baru ketemu segelintir yang buka warnet karena hobi.

Eh ini hasil pikiran saya doang sih, belum tau gimana pendapat para ahli … kira-kira akan ada ahli yang mampir ke tulisan ini gak ya? *oahhhheeem… ngantuk* :D

————–

Ini tulisan dibuat hari Rabu, di mana saya berjuang keras untuk tidak tertidur sambil jaga warung. Rupanya 2 minggu lebih kekurangan karyawan mulai terasakan. Stamina tak sekuat dulu lagi uhuk … :D

Read More

Rasisme Itu Masih Kental, Kawan!

Suasana hati sedang bagus, saat itu saya sedang belanja keperluang warung di sebuah toko grosir dekat rumah. Tiba-tiba penjualnya nyeletuk soal harga sewa ruko yang saya tempati. Serta merta saya minta untuk tidak ngomongin soal harga sewa karena cuma bikin saya teringat dan sakit hati :D Eh tapi bukannya manut malah makin merepet si ibu, tepatnya sih curcol.

Rupanya, pemilik ruko yang kami tempat adalah orang yang sama dengan pemilik rumah yang ditempati kakaknya. Hanya kondisi rumah yang ditempati kakaknya lebih parah, udah mau rubuh gitu deh :( Padahal harga sewanya sama plek ketiplek. Mungkin saking kesalnya, keluarlah kalimat yang menurut saya sangat rasis dari pedagang grosiran ini.

“Dasar orang Batak. Gak punya hati nurani. Rumah mau rubuh aja disewain mahal-mahal.”

Deg!

Saya sih gak pernah ngaku orang Batak, tapi bawa-bawa suku begini, kok rasanya gak enak ya. Wong saya pernah mengalami kejadian tidak enak ketika menyewa di tempat lain yang bukan orang Batak pun ada mirip-miripnya kok, sehingga saya sih berkesimpulan 90% pemilik rumah/ruko ya arogan/sombong hehehe … Gak semua lho ya. 90% aja.

Maka saya sahutin aja ibu itu, “hus bawa-bawa Batak. Ngirain saya orang Sunda ya? Yang Sunda teh suami, saya mah dari Medan juga, ibu.” Ini ngomongnya dilogatin Sunda. Sengaja! Eh kirain teh dia langsung sadar gitu yah, malah nyasar lebih jauh lagi, bawa-bawa agama. “tapi agama kalian ‘kan beda.” Eleuh eleuhhh … makin gregetan saya.

“Bu, bukan salah agamanya juga kali. Emang orangnya udah begitu. Saya pernah kok nyewa rumah yang pemiliknya dari suku lain tapi seagama. Udah haji 2x pula. Tapi tetep tuh perlakuannya semena-mena. Jadi tolong jangan melihat agama yang disandangnya.” Baru deh si ibu seperti tersadar, “eh iya kali ya, tau deh. ABis kesel sih.”

“Bicara kesal, apa saya gak lebih kesal bu? Saya satu suku sama dia, dari awal berkomunikasinya sangat kekeluargaan, tapi setiap menaikkan harga sewa, bahasanya seperti kami sedang tidak menggunakan bahasa ibu yang sama. Coba aja deh, kakaknya ibu pasti gak disuruh milih, sanggup bayar kalau gak ya keluar aja.”

Kaget ibu itu, “Masak sih dia bilang begitu?”

“Nah, sekarang ibu tau ‘kan? Tapi bu, namanya kita pakai tempat orang walaupun kita bayar, pilihannya ya sanggup bayar kalau engga ya minggat. Gitu aja kalau saya sih.”

Dari percakapan kami ini, saya lalu terbayang peristiwa yang lain. Kerapkali agama terkena getahnya, setiap ada individu yang bersikap tak baik. Padahal, agama manapun pasti mengajarkan hal-hal baik, hanya manusianya yang sering belok-belok. Bahkan tak sedikit yang mencari pembenaran untuk kepentingannya sendiri dengan membawa-bawa agama yang dianutnya. Butuh kesadaran tingkat tinggi bagi kita untuk memahami bahwa bukan agama yang salah melainkan penganut agama itu sendiri. Merekalah yang bertanggung jawab terhadap setiap perilaku mereka, bukan agama.

Namun berapa persenkah masyarakat kita yang mempunyai pola pikir kritis sehingga mampu memilah hal-hal seperti di atas? Bagi saya, setidaknya saya akan mulai dari diri sendiri, berusaha menempatkan masalah pada porsi yang sebenarnya, dan tak perlu mencari kambing hitam apalagi mencari pembenaran. Setiap manusia yang beragama merupakan representasi dari agama yang dianutnya, oleh karena itu sedapat mungkin bersikaplah sesuai ajaran agama masing-masing, agar agama yang kita anut tidak melulu dipersalahkan bahkan dibusuk-busukkan :)

Selamat hari Rabu!

Read More

Kisah Mantan Tukang Rumput

Sosoknya mungil, kulitnya legam eh tapi tak selegam warna kulit sodara kita yang dari Papua ding. Ini mah legamnya karena lama terpanggang matahari ketika dia masih berprofesi sebagai tukang rumput. Raut wajahnya masih polos di usianya yang sudah 17tahun. Murah senyum dan cekatan. Ini bukan asal puja puji, tapi saya memang kesengsem pada bocah eh udah bukan bocah ya :D

Pada remaja yang mengantongi ijasah SMP ini sekarang harapan saya tumpuk banyak-banyak. Semoga sih bisa klop dengan harapan dia juga. Enam bulan yang lalu kami impor dia dari kampung suami. Baru 2 hari bersama kami, saya punya feeling kalau pekerjaan bagus. Biasa pegang arit, tapi begitu dikasih mouse, lancar jaya. Berani pula anaknya, beda dengan yang 1 lagi yang butuh 2 bulan mengumpulkan keberanian untuk menerima klien yang mau print dokumen. Dia baru 2 hari itu sudah berani ngerjain print-an. Ajib ‘kan :D

Ketika pekerjaannya ada yang kurang beres, saya kasih tahu kepada seniornya untuk mengajari, eh dia langsung bilang, lain kali langsung kasih tahu saja, saya lebih senang, begitu katanya. Wah! Anak ini kelihatannya saja masih bocah, tapi pemikiran dan kepribadiannya sudah matang untuk anak seusianya. Sangat bertolak belakang dengan karyawan yang 1 lagi, yang sebaya dengannya, sama-sama putus sekolah juga.

Rasa senang ini sempat terpental ketika sebulan yang lalu dia bilang mau berhenti. Sempat saya gundah gulana memikirkan cara untuk mempertahankannya. Hingga dalam satu kesempatan saya ajak dia bicara. Rupanya ada temannya yang mengajaknya bekerja di tempat catering di Tangerang. Dan setelah perbincangan yang lumayan lama tapi tidak alot itu, saya tawarkan dia mengambil jatah liburnya untuk pulang kampung, melepas kangen pada keluarganya, sambil memikirkan ‘ladang’ yang mana yang selanjutnya akan ia garap.

Saya bersyukur ketika dia kembali dan mau meneruskan menggarap ladang yang sama. Sekarang ini, setelah 1 karyawan mudik dan tak kembali, pekerjaannya untuk input data stok barang saya limpahkan pada bocah ini. Dengan catatan, dicoba dulu, kalau tidak sanggup, jangan diteruskan. Tentu saja ada ekstra pemasukan dong untuk tambahan pekerjaan ini. Sampai hari ini, sudah 2 minggu dia mengerjakan tugas yang baru yang biasa dikerjakannya di sela-sela pekerjaan rutinnya. Sejauh ini dia masih menikmati dan belum ada keluhan. Beberapa kali sempat saya tanyakan apa kendalanya dalam mengerjakan tugas itu. Semoga ke depannya tetap lancar jaya.

Dan yang lebih melegakan saya adalah, ketika saya sedang menggalau memikirkan jam kerja yang menurut saya terlalu panjang. Saya katakan padanya dia boleh mengurangi jam kerjanya jika dia keberatan, tapi jawabannya sungguh di luar dugaan saya. Jika biasanya karyawan yang lain paling senang jika dikurang jam kerjanya atau tidak disuruh lembur, dia malah bilang, “saya senang kok selesai kerja bisa langsung tidur. kalau selesai kerja tapi waktu tidur masih lama, malah bingung mau ngapain. kalau keluar, nanti uang juga keluar.” Langsung deh saya ajak tos-an hehehe …

Melihat semangat kerjanya, pernah sekali waktu saya tanyakan, apakah dia masih ingin melanjutkan sekolah, entah ke SMA atau STM? Tapi dengan yakin dia bilang mau kerja saja. Lalu kami coba mengarahkannya untuk belajar jadi teknisi, dan untuk mengawali ini dia sudah setuju untuk mengambil kursus singkat  untuk menjadi teknisi di salah satu tempat kursus komputer terdekat. Kata suami, kalau sudah ada basicnya, nanti suami lebih mudah mengajarinya. Semoga saja, anak ini betah bersama kami seterusnya, sampai terasah keterampilannya menjadi teknisi kelak. Karena hanya dengan begitu dia bisa mengubah nasibnya. Kalau cuma jadi operator warnet saja, gajinya ya segitu-gitu saja. Tapi kalau nanti sudah meningkat jadi teknisi, tentu sudah lain lagi. Sekarang saja dia sudah mengantongi 1.8jt setiap bulannya, dan dia sangat senang karena bisa menabung banyak setiap bulannya.

Tinggal sekarang saya masih mencari sambil berharap, semoga karyawan berikutnya yang akan kami rekrut nanti bisa sebagus anak ini kualitas mental dan etos kerjanya, sehingga mudah membangun hubungan kerja yang harmonis :) Doakan kami yaaa :D

 

Read More

Miliknya Bukan Milikmu

Sana ribu, sini ribut. Semua ribut urusan lahan. Cakepnya lagi, muncul pengakuan kalau mereka sadar kalau tanah yang mereka tempati bukanlah milik mereka. Tapi tetap saja mereka menuntut sejumlah ganti rugi. Lalu, ingatan saya melesat pada satu kejadian belasan tahun yang lalu.

“Kemana kakak itu, mak?”

“Ke ladang, katanya.”

“Ladang? Emang punya ladang di Jakarta?”

“Ladang rame-rame.”

“Dimana ada ladang rame-rame? Gak paham sih aku?”

“Iya, tanah orang. Digarap rame-rame. Katanya untung-untungan aja, kalau diusir ya pergi, kalau gak ya terusin aja di situ.”

“Ha??? Kok gitu? Apa gak malu kalau sampai diusir nanti itu, mak?”

“Gak taulah, rame-rame katanya. Jadi kalau ada apa-apa ya rame-rame aja nanti.”

“waaah … gak bener ini. Mestinya kalau sudah tahu itu bukan punya kita, jangan tempatilah.”

“Katanya tanah kosong, udah lama gak dipake, sayang dianggurin, makanya dipake orang rame-rame. Ada yang sudah panen pun, kakakmu itu justru baru mau nyoba. Dia pun diajak temennya.”

“ckckck … gak bener itu mak, gak boleh. Entah siapapun yang punya, mana boleh ditempatin gitu aja.”

“Sudah, biarin aja, itu kan tahan-tahanan. Belum tentu nanti kakakmu betah berladang, aslinya bukan peladang.”

Dan benar saja, si kakak (kenalan sekampung) cuma bertahan beberapa bulan, malah mungkin tak sampai panen. Lahan itu ditinggalkannya, dan masuklah orang baru. Lahan itu sekarang masih kosong. Kadang-kadang digunakan tukang sirkus keliling, kadang-kadang ada pasar malam. Tapi di beberapa sisi sudah dikuasai orang-orang sejak belasan tahun yang lalu.

Maka saya pun berpikir, pasti kurang lebih begitulah dulu asal muasalnya penguasaan tanah-tanah negara yang dianggap tak bertuan karena dibiarkan kosong dalam jangka waktu yang lama. Belum lagi keterlibatan oknum-oknum petugas penyedia listrik ikut memperkokoh cengkeraman para penjarah tanah. Ya, saya melabeli mereka penjarah tanah!

Secara logika, secara umum, jika mereka berpikir dengan kesadaran penuh, seharusnya bersyukur telah menggarap tanah itu secara gratis belasan tahun. Bisa tinggal di sana pula. Bayangkan jika harus menyewa, berapa dana yang sudah tersedot ke sana? Tapi, kenapa mereka tidak berpikir seperti itu? Bolak balik asya mencoba cara pikir mereka, tapi saya gak ketemu.

Yang ada, saat ini kami meninggalkan tanah yang luasnya entah berapa di kampung sana. Tanah yang telah dibeli dengan surat lengkap, namun kemudian menjadi sengketa dengan istri si penjual semata-mata karena dia punya kakak laki-laki yang pundaknya berbintang.  Yang gara-garanya pula kami mandah ke Jakarta. Baru-baru ini kami menemukan surat tanah itu tanpa sengaja. Adikku sempat bilang gimana kalau diurus lagi agar tanah itu bisa dimiliki lagi. Namun bapa bilang, sudahlah relakan saja, takkan Tuhan membiarkan kita kesulitan hanya kehilangan sebidang tanah itu. Memang kalau diturutkan hati, pastilah ingin memiliki lagi, tapi apakah kita siap jika  ketenangan yang sudah kita rasakan selama ini, terusik lagi? Walaupun oknum itu sudah pensiun, tapi toh dia tetap punya koneksi. Relakanlah, itu lebih baik! Kami pun patuh. Semoga rejeki kami selalu dicukupkan Allah agar tidak tergiur mengurus tanah itu lagi. Dan kalau sampai pulang kampung satu hari nanti, harus bisa menutup mata dan tak tergerak mencari tahu status tanah itu.

Itu tanah pribadi, yang tentunya beda dengan  lahan waduk yang dikuasai segelintir masyarakat yang sedang ramai diberitakan itu. Eh segelintir kok ribuan KK ya :( Lahan waduk yang jika fungsinya dikembalikan sebagaimana mestinya, mudah-mudahan musibah banjir tak lagi menimpa warga Jakarta di tahun-tahun mendatang. Tapi ternyata mencapai hal-hal baik itu tidak gampang, selalu penuh onak dan duri. Sudahlah diurusi pemimpin yang insya Allah tidak korup, eh masyarakatnya susah diatur, keras kepala, dan mau menang sendiri.

Ada yang bertanya dan berkata pada saya, “ah situ kan enak ngomong, karena gak tinggal di sana.” Tapi dengan tegas saya menjawab, “iyalah, karena saya takkan pernah mau menempati tanah yang bukan milik saya. Ngapain ngaku-ngaku sampai rela ribut seperti itu, sudah syukur negara gak nuntut biaya sewa sekian belas tahun. Emang sanggup gitu mbayarnya?” Dan seseorang yang usil itu pun memilih melipir daripada nyari ribut sama saya yang lagi kegerahan mbaca dan nonton berita yang rasanya bikin gemes sampai ke ubun-ubun hehehe

Jadi, pertanyaannya, tanah siapa yang anda tempati sekarang? #kepo doang ini gak usah dijawab hahaha ….  Saya sih masih nyewa, punya tanah tapi belum mau menempati, karena di sana gak bisa usaha :D Semoga teman-teman blogger tidak ada yang maksa tinggal di atas lahan milik orang lain yaaa … aamiin :)

Read More

GACAPE

Hayooo …. ada yang pernah dengar/baca GACAPE?

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar/baca kata GACAPE?

Pertama kali saya mendengar kata GACAPE, saya tidak terlalu memperhatikan pelafalannya. Paling sering sih lihat penampakannya di monitor ketika saya berjaga. Apalagi setiap ada pelanggan yang mengeluhkan tentang satu game, pasti GACAPE langsung dipentang lebar-lebar selanjutnya dioprek. Begitupun saya masih tak peduli :D

Sampai terjadi momen memalukan, yang untungnya cuma suami seorang yang menertawakan istrinya (meni tega hiks).

Ceritanya malam itu kami berjaga, karena 1 karyawan mudik, maka mau tak mau, capek gak capek, ya harus berjaga, padahal Subuh mau berangkat ke Sukabumi. Tapi lebih baik nyiksa diri sendiri, daripada nyiksa karyawan yang sudah beraktifitas sejak Subuh. Kami ‘kan gak mau sampai ada kasus perbudakan jilid 2 :D Setelah proses aplusan tuntas, suami ngacir ke lantai atas meneruskan instal si GACAPE ini.

Lewat jam 8pm, saya ingatkan suami untuk makan bekal yang sengaja saya bawa tadi. Begitu turun, saya langsung tanya, “Masih lama gak nge-gekepinya, a?” Suami melongo, sambil tanya, “apa?”. Masih pede nih saya nyautnya, “masih lama gak nge-gekepin kompi atas?” Eh alih-alih nyaut, yang ada suami malah ketawa segeli-gelinya. Jelas dong saya manyun. Gak jelas gitu sih ngetawain orang. Setelah ketawanya reda, baru ditanya, “Emang teteh pikir yang diinstal itu apa?” Jiahhh malah ditanyain pula, kadung kesel, maka ketuslah saya “meneketehe … ” Eh ketawa lagi dia. Asyeeem tenan!

Rupanya sodara-sodara, software GACAPE ini sudah berhasil mengecoh saya. Yang ngasih nama GACAPE ini perlu dikethak mpe benjut dah pokoknya. GACAPE yang saya english-kan itu, ternyata berasal dari 2 kata bahasa Indonesia yaitu GA CAPE, artinya kalau pakai software ini, maka teknisi warnet itu gak akan cape, karena setelah menginstal s/w nya di semua kompi yang dituju, maka selanjutnya bisa melakukan update game hanya dari kompi server saja. Sangat mempermudah pekerjaan! Jika biasanya suami butuh waktu sangat lama untuk update-in satu-satu, eh sekarang gak lagi. Itulah asal muasal kata GACAPE ini. Huh!

GACAPE oh GACAPE … gara-garamu suamiku jadi punya bahan ledekan sekarang, sok minggris sih, katanya huaaa … siapa juga yang sangka ‘kan? :P

Pernahkah temans mengalami seperti diriku ini? Biarpun sama suami, tetep loh maluuuu :D

Selamat berakhir pekan yaaaa …!

Read More

Potret Biskota Kita

perhatikan penumpang yang duduk di dekat kaca belakang?

perhatikan penumpang yang duduk di dekat kaca belakang?

Prihatin!

Tahukah kalian apa yang membuat saya prihatin? Itu lho, perhatikan gambar di atas, para penumpang duduk persis di balik kaca. Di sana memang disediakan selembar papan yang ditutupi karpet biru untuk dijadikan tempat duduk para penumpang yang tidak kebagian tempat duduk di posisi yang normal. Posisi yang normal? Ya! Posisi yang norma menurut saya ya yang letaknya BUKAN seperti itu.

Herannya lagi (boongan herannya), itu pegawai DISHUB sliweran di terminal Baranangsiang, tapi seperti tak melihat pemandangan ini. Ya, gambar ini saya ambil di terminal Baranangsiang kemarin, ketika saya berada di dalam bis AC tujuan Tg.Priok.

Sebetulnya tak sengaja saya memperhatikan bis yang parkir di sebelah bis yang akan membawa kami pulang. Karena kondekturnya perempuan paruh baya. Saya kira itu tadinya kondektur, sebab gayanya persis kondektur. Dia mengatur setiap penumpang yang naik. Terakhir ya itu, ketika bis penuh dan penumpang tidak mau disuruh naik bis yang sudah mengantri di belakang. Mungkin penumpang ini tidak mau menunggu lebih lama, tapi dengan mempertaruhkan nyawa? Bisa dibilang begitu dong? Karena duduk di balik kaca itu menurut saya sangat berbahaya, apalagi jika pas pak supir nge-rem mendadak? Bisa terjungkal deh kayaknya :( Nah, ibu itu yang mengarahkan para penumpang duduk di situ. Terakhir yang naik seorang bapak dan anak gadisnya yang berseragam pramuka. Ternganga saya, itu anak perempuan lho. Wah! Hebat juga bapaknya, gak ngeri dia. Atau saya saja yang sok ngeri? :(

Ketika bis perlahan beranjak, dan ibu itu turun, perhatian saya sempat teralihkan pada kegiatan lainnya di terminal itu. Dan ketika bis benar-benar tak tampak lagi, ibu itu terlihat sedang berbagi uang dengan seorang laki-laki paruh baya, barulah saya mengambil kesimpulan. Oh, ternyata ibu itu bukan kondektur, entah apalah namanya, tapi yang jelas dia mendapatkan rejeki dengan mengatur penumpang masuk ke dalam bis.

Dengan menempatkan penumpang seperti itu, kok si pemilik bis kelihatan banget gak mau ruginya ya. Bila perlu, dikasih bangku tempel juga kali di lorong :( Ah, sekarang ini keselamatan penumpang sudah diletakkan entah di urutan ke berapa, baik pemilik bis ataupun penumpang sudah hampir sama-sama tak peduli. Yang penting bisa melewati hari itu dan sepertinya semua sudah menjalani rutinitas yang begitu-begitu saja, tanpa merasa perlu memikirkan tentang keselamatan lagi? Sepenuhnya berpasrah diri pada kehendak Sang Khalik?

Well, memang pemandangan di atas itu belumlah semengerikan gambar di bawah ini.

diatas atap bus (gambar dipinjam dari http://bangsalogue.blogspot.com/)

Lihat itu, ada petugas DISHUB berdiri di antara 2 angkutan itu, tapi tidak melakukan tindakan apapun? Keren sekali ‘kan. Pemandangan seperti itu bisa juga dilihat di Jakarta, tapi bukan bis, melainkan kereta api ekonomi. Entahlah, masih ada atau engga sekarang ini.

Kapan yaaaa pemerintah mau bertindak tegas? Kapan yaaa rakyat mau mengedepankan keselamatan dirinya? Kapan yaaa pemilik bis mau bersikap lebih manusiawi terhadap penumpangnya? Mari kita nyanyi kapan-kapan … :D

Eh sudah hari Jumat ya? Selamat menjelang akhir pekan yaaa … !

 

PS: Jadi tulisan juga gambar yang diambil iseng itu :D Padahal saya tadi teh cuma mau posting dengan 2-3 baris kalimat, eh meni jadi panjang kieu :D  

Read More
12345...102030...

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 50 other subscribers

Top Guest Star

14 comments
7 comments
6 comments
5 comments
5 comments

Categories