Recent Blog Posts

Aku Rapopo

Dulu, ketika belum menikah saya masih senang dandan. Tak jarang full make up untuk momen yang tidak terlalu penting sekalipun. Tidak menor sih, tapi setiap inci muka ini pasti dipoles.

Begitu pula pakaian dan lainnya pasti dipadu-padankan. Senang sih tampil rapi dan harum mewangi. Tapi semuanya berubah setelah menikah. Selain faktor suami yang lumayan tidak suka lihat istrinya macak, saya pun mulai merasa sayang mengeluarkan uang banyak untuk ini dan itu. Rasanya kalau punya uang itu benar-benar maunya dibelanjakan untuk hal penting. Terlebih ketika nonton Kick Andy dan jadi tau tentang DOSA SOSIAL. Jadi sejak itu kalau pakai barang mahal atau menghabiskan uang untuk keperluan buksn primer rasanya kok eman ya…

Sehingga tampillah saya juga suami dengan balutan yang sederhana dan sangat tidak menonjol. Bukan sekali dua menerima tatapan agak gimana gitu dari orang lain ketika memasuki sebuah toko, seolah berkata, emangnya mampu bayar? :D

Yang lebih ekstrim adalah yang terjadi belum lama ini. Ketika suami nego dengan pemilik rumah yang kami sewa, yang sudah dibayar DP 5jt, yang kami minta kelonggaran menunggu deposito cair kurang 4 hari lagi. Ya ampuunnn…itu yang punya rumah gak percaya banget deh, entah karena tampang dan penampilan suami, atau memang mereka yang sifatnya saklek. Jadi kami meminta boleh memasuki rumahnya terlebih dulu dan pelunasan akan kami lakukan pas deposito cair. Harapan kami mereka seteju apalagi mereka adalah pegawai bank. Namun tak dinyana, mereka memaksa harus emlunasi dulu baru boleh memasuki rumahnya. Dan terbersitlah di benak saya untuk menggoda mereka dan menawarkanapakah mereka ijinkan pabila kami menitipkan blanko deposito? Dan jawabannya positif. hmmm…

Saya juga pernah mengalami, ketika sedang berbelanja di sebuah toko dan itu bukan kunjungan pertama saya, sehingga sudah agak akrab dengana petugas tokonya. Ketika saya meletakkan plastik belanjaan di meja, karena tangan saya sibuk memilih barangnya, tiba-tiba seorang petugas bertanya apa saya habis belanja dari toko X? Merasa tak perlu berbohong, maka saya iyakan, apalagi sudah jelas itu dari plastiknya, ga mungkin bohong lagi kan. Tak disangka tak dinyana, 2 petugas itu jadi membahas begini: “sehari ini sudah menghabiskan berapa mbak? kalau beli barang di toko kami sekian ratus ribu, terus di toko X sekian lagi, berarti sehari ini sudah habis sekian yah. Belum makannya. Mbak punya uang banyak ya?”

Waduh, bingung juga mau jawab apa, mau bilang iya saya belum merasa punya uang bayak, tapi kalau mau bilang tidak ya emang gak mau bohong juga. Dan mereka bicara lagi: “gaji kami mana nutut mbak kalau mau kayak gini. enak ya mbak bla bla bla….” Saya mesem-mesem kecut. Merasa di posisi yang tidak enak banget. Merasa telah membuat orang lain jadi mengeluhkan isi kantongnya? Atau sebenarnya mereka cuma kaget kalau orang selecek saya kok bisa beli-beli???

Ya wislah. Terserah aja. Toh ini duitnya gak dari maling juga. Mungkin yang umum mereka lihat yang tampilannya kerenlah baru banyak duit dan mampu beli ini itu.Cuma menurutku hal itu sangatlah tidak sopan. Kalaupun penasaran ada kok cara yang lebih simpati. Aku rapopo. Tenan :D

Read More

Melarang Atau Membiarkan?

Sudah hampir 2 bulan ada tugas rutin antar abang Reza dan adek Egi latihan renang. Jadi mulai deh merasakan aura kumpul dengan emak-emak itu kayak apa. dan dengan berat hati saya katakan, ini bukan duniaku :( Alhasil, cuma 1 kali aja bisa berbagi kata dengan para ibu, selebihnya saya sok sibuk aja deh.

Yang bikin saya menulis ini, adalah kejengkelan saya yang perlu penyaluran terhadap para ibu ini. Yang satu ribuuuuut teriakin anaknya melulu agar jangan begini dan begitu. Hadeehhh…… Nah, barusan, ada seorang ibu yang ‘nyolek’ saya dan bilang : “bu, anak2nya itu nanyi diomelin guru itu lho klo terjun2 gitu.” Sekilas saya layangkan pandang apa sih yang sedang dilakukan para ponakan? Oh rupanya mereka terjun dari tempat yang memang disediakan. Tapi kalau latihan tidak dipakai. Tiba-tiba di otak saya terlintas pikiran, kolam renang itu ‘kan domainnya para guru renang yang lebih dari 1 orang yang ada di kolam. Maka saya menyahuti si ibu begini: “Biarin deh, bu, ada gurunya ini, biar ditegur gurunya yang ada di kolam.”

Kalau saya sih, memilih membiarkan saja anak-anak berkreasi, toh ada guru yang mengawasi. Kalau memang tidak berkenan di hati ya saya catat dulu, nanti setelahnya baru saya bahas. Begitu gak sih menanganinya? Maklum aja, kan saya baru punya ponakan aja jadi gak tau juga niy aturan sebenernya kayak apa sih.

Read More

PLN Lagi

Naiknya TDL membuat kami putar otak, bagaimana caranya agar masak nasi bisa menggunakan listrik dengan tariff rumah tangga. Berasa juga beratnya ketika membandingkan dengan adik yang hanya mengeluarkan dana 400-500k untuk tagihan listrik, sementara kami bisa 2x lipatnya karena dikenakan tariff bisnis. Iyalah, wong numpang listriknya tempat usaha.

Waktu menaikkan daya dari 5500 ke 7700 dulu, memang sempat dicoba mengurus pemasangan meteran baru khusus untuk rumah tangga, tapi GAGAL. Rekanan PLN yang mengurus penambahan daya bilang, peraturannya tidak boleh dan mereka tidak mau melanggar aturan. Kami pun sudah telpon ke PLN bahwa peraturannya memang begitu, sehingga sebagai warga yang baik, tentulah kami manut saja.

Read More

Move On

Kemarin 2 sahabatku datang berkunjung. Kebetulan suami sedang ada acara di Central Park sana, jadi kami bertiga benar-benar bernostalgia. Maklum, mereka ini adalah kawan-kawan masa berseragam abu-abu. Dan seharian kemarin, kami menghabiskan waktu sambil berkuliner. Bukan hunting yang unik-unik, tapi ngobrolnya berpindah dari rumah makan menado ke foodcourt, pindah ke Jco karena mau icipin Jcool dan berakhir di rumah makan ikan bakar Pak Ugi di Kelapa Gading.

Bahas makanan dulu yah, dan kali ini benar-benar tak ada gambar makanan sama sekali. Tak terpikirkan sedikit pun, saking larutnya ke dalam obrolan yang seperti berlomba untuk diperbincangkan. Maklum saja, mereka meninggalkan anak-anak di rumah, jadi sepertinya takut waktu keburu malam, dan mereka harus pulang, sementara hasrat ngobrol belum terpuaskan. Jadi karena gak ada fotonya, gak usah detil-detil juga kali :D

Read More

Antisipasi dan Berserah!

Selama lima tahun punya usaha, kami piker kami seringkali menghadapi karyawan yang ulahnya sudah minus pakai banget. Tapi belakangan ini di sebuah komunitas sering membahas keminusan pekerja masing-masing, membuat saya sadar dan tak hentinya bersyukur bahwa apa yang kami alami di sini, barulah keminusan yang belum ada apa-apanya dengan yang dialami oleh orang lain.

Sekalipun berpuluh karyawan keluar masuk dengan berbagai drama dan alasan, yang dating dari beragam penjuru mata angin, tetapi paling parah yang kami ingat hanyalah yang terfatal adalah 2-3 kasus yang tidak menimbulkan kerugian materiil yang signifikan. Pernah paling besar itu kisaran satu juta lebih, itupun bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan makanan dan minuman yang dibabat secara mencicil dan berkelompok. Ketahuan ketika mau berhenti bersama-sama dan saya hitung stok dan taraaaaaa………..

Read More

Jika Dia Adalah Kamu, Bagaimana?

Sejak buka usaha ini, ingin sekali kami membeli asuransi kerugian, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun selalu saja ada halangannya. Dan hampir semua sih kendalanya ada pada agen asuransi yang kurang bersemangat. Bisa jadi, karena mereka tahu tempat usaha kami kecil saja, sehingga nanti uang preminya pun tidak seberapa. Jika uang preminya tidak seberapa, maka komisi yang diterima agen pun tidak seberapa juga. Jadi wajarlah kalau aras-arasen.

Namun sejak maraknya berita perampokan, membuat kami diingatkan terus untuk bertindak cepat. Ingat lagi lupa lagi. Begitu terus. Sampai di awal tahun ini, kami mengambil tindakan nyata. Langsung menjemput bola. Kami datang ke kantor Allianz di Kelapa Gading. Itu terjadi sekitar bulan Pebruari 2014. Di sana kami ditemui oleh Markus Rajagukguk. Setelah berbicara lumayan luas, Markus berjanji akan datang untuk survey lokasi.

Read More

Blue or Pink?

Sudah umum, kalau bayi laki-laki pasti dibanjiri produk berwarna BIRU. Identik banget deh. Seolah-olah bayi laki-laki ya harus biru atau dibirukan :v Sebaliknya bayi perempuan, umumnya dibanjiri produk berwarna merah jambu alias pinky-pinky. NGejreng pokoknya mah.

Dan saya pun menerawang dalam harap :D Ketika nanti dipercayakan punya bayi, akankah seperti itu gak ya? Tetiba kok saya inginnya beda. Mau serba hejo atau oren atau warna lain deh asal bukan yang identik untuk bayi cowo or cewe.

Hehehe … orang-orang bakal sudah menebak dari kejauhan ya? harus mencermati dengan baik, ini baby boy or girl? Sanggup gak yah? Masalahnya saya pecinta biru, atau kalau anaknya cewe tetap dikasi pernak pernik berwarna biru? Hihihihi gak ada larangan juga ‘kan? So? Gimana dong? Kasih warna apa? Yang jelas, no identik-identikan. Bila perlu, ikutin sekalian tuh DC, kasih hitam-hitam? Hahaha …

Blue or Pink? None! :v

Read More
12345...102030...

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 32 other subscribers

Top Guest Star

2 comments
1 comment
1 comment
1 comment
1 comment

Categories